‘Kamu Harus Ingat Bahwa Kamu Perempuan’

Monday, 17 April 2017 - 11:46:06 WIB
By : Gusti Ayu Meisa Kurnia Dewi Silakarma | Category: Sosial - 6600 hits
Hari itu tepat empat bulan setelah saya merampungkan proses akhir perkuliahan yang menjadi momok banyak orang: Sidang skripsi. Dalam sebuah acara keluarga, saya membawa serta buku berjudul “Dreams and Shadows” karya Robin Wright. Tidak saya kira, buku itu mengantarkan saya ke salah satu pembicaraan paling tidak menyenangkan sepanjang hidup saya.

Salah seorang kerabat, melihat judul buku yang mengandung kata ‘mimpi’, berkomentar bahwa kecintaan saya terhadap buku yang saya pegang itu menandakan saya sudah memikirkan masa depan. Mungkin beliau tidak mengira bahwa isi buku itu adalah tentang keadaan politik dan budaya di kawasan Timur Tengah. Ia bertanya lagi mengenai bidang yang ingin saya geluti setelah lulus, dan saya menjawab, politik luar negeri. Saya menambahkan bahwa untuk sementara waktu saya ingin mencari pengalaman kerja terlebih dahulu, baru nanti  melanjutkan studi. Alasan saya, agar saya memiliki bekal yang cukup.

Jawaban saya ini tidak langsung disanggah, namun beliau bertanya mengapa saya tidak langsung saja mengambil studi lanjutan daripada sibuk mencari pengalaman terlebih dahulu. Saya jelaskan mengenai kecakapan tertentu yang perlu saya miliki secara praktis untuk mendukung keinginan saya berkontribusi dalam ranah yang sama setelah studi lanjutan.

Tiba-tiba, seorang kerabat lain mulai berceloteh dengan intonasi tinggi, tentang kepatuhan terhadap orangtua dan bahwa saya tidak boleh alpa dengan kewajiban menjadi perempuan. Awalnya, saya tidak paham apa hubungannya pembicaraan tadi dengan kedua poin tersebut. Pertama, saya tidak merasa melawan orang tua karena Papa saya selalu berujar: “Apa pun yang kamu lakukan, itu terserah kamu. Asalkan kamu bisa bertanggung jawab di situ.” Kedua, saya tidak pernah mengerti kewajiban menjadi perempuan macam apa yang beliau maksud. Saya sedang berada di titik ketika saya harus mulai merencanakan masa depan, dan saya tidak melihat rencana masa depan saya harus bertabrakan dengan ‘kewajiban’ menjadi perempuan, apa pun itu, mengingat saya tidak pernah mendengar saudara lelaki saya diberikan nasihat tentang kewajiban menjadi laki-laki.

“Kamu harus ingat bahwa kamu perempuan. Nantinya, kamu pasti bersuami. Jika kamu mengejar cita-cita sampai harus pindah ke kota lain dan [menjadi] hebat di sana, mana ada pria daerah kita yang mau menikah denganmu. Mana mungkin juga kamu bisa memperoleh jodoh dari daerah kita. Di mana-mana perempuan harus mengalah, ikutlah dengan pria. Menjadi pengajar di daerah asal itu pekerjaan aman, pasti nantinya pria tidak merasa dikalahkan. Itu kewajiban utama,” ujarnya.

“Dahulu, saya mengalah dengan meninggalkan pekerjaan saya dan ikut dengan pamanmu. Sampai saat ini, saya tidak menyesal dengan pilihan itu. Lagipula, orangtuamu sekarang kan juga menginginkan hal yang sama. Berbaktilah, agar orangtuamu bisa merasa ketenangan sedikit,” katanya panjang lebar karena melihat saya tidak merespon sedikit pun.

Setelah hari itu, saya acap kali termenung lama. Apa boleh saya mengatakan bahwa saya kecewa dengan anggota keluarga saya sendiri?

Pertama, saya tidak peduli jika dia memilih jalan melepaskan pekerjaannya terlebih dahulu, mengalah untuk menikah. Kalau itu memang pilihan yang dilakukannya sebagai agensi yang punya kesadaran untuk memilih, itu hak beliau sepenuhnya. Namun, hal yang saya tidak duga ialah kalimatnya yang membatasi hak saya untuk memilih. Seolah-olah ketika saya memilih hal yang mungkin tidak familiar bagi orangtua saya, saya akan menjadi anak durhaka, bahkan mungkin berhak dikutuk menjadi batu. Padahal pilihan mengenai masa depan memang seharusnya ada di kedua tangan saya sebab saya yang akan bertanggung jawab nantinya. Dengan tidak menjalani pilihan yang ditawarkan oleh kedua orangtua saya, tidak berarti saya melangkahi dan melupakan beliau-beliau dengan serta-merta. Memilih masa depan dan memelihara respek saya terhadap orang tua merupakan dua hal yang berbeda serta bukan konsep yang harus dimaknai dengan hubungan terbalik satu sama lain.

Kedua, saya kecewa karena beliau-beliau yang saya hormati itu menganggap sebuah profesi yang saya anggap mulia sebagai alat untuk menunjang “menuju keperempuanan sejati di masa depan”. Menjadi pengajar adalah hal yang baik. Terlepas dari keinginan saya untuk tidak menjadi seorang akademisi, tidak menghapus fakta tersebut. Saya menjadi gusar ketika pekerjaan ini disetarakan dengan “pekerjaan aman” untuk perempuan. Seolah-olah menjadi pengajar ialah gua untuk berlindung, bukan tempat untuk mengasah potensi diri.

Pertanyaan besar saya adalah pekerjaan aman macam apa? Dan secara lebih fundamental, mengapa perempuan membutuhkan pekerjaan aman? Logika saya tidak bisa sejalan dengan alasan bahwa menjadi pengajar sama dengan memilih pekerjaan aman, tidak membuat calon suami merasa inferior, dan karenanya mengarah pada masa depan yang lebih nyaman nantinya.

Akan berbeda jika saja alasan beliau-beliau adalah bahwa dengan menjadi pengajar, maka saya dapat berkontribusi terhadap banyak orang dan membagikan apa yang saya ketahui. Namun, jika alasan menjalani suatu profesi hanya untuk mendukung apa yang sudah digariskan turun-temurun, sekaligus meletakkan identitas diri kita sebagai kelas kedua untuk menyenangkan pasangan yang bahkan belum tampak wujudnya, apakah hal ini dapat masuk ke dalam nalar seseorang yang mengecap pendidikan hingga bangku kuliah?

Terakhir, saya tidak mengira bahwa ternyata orang-orang dekat saya sendiri masih memegang teguh cengkeraman patriarki dan menormalisasinya dalam kehidupan mereka, dengan kalimat bahwa perempuan harus merelakan cita-citanya demi perasaan pasangannya di masa depan. Menurut saya, tidak ada manusia yang harus menyadari ‘kodrat’ tertentu agar membatasi kemampuannya untuk bisa menjadi lebih baik di kemudian hari, apa pun pekerjaannya. Laki-laki tidak seharusnya menjadi alasan bagi perempuan untuk mengorbankan cita-citanya di masa depan. Mencintai pasangan sepenuhnya dan menjalani cita-cita merupakan dua hal yang berbeda dan dapat ditempatkan dalam posisi beriringan, bukan dengan posisi hierarkis.

Saya yakin tidak hanya satu atau dua perempuan yang mengalami kebingungan ketika menerima nasihat serupa dari keluarga dan sanak saudara. Ini seringkali menjadi batu ganjalan bagi kami, perempuan-perempuan di usia transisi bangku kuliah menuju tahapan selanjutnya. Satu hal yang tetap saya pegang teguh ialah sejatinya tidak ada batasan gender atau kebudayaan yang dapat menghambat kita untuk menjadi manusia lebih maju.

Setiap orang ialah agensi untuk dirinya masing-masing. Setiap orang berhak memilih jalannya sendiri. Setiap orang berhak mendefinisikan ‘masa depan’ untuk diri mereka masing-masing. Dan setiap orang berhak bahagia atas pilihan yang ia jalani, tanpa menjadi hakim bagi pilihan orang lain.

Gusti Ayu Meisa Kurnia Dewi Silakarma adalah pekerja belakang bangku yang melahap berita demi berita, riset demi riset, fakta demi fakta. Ia dapat ditemui di toko buku terdekat atau sudut-sudut pujasera yang menyajikan Nasi Goreng Spesial dan Green Tea karbitan.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Ruby - Astari | 17 April 2017 | 14:27:12 WIB
Gak hanya patriarki, tapi feodalis.
suaidah | 18 April 2017 | 08:09:54 WIB
Meisaaak kereeennnnn
Ayu R | 18 April 2017 | 11:43:56 WIB
Tulisan yang sangat menginspirasi kaum perempuan.
P Chitra | 18 April 2017 | 14:36:20 WIB
I feel you, girl. I feel you.
Nurina Lia | 19 April 2017 | 07:42:57 WIB
Orang tua saya juga mengatakan hal yang sama persis mbak, pilih apa yang mau kamu lakukan asal bertanggung jawab dan konsisten. Orang tua saya tidak ada masalah sama sekali, tapi kerabat yang lain, pakde, bude, dan yang lain-lain itulah yang biasanya lebih 'berisik'.
Nadia Amanda | 20 April 2017 | 17:52:23 WIB
saya juga mengalami hal yang sama, dan yang paling aneh menurut saya kenapa harus perempuan yg mengalah? seakan akan laki-laki adalah makhluk lemah yang tidak dapat bersaing dengan wanita, harusnya apabila wanita lebih tinggi pendidikannya, ia harus berusaha untuk melanjutkan pendidikannya lagi bukan malah menghentikan dengan alasan "perempuan sekolah tinggi2 ntar susah jodohnya" .
Gusti Ayu Meisa | 21 April 2017 | 12:58:24 WIB
Terima kasih feedback-nya semua. Hal ini saya rangkum memang sebagian karena pengalaman pribadi dan beberapa teman yang juga menerima nasehat atau peringatan yang sama dari sanak saudara. Semoga tiap-tiap dari kita bisa memberikan pengertian bahwa sudah saatnya memberikan hak siapapun, termasuk perempuan, untuk menentukan jalan pilihannya sendiri bagi masa depan.
Cahya Trisady Gustiari | 21 April 2017 | 13:22:52 WIB
Kece ngettzz! Tetep semangat mbak Mess, moga tante mbak bisa cepet sadar. Takut kalo gaya didik ke anaknya masih kolot gitu :(
Lily | 27 April 2017 | 17:28:32 WIB
I feel you, Meisa. Saya juga mengalami hal yang sama, tidak serta merta dilarang untuk memilih memang, tapi diarahkan untuk mengambil pekerjaan yang 'aman' karena alasannya "Kamu kan perempuan...". Miris, ya?
Gusti Ayu Meisa | 03 May 2017 | 16:19:05 WIB
Sependapat, Lily. Berharap tidak ada lagi pernyataan seperti itu dilontarkan karena pertimbangan gender semata, ya.
tya | 27 May 2017 | 14:40:19 WIB
I feel that too, even my parents still think that way. It's really hard for me when my family don't support my dreams and anything that i wanna do. No one to rely when i'm in hard times. But now after one year i move to another city, i used to that condition and my parents won't complain anymore (maybe they're tired arguing with me hehe)
Erna Angdamdewi | 30 May 2017 | 13:52:00 WIB
Love this writing!

Somebody told me, "neng perempuan mah jangan pinter2 jgn sukses2 amat, kasian laki2nya.."
Mirisnya, teman laki2 saya pun suka ada yang nyeletuk. "kamu jangan tangguh teuing, entar lakinya jiper. ."

Miris ya! :)
*teuing: terlalu dalam Bahasa Sunda.













Weekly Top 5