Rahim Perempuan Milik Siapa?

Thursday, 09 March 2017 - 11:46:11 WIB
By : Vregina Diaz Magdalena | Category: Gender & Seksualitas - 2865 hits
“Kira-kira doamu apa buat anakmu kelak?”

Dadi wong sing prigel, sabar, jembar atine, lurus uripe. Oleh nakal, tapi tanggung jawab ya Nduk, Le.”

 “But..”

“Tapi kenapa?”

“I don’t really want, I don’t really or totally want have children. Takut didiknya, nggak nyambung tapi ya?”

“Kalau ternyata dikasih sama Gusti Allah, gimana?”

“Kalau dikasihnya siap lahir batin ya terima, kalau nggak siap ya aborsi.”

“Siap aborsi, karena nggak siap punya anak? Eh tapi, laki-laki pasti mau anak ya?”

“Lah, rahim gue.”

Percakapan singkat dengan teman perempuan saya, memberikan bukti lagi bahwa perempuan sekarang bisa lebih sadar kemudian memilih untuk masa depan. Teman saya belum menikah, tetapi mempunyai pacar. Padahal, setiap saya membicarakan kehamilan dan anak dengan Mama, jawaban untuk memberikan pilihan sebagai seorang perempuan tidak pernah saya dapat.

Mama selalu bilang kalau menikah jangan lebih dari usia 25 tahun, pertimbangannya adalah usia anak nanti ketika sudah besar dan bagaimana kesehatan rahim perempuan. Perbincangan dengan Mama memberikan kesimpulan, bahwa setelah pernikahan harus ada anak. Ya, ‘harus’.

Saya pernah iseng bertanya kepada beberapa teman laki-laki dan perempuan.

“Bagaimana seorang anak terbentuk? Apa hanya sebatas hubungan semata dari sebuah pasangan yang baru menikah? Atau ada kesepakatan dari kedua pasangan yang sama-sama mengiyakan untuk siap memiliki anak?”

Memang ini adalah pilihan menurut saya. Justru ada pasangan yang sama-sama belum siap memiliki anak karena alasan karier atau memang belum siap untuk mengurusnya. Setelah dipikir, kalau setiap anak terbentuk dari kesepakatan kedua pasangan, tidak ada lagi anak yang merasa terlantar atau kurang perhatian dari kedua orangtua.

Bahkan kalau bisa, kesiapan juga perlu ditanyakan kepada setiap perempuan yang baru menikah. Pernikahan bisa menjadi satu perubahan besar bagi setiap perempuan, mulai dari kebiasaan hidup serta tubuhnya sendiri. Perempuan akan mengandung manusia lagi untuk dipersiapkan hidup meneruskan generasi keluarga.

Tetapi bagaimana ketika perempuan belum siap? Harusnya perempuan tetap bisa memutuskan pilihan atas tubuhnya.

Kehidupan setelah pernikahan di Indonesia memberikan kekuasaan laki-laki untuk mengatur keluarga. Bukan hanya itu saja, bahkan dalam administrasi pemerintahan, nama perempuan sudah ditambahkan nama belakang dari suaminya. Kalau di Indonesia sudah memberikan kekuasaan laki-laki untuk mengatur semuanya, apakah berlaku juga dalam rahim perempuan?  Apa laki-laki pernah tahu, bagaimana keadaan perempuan pasca melahirkan?

Lalu bagaimana dengan kehamilan yang tidak direncanakan atau hasil dari sebuah kejadian? Saya percaya, semua perempuan pada akhirnya menyayangi semua anak yang dikandung. Perempuan dipersiapkan sebagai manusia yang paling dekat dan tulus nuraninya kepada anak-anaknya kelak. Tetapi, keputusan dan pertimbangan atas tubuh dan masa depan anaknya, juga harus bisa dipertimbangkan. Rahim perempuan akan membentuk manusia baru, bukan menjadi ruangan dengan pasangan untuk merayakan sebuah hubungan.

Vregina Diaz Magdalena, berusia 22 tahun. Merasa namanya adalah doa dari Oma untuk peduli kepada dirinya sendiri dan semua perempuan. 

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS















Weekly Top 5