Apa yang Salah dari Perempuan Independen?

Tuesday, 28 March 2017 - 11:08:35 WIB
By : Adisti Pratiwi | Category: Sosial - 6437 hits
Beberapa waktu yang lalu, sebagai perempuan berusia 22 tahun yang belum pernah merasakan lika-liku dunia asmara dua sejoli hingga kerap diledek oleh teman-teman sebagai “calon jomblo perak”, saya penasaran dan iseng bertanya kepada beberapa teman kuliah laki-laki, “Eh, emang cowok kalo nyari cewek itu yang gimana sih? Terus menurut pandangan kalian sebagai laki-laki, aku itu gimana?”

Dari pertanyaan tersebut, saya mendapat jawaban yang lebih kurang sama, “Cowok sih nggak munafik, yang dilihat pasti tampang dulu. Kalau kamu, kamu orangnya terlalu independen, Dis, cowok nggak suka.” Jawaban ini membuat saya berpikir keras. Apa yang salah dengan menjadi seorang perempuan independen?

Tumbuh sebagai anak tengah dan perempuan satu-satunya, ditambah pengalaman bersekolah di sekolah homogen sedikit banyak memengaruhi cara berpikir dan tingkah laku saya. Cenderung cuek, serampangan, dan terbiasa melakukan banyak hal sendiri. Hal yang berlanjut hingga saat ini, seperti senang naik motor sendiri ke mana-mana, bahkan pernah naik motor dari Yogyakarta ke Malang, suka bergabung di divisi perlengkapan setiap ada acara kampus, dan banyak hal lain yang dianggap terlalu macho untuk dilakukan oleh seorang perempuan.

Saya sadar betul, setiap orang, tak terkecuali perempuan punya batasan kemampuan dalam melakukan hal-hal tertentu. Saya juga tidak bermaksud untuk sok kuat dengan bersikap seolah-olah tidak butuh bantuan orang lain dalam melakukan berbagai hal. Hal yang sangat saya sayangkan adalah saat ini, banyak dari kita yang cenderung menggunakan alasan keperempuanan untuk mendapat perlakuan khusus. Sebagai contoh, saat membawa barang yang sebenarnya bisa kita bawa sendiri, kita malah meminta untuk dibawakan laki-laki. Contoh lain, saat kita sebenarnya bisa pergi ke suatu tempat sendiri, kita lagi-lagi mengandalkan laki-laki. Mungkin hal ini tidak terlepas dari konstruksi masyarakat yang menganggap laki-laki jauh lebih kuat dan lebih bisa menjaga diri.

Saya tidak memiliki niat untuk merendahkan perempuan-perempuan di luar sana, akan tetapi terkadang saya justru merasa dikerdilkan oleh kaum saya sendiri, perempuan. Di tengah gencarnya isu-isu dan kampanye mengenai emansipasi, dimana banyak dari kita yang menuntut kesetaraan, kita sendiri belum paham betul seperti apa konsep kesetaraan, yang bisa dimulai dari hal yang terkesan sangat sederhana, yaitu menghargai diri sendiri sebagai seorang perempuan.

Bagaimana mungkin kesetaraan tercipta jika kita sendiri masih merasa jenis kelamin kita sebagai sebuah kelemahan. Rasa inferior ini tak jarang membuat kita terlena dan merasa bahwa kita adalah makhluk yang tak berdaya dalam melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa kita lakukan. Parahnya, banyak dari masyarakat yang seolah mengamini hal itu, contohnya teman-teman laki-laki saya dengan pernyataannya yang tidak suka dengan perempuan yang terlalu independen.

Bagi saya pribadi, menjadi seseorang yang independen merupakan cara saya menghargai diri saya sebagai seorang perempuan. Sama seperti ketika saya akan naik gunung bersama adik saya, ia menawarkan diri untuk membawa beberapa barang saya karena takut saya akan kelelahan membawa beban, saya tidak akan serta merta mengiyakan jika merasa masih mampu.

Perlu saya tekankan lagi, perempuan independen tidak berarti kita menutup diri dari bantuan orang lain, termasuk laki-laki, karena pada dasarnya kita adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendiri. Kita hidup di tengah masyarakat, secara otomatis kita pasti membutuhkan orang lain. Pasti akan ada saat dimana kita benar-benar berada di titik batas kemampuan kita, dan saya rasa tidak ada salahnya menerima bantuan orang lain selama ia mau dan mampu, akan tetapi saya tidak sepakat jika perempuan harus selalu bergantung pada laki-laki.

Kita dianugerahi kemampuan untuk melakukan dan menyelesaikan berbagai hal, bukankah akan menjadi sebuah kebahagiaan jika dapat mengerjakannya sendiri daripada merepotkan orang lain? Lagi, saya pernah berbincang dengan seorang teman laki-laki ketika ia diminta untuk membawakan barang bawaan teman perempuan saya. Teman laki-laki saya mengatakan bahwa sebenarnya ia agak keberatan, karena menurutnya barang bawaan tersebut dapat dibawa sendiri oleh teman saya yang perempuan. Lalu saya bertanya kenapa ia mau membawakan, dan ia menjawab karena tidak enak jika laki-laki menolak.

Kemudian saya berpikir, bukan tidak mungkin ada banyak laki-laki di luar sana yang merasakan hal yang sama dengan teman saya, terjebak stereotip bahwa laki-laki harus bersedia membantu perempuan, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya bisa dilakukan oleh perempuan itu sendiri.

Pada akhirnya, berusaha menjadi seorang perempuan independen merupakan sebuah pilihan yang menurut saya tepat, terlepas dari ada sebagian laki-laki yang tidak begitu menyukainya karena membuat mereka merasa kurang dibutuhkan keberadaannya.

Saya kemudian teringat lirik lagu Banda Neira yang berjudul Sebagai Kawan: “Jangan berdiri di depanku karena ku bukan pengikut yang baik. Jangan berdiri di belakangku karena ku bukan pemimpin yang baik. Berdirilah di sampingku sebagai kawan.” Lagu ini sedikit banyak menjadi penyemangat saya bahwa masih ada orang-orang di luar sana yang setuju dengan konsep mitra, bukan pengikut-pemimpin dalam sebuah hubungan.

Adisti Pratiwi adalah penikmat lelahnya perjalanan mendaki gunung lewati lembah dan seorang mahasiswi selo Sosiologi UGM 2012 yang sedang menikmati proses menyelesaikan skripsi di tengah gempuran pertanyaan, “Kapan lulus, Dis?”

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Anisa Tri Kusuma | 28 March 2017 | 11:45:35 WIB
remember this: "laki-laki dewasa berkualitas justru menginginkan sosok wanita cerdas yang mandiri dan kuat.
Menjadi independen bukan berarti kamu menolak semua bantuan dari mereka, sesekali kamu juga boleh minta atau jika mereka menawarkan bantuan pakai saja kesempatan itu.
Tetap ingat juga bahwa menawarkan bantuan adalah bentuk inisiatif, bukan kewajiban, jadi kalau kamu menerima bantuan dari mereka, jangan lupa apresiasi ya.. :)
Lucia Ardhanaswari | 28 March 2017 | 20:31:42 WIB
Kancaku, panutanku! Mantap jiwa! Didadekke tema tesis wae dis..A langsung 👏🏼👏🏼👏🏼
Gabriella Nathasa | 28 March 2017 | 20:43:11 WIB
Gilewwww setuju bgt nih dis! Ku bangga pada kau💃
Deuishinki | 29 March 2017 | 07:14:28 WIB
Just so you won't feel alone, gw pernah naik motor dari Jakarta ke Jombang (jatim) dan jadi ketua divisi keamanan untuk festival budaya di kampus gw. Some of my friends call me Dewi-kun (akhiran panggilan untuk laki-laki dalam bahasa Jepang) instead of Dewi-chan (akhiran untuk perempuan).

Live in this patriarchal society, we definitely face many stereotypes. Lately I found a good quote that said "You are not one person, but three : The one you think you are; the one others think you are; the one you really are", so we are bound to have others having opinion about us. However, stick to who you really are no matter what people say. At the end of the day, that's what we call dignity. :)
Ruby - Astari | 29 March 2017 | 05:08:38 WIB
Kalo ada laki-laki menawarkan bantuan, membayari makan, hingga mengantarkan pulang, saya akan menerima selama alasan mereka adalah bentuk kepedulian - bukan semata-mata karena saya perempuan dan (dianggap) lemah. Yang penting selama saya gak minta-minta dan terlalu bermanja-manja. Kalo lagi gak ada mereka, saya juga tetap memutar otak berusaha melakukan ketiga hal di atas seorang diri - bukannya berpangku tangan dan selalu menunggu 'diselamatkan' laki-laki.
Ria | 29 March 2017 | 11:31:03 WIB
Cowok itu jg labil ya... Kl perempuan apa2 minta tolong mereka ngedumel. Terlalu mandiri mereka ngoceh juga :)))
Do what you think is best for you, girl! Kl terlalu dengerin kanan kiri bikin sakit kuping ya
Bernadeta Diana | 29 March 2017 | 11:34:26 WIB
Meski aku termasuk masih percaya sama konsep partner, yang namanya udah gede, udah bisa ngapa-ngapan sendiri :))

Anyway, nice thought!!
Saffina | 04 April 2017 | 18:05:55 WIB
Tulisan yang menarik!
Saya sering dapat pengalaman gitu, kalau saya jalan ke mall sendiri dinilai kesepian ngga ada gandengan.
terus saya cuma blg,"emang wajib ya kalau jalan-jalan harus sama laki-laki banget? :'''
aulia | 05 April 2017 | 09:31:23 WIB
sangat setuju... saya sudah jomblo perak tahun ini..dan itu sudah menjadi keputusan saya karena prinsip yang tidak sejalan dengan beberpa lawan jenis yang mendekat.... saya sangat bangga menjadi perempuan independent..bebrapa lawan jenis menganggap prinsip saya tersebut terlalu merepotkan untuk mereka...in fact saya belum percaya laki laki bisa membuat saya bahagia dan menyikapi bahwa hidup bukan melulu tentang cinta... dan jujur saja saya belum percaya tentang pernikahan...belum menemukan apa pernikahan adalah life goals saya... sperti yang jadi stereotype di lingkungan saya ,bahwa menikah adalah tujuan hidup wanita....
aulia | 05 April 2017 | 09:36:47 WIB
sangat setuju... saya sudah jomblo perak tahun ini..dan itu sudah menjadi keputusan saya karena prinsip yang tidak sejalan dengan beberpa lawan jenis yang mendekat.... saya sangat bangga menjadi perempuan independent..bebrapa lawan jenis menganggap prinsip saya tersebut terlalu merepotkan untuk mereka...in fact saya belum percaya laki laki bisa membuat saya bahagia dan menyikapi bahwa hidup bukan melulu tentang cinta... dan jujur saja saya belum percaya tentang pernikahan...belum menemukan apa pernikahan adalah life goals saya... sperti yang jadi stereotype di lingkungan saya ,bahwa menikah adalah tujuan hidup wanita....
Kartini | 09 April 2017 | 05:49:52 WIB
Saya sering dibilang "kamu terlalu mandiri" ga cuma sama temen cowok tapi juga sama temen cewek. Ya maaf kalau saya bisa geret lemari, angkut galon, pasang lampu, panjat genteng, bersihin elektronik, naik motor dst-dst sendiri. Yang cewek biasanya ngeluh "nanti susah jodoh" "ga ada laki-laki yang mau". Trus pas saya punya pacar dibilang "kamu mustinya jual mahal" "jangan terlalu mandiri ntar cowok lu ngerasa ga dihargain trus lari ke cewek lain". Kalo yang cowok biasanya lebih santai sih, tapi gitu-gitu ada satu lingkaran temen cowok yang sebenarnya paling dekat dengan saya tapi somehow denial banget sampai nggak nganggep saya perempuan, suka panggil "mas", trus kalau saya protes suka dibilang "lho kamu perempuan?" padahal jelas-jelas saya pakai jilbab, dan kadang sampai pacar saya kebawa-bawa "eh kirain [nama pacar saya] homo".

Bisakah saya mandiri dan tetap menjadi perempuan? Kok kayaknya di masyarakat dua kata ini nggak kompatibel ya...
Yuslimul Ma'rufa Yusro | 25 April 2017 | 14:59:52 WIB
You Go Girls !
zulfia | 23 May 2017 | 14:18:14 WIB
entah kenapa sekarang mandiri sering diidentikkan dengan indie :(
Nadia | 23 May 2017 | 23:56:18 WIB
Makasih ya tulisannya! Aku seneng naik gunung, aku seneng naik motor sendirian, nonton di bioskop sendirian, dan banyak lagi. Banyak yang ngecengin, tapi ya biarin aja (1). I enjoy being like this! Ada yang bilang kenapa sekarang aku single adalah karena yang deketin ngerasa aku terlalu independent. Biarin aja (2) berarti kesempatan aku ketemu orang yang baik dan mau menganggapku setara dgnnya, menjadi lebih besar :D
Semangat semuanya!
Afrianti Eka Pratiwi | 04 July 2017 | 16:03:24 WIB
Saya setuju sih sama artikel ini. Entah saya terlalu egois atau enggak kalo nyebut diri sendiri itu independent. Saya memang melakukan apa-apa sendiri, beli makan sendiri, nonton bioskop kadang sendiri, naik motor kemana-mana sendiri, dan whatever they said tentang kesendirian saya. Tapi di sisi lain, saya juga nggak segan minta tolong kepada teman laki-laki kalo saya emang lagi males banget melakukan hal itu. Dan saya juga gak nolak kalo misal ada teman laki yang mau ngajak saya makan ataupun nonton. Ya, semua fleksibel aja. Jadi, mandiri bukan berarti apa-apa sendiri. Tau situasi dan kondisi juga. Iya, kan? Eh iya, nggak, sih?
Qy | 08 July 2017 | 08:44:03 WIB
Wow.. Aku suka banget sama artikelnya. Sebagai cewek yang senasib, sering dibilang "oh kamu cewek toh?" Kemana-mana sendiri pulang malem sendiri, tapi yaa selama bisa melakukan sendiri kenapa harus bergantung sama orang lain? Aku cuma mikir yaa gak enak ajah kalau harus merepotkan orang lain. Bahkan saat punya pacarpun aku masih sering nonton bioskop sendiri, ke mall sendiri. Dan pacarku gak protes karena dia udah paham banget sama sifat ku ini.
Adisti Pratiwi | 17 July 2017 | 21:52:12 WIB
Terima kasih atas semua sharing dan tanggapannya. Ternyata ada juga yang mengalami dan merasakan hal yang sama hehe
Ella | 02 September 2017 | 08:14:30 WIB
anjay gila lu dis w tinggal sebentar cari sesuap dasi eh udah beredar begini wkwkw

anw totally agree lah ya, jadi kapan lulus mar?













Weekly Top 5