Menjadi Perempuan di Kota Besar

Tuesday, 10 January 2017 - 09:44:51 WIB
By : Chiki Anwar | Category: Gender & Seksualitas - 1922 hits
Menjadi perempuan di kota besar berarti siap dengan risiko pelecehan seksual. Di antara ramai jalanan dan gedung-gedung tinggi, tidak ada tempat bagi perempuan untuk merasa cukup nyaman dan aman.  Siulan dan godaan tiada henti mengintai setiap langkah. Bahkan hal-hal lebih buruk siap menunggu waktu untuk terjadi.

Setidaknya itulah yang saya rasakan selama 19 tahun hidup di Surabaya. Sejak kelas empat SD, siulan dan godaan adalah hal yang akrab saya terima ketika berjalan di luar rumah. Ibu menjadi orang pertama yang sangat marah ketika mengetahui saya menjawab sapaan iseng tersebut.

“Jangan direspon! Mau kamu dicap perempuan murahan?!” kata Ibu waktu itu. Itu adalah pelajaran pertama menghadapi catcall yang saya terima.

Namun apa yang saya alami setelah itu jauh lebih buruk. Suatu siang ketika saya bersepeda sepulang sekolah, seorang anak laki-laki menghalangi jalan dan membuat saya terpaksa memperlambat laju sepeda. Tanpa diduga, ia memegang payudara saya yang baru tumbuh. Ia tertawa lalu berlari menghilang di gang perkampungan. Saya sangat terkejut, marah dan hanya bisa menangis. Sambil kembali mengayuh sepeda, saya terus bertanya “Apa salahku?”

Pada waktu lain, seorang bapak menaiki motor menghentikan jalan saya. Di tepi jalan raya yang ramai, ia menanyakan sebuah alamat dengan ekspresi gugup yang aneh. Mencium gelagat ganjil, saya mengarahkan dengan asal dan berharap segera pergi. Benar saja kemudian, bapak itu berujar, “Dek, mau ngemut kontol saya nggak?” sembari meletakkan tangan di selakangannya. Darah saya berdesir dan seketika tubuh saya terasa panas. Tanpa pikir panjang lagi, saya cepat-cepat berbalik langkah menjauhinya.

Dua kejadian ini saya alami di sekitar rumah ketika masih duduk di bangku SD.

Beranjak besar, ancaman semakin berlipat. Saya bersekolah di sebuah SMA favorit di pusat kota Surabaya, satu kompleks dengan tiga SMA lain. Bagi para muridnya, sekolah adalah tempat untuk belajar dan bersosialisasi. Tapi bagi para pelaku pelecehan seksual, kompleks SMA kami adalah tempat yang menjanjikan untuk menyalurkan hasrat.

Kadang saya berpikir, jika saya adalah laki-laki, pasti saya tidak akan pernah ditawar oleh bapak-bapak bermobil ketika berdiri menunggu angkutan kota. Saya dapat melenggang, berlari dengan bebas, tanpa ada seorang pun yang kurang ajar memegang pantat saya lalu kabur dengan sepedanya. Saya tidak harus menyaksikan seseorang menyodorkan penisnya di tengah angkutan kota yang penuh dengan pelajar. Menjadi seorang perempuan di kota besar berarti rentan terhadap pelecehan seksual.

Saya tidak sendiri tentu saja. Ada banyak teman-teman perempuan saya yang mengalami kejadian serupa di kompleks sekolah kami. Pada suatu kesempatan reuni, kami saling berbagi pengalaman. Banyak dari kami pernah didekati oleh bapak-bapak ketika sedang menunggu jemputan di pinggir jalan. Beberapa lainnya pernah bertemu dengan eksibisionis. Saya dan dua orang teman bercerita bagaimana bingung, gugup, jijik dan marahnya kami ketika itu. Berbeda dengan saya yang langsung memilih pergi di tengah gemetar, seorang teman saya mengolok-olok si eksibisionis dengan lantang. Teman-teman kami tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita tersebut.

“Kalian bisa tertawa sekeras-kerasnya, tapi kalau ada di posisi seperti itu, kalian akan mual sampai seluruh tubuhmu terasa panas,” ujarnya menutup pembicaraan kami.

Semua hening dan mengiyakan, tersadar bahwa pelecehan seksual dapat terjadi pada setiap perempuan di kota ini, dan di mana saja.

Chiki Anwar adalah seorang dewasa muda yang gugup dan tengah berusaha untuk meraih gelar sarjana di Universitas Gadjah Mada. Ketika senggang ia menulis di chikianwar.blogspot.com

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Nurul safitri | 10 January 2017 | 12:27:34 WIB
Gak cuma di kota besar, saya yg bertugas di kabupaten kecil pun kena catcall. Malah sering terjadi di lingkungan tempat kerja yg mewajibkan saya pakai hijab. Gak ngefek mau pake hijab kek, rok mini kek, kalo pelakunya bodoh ya bodoh aja. Gak ngerti kali kalo itu pelecehan.
Ruby - Astari | 11 January 2017 | 08:35:40 WIB
Betul. Kalo otak mereka emang udah kotor dan menganggap perempuan hanya objek yang bisa dipake main, mau baju tutupan juga percuma. Banyak yang menyangka hanya perempuan yang (dianggap) cantik atau menarik secara fisik* (langsing, berkulit putih, dan modis) yang bakal dilecehkan. Fakta: saya yang chubby, jarang dandan, dan pake baju gombrong pun juga kena. Jadi otak dan mental mereka yang harus dibenerin alias PR banget!
Nana | 17 January 2017 | 23:53:24 WIB
Astaga saya speechless banget mendengarnya.. Dari kecil sampai sekarang tinggal di Jakarta dan puji Tuhan belum mengalami secara langsung. Rasanya aneh dan miris mengetahui bahwa pada timeframe yang sama di tempat berbeda hal ini masih sering terjadi..
Maya | 18 January 2017 | 19:52:07 WIB
Halo Mbak Chika, saya juga tumbuh dan besar di Surabaya dan mengalami hal yang sama dengan Mbak.
Saya juga pernah waktu SD pulang sekolah sendirian agak malam (habis maghrib sih) krn ada acara di sekolahan (sekolahan saya cuma beda gang sama rumah) dan ada bapak2 berhenti tanya jalan. Yah namanya anak SD ya ngga mikir macem2, eh payudara saya (yang bahkan ngga berlekuk karena baru tumbuh) disentuh. Saya saat itubcuma bisa lari aja dan nggak berani cerita ke siapapun. Tanpa saya sadari hal itu ternyata berdampak traumatik ke saya saat tumbuh besar.
Sedih dan kesal rasanya ketika masih banyak orang yang victim blaming dengan pelecehan seksual. Haloooo, anak SD mana ngerti sih sama yang namanya 'ngundang' lawan jenis? Logical fallacy sekali. Sudah seharusnya Indonesia ini mengajarkan pendidikan seksual sejak dini. We should take this problem seriously, it's getting worse in our society.















Weekly Top 5