Tren Menikah Muda, Mencari Jalan Ke Surga

Tuesday, 04 April 2017 - 11:48:28 WIB
By : Lailatul Fitriyah | Category: Sosial - 47564 hits


“...And my sister...
In her artificial home,
with her artificial goldfish,
and in the security of her artificial husband’s love,
and under the branches of artificial apple trees,
she sings artificial songs and produces real babies....”

(I Feel Sorry for the Garden oleh Forugh Farrokhzad)

Sepertinya sudah beberapa kali saya menulis, atau paling tidak menyinggung, tema pernikahan pada konteks perempuan muda Muslim Indonesia. Akan tetapi, topik yang sama selalu muncul dalam kehidupan keseharian, entah melalui diskusi bersama teman, status-status yang melintas di newsfeed, maupun artikel-artikel yang saya baca.

Belakangan ini, topik besar dan rumit tersebut kembali mewarnai pemikiran saya. Seorang teman berbagi keresahannya tentang puntiran komodifikasi pernikahan yang telah meresap dalam budaya pop remaja Muslim (terutama perempuan) di Indonesia.

Ada beberapa hal menarik yang saya amati terkait ‘industrialisasi pernikahan’ di kalangan Muslim Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Pertama, perubahan perspektif terhadap pernikahan. Saya ingat, waktu saya masih kecil, hampir tidak ada yang suka ketika mereka dinikahkan atau menikah di usia muda. Semasa SMA, percakapan saya dengan teman-teman perempuan berkutat seputar model baju dan jurusan apa yang akan kami ambil ketika kuliah nanti, bukan tentang ‘ikhwan’ mana yang akan menjadi ‘imam’ kami. Sinetron pun di kala itu menyampaikan pesan tentang betapa ‘kejamnya’ pernikahan di usia muda. Berbeda jauh dengan apa yang saya amati saat ini.

Seperti anak kecil yang terbujuk oleh rayuan sekantong permen agar mau disuntik (yang penting dari gambaran ini adalah ‘anak kecil’-nya, bukan ‘suntikan’ atau ‘permen’-nya), pemuda-pemudi Muslim di Indonesia berbondong-bondong memuja institusi pernikahan. Sebagian diantaranya malah menjadikan pernikahan sebagai tujuan hidup. Tak ayal, energi masa muda yang seharusnya didedikasikan untuk perbaikan kualitas hidup diri sendiri dan orang lain, terserap habis dalam pusaran pencarian jodoh yang tak ada akhirnya. Segala doa dan usaha terpanjat hanya untuk menemukan ‘sang imam sejati’ atau ‘sang bidadari surga’. Posting-an Facebook penuh dengan puisi-puisi untuk jodoh di masa depan.

Hal ini terutama tampak pada para perempuan muda Muslim. Jarang saya temui posting-an Facebook tentang kepedulian akan situasi politik internasional, perkembangan krisis di negara-negara mayoritas Muslim atau inisiatif sosial kemasyarakatan dari kawan-kawan pemudi Muslim. Lain dengan foto-foto pengantin Turki atau Malaysia, doa-doa supaya anak tidak nakal (walaupun si empunya laman masih lajang) atau gambar kartun pasangan Muslim (biasanya dengan perempuan bercadar dan laki-laki berjenggot) yang mengingatkan saya pada cerita-cerita happily ever after ala Disney, yang tak terhitung jumlahnya.

Tekanan sosiokultural untuk cepat-cepat menikah (terutama pada perempuan) tentu bukan barang baru di Indonesia. Namun, seperti yang saya singgung di atas, perempuan Muslim Indonesia di masa lampau cenderung untuk berkata tidak terhadap tekanan tersebut dan memilih untuk fokus terhadap masa depan mereka.

Sekarang ini, paling tidak dari apa yang saya lihat, perempuan Muslim Indonesia cenderung untuk memeluk tekanan tersebut dan menjadikannya sebagai suatu hal yang lazim. Tentu orang bisa berargumen, “menikah dan berkarir itu bukan hal yang harus dipisahkan satu sama lain, kok” atau “menikah itu mendatangkan rezeki.” Masalahnya adalah, apakah kita sebagai perempuan benar-benar menginginkan pernikahan tersebut atau pernikahan telah menjadi semacam ajang pembuktian tunggal untuk keperempuanan kita yang telah sedemikian sempitnya didefinisikan oleh masyarakat?
 

Energi masa muda yang seharusnya didedikasikan untuk perbaikan kualitas hidup diri sendiri dan orang lain, terserap habis dalam pusaran pencarian jodoh yang tak ada akhirnya.


Saya tidak sedang dalam misi menolak pernikahan di sini, saya hanya mempertanyakan ke mana larinya kemerdekaan kita sebagai perempuan sehingga kita dengan patuhnya berubah menjadi kloning-kloning Hawa versi tradisionalis dengan takdir tak lebih dari sekedar menjadi ‘makmum yang shalihah’. Tekanan terhadap seksualitas dan peranan gender perempuan tak akan usai dengan segera, namun seperti halnya Kartini, kita bisa memilih untuk mendefinisikan diri kita menjadi manusia seutuhnya karena kita adalah manusia seutuhnya.

Pasar dan budaya pop

Sayangnya, kecenderungan pasar tak banyak membantu pemudi-pemudi Muslim untuk bangun dari mimpi panjang ini. Sinetron dan film menjadi ajang kampanye terbesar bagi pesan-pesan surgawi yang mengelu-elukan kualitas submisif untuk perempuan. Muslimah shalihah adalah mereka yang mencium tangan suami sehabis shalat berjamaah, pandai memasak, subur dengan beberapa anak, hanya mampu menangis pada Tuhan ketika disakiti, rela dipoligami, dan tak lupa, berjilbab lebar dan berabaya. Tak ada gambaran tentang Benazir Bhutto, Malala Yousafzai, Nana Asma’u, Asma Barlas, Kartini dan Musdah Mulia sebagai perempuan shalihah.

Pasar konsumsi pakaian dan perlengkapan perempuan (mohon maaf kepada kawan-kawan transgender, transseksual, interseksual dan kawan-kawan dari ragam orientasi gender lainnya atas generalisasi saya di sini) pun demikian. Tidak ada lagi kerudung panjang nan elegan yang biasa dipakai nyai-nyai pesantren zaman dulu yang biasanya dikombinasikan dengan kebaya dan kain. Model tersebut telah tergantikan dengan abaya dan jilbab lebar nan halal yang menutup semua lekuk tubuh perempuan. Tak ada yang peduli dengan fleksibilitas pendefinisian aurat dalam Fiqh klasik. Semuanya terserap dalam pusaran representasi seksual gaya baru yang diimpor dari negara-negara Teluk.

Di sini saya teringat akan sebuah artikel di New York Times yang berjudul provokatif, “Penderitaan Seksual Dunia Arab”. Artikel ini memaparkan betapa pengekangan seksualitas di negara-negara Arab, yang dijustifikasi dengan klaim-klaim Islami, menjadi bencana bagi masyarakat Arab sendiri. Tingkat pornografi dan pelecehan seksual pada perempuan menjadi sangat tinggi di negara-negara tersebut karena tidak adanya pembiasaan untuk memeluk seksualitas sebagai bagian dari fakta kemanusiaan.

Saya tidak sedang mengampanyekan seks bebas di sini, yang saya kritik adalah tata aturan tentang aurat yang tidak mengindahkan fakta bahwa manusia, selain makhluk politik, juga adalah makhluk seksual. Artikel tersebut di atas menjelaskan apa yang terjadi ketika kita coba-coba mengadopsi representasi seksual negara-negara Timur Tengah. Kultur seksual Timur Tengah jauh dari suci dan ‘Islami’, malah mengandung pola-pola patologis. Hijab bagi sebagian besar perempuan Muslim di sana adalah bentuk opresi. Bagi saya, tak ada alasan untuk tidak kembali kepada model jilbab ‘Indonesiawi’ yang merupakan kombinasi indah dari komitmen terhadap ortodoksi Islam dan kepekaan seksual budaya Nusantara.

Hal kedua yang saya amati dari tren ‘ayo menikah’ ini adalah betapa justifikasi keagamaan yang diusung sesungguhnya sangat paradoksikal terhadap prinsip-prinsip agama itu sendiri. Islam adalah agama yang paling individualis yang pernah saya pelajari dan coba pahami. Tidak ada seorang pun dari kita yang menanggung beban dosa atau menerima pahala orang lain. Bahkan tidak ibu kepada anaknya sekalipun.

Al-Quran adalah kitab suci paling egalitarian dan feminis yang pernah saya temui. Cendekiawan Muslim Asma Barlas menyebutkan tiga dimensi terpenting dari kualitas ketuhanan Allah, yaitu, keesaan, keadilan, dan etunggalan. Keesaan Allah berarti bahwa tidak ada seorang pun yang bisa melakukan mediasi dalam hubungan kita kepada-Nya. Kita lah yang bertanggung jawab langsung kepada Allah. Kita yang membawa diri kita ke surga, atau ke neraka. Dalam konteks ini perkataan “imamku yang akan membawaku ke surga” adalah menyalahi keesaan Allah, karena tak ada seorang pun yang memiliki percikan kualitas ketuhanan yang memungkinkannya untuk ‘melobi’ surga Allah bagi kita. Kita semua akan mendapatkan surga atau neraka kita sendiri-sendiri.



Kedua, tentang dimensi keadilan Allah. Keadilan-Nya telah membuat perempuan dan laki-laki memiliki kemanusiaan yang sama. Laki-laki tidak seujung kuku pun lebih unggul dari perempuan dalam hal apa pun. Kita semua terbuat dari ruh yang satu (nafs wahidan). Mitos tragedi seksual Eve yang direpresentasikan dalam dua bentuk penderitaan (menstruasi dan melahirkan anak) tidak memiliki tempat dalam Islam. Perempuan, sejak awal penciptaannya, tidak memiliki dosa khusus yang harus ditanggungnya seumur hidup. Pandangan perempuan sebagai sosok penggoda yang selalu membawa laki-laki ke jalan yang salah merupakan pandangan yang tidak Qurani. Bagaimana mungkin Islam memandang perempuan sebagai sosok penggoda sedangkan Allah menurunkan ayat khusus untuk merespon pertanyaan Ummu Salamah tentang kesetaraan gender dalam al-Quran?

Ketiga, tentang ketunggalan-Nya. Dimensi ini berarti bahwa Allah tak dapat diasosiasikan atau dibandingkan dengan apa pun. Namun apa yang terjadi ketika kita percaya bahwa jaminan surga kita berada di tangan suami? Betul, kita sedang mengelu-elukan patriarki.

Patriarki sendiri mengandung banyak definisi. Namun satu hal yang pasti, patriarki merupakan sistem sosial budaya yang menghubungkan keistimewaan moral, religius dan intelektual dengan perbedaan biologis (laki-laki mampu membawa kita ke surga hanya karena ia laki-laki, dll). Ini berarti ketika kita meyakini bahwa suami kita lah yang akan membawa kita ke surga, kita telah menempatkan suami di antara ‘berhala-berhala kecil’ yang kita puja setiap hari, seperti standar moralitas dan institusi keagamaan.

Menghindari perzinahan?

Mereka yang setuju dengab tren ‘ayo menikah’ punya satu alasan lain, yakni menghindari perzinahan. Ketakutan akan perzinahan menurut saya berakar pada dua hal. Pertama, hidup yang kurang produktif sehingga fokus diri hanya tertuju pada kebutuhan seksual. Kedua, faktor lingkungan yang mendefinisikan kedirian seseorang hanya berdasarkan capaian seksualnya saja. Misalnya, perempuan dianggap sukses hanya ketika ia menikah atau mengandung, atau ucapan untuk laki-laki yang sangat seksis ketika mereka baru menikah ("selamat bro", "akhirnya jadi laki-laki juga", dll) seakan-akan kelelakian hanya ditunjukkan dengan meniduri perempuan.

Faktor terakhir juga diperkuat dengan pengekangan ekspresi seksual ala negara-negara Teluk yang sudah saya bahas tadi. Siapa yang tidak ingin cepat menikah ketika dihadapkan dengan perempuan 'shalihah' nan submisif yang mencari jalan ke surga hanya melalui kepatuhannya terhadap suami? Rata-rata lelaki pasti ingin segera meniduri perempuan seperti itu. Siapa juga yang tidak meleleh melihat laki-laki 'bertakwa' dengan baju koko dan jenggot panjang yang siap menjadi imam shalat dan ayah dari 'mujahid-mujahid' kecil yang akan kita lahirkan? Itulah sosok ideal suami bagi perempuan Muslim zaman sekarang.

Intinya, kita begitu sibuk mengekang ekspresi seksual kita dengan abaya, jilbab lebar, tak bersentuhan dengan non-muhrim, baju koko, dan jenggot, namun ternyata kehidupan kita dan simbol-simbol yang kita agungkan sekarang ini penuh dengan makna-makna seksual. Simbol-simbol yang membuat kita ingin bersegera menghalalkannya. Janji surga yang sensual. Jangan kaget kalau slogan 'menghindari perzinahan' lebih banyak diteriakkan di masa kini daripada di masa lalu. Karena sesungguhnya kita lebih ekspresif secara seksual sekarang ini walaupun dengan kulit yang berbeda.

Satu hal lagi, jika para pemuda-pemudi Muslim yang mendambakan sosok-sosok shalih-shalihah untuk jodoh masa depannya itu berpikir bahwa apa yang mereka lakukan adalah sesuatu yang 'Islami' dan (dengan demikian) merupakan kontras terhadap budaya 'Barat'. Mereka salah. Kecenderungan untuk mengidolakan sosok perempuan keibuan yang submisif dan menunggu untuk ditolong laki-laki untuk masuk surga, dan kecenderungan untuk mengidolakan sosok laki-laki tangguh yang akan menolong damsel in distress di saat-saat terakhir adalah kloning murni dari dongeng ala Disney. Tren tersebut mewarnai dunia 'Barat' di abad ke-19 ketika industri film mengadopsi cerita-cerita komunal (folktales) ke layar kaca. Dan sekarang tren tersebut muncul lagi setelah cerita yang sama diadopsi menjadi serial televisi. See? ternyata masyarakat 'Islami' kita adalah cerminan dari masyarakat 'Barat'!

Akhir kata, mengulang perkataan saya dengan seorang teman tentang tren ‘ayo menikah’ di Indonesia, perempuan (terutama Muslim) Indonesia masih harus berjuang untuk membebaskan diri mereka dari dua hal. Pertama, sindrom pascapenjajahan yang membuat kita merasa inferior di panggung internasional. Kedua, dari konteks sosial, budaya dan keagamaan yang patriarkal. Perjuangan ini tentu akan menjadi jauh lebih mudah ketika kita sesama perempuan menjalin diskursus reflektif tentang apa-apa yang telah kita lakukan yang secara langsung maupun tidak telah memperkuat norma-norma patriarki. Kita bisa memulainya dari kesadaran diri bahwa keperempuanan kita tidak dapat didefinisikan oleh fungsi reproduktif dan seksual semata. Dan ayolah, kita bisa mendapatkan surga tanpa laki-laki, Allah menjamin itu.

Lailatul Fitriyah adalah mahasiswi doktoral pada program Agama-agama Dunia dan Gereja Global di Jurusan Teologi, Universitas Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat.

*Foto-foto oleh Azlan Dupree.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Inggrid | 05 April 2017 | 06:33:35 WIB
Tulisan yang sangat bagus. Saya tertarik dengan pernyataan ini: "Al-Quran adalah kitab suci paling egalitarian dan feminis yang pernah saya temui." Bolehkah dijelaskan contoh2nya? Ini pertanyaan serius dan saya betul-betul ingin tahu karena saya tidak mendalami Al-Quran dan pengetahuan saya terbatas. Terima kasih.
Prafi | 05 April 2017 | 06:58:34 WIB
Terima kasih tulisannya, "Kita bisa memulainya dari kesadaran diri bahwa keperempuanan kita tidak dapat didefinisikan oleh fungsi reproduktif dan seksual semata".
Thank you for the writing!
Ryan | 05 April 2017 | 08:43:58 WIB
Very well-put and eloquent. Your writing highlights the underlying problems behind this phenomenon really well.
Laily | 05 April 2017 | 09:28:02 WIB
Saya menyatakan seperti itu karena dibandingkan dengan kitab-kitab suci lainnya yang pernah saya pelajari (terutama Perjanjian Baru dan sedikit Perjanjian Lama), al-Qur'an adalah satu-satunya kitab yang jelas menyatakan bahwa kemuliaan manusia itu diukur dari kebaikan apa yang mereka kerjakan sebagai manusia, bukan dari perbedaan seksual-nya. Tidak ada mitos-mitos seperti Hawa yang menggoda Adam dan dengan demikian membuat perempuan menanggung dosa kemanusiaan. Tidak ada mitos bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Narasi penciptaan manusia dalam al-Qur'an adalah bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan dari 'Ruh yang Satu' (nafs wahidan). Dengan demikian, secara ontologis Qur'an tidak membedakan laki-laki dan perempuan, yang dalam bahasa dan sensibilitas modern kita dikatakan sebagai 'egalitarian dan feminis'. Terima kasih sudah membaca.
Aqila | 05 April 2017 | 05:35:41 WIB
Very critical, very eloquent, beautifully written! Thank you so much for writing this. Would love to have a cup of coffee and talk about feminism and Islam if you're ever in Connecticut/New York :)
Laily | 05 April 2017 | 09:31:39 WIB
Ryan & Prafi: Thanks for the appreciations :)
Laily | 05 April 2017 | 09:35:06 WIB
Aqila: Find me on Facebook (Laily Fitry) and I'll take your offer once I get the chance to be in Connecticut/NY :)
Maya | 06 April 2017 | 13:21:05 WIB
ada artikelnya dalam bahasa inggris? saya ingin share artikel ini ke kolega saya yang tidak bisa berbahasa indonesia
Ananda | 06 April 2017 | 15:59:28 WIB
Artikel yang sangat bagus! terimakasih mbak menuliskan keresahan wanita-wanita yang berpandangan serupa dengan sangat cerdas.
Hermi | 06 April 2017 | 00:42:23 WIB
"Janji surga yang sensual"

Hal ini membuat saya resah sekaligus penasaran sejak lama. Dalam beberapa surat di Al Quran disebutkan jika di surga nanti akan ada bidadari perawan dengan kecantikan sedemikan rupa. Mengapa saya merasa dalam hal ini kitab suci hanya menjanjikan hal yang sedemikan sensualnya? Bahkan jika seorang istri tidak melayani suaminya dengan baik, maka bidadari surga tsb akan marah.

Mohon pencerahannya akan hal ini.
hamima | 06 April 2017 | 01:13:03 WIB
mbak artikelnya bagus sekali!!! keresahan keresahan saya soal 'janji surga yang sensual' dan sejenisnya itu sudah disampaikan dgn on point banget di sini. saya jadi tertarik pingin mendalami kasus2 yg serupa. salam kenal mbak laily! :)
Rizka | 06 April 2017 | 22:28:35 WIB
Tulisannya sangat menarik. Saya rasa sebagian besar muslim feminis di Indonesia merasakan keresahan ini. Salah satu yang bagi saya pribadi yang paling meresahkan adalah bagaimana kita menerjemahkan dan menginterpretasikan surat an nisa ayat 34. Sebagian besar terjemahan bahasa Indonesia pada Al-Quran di Indonesia masih menerjemahkan kata pelindung sebagai pemimpin. Saya sendiri masih sangat awam mengenai teologi dan saya seringkali merasa Islam tidak bisa menjadi feminis akibat ayat tersebut sebelum saya mengetahui ada alternatif penerjemahan lain. Menurut mbak bagaimana terjamahan dan penafsiran ayat tersebut dan bagaimana kaitannya dengan konteks ketika ia diturunkan? Terima kasih :)
Beby | 06 April 2017 | 08:41:36 WIB
"Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (Laki-laki) atas sebagian yang lain (Wanita), dan karena mereka (Laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka...." (An-Nisa': 34).
mengenai pernyataan Anda : Keadilan-Nya telah membuat perempuan dan laki-laki memiliki kemanusiaan yang sama. Laki-laki tidak seujung kuku pun lebih unggul dari perempuan dalam hal apa pun.
gita | 06 April 2017 | 09:32:47 WIB
terima kasih karena dengan sangat baik menjelaskan kerumitan isi kepala saya selama ini, yang saya defense kan dr serbuan teman se kos, yg saya argumentasikan kepada seseorang yg sy sayangi, yang saya jelaskan berkali2 pada orang tua, dan tak terhitung pada semua orang yang pernah berbicara ttg topik ini dengan saya, terimakasih :)
Mutiara | 06 April 2017 | 22:59:59 WIB
I'd love to connect with you, maybe over a coffee, when/ if you're in DC. Thanks for writing on this issue.
Laily | 07 April 2017 | 01:55:13 WIB
Terima kasih semua atas komentar dan pertanyaannya. Saya akan coba jawab sekaligus di sini.
1. Soal 'sensualitas surga' dalam al-Qur'an. Memang benar, dalam al-Qur'an, dan pada level yang berbeda, di seluruh kitab-kitab suci agama samawi, surga dan neraka digambarkan secara jasmaniah dengan janji pahala yang sangat manusiawi, dan janji hukuman yang sangat badani juga.
Laily | 07 April 2017 | 01:56:41 WIB
Dalam hal ini saya memaknai dimensi gambaran surga dan neraka dalam al-Qur'an melalui paradigma Pesan Pertama dan Pesan Kedua Qur'an (first and second messages of the Qur'an) yang dianjurkan oleh Syekh Mahmud Mohammed Taha dari Sudan. Jadi, paradigma itu begini kira-kira penjelasan mudahnya: al-Qur'an bukanlah kitab suci yang turun dalam situasi vakum. Ini berarti bahwa al-Qur'an 'berkomunikasi' dan 'merespon' pada konteks di sekelilingnya dan terus 'berevolusi' seiring dengan perkembangan paradigma kemanusiaan.
Laily | 07 April 2017 | 01:57:25 WIB
Di masa awal Islam, al-Qur'an diturunkan pada konteks masyarakat yang belum mampu berpikir soal filsafat, hermeneutika, kekuatan bahasa dan konstruksi nilai, dll. Masyarakat pada masa itu hidup sederhana berdasar sistem hidup Bedouin yang berdiri di atas fondasi 'eye for an eye'. Karena itu, bahasa al-Qur'an diturunkan dalam bentuk yang sangat fisikal. Kalau kamu menjadi orang baik, maka di surga kamu akan mendapatkan semua yang kamu inginkan saat hidup di dunia, dan sebaliknya, jika kamu menjadi orang jahat maka hukumannya adalah segala sesuatu yang tidak kamu inginkan di dunia. Ini pesan pertama dari al-Qur'an.
Laily | 07 April 2017 | 01:58:17 WIB
Namun, setelah peradaban manusia berkembang dan manusia memiliki kemampuan untuk berpikir soal filsafat, etika, dan nilai-nilai, maka setiap penjelasan al-Qur'an yang menekankan pahala dan hukuman tersebut harus ditempatkan di bawah ayat-ayat al-Qur'an yang membawa penjelasan soal etika dan nilai, misal: ayat yang menjelaskan bahwa membunuh satu orang seperti membunuh makhluk Tuhan sedunia. Al-Qur'an tidak perlu lagi menyuapi kita soal bagaimana untuk menghormati orang lain dan menjadi manusia yang baik karena kita semua bukan lagi Bedouin. Inilah pesan kedua dari al-Qur'an.
Laily | 07 April 2017 | 01:59:29 WIB
Dan inilah yang harus kita tekankan sekarang. Jadi, memang benar gambaran surga sensual itu ada dalam al-Qur'an, tapi bukan itu yang harus kita tekankan sekarang karena kita telah berevolusi sebagai masyarakat manusia.
Laily | 07 April 2017 | 02:00:32 WIB
2. Soal Qur'an 4:34: Saya di sini mengikuti pendapat dan tafsiran beberapa Muslim feminis, diantaranya Asma Barlas, dan Azizah al-Hibri. Ada dua masalah dengan tafsiran umum yang kita tahu soal 4:34. Satu, kata-kata 'Qawwamun' di situ tidak hanya bisa diartikan sebagai pemimpin dan pelindung, melainkan juga sebagai 'seseorang yang membantu kehidupan dan memperdulikan seorang lainnya'. Dalam hal ini, ayat tersebut bukan berarti bahwa laki-laki secara ontologis memiliki kualitas super-manusia di atas perempuan, namun bahwa laki-laki, ketika ia telah menjadi suami, harus memperdulikan istrinya. Itu saja. Bukankah itu kewajiban seorang suami memang? begitupun sebaliknya, istri juga harus memperdulikan suami. Itulah cinta.
Laily | 07 April 2017 | 02:01:20 WIB
Masalah kedua, di ayat itu ada kata-kata 'sebagian', yang seringkali dilupakan dalam upaya kita memahami ayat tersebut. Dengan demikian, ayat itu bermakna, SEBAGIAN laki-laki atas SEBAGIAN perempuan. Dalam hal ini kita tidak bisa menggeneralisir ayat tersebut sebagai bukti bahwa SELURUH laki-laki berada di atas SELURUH perempuan. Jika kita memaknai ayat itu sedemikian, maka kita telah menyalahi apa yang al-Qur’an jelaskan. Lebih jauh, karena SEBAGIAN laki-laki atas SEBAGIAN perempuan, maka SEBAGIAN perempuan juga atas SEBAGIAN laki-laki.
Laily | 07 April 2017 | 02:02:00 WIB
3. Terima kasih atas semua yang mengapresiasi. Untuk yang ingin bertemu dengan saya di Amerika Serikat, silahkan add saya di Facebook dengan message saya terlebih dahulu.
Zakir | 07 April 2017 | 06:46:23 WIB
Worthless as shit. Liberal lidah buaya
Dwini Aisha | 07 April 2017 | 10:47:54 WIB
Cara pandang yang bagus. Saya juga setuju jika fenomena ini sangat disayangkan msh terjadi secara masif di Indonesia. Saya juga berharap perempuan Indonesia tidak berpikiran sempit dengan hanya menjadikan menikah sbg tujuan akhir.
Tapi sy perlu mengkritisi, bahwa surganya istri itu memang ada pada suaminya. Karena memang begitu perintah Rasulullah. Istri harus tawadu. Ridhonya suami adalah ridhonya Allah. Ketentuan itu mutlak. Barangsiapa tidak meyakininya jangan anggap dirimu muslim krn km bukan pengikut Rasul SAW.
Selebihnya di era modern seperti ini tidak masalah jika menginginkan pernikahan apalagi perempuan muda atau diusia berapapun. Tapi byk perempuan yang tidak siap menjadi istri apalagi menjadi orangtua. Bukan perkara mudah mengabdikan diri seutuhnya untuk suami, juga untuk keluarga. Banyak hal yg harus dipelajari sebelum menikah. Bukan sekedar menikah hari ini, dan terserah besok seperti apa.
Irene | 07 April 2017 | 11:02:26 WIB
Terima kasih atas buah pikirannya. Ini sangat membantu saya memahami bahwa agama dan feminisme tak perlu saling bertabrakan. Saya sangat setuju dengan pemikiran Mbak Laily, rasanya ingin semua orang baca dan menyerap maknanya masing-masing.
Tapi yg saya khawatirkan, tulisan yg sangat penting ini ujung-ujungnya hanya akan dibaca (dan berusaha dipahami) oleh mereka yang pd dasarnya memang sdh sepemikiran. Bias konfirmasi yang mengambil alih. Sementara kalau saya tunjukkan tulisan Mbak pd teman dan kenalan yg memuja nikah muda, tulisan ini hanya akan dicibir (contohnya komentar Zakir di atas saya).
Memang gagasan2 spt ini harus banyak dibiasakan dan dapat banyak airtime dulu di media, baru lama-lama orang mulai menengok. Tapi kalau ada masukan bgmn caranya (atau bahkan perlu atau tidaknya) saya membagikan gagasan2 seperti ini pada kawan yg konservatif, saya sangat bersedia mendengar.
nadin | 07 April 2017 | 12:51:43 WIB
Menikah memang tujuannya untuk menghindari zinah. Pernah kah anda baca koran atau menonton televisi tentang bayi dibuang karena hasil hubungan zinah? Atau janin digugurkan karena zinah? Lebih tidak bermoral toh? Dan pernah belajar perkembangan anak muda? Pernah tau trend anak" di Jepang, korea atau barat? Anak muda memiliki semangat yang tinggi terutama masa" kuliah sekitar 18-24. Mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan mau menjajal banyak hal. Terutama di jaman teknologi yang semakin maju informasi dengan mudah di dapat. Banyak juga iklan", poster atau film yang mengandung unsur" seksual (bukan film porno ya) yang dengan mudahnya kita tinggal buka laptop atau hp maka nikmatlah mereka melihatnya. Karena hal" tersebut mereka ingin tahu rasanya ingin menjajal dan hawa nafsu mereka tinggi. Lalu harus disalurkan kemana hasrat mereka? Bila mereka yang pacaran, mereka melampiaskan ke pasangannya, jadinya zinah toh?
nadin | 07 April 2017 | 13:01:58 WIB
Lanjutan....

Jangan terlalu naif akan kata "hidup tak melulu tentang seksual". Benar memang tapi lihat realitas yang ada. Banyak kejadian pemerkosaan yang dilakukan anak muda. Kondom banyak terjual atau laris manis ketika selesai UN (ini terjadi di beberapa daerah kan) menikah muda ada tujuan baiknya kan bukan hanya tentang menghindari zinah tapi menghindari pertumpahan darah dan nyawa seorang bayi atau janin. Biarlah mereka bila memang siap menikah di usia muda dan bila ada yang tidak setuju tak perlu sampai menjadi perdebatan. Menikah hak asasi hidup manusia kan? Kemudian penulis tidak berhak mengomentari tentang tujuan atau niat seseorang memakai cadar, kerudung panjang atau pakaian yg lainnya. Karena penulis tidak lah tau atas niat seseorang dalam berpakaian.
Bagus | 07 April 2017 | 13:45:54 WIB
Tenang saja.. sebentar lagi proses reproduksi manusia akan diambil alih oleh mesin. Tidak lagi ribut soal wanita menjadi objek seksual kan? tapi perempuan lebih menjadi objek rekresiasional. Mungkin itu lebih menyenangkan dan lebih bebas dari pada terbelenggu oleh institusi pernikahan. Sama-sama senang.

Membawa-bawa kartini sebagai sosok pembebas pun rasanya kurang tepat sebab pada akhirnya beliau menerima posisinya sebagai sosok yang tunduk pada institusi pernikahan.

Akhirnya pertanyaannya memang berada pada, kemanakah tujuan sebenarnya dari sebuah pernikahan? Dunia ataukah sampai ujung hayat akhirat. Diskusi akan usai ketika world view tentang hereafter masing-masing orang diperjelas.
Theresia | 07 April 2017 | 17:42:34 WIB
Baguss..saya sepemikir dengan penulis.semoga dibaca perempuan2 Indonesia. Sukses selalu...Gbu.6727
Laily | 08 April 2017 | 00:11:13 WIB
Dear all: Saya tidak akan lagi merespon soal 'jaminan surga pada suami' dan 'pernikahan sebagai alat u/ menghindari zina'. Saya sudah secara jelas menjelaskan posisi saya pada dua isu di atas. Soal julukan 'liberal', saya pikir setiap orang yang dengan mudah menyatakan bahwa si A atau si B adalah liberal hanya karena mereka berbeda pendapat, adalah orang yang tidak paham apa itu 'liberalisme' sebenarnya. Terima kasih.
Eunike | 08 April 2017 | 17:49:05 WIB
Halo, Mbak Laily. Thank you for writing this inspiring article. Kebetulan saya adalah non-muslim. Tetapi karena saya perempuan dan tumbuh bersama teman-teman muslim, I can relate. Saya sangat senang menemukan perempuan secerdas dan se open minded mbak yang bisa berbicara tentang permasalahan ini dari sudut pandang feminisme namun tanpa meninggalkan ajaran agama. You go, mbak!
Diana | 08 April 2017 | 20:25:00 WIB
Such an excellent article, hard for me to read bahasa but it was worth the effort. Saya rasa fenomena ini bukan sahaja di Indonesia tapi boleh dilihat di Malaysia dan kommuniti Melayu di Singapura juga. Kebelakangan saya berfikir, aspirasi wanita melayu semakin regresif. Btw saya pun baca buku Asma Barlas, truly such an important read for me, and made me love and connect with the faith more.
arif | 09 April 2017 | 12:45:51 WIB
Jelas orang yang menulis artikel ini tidak paham agama Islam sama sekali.
Ash | 09 April 2017 | 23:15:10 WIB
Reading Arif's and Zakir's (and 'lidah buaya' reminds me of aloe vera idk if it's an intended pun or not) comment, I'm wondering something. Why do people that comment on articles or posts which are considered 'liberal' by them, mostly use ad hominem to argue? Or even worse, they sometimes threaten and attack the writer! I as another reader, would like to see another opinion from another perspective too, not just pure hate with baseless knowledge. I feel bored seeing the same reaction over and over and over again...like can't you come up with better opinion than just ad hominem?
Ash | 09 April 2017 | 23:15:36 WIB
--continued-- Anyways, what a nice article and I love how the punchlines are effectively placed, Mbak Laily! To be honest, marriage is not an easy thing to do and it's such an irony that these teens/young adults are so obsessed with marriage. Yep, another reader will reply to me saying 'But, it is their choice to marry, not yours!' Okay, I am extremely aware that everybody is entitled to their opinion, but don't you think that chasing for a better career, earning more money, continue studying, and traveling around the world sound more fun yet challenging? Life is more than just waiting to be married.
Arifia | 10 April 2017 | 11:24:26 WIB
4. Kemudian, Rosululloh shollallohu alaihi wasallam menyampaikan alasan dari manfaat sebuah pernikahan, yaitu menikah merupakan sarana lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan dari hal-hal yang haram.
Usamah bin Zaid rodhiallohu anhu meriwayatkan hadits bahwa Nabi shollallohu alaihi wasallambersabda, “Tidak ada satu fitnah (ujian) sepeninggalku yang lebih berbahaya bagi seorang laki-laki daripada fitnah seorang wanita.”

Anda realistis, tetapi tidak sinkron sama ilmu agama Islam
Seperti ini, anda dpt membuat jelek citra 'muslimah'
Luna Chandra | 10 April 2017 | 12:31:41 WIB
Ada orang orang yang bisanya cuma menyerang si penulis artikel ini saja, seolah olah si penyerang ini paling suci sendiri dan merasa secara moral lebih tinggi. Ehem...
Laily | 10 April 2017 | 13:45:46 WIB
Salam, Arifia: Tentang komentar anda. Anda bilang bahwa saya menjelekkan citra Muslimah karena saya bilang bahwa Muslimah dapat memperoleh surganya sendiri tanpa harus bergantung kepada laki-laki. Dan anda yakin bahwa anda tidak sedang menjelekkan citra Muslimah ketika 3 dari 4 hadith yang anda kutip semuanya menggambarkan perempuan sebagai manusia invalid yang tidak sempurna tanpa laki-laki, dan bahkan ketika ia bersama laki-laki ia menjadi cobaan terbesar bagi diri laki-laki yang suci? Hm, siapa yang sedang menjelekkan citra muslimah di sini?
ANDI | 10 April 2017 | 15:17:20 WIB
Very eloquently written, cukup kagum dengan pola fikir & cara pandang mbak Laily. Menghindar zina alasan paling popular dikalangan mereka yang menyokong pernikahan bawah umur.
Arifia | 10 April 2017 | 11:23:33 WIB
3.
“Wahai para pemuda! Siapa di antara kalian yang mampu memikul beban pernikahan, maka menikahlah! Karena dengan menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang tidak mampu menikah maka hendaklah ia berpuasa karena dengan puasa itu adalah tameng.”
Dalam hadits tersebut, Rosululloh shollallohu alaihi wasallam secara khusus menyeru para pemuda untuk menikah. Karena, secara umum dorongan syahwat pada seorang pemuda jauh lebih kuat. Sedangkan Islam adalah agama yang mengajarkan umat agar menjaga kesucian diri. Sehingga, seorang pemuda yang telah mampu memikul beban pernikahan sangat dianjurkan untuk segera menikah.
Arifia | 10 April 2017 | 11:17:13 WIB
2. Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda bahwa beliau melihat wanita adalah penghuni neraka terbanyak. Seorang wanita pun bertanya kepada beliau mengapa demikian? Rasulullah pun menjawab bahwa diantarantanya karena wanita banyak yang durhaka kepada suaminya. (HR Bukhari Muslim

Sertakan dalil-dalil jika anda ingin berkomentar terhadap agama Islam. Sayang sekali, ilmu anda sedikit.
Arifia | 10 April 2017 | 11:16:13 WIB
"Menikah merupakan wujud ketaatan seorang muslim untuk menyempurnakan separuh agamanya. Dengan menikah, seseorang dapat menghadap Alloh dalam keadaan baik.."

Siapa yg tau umur? Sdgkan kita bisa mengempurnakan agama kita sblm nyawa dicabut?

Ketaatan istri pada suami adalah jaminan surganya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Suami adalah surga atau neraka bagi seorang istri. Keridhoan suami menjadi keridhoan Allah. Istri yang tidak diridhoi suaminya karena tidak taat dikatakan sebagai wanita yang durhaka dan kufur nikmat.
Lila | 10 April 2017 | 19:18:13 WIB
wow I admire your writing at first, but the fact that you compared bible to Al Quran in which you are a Muslim, it made me uncomfortable. You shouldn't say something like that, IMHO.
Laily | 10 April 2017 | 22:27:40 WIB
Lila: If I may ask, why shouldn't we compare the Bible and the Qur'an as a Muslim?
Laily | 10 April 2017 | 00:04:35 WIB
Eunike & Diana: Thanks for the appreciation :)
Laily | 10 April 2017 | 00:06:23 WIB
Ash: Good observation. I've been wondering for the same. Not to mention that in my other published articles, the ad hominem arguments were usually directed at the fact that I am a woman, and that I wear hijab.
Echa | 11 April 2017 | 14:46:35 WIB
Harus diketahui terlebih dahulu kalau pernikahan itu bukan hanya sekedar Ijab Kabul untuk menghalal kan hubungan seks. Pernikahan itu lebih kepada seberapa mampu kah kita sebagai manusia menjalin dan mempertahankan hubungan dengan pasangan kita untuk selama-lamanya (karena setiap pernikahan tidak ada yang mengharapkan perceraian). butuh persiapan yang matang dari kedua belah pihak, bukan hanya sekedar cinta dan kesamaan kepercayaan tapi sejauh apa kita mengenal pribadi pasangan kita. kalau bertemu laki-laki soleh, dengan jenggot panjang dan baju koko saja sudah kelepek-kelepek minta di 'halalin' itu namanya nafsu. ingat lelaki yang akan kamu nikahi seumur hidup itu adalah orang yang akan berkerjsama denganmu selama-lamanya untuk membangun sebuah keluarga baru lagi. Siapkanlah diri kita sebagai perempuan dengan bekal-bekal untuk menjadi istri dan ibu yang baik, dan persiapkanlah calon suamimu dengan akhlak yang baik dan kebijaksanaan dalam membangun rumah tangga bersama-sama















Weekly Top 5