Karena Perempuan Selalu Benar?

Monday, 27 March 2017 - 10:23:32 WIB
By : Putri Widi Saraswati | Category: Sosial - 2750 hits
Suatu hari, salah satu akun berideologi feminisme yang saya ikuti di Facebook, Indonesia Feminis, membagikan screenshoot salah satu komentar negatif yang mampir di dinding mereka. Di tengah masyarakat yang patriarkal dan cenderung feodal, feminis memang seringkali mendapat nyinyiran. Akun Indonesia Feminis bahkan memiliki satu album foto khusus untuk menyimpan screenshoot komentar-komentar bernada misoginis (or simply stupid, if I may say) yang mengunjungi mereka.

Tapi komentar kali ini agak unik. Begini bunyinya, saya kutip tanpa perubahan:

“Kelakuan kalah debat ya gini ini contohnya.. Hahahahaha.. Gak mau disalahkan.. Membuat stigma “wanita selalu benar” menempel.. Dan selamat admin nya sukses.. Hahahaha.. Wanita itu dikasi tauin ngeyel.. Kalau udah kena, mewek.. Dinasehatin ngelawan, tiba salah gak mau disalahin.. Tipikal..”

Pikiran pertama saya saat membaca komentar tersebut adalah: SERIOUSLY? Ini beneran ada orang yang cara kerja otaknya model begini? Kebodohan yang memang tidak berbatas, atau ini cuma joke yang tidak lucu?

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, semua orang pernah mendengar lelucon-lelucon atau pernyataan-pernyataan klasik yang menggambarkan (yang katanya) sifat perempuan. Lelucon-lelucon itu bertebaran di mana-mana -- dalam sastra dan film populer baik komedi maupun kisah cinta, dalam percakapan di kehidupan sehari-hari, dalam meme yang tersebar di media sosial, dalam lirik lagu dan puisi. Beberapa dari lelucon-lelucon atau pernyataan-pernyataan tersebut pasti sudah sering kita dengar:

“Perempuan selalu benar, jadi ngalah aja.”

“Cewek itu gitu, sih, sebentar maunya ini, berapa menit kemudian ganti lagi.”

“Lagi PMS ya, Neng? Marah-marah mulu.”

“Karena wanita ingin dimengerti…. Manjakan dia dengan kasih sayang….” (Oh, yang ini lirik lagu, ya.)

Dan sebagainya yang senada. Biasanya, yang melontarkan lelucon-lelucon atau pernyataan-pernyataan tersebut adalah laki-laki, baik yang sarkas bin nyinyir maupun yang romantis dan bermaksud baik. Tapi tak jarang ada dari kalangan perempuan yang mengaminkannya sendiri dengan enteng dan senang hati, misalnya dengan menganggapnya keuntungan atau privilege, mengiyakannya sebagai kodrat, menggunakannya sebagai modal tawar agar memperoleh apa yang dikehendaki, membuat laki-laki serasa mati kutu. Bahkan menganggapnya sebagai klarifikasi tentang mengapa perempuan itu spesial dan harus diperlakukan spesial pula. That’s how we women are, boys. You just take it or leave it.

Tapi apakah benar demikian?

Apakah karena tubuh perempuan mengalami yang namanya Pre-Menstrual Syndrome, lantas semua  perempuan adalah makhluk moody, emosional, dan tidak/kurang rasional dibandingkan laki-laki? Apakah karena perempuan terkadang sulit menentukan pilihan (misalnya antara dua model baju yang sama-sama keren), lantas laki-laki tidak mungkin melakukan hal yang sama? Apakah karena beberapa perempuan punya sifat ngeyelan, lantas semua perempuan adalah makhluk tak logis yang harus selalu dibuat merasa benar hanya agar dia merasa senang? Apakah karena perempuan menikmati perasaan disayang dan dimanjakan, lantas semua perempuan adalah makhluk cengeng dan rapuh yang harus selalu diemong dan dituntun oleh laki-laki?

Emosional, plinplan, tukang ngeyel yang susah diberitahu, senang dimanja dan disayang…. Itu semua sifat spesifik perempuan sebagai satu gender tersendiri, atau sifat yang bisa dimiliki manusia mana saja?

Kedengarannya memang seperti lelucon yang tidak berbahaya. Tapi, coba perhatikan isi komentar negatif di atas. Hanya karena satu macam stigma, si pemberi komentar yang sepertinya baru saja kalah berdebat karena kehabisan argumen logis ini langsung memainkan kartu truf: berdebat dengan perempuan pada dasarnya tak ada gunanya, karena perempuan adalah makhluk cengeng ngeyelan yang tidak punya logika. Ego dan harga diri si pemberi komentar yang tidak mengizinkannya dikalahkan perempuan rupanya memberinya amunisi pembenaran klasik khas patriarki: levelnya sebagai laki-laki ada di atas perempuan. Maka ia menertawakan dan meremehkan perempuan.

Bayangkan jika semakin banyak orang yang memercayai generalisasi atas sifat-sifat perempuan. Dulu, Megawati Soekarnoputri dipandang tidak layak untuk menjadi presiden Republik Indonesia karena ia perempuan dan perempuan katanya makhluk emosional. Dalam banyak jajaran direksi perusahaan-perusahaan besar, jumlah perempuan yang menjabat hanya segelintir, karena katanya kemampuan memimpin dan manajerial seorang perempuan tidak sebaik lelaki. In many cases, women are not taken as seriously as men.

Padahal, rekan-rekan kerja saya para bidan, juga perempuan, sanggup mengambil keputusan di saat-saat kritis saat menolong persalinan yang bermasalah ketika sedang tidak ada dokter yang dapat dimintai saran. Saya juga pernah memiliki seorang senior yang mengambil sekolah spesialis bedah tulang, seorang perempuan mungil di tengah mayoritas laki-laki bertubuh tegap. Memang, dalam beberapa hal ia harus minta tolong teman-temannya secara fisik. Tapi dokter perempuan ini salah satu yang terpintar di angkatannya.

Juga, ingatkah kita kepada Malala Yousafzai, seorang gadis Pakistan yang pernah ditembak di kepala oleh tentara Taliban karena tulisannya soal hak-hak pendidikan kaum perempuan di negerinya? Atau R.A. Kartini, yang di tengah keterbatasannya untuk melawan sistem feodal masyarakatnya saat itu, tetap sanggup memiliki pemikiran-pemikiran yang jauh lebih progresif dari kebanyakan kaum lelaki ningrat di zamannya?

So, girls. Relakah jika kapasitas otak dan kemampuan kita sebagai perempuan diremehkan hanya karena lelucon sehari-hari yang tidak penting dan tidak krusial untuk hidup siapa pun? Relakah jika kita dianggap makhluk tak logis hanya karena kita mengalami menstruasi dan perubahan hormonal sebulan sekali?

Saya, sih, tidak.

Tentu, saya bisa salah, atau emosional, atau jadi cranky karena tidak enak badan saat menstruasi, atau gemar bermanja-manja pada kekasih saya. Tapi itu karena saya manusia, bukan karena saya perempuan.

Putri Widi Saraswati adalah seorang penggemar membaca dan menulis yang, ketika sedang tenggelam dalam topik-topik feminisme dan pluralisme kesukaannya, tidak terlalu suka dikait-kaitkan dengan stigma profesinya sebagai dokter.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Ruby - Astari | 27 March 2017 | 12:29:14 WIB
Laki yang hobi komen kayak gitu sebenernya yang cengeng, gak mo terima kalo sebenernya dia juga bisa salah. Wong sama-sama manusia juga!
Sila | 29 March 2017 | 17:34:05 WIB
Nah ini, pas baca tulisan Adista Pratiwi—"Apa yang Salah dari Perempuan Independen?", itu saya juga gak sreg. Kemandirian kan harusnya tidak dilekatkan sebagai sifat mutlak salah satu gender. Saya yakin banyak laki-laki yang tidak mandiri, banyak juga perempuan yang mandiri, dan harusnya tidak ada yang perlu dipaksakan. Women should not be independent because that is one of men's trait, hence a better trait than other. Women and men can be independent—or not, whatever they like. Yang penting gak nyusahin orang lain, atau orang lain fine dengan itu.

Eh, ini salah komen ya?















Weekly Top 5