Ayah Saya Ternyata Feminis

Monday, 03 April 2017 - 10:57:25 WIB
By : Herman Hidayat | Category: Sosial - 3230 hits
Magdalene Short
Saya seorang  anak laki-laki asal daerah pulau yang terlahir di dalam lingkungan yang patriakal. Di tempat saya tinggal, laki-laki sangat mendominasi dan cenderung mendikte apa pun yang harus dan yang tak harus dilakukan perempuan. Contoh sederhana yang saya perhatikan adalah banyaknya perempuan yang sebelumny bekerja di luar rumah dan mandiri dicabut haknya oleh laki-laki ketika ia menikah, dengan alasan “Perempuan itu tempatnya di rumah dan di dapur”.

Sifat maskulin  itulah yang akhirnya membentuk pola pikir saya selama bertahun-tahun. Saya menganggap perempuan hanya obyek seksual, dan harus menuruti apa pun perintah laki-laki bagaimana pun bentuknya. Konsep perempuan sebagai second sex ini juga kerap kali membuat saya cenderung memandang rendah kaum perempuan, terlebih perempuan yang tidak memenuhi standar dalam pandangan saya.

Setelah saya mendapat beberapa bacaan dari internet, lalu membaca The Second Sex karya Simone de Beauvoir, dan pidato Chimamanda Ngozi Adichie yang berjudul “We Should All Be Feminist”, pikiran saya mulai terbuka. Namun konsep superioritas laki-laki yang telah saya bangun betul-betul runtuh ketika saya mendalami sosok Ayah saya.

Ayah, seperti juga Ibu, bekerja sebagai guru. Sebagai seorang Jawa yang menikah dengan Ibu yang bersuku Minang,  Ayah tidak menggunakan sifat superioritasnya sebagai laki-laki di dalam rumah, terlebih kepada ibu saya.  Dengan ringan hati Ayah saya mengerjakan pekerjaan rumah seperti membersihkan rumah, mengurus anak, mencuci baju, belanja ke pasar dan memasak.

Awalnya saya merasa sangat aneh ketika Ayah saya melakukan hal yang saya pikir adalah kewajiban seorang perempuan. Saya dulu juga sempat mengira kalau Ayah saya adalah tipe suami yang takut istri, tapi saya salah. Ternyata apa yang selama ini Ayah saya lakukan adalah sebuah bukti bahwa ia adalah seorang laki-laki yang sangat menghargai perempuan. Dua kali ayah saya menolak tawaran untuk dipromosikan menjadi kepala sekolah di luar daerah dengan alasan kasihan Ibu jika harus mengurus rumah dan anak seorang diri.

Bagi saya, apa yang dicontohkan Ayah adalah sesuatu yang sangat berharga dan mengubah persepsi saya tentang kesetaraan dalam rumah tangga. Pekerjaan-pekerjan rumah yang dianggap hanya menjadi tanggung jawab perempuan tak sepenuhnya harus dikerjakan oleh perempuan. Dalam pernikahan atau kehidupan sehari-hari sangat tidak pantas jika kita melihat perempuan hanya sebagai pemuas nafsu belaka.

Sebagai laki-laki, memang sepantasnya mencari nafkah dan bekerja, tetapi hal ini tak harus membuat kita seenaknya memerintah atau merasa berkuasa terhadap perempuan.  Dan itulah yang telah dipraktikkan oleh ayah saya. Dan dalam hal ini saya sangat ingin menjadi muridnya.

Herman Hidayat adalah laki-laki gelisah yang tinggal di Riau, tetapi saat ini tengah menjadi mahasiswa Magister Natural Resource Management and Development di Universitas Brawijaya, Malang. Menyukai isu-isu gender dan berusaha menghargai perempuan seperti dia menghargai ibunya, walaupun sekarang masih belum menemui tambatan hati. Akun Instagram: @hhidayaat

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Ruby - Astari | 03 April 2017 | 19:46:31 WIB
Semoga semakin banyak laki-laki Indonesia yang pikirannya terbuka seperti Anda. Semoga segera menemukan tambatan hati, karena perempuan itu pasti beruntung sekali. Aamiin.
Erhan Ardianda | 03 April 2017 | 22:12:11 WIB
Tulisan yang keren bang :) memang terkadang konsep seperti itu lumrah terjadi terutama daerah timur,somehow sebetulnya tergantung kesepakatan antara pasangan aja mau gimana..karena selagi pasangannya nerima ya silahkan,komunikasi hal terpenting soal begitu :)
Liza | 04 April 2017 | 12:25:44 WIB
Sudut pandang yang sangat mengagumkan sebagai seorang lelaki, mas. Ketika masih banyak lelaki di luar sana hanya menganggap bahwa kedudukan wanita hanya di kasur, sumur, dan dapur. Jadikan pernikahan bukan sebagai belenggu bagi wanita untuk maju dalam pemikiran untuk mewujudkan mimpi2nya. Jadi ingat kata2 Pram dalam Jejak Langkah "Begitu seiya-sekata, yang lelaki tidak membudakan isterinya dan yang perempuan tidak memperhamba diri pada suaminya. Indahnya perkawinan semacam itu."
RN | 04 April 2017 | 06:10:03 WIB
Nice article. Ditunggu opini sudut pandang wanita nya.
John Vp | 04 April 2017 | 14:31:57 WIB
Mindset yang sangat menginspirasi, Mas Herman. Tetapi bagi saya, muncul satu dugaan, apakah mindset seperti ini hanya berlaku untuk wanita yang berkarir? Karena berdasarkan pengalaman, saya lebih sering melihat peristiwa ini ketika istrinya adalah wanita yang juga bekerja dan berpenghasilan, atau bisa dikatakan juga mandiri secara keuangan.
Nurul Sri Apriani | 03 May 2017 | 17:03:18 WIB
Good opinion.. Semoga banyak laki-laki yang memiliki sudut pandang yg sama. Yg menghargai wanita seperti ia menghargai ibunya. Herman, lanjutkan tulisan-tulisan yg lain :)















Weekly Top 5