Masuk Surga

Friday, 12 May 2017 - 13:53:15 WIB
By : Inge Agustin | Category: Spiritualitas - 4259 hits
Sebenarnya sampai sekarang saya masih bingung kenapa banyak orang-orang yang ingin sekali masuk surga.

Ada apa sih di surga memangnya?

Kalau berdasarkan cerita-cerita konvensional tentang surga, dikatakan itu adalah tempat di mana orang-orang baik (menurut standar agama masing-masing) akan berkumpul. Di mana hanya ada kebahagiaan abadi, tidak ada lagi rasa sakit ataupun penderitaan. Semuanya hidup berbahagia. Abadi.

Deskripsi surga itu, yang membuat begitu banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya dan yang menjadi jualan nomor satu agama-agama konvensional, justru terdengar sangat menakutkan buat saya. Hidup abadi. Berbahagia terus untuk selama-lamanya. Selama-lamanya dari yang paling lama. Tidakkah itu terdengar sangat menakutkan? Terus ada, sama, tidak berubah, dan untuk selama-lamanya.

Ok, kalau dibandingkan dengan neraka yang penghuninya akan dipotong lidah atau direbus atau digantung terbalik, dipanggang di api neraka selama-lamanya, deskripsi kehidupan di surga itu terdengar sangat menyenangkan dan baik. Akan tetapi, kalau saya bisa memilih, saya lebih menyukai kehidupan saya di dunia ini.

Sempat ada salah satu deskripsi tentang surga yang saya dengar, yaitu bahwa nanti semua jalanan di surga akan terbuat dari emas. Alih-alih merasa takjub dan semakin berhasrat masuk surga, saya malah berpikir, bukannya itu berarti emas menjadi tidak ada artinya di surga sana? Kita sekarang ini menganggap emas sebagai barang yang luar biasa kan karena keistimewaannya, harganya yang mahal dan pengorbanan yang diperlukan untuk seseorang untuk memiliki emas. Kalau di surga nanti emas bisa diinjak-injak layaknya aspal, ya apa artinya?

Apa artinya menjadi bahagia kalau kita tidak punya pembanding dengan penderitaan? Maksudnya, menjadi bahagia itu berharga karena kita tahu apa rasanya merasa sedih, kan? Orang menginginkan menjadi bahagia karena mereka tahu rasanya tersakiti. Kalau bahagia itu menjadi suatu kenormalan, apa istimewanya kan?

Makanya saya sering mengernyitkan kening setiap mendengar orang mengatakan, “hidup di dunia hanya sementara, yang penting nanti hidup di akhirat.”

Tapi pak, “kehidupan sementara” ini lah yang kita punya sekarang. Se-sementara-sementaranya kehidupan di dunia ini, tetaplah masih cukup panjang untuk berbuat banyak hal. Baik dan buruk. Lagi pula, rata-rata hidup manusia sekarang adalah 70 tahun. Tujuh puluh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Saya nunggu iklan YouTube 20 detik saja sudah tidak sabar.

Terlalu sayang bila kehidupan di dunia ini dikecilkan artinya hanya karena keberadaan surga itu.

Lagipula, untuk saya pribadi, jika bisa memilih, saya lebih memilih untuk berbahagia di dunia ini. Kehidupan saya sekarang ini memang jauh dari sempurna (lagipula, hidup yang sempurna itu yang seperti apa juga?) tapi saya bisa bilang bahwa saya bahagia dengan hidup saya.

Walaupun kerja capek dari Bintaro ke Jakarta dari Senin sampai Jumat (kadang-kadang akhir pekan masih masuk juga), walaupun pusing memikirkan bagaimana dapat uang untuk bisa renovasi dapur, walaupun lelaki yang saya sayang meninggalkan saya buat perempuan lain (#eeaa), tapi kesulitan-kesulitan seperti itu yang membuat saya bisa menikmati kebahagiaan saat kebahagiaan itu datang.

Jadi saat saya punya uang untuk liburan setelah penat bekerja, saat saya dapat arisan dengan jumlah yang cukup untuk renovasi dapur, saat saya dipertemukan dengan lelaki yang bisa melihat betapa istimewanya saya, kebahagiaan itu akan terasa sangat berharga, karena saya tahu kebahagiaan itu tidak semudah itu untuk diperoleh.

Ya, saya tidak punya kapasitas untuk mengatakan mereka yang hidupnya dipakai untuk mengejar surga itu salah. Ada juga orang-orang yang berfokus pada surga dan itu justru menjadikan mereka memiliki hidup yang baik. Tidak banyak, tapi ada.

Hanya saja saya selalu merasa bahwa surga itu sebenarnya adalah sebuah konsep. Sebuah konsep untuk menjadi bahagia di kehidupan yang telah diberikan oleh Sang Maha. Tentang bagaimana manusia seharusnya bisa menemukan dan menciptakan surga mereka masing-masing tanpa harus menciptakan neraka bagi manusia lainnya. Atau mungkin lebih baik lagi, membantu orang lain untuk keluar dari neraka mereka dan membangun surga milik mereka.

Mungkin surga itu hanyalah sekadar berbuat baik kepada orang lain dan diri sendiri. Mungkin.

Inge Agustin adalah seorang karyawan swasta di sebuah kantor hukum di Jakarta. Dianggap aneh karena mengidolakan Eminem dan Big Bang. Bisa di-mention-mention di @inge_august.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
oli | 17 May 2017 | 19:40:58 WIB
Hallo mba inge, salam kenal.. Sy oli dari semarang.. Sy sangat sependapat dengan mba Inge.. Menurut sy konsep surga suatu yg pribadi & sangat abstrak, spt hal nya konsep kebahagian tiap2 orng sangat relatif, jadi tdk seharusnya org hanya terfokus pada kehidupan setelah mati ( surga / neraka ) tp sebaiknya bisa mengimbanginya.., terkadang orng terlena dgn iming2 surga dll, tp dia melupakan hubungan baik dgn manusia lainnya, terimakasih atas pencerahannya mba Inge..salam..
Sirumi | 18 May 2017 | 06:24:45 WIB
"Apa artinya menjadi bahagia kalau kita tidak punya pembanding dengan penderitaan? Kalau bahagia itu menjadi suatu kenormalan, apa istimewanya kan?
Terlalu sayang bila kehidupan di dunia ini dikecilkan artinya hanya karena keberadaan surga itu."
Pernyataan Mbak Inge sy kutip lagi. Menurut sy, justru akhir bahagia di surga kelak akan sangat berarti karena itu adalah IMBALAN kita karena telah bersusah payah berbuat kebaikan dan menjalankan perintahNya di dunia, ya jelas sangat BERARTI, dong. Misal saya orang Islam, kerja di Jepang. Mereka nggak ngasih waktu sholat Zuhur apalagi ashar, saya bela-belain pakai waktu istirahat dan solat di depan loker. Itu menurut sy sebuah pengorbanan, dan sy percaya akan ada imbalannya kelak. Maka, surga sangat berarti buat saya.
Kalau nggak ada konsep surga, semua orang seenaknya berbuat jahat. Nggak akan ada punishment kelak. Jadi, konsep surga itu malah sama sekali tidak mengecilkan arti kehidupan di dunia, kok.
Think again :).
Lara | 21 May 2017 | 23:33:00 WIB
Amazing mbak Sirumi. Sy pernah penasaran kenapa saya berpikir bahwa berbuat baik adalah pengorbanan. Berbuat baik untuk imbalan selaras dengan belajar buat nilai. Bagus, tapi tidak ada faedahnya. Bukan esensi tertinggi dari belajar jika cuma cari nilai. Now i know ... masuk surga bagi kebanyakan orang berpemikiran seperti mbak adalah hal yg egois
Duy | 17 June 2017 | 16:59:40 WIB
Selalu mikir hal yang sama tentang konsep surga :) Thanks for writing it well, mbak :)















Weekly Top 5