Atas Nama Kemuakan pada Patriarki, Maka Kulepas Jilbabku

Monday, 15 May 2017 - 10:41:43 WIB
By : Feby Indirani | Category: Spiritualitas - 47205 hits


Sejak dulu pun saya tak pernah menyepakati bahwa jilbab adalah kewajiban bagi Muslimah, sebagai tanda ketakwaannya pada Allah. Dari dulu saya memang paling enggan menghubung-hubungkan tingkat keimanan dengan jilbab atau cara seseorang berpakaian. Iman adalah persoalan yang sangat pribadi antara Tuhan dengan hamba-Nya, dan tidak ada seorang pun yang berhak menilai atau menghakimi hanya dari hal-hal yang saya nilai tak esensial.

Namun dulu saya masih beranggapan bahwa jilbab adalah sunnah, yang jika dikerjakan berpahala, dan sesuatu yang baik untuk dilakukan sebagai pemacu saya untuk berbuat lebih baik dalam segala hal, karena saya selalu memimpikan sosok perempuan berjilbab yang tidak malu-malu dengan suara tak terdengar seperti kebanyakan halnya dulu. Saya memimpikan sosok perempuan berjilbab yang lantang, berprestasi, nyaris mendekati gambaran saya tentang kesempurnaan.

Setelah berjilbab pada Desember 1999, bulan-bulan pertama saya lalui dengan penuh kenikmatan atas identitas baru saya. Meskipun demikian, tidak ada perubahan pemikiran atau perilaku yang signifikan. Saya tetap ‘bebas nilai’ dan tidak ragu untuk mengenali dan mempelajari semua hal.

Namun tak sampai setahun kemudian, saya mulai mengalami kejenuhan dalam hampir semua aspek kehidupan saya, termasuk soal jilbab. Jilbab yang saya kenakan tidak lagi dapat memotivasi saya untuk melakukan apa pun. Tadinya saya pikir hanya sebatas bosan karena penampilan saya menjadi seperti itu-itu saja, tapi semakin lama motivasi saya berjilbab semakin luntur. Perubahan yang terbaik memang bukan dari luar ke dalam tapi dari dalam ke luar, namun adakah perubahan dari dalam ke luar ini pun harus ditampakkan dengan jilbab? Saya mulai merasa kehilangan alasan kenapa harus memakainya.

Sekian banyak pertanyaan tentang jilbab kembali membanjiri pikiran saya. Kesalahan yang terbesar mungkin adalah pemujaan terhadap hal-hal yang hakikat dan lebih menghargai pertumbuhan rohani daripada perubahan kasat mata. Maka pada satu saat, ketika tidak juga didapat peningkatan spiritual dengan berjilbab, buat apa lagi saya teruskan? Kalau seorang teman pernah mengatakan ia berjilbab untuk meningkatkan kualitas ibadahnya pada Allah, saya tetap melihatnya sebagai hal yang paralel saja. Berjilbab satu hal, meningkatkan kualitas ibadah itu hal lain lagi. Atau mungkin hal itu berlaku untuknya tapi tidak untuk saya.

Di sisi lain baru saya sadari bahwa di samping alasan yang saya katakan sebagai ‘simbolisasi penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah’, alasan ‘duniawi’ saya mengenakan jilbab dulu adalah agar dapat mengadakan perubahan ‘dari luar ke dalam’ itu tadi. Suatu alasan yang sungguh keliru ternyata, setidaknya buat saya. Jika simbolisasi penyerahan diri saya sepenuhnya pada Allah,  mengapa juga harus jilbab? Ketika saya mulai merasa kehilangan makna mengenakan jilbab, saya melakukannya hanya karena perasaan sudah terlanjur basah.

Tidak bisa saya pungkiri bahwa aktivitas saya pada sebuah organisasi hak perempuan memberikan kontribusi terhadap keputusan saya untuk berani melepas jilbab.  Pemicunya sebetulnya adalah kemuakan dan kemarahan atas ketidakadilan yang dihadapi oleh perempuan dalam masyarakat ini. Apalagi dengan maraknya desakan untuk menerapkan syariah Islam  di Indonesia. Belum apa-apa tindakan zalim itu sudah terjadi. Perempuan yang tak berjilbab digunduli. Perempuan yang pulang malam tanpa mahrom digunduli. Razia terhadap semua perempuan yang masih berada di luar rumah di atas jam 22.00, tapi tidak berlaku untuk laki-laki.

Beberapa kabupaten di Indonesia sudah menerapkan syariah Islam, atau setidaknya yang mereka sebut sebagai syariah Islam. Namun, alih-alih menyentuh hal yang lebih esensial, hal pertama yang dilakukan adalah mewajibkan perempuan untuk berjilbab. Jika penerapan ekonomi syariah terlalu sulit dilakukan, kenapa tidak mulai dari menjaga kebersihan, meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja, menghapuskan pungutan liar dan uang sogok kepada pegawai pemerintah, memperbaiki kesejahteraan guru dan petugas keamanan? Bukankah itu lebih Islami?
 

Umat Islam kerap menjalankan ‘perintah’ agama tanpa menggunakan kemampuan mereka untuk berpikir secara esensi kenapa mereka harus melakukan itu. 


Asumsi saya, ada dua paradigma yang mungkin melatarbelakangi kenapa pemberlakuan jilbab menjadi primadona di kalangan pemerintah daerah yang ingin menerapkan syariah Islam. Asumsi pertama adalah adanya paradigma yang selalu melihat perempuan sebagai sumber persoalan secara tidak proporsional,  seperti pornografi, pemerkosaan atau kemaksiatan. Kedua, perempuan adalah kelompok yang paling lemah dan mudah dikendalikan sehingga merekalah yang dibebani berbagai macam aturan. Hal serupa kerap terjadi di negara-negara yang menyatakan diri sebagai negara Islam, seperti Iran pada masa pemerintahan Imam Khomeini sesudah revolusi 1979, atau Afghanistan pada rezim Taliban.

Satu hal yang membuat saya kerap ingin berontak adalah upaya pengkotak-kotakan antara perempuan baik-baik dan tidak baik-baik dengan adanya pembedaan pada pakaian. Seolah-olah jilbab adalah simbol kesucian perempuan, dan saya benci dengan istilah ‘kesucian’. Karena istilah itu hanya dan memang hanya diperuntukkan untuk perempuan, tidak pernah untuk laki-laki. Padahal baik laki-laki maupun perempuan punya kewajiban untuk memelihara kesucian diri. Namun hanya karena perempuan yang bervagina dianggap punya selaput dara yang dapat rusak, sementara penis laki-laki dianggap tetap saja utuh selama-lamanya, maka beban kesucian itu hanya diberikan pada perempuan.

Seolah itu tak cukup, ada lagi pengkotak-kotakan lain yang membedakan perempuan berjilbab dari caranya berjilbab dan mengukur tingkat keimanannya dari panjang pendeknya jilbabnya.  Maka timbullah istilah Kudung Gaul, Berjilbab tapi Telanjang yang menjadi judul sebuah buku saku. Bacalah buku itu, dengan segala hinaan dan makian di dalamnya yang sama sekali tak Islami itu. Padahal Islam yang saya kenal tidaklah bengis dan buruk dalam berkata-kata.

Salah satu sahabat saya, berjilbab dengan tak bergamis, beberapa tahun yang lalu sempat minder jika harus berkenalan dengan perempuan yang berjilbab dengan gamis, karena merasa derajat jilbabnya lebih rendah. Sahabat yang lain, berjilbab dengan gamis, baru-baru ini bercerita bagaimana teman-teman berjilbab gamis lainnya di sebuah organisasi berbasis Islam menyindir-nyindir bila ia memakai warna jilbab yang terang atau yang pendek sedikit saja, karena perempuan dianggap tidak boleh sampai mengundang pandangan mata sama sekali. Sementara itu, perempuan lain yang pernah sangat dekat dengan saya, aktivis perempuan katanya,  yang senang mengenakan tank top dan selalu siap membela bila ada yang menghina perempuan yang berbaju mini, malah menjadi apriori dan serta merta menunjukkan sikap penolakan terhadap perempuan yang berjilbab dan bergamis. Kapan perempuan  mau maju kalau hanya sibuk mengukur panjangnya pakaian sesama perempuan yang sebetulnya hanya peluang untuk saling memecah belah di antara kita?

Kemudian saya menyadari bahwa pengertian aurat adalah sesuatu yang tabu untuk diperlihatkan atau memalukan. Padahal saya tidak pernah merasa saya harus malu dengan rambut saya. Kenapa harus malu pada tubuh sendiri? Kalau laki-laki merasa tidak punya kemampuan mengendalikan hawa nafsu, kenapa kita yang harus jadi bumpernya?

Sering dikatakan bahwa perempuan harus menutup auratnya agar tidak mengalami pelecehan seksual. Alasan yang dikemukakan adalah nafsu syahwat laki-laki lebih besar daripada perempuan. Namun hal ini pun sebetulnya tidak pernah terbukti secara medis. Menurut cendekiawan Muslim Faqihuddin Abdul Kodir dari Fahmina Institute, persoalan agresivitas dan kepasifan seksual lebih terkait dengan fisik dan mental daripada  dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Maka pelabelan seksualitas perempuan pasif dan seksualitas laki-laki agresif adalah menyesatkan  dan tidak terbukti secara empiris. Artinya, perempuan dan laki-laki  bisa agresif dan bisa juga pasif dalam hal hasrat seksual, tergantung dengan makanan yang dikonsumsi, kondisi fisik, mental dan lingkungan. Dan semua orang juga tahu laki-laki dapat secara bebas mengungkapkan kebutuhan seksualitasnya, sementara perempuan  sejak dulu dikondisikan bahwa ia harus pasif dan betapa jalang dirinya jika melihat buku stensilan atau film-film porno sebagaimana laki-laki.

Namun pandangan  yang menyesatkan ini ternyata tetap dipertahankan secara luas. Seolah-olah pemerkosaan dan pelecehan hanya persoalan perempuan berpakaian mini. Padahal pemerkosaan terjadi di mana-mana, bahkan di Arab Saudi dan Afghanistan, di mana para perempuannya wajib berjilbab.

Identitas Islam

Ada beberapa surat dalam al-Quran yang dijadikan referensi untuk kewajiban berjilbab. Surat An-Nur ayat 31 menyebutkan: “Hendaklah mereka menahan pandangan, memelihara kemaluan, tidak menampakkan perhiasan kecuali yang biasa nampak dari padanya. Hendaklah mereka mengulurkan kain kudung ke dadanya.” Persoalan biasa tidak biasa juga menjadi sangat kontekstual karena yang ‘biasa’ di satu tempat mungkin ‘tidak biasa’ di tempat lain. Maka batasan aurat sendiri dapat sangat beragam tergantung konteks tempat dan waktu pada saat itu. Hal ini justru menunjukkan betapa sebetulnya Islam sangat fleksibel.

Surat al-Ahzab ayat 59 menyatakan: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” Ayat itu turun karena perempuan kerap mendapat pelecehan. Sementara itu, perempuan-perempuan budak tidak diwajibkan untuk mengenakan jilbab. Bahkan ada riwayat yang menyebutkan bahwa Khalifah Umar bin Khatab memarahi seorang perempuan hamba sahaya yang mengenakan jilbab karena jilbab merupakan pakaian perempuan merdeka. Perempuan budak tidak diwajibkan untuk berpakaian demikian karena akan sangat merepotkan mereka dalam bekerja dan beraktivitas. Maka dapat dikatakan jilbab adalah pakaian masyarakat kalangan atas, yang bisa menghindarkan perempuan dari kemungkinan pelecehan ketika itu.
 

Islam sesungguhnya sangat fleksibel, dan tak mesti disimbolkan dengan jilbab, sorban, gamis dan janggut.


Jilbab sendiri bukan monopoli Islam. Sebelum Islam turun, perempuan Kristiani dan penduduk Yaman sudah ada yang mengenakan jilbab. Jadi ketika kita bicara jilbab sebagai identitas, itu pun masih patut dipertanyakan, benarkah jilbab merupakan identitas Islam? Bila tidak,  manakah yang termasuk identitas Islam? Dan apakah Islam butuh punya identitas? Apakah identitas itu harus dicirikan dengan tampilan fisik? Kalau Islam adalah rahmatan lil alamin (agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta), kenapa identitas fisik yang dikenakan hanya mengacu pada satu budaya tertentu? Apakah esensi dari penggunaan identitas? Apakah kita harus selalu butuh dikenali identitasnya? Apakah dengan demikian pekerjaan mata-mata atau pekerjaan lain yang  butuh yang sering menyamar jadi terhitung tidak ‘islami’? Pertanyaan-pertanyaan tersebut  sampai sekarang masih belum bisa saya jawab. Karena bicara jilbab sebagai identitas fisik dan jilbab sebagai kewajiban penutup aurat adalah dua hal yang bisa sangat berbeda. Identitas fisik bisa kita tanggalkan sesuai dengan kebutuhan kita yang tergantung konteks tempat dan waktu namun sepertinya tidak dihalalkan bila dipandang sebagai penutup aurat.

Saya percaya Islam menginginkan baik perempuan maupun laki-laki untuk memelihara auratnya. Namun saya meyakini Islam sesungguhnya sangat fleksibel. Saya menginginkan Islam yang memiliki banyak wajah dan rupa. Islam tak mesti disimbolkan dengan jilbab, sorban, gamis dan janggut (kenapa tidak naik unta juga?).

Menurut saya, umat Islam (Indonesia khususnya) kerap menjalankan ‘perintah’ agama tanpa menggunakan kemampuan mereka untuk berpikir secara esensi kenapa mereka harus melakukan itu. Atas nama menjalankan sunnah Rasul, para laki-laki memanjangkan janggutnya. Mengapa tidak mengambil nilai yang lebih esensial dari sekedar berjanggut? Pada zaman dulu, semua orang Arab, yang penjahat, pemerkosa, kafir, Muslim itu berjanggut. Jadi mana sunnah Rasulnya kalau para penjahat pun melakukan hal yang sama? Bukankah harus kita bedakan mana yang perbuatan Rasul sebagai bagian dari budaya Arab dan mana yang perbuatan Rasul sebagai utusan Allah yang pada dirinya tercermin al-Quran yang mulia? Alih-alih berjanggut, kenapa tidak, misalnya, coba meneladani Rasulullah yang sangat getol memperjuangkan keadilan buat perempuan pada zaman itu di mana derajat perempuan demikian direndahkan?

Adalah penting bagi saya untuk mempertanyakan kenapa perempuan harus mengenakan jilbab. Sama dengan mempertanyakan kenapa perempuan harus mengenakan gaun yang terbuka bila ingin disebut modis dan trendi. Saya sedang bertanya-tanya sebetulnya siapa yang merancang model-model berpakaian itu pada awalnya dan landasan pikiran apa yang membuatnya merancang baju seperti itu. Memang perempuan sebagai orang yang merdeka atas tubuhnya berhak untuk pakai baju apa saja -- bikini, rok mini dan baju seseksi apa pun tanpa mendapat pelecehan. Tapi pertanyaannya, jangan-jangan  baju-baju seksi itu sebetulnya didesain untuk memuaskan laki-laki dan bukannya membuat perempuan menjadi merdeka atas tubuhnya, malah membuat laki-laki semakin merdeka menjadikan mereka obyek seks?

Ketika saya berjilbab, seringkali saya menyesal telah melakukan sesuatu tidak murni  karena perasaan berdosa kepada Allah. Yang kerap terjadi adalah saya merasa malu kepada orang-orang karena saya berjilbab. Karena  jilbab adalah sebuah simbol dimana segenap harapan pada kesucian moral dan kebaikan dibebankan pada bahunya. Menurut saya, itulah salah satu konsekuensi pengkotak-kotakan perempuan dari cara berpakaian. Karena berbeda halnya dengan laki-laki,  pakaian buat perempuan tidak hanya ukuran status, kesopanan atau etiket tapi juga persoalan penghakiman moral pada dirinya. Adakah dia perempuan ‘baik-baik’ atau tidak baik-baik, dengan kutub-kutub yang terkadang amat ekstrem.

Namun bukan berarti yang sudah berjilbab, yang diidentikkan masyarakat Indonesia sebagai perempuan baik-baik, pun lepas dari tekanan yang acap kali tak proporsional. Sering kita dengar omongan orang, “Ih percuma berjilbab tapi pelit,” atau “Berjilbab kok judes, percuma saja”. Ketika seorang perempuan berjilbab berbuat salah  ia akan langsung diserang, “Buat apa Anda pakai jilbab?”, seolah perempuan berjilbab tidak boleh salah. Perempuan berjilbab serupa sebuah tiang penyangga bangunan yang harus tetap tegar berdiri sementara tiang-tiang yang lain berubuhan tanpa merasa bersalah. Padahal perempuan dan laki-laki, bergamis, berjenggot, berjas, berjilbab gaul, atau mengenakan rok mini, celana panjang, kulot, wajib berbuat baik dan menjaga tutur katanya agar tak menyakiti orang. Tapi mereka semua juga manusia biasa yang sering kali lupa dan bersalah.

Jadi setelah semuanya lewat saya kini berefleksi. Adakah saya lebih takut pada harapan dan penilaian orang-orang ataukah pada Allah? Karena seringkali kata-kata kita, manusia, jauh lebih jahat dari Tuhan sendiri. Atau setidaknya kita lebih tidak pemaaf, gemar memberikan label, dan membesar-besarkan persoalan, sementara kecaman Tuhan kerap lebih bijak dan pemaaf.

Manusia memang serba terbatas, termasuk dalam kemampuan melihat melampaui jarak pandangnya. Maka selama jilbab malah menjadi sarana lain penindasan terhadap perempuan oleh peradaban ini, selama sebagian masyarakat berpuas diri dengan hanya berpikir pewajiban berjilbab sudah menyelesaikan separuh permasalahan umat, selama kaum perempuan justru jadi terpecah belah hanya karena pilihan cara berpakaian,  selama pengkotak-kotakan moral perempuan membuat masyarakat semakin punya justifikasi untuk mengontrol perempuan atas nama agama, atas semua kemuakan dan jeritan pemberontakan saya terhadap patriarki keparat yang tak kunjung padam dalam dada saya, sudah saya ambil keputusan itu. Maka, saya buka jilbab saya.

Feby Indirani adalah penulis dan wartawan yang fokus pada isu-isu perempuan dan minoritas; Muslimah yang meyakini pentingnya bernalar kritis. Tulisan ini dibuatnya 14 tahun lalu, saat ia memutuskan untuk membuka jilbab.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
M | 15 May 2017 | 14:24:17 WIB
this article definitely speaks my mind. i thanked to author and editors who submit this.

sepanjang saya memakai jilbab dari SD-kuliah, saya seringkali dilecehkan secara seksual karena menurut mereka saya terlihat menggairahkan ketika berjilbab. padahal dulu saya termasuk perempuan yang percaya kalau berpakaian tertutup, saya akan terbebas dari pelecehan seksual. saya akan aman dan melakukan banyak hal sebagai wanita. saya sakit hati sekali saat membandingkan saya berhijab dan tanpa hijab, berbeda sekali perlakuannya walaupun sama-sama dinomorduakan. berhijab= istri idaman, cantik, dalamnya kaya apa ya? tidak berhijab= perempuan nakal, dosa, semoga dapat hidayah.

sungguh mengerikn isu intoleransi yang makin hari makin memanas akhir-akhir ini. tidak hanya berdoa, kita benar-benar harus melakukan sesuatu untuk merubahnya
Ruby - Astari | 15 May 2017 | 18:12:29 WIB
Serba salah memang jadi perempuan, kalau dari kacamata patriarki. Artikel ini berani menggugat hal yang selama ini lebih banyak didiamkan.
ANP | 15 May 2017 | 22:06:08 WIB
Mudah-mudahan gak ada muslimah yang terpengaruh tulisan2 di situs ini ya...
Situs ini sarana provokasi,mencoba membelokkan pemikiran kita.

Semoga pemilik situs,penulis,editor,dan semuanya mendapat petunjuk/hidayah/cahaya keimanan dr Allah SWT... amiiin...
Adimas R | 15 May 2017 | 23:54:28 WIB
Tulisan yg sangat ngawurr. Mari kita bedah sedikit saja tulisan diatas, surat An-Nur "Hendaklah mereka mengulurkan kain kudung ke dadanya" kurang jelas??? Sami'na wa ato'na. Kami dengar dan kami patuh. Jgn tafsir2 ayat sesuai hawa nafsunya sendiri2. Belajar lagi pada ulama2 yg sesungguhnya. Jgn pada yg mengaku ulama tapi ulama liberal. Tulisan diatas td sangat2 islam liberal dan ngawurr. Sekian. Wassalam
Kurnia | 16 May 2017 | 10:22:08 WIB
Tulisan yang sangat keren. Diperlukan keberanian tulen untuk menuliskan.
Meskipun saya tidak menganut agama A,B,C,D dan berdiri digaris netral.
Sy setuju sekali dengan pemikiran ini.
Indonesia beberapa dasawarsa lalu tidak mengenal trend seperti ini. Ibu ibu bersarung kebaya, berkonde,berselendang. Terkadang selendang tipis dikerudungkan diatas kepala. Semangkin manis seperti ibu Yenny Wahid dan foto foto kenegaraan para ibu negara.
Seharusnya itulah wajah Indonesia yang sebenarnya. Wajah Nusantara


Mayq | 16 May 2017 | 10:13:53 WIB
@Bung Amir: Gak bisa ya ngasih argumen selain ad hominem macam itu, dan misoginis pulak. Coba lagi ya.
Al-Fatih | 16 May 2017 | 01:28:32 WIB
Pemikiran yang bagus. Namun, yang bagus belum tentu benar. Karena kebenaran itu hanya milik Allah. Begitu juga dengan yang saat ini sudah memakai jilbab. Tau dari mana pemikiran Anda sekarang sudah benar. Begitu juga dengan yang bilang tulisan ini 'ngawur'. Tau dari mana bahwa ini 'ngawur'? Apakah Anda Tuhan?

Ada banyak sekali ayat yang memerintahkan kita untuk berpikir. Tidak hanya sekadar "Sami'na wa ato'na". Dengan kurangnya berpikir, terjadilah fenomena seperti yang disebutkan.

"Umat Islam kerap menjalankan ‘perintah’ agama tanpa menggunakan kemampuan mereka untuk berpikir secara esensi kenapa mereka harus melakukan itu."

Memakai jilbab atau menutup aurat itu penting untuk perempuan. Tapi ada yang jauh lebih penting. Yaitu menjaga pandangan untuk yang laki-laki. Dan juga bagi laki-laki untuk tidak merendahkan perempuan. Tidak memandang sebagai obyek.

[Berlanjut ke komentar di bawah]
Al-Fatih | 16 May 2017 | 01:39:53 WIB
Beberapa perempuan berpenampilan memikat sehingga melalaikan pandangan/pikiran atau membangkitkan hawa nafsu laki-laki yang melihatnya. Biasanya muslim yang secara sadar atau tidak sadar pro-patriarki akan berkomentar "Salah perempuannya gak pakai jilbab!".

Padahal laki-laki harus menjaga pandangan dan menahan kemaluan. Selama masih banyak yang lebih berat ke masalah jilbab daripada menjaga pandangan maka akan banyak juga perempuan seperti penulis.

Berpikir dan minta petunjuk dari Allah. Jika Anda yang muslimah pada akhirnya memutuskan berjilbab setelah itu, maka Anda bisa menjadi muslimah yang berkualitas baik. Tidak hanya iman tetapi juga akhlak. Tidak merasa lebih suci dari pada yang tidak berjilbab. Jika pada akhirnya memutuskan untuk tidak berjilbab, berdoalah agar Anda terhindar dari dosa. Keputusan apakah suatu hal itu dosa atau tidak ada di tangan Allah. Pada akhirnya, kehidupan di dunia itu hanya sementara. Wallahu a'lam.
Amir | 16 May 2017 | 02:25:25 WIB
Perempuan kafir!
Gighi | 16 May 2017 | 10:22:14 WIB
kok bego sih mbaknya. Menjalankan perintah agama tanpa berpikir? ya elu menjalankan peraturan organisasi mikir nggak? ngapain jadi orang islam kalau ga mau menjalankan perintah agama?

kalau sudah jelas ditulis di AlQuran ya jelas wajib mbak, bukan sunnah. Berjilbab ya harus kalau muslimah, mau dia baik kek, maling kek. Lo berjilbab disalahkan kalau ga berbuat baik ya bagus dong, lo jadi dihindarkan untuk berperilaku buruk, moral lo jadi baik.

Kan lo bilang sendiri di tulisan lo, jilbab hanya untuk perempuan merdeka. Ga pake jilbab? budak dong looooo....
Freddie Budiman | 16 May 2017 | 12:11:24 WIB
Tulisannya bagus, tapi sayang kok berani mengkritik isi Al-Qur'an? Gak usah sok menafsirkan dengan logika, karena logika itu paling mudah digoda dan di masuki setan. Kan orang islam, diajarin dong ada 5 rukun islam dan 6 rukun islam. Jalankan perintahnya serta jauhi dan tinggalkan larangannya. Jangan memaksakan kemauan, apalagi sampai mengkritik isi Al-Qur'an. Lebih baik Istighfar, minta ampun kepada Allah swt, itu jauh lebih sempurna.
what | 16 May 2017 | 12:25:26 WIB
so let me get this straight: poin dari post ini adalah...? kalah oleh patriarki karena berjilbab??? so you are admitting that hijab is not muslim identity but hijab is a symbol of patriarchy??? wow. Somehow people get twisted. Saya sebagai hijabi malah berfikir "semakin gue bisa memerangi patriarchy dengan jilbab, semakin kuat gue." bukannya malah "oh no, karena jilbab gue dicap macem-macem sampe males jadinya kalah sama sosial" bullshit.
Saski | 16 May 2017 | 07:01:42 WIB
Sungguh salut pada keberanian dan kekritisan penulis dalam menyampaikan fakta gamblang mengenai pro-patriarki di indonesia yang masih sangat kental tanpa melihat esensi.
Saya tidak melihat permasalahan dari orang yang memutuskan utk mementingkan akhlak daripada penilaian sosial & penampilan fisik. It's not us human who can judge each other. Jika tidak suka, ya tidak usah diikuti. At the end, it's only human and God.
Tottem | 16 May 2017 | 07:32:22 WIB
Cerdas, kritis dan berani, penuh kedalaman refleksi.
Zaki | 16 May 2017 | 09:34:03 WIB
Gus Mik bangetttt ini....Al Fatihah
Svet | 16 May 2017 | 12:51:19 WIB
Salut mbak. Mantab pemikirannya. Masih banyak yg belum paham ungkapan mbak diatas "menjalankan perintah agama tanpa berpikir". Iya betul perintah agama harus dijalankan,tapi bukan asal dijalankan. Sekedar menjalankan seorang atheis pun bisa ikut menjalankan. Kalo umat yg cerdas,harusnya bisa bernalar dan berpikir secara kritis. Menjalankan perintah agama secara mengkaji dan memahaminya dengan baik,tahu tujuannya. Bukan asal karena perintah agama.

Menutup aurat,konteksnya apa? Implementasinya gimana?

Berjenggot,konteksnya apa? Pemahamannya apa? Karl Marx juga berjenggot

Harus bisa menalarkan perintah agama supaya bisa tahu dan paham maksudnya. Kalo sekedar menjalankan tapi gak paham apa gunanya? Sama kayak baca al quran. Bisa baca ya bisa,tapi paham gak? Semoga dengan kalo udah paham bisa menjalankan dengan baik dan niat dr hati. Yg kita perlu itu esensi,bukan sekedar kulit luarnya. Yg kita butuh konteks, bukan sekedar konten.
Al-Fatih | 16 May 2017 | 14:08:38 WIB
Anda yang muslim yang sudah mengkafirkan penulis ataupun merasa lebih suci dari penulis, Anda yakin sudah benar? Anda yakin di akhirat tidak akan diadili dengan mengatakan seperti itu?

"Dan melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhnya, dan menuduh seorang mukmin dengan kekafiran adalah sama dengan membunuhnya." (HR Bukhari).

"Siapa saja yang berkata kepada saudaranya,” Hai Kafir”. Maka akan terkena salah satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada (orang yang mengucapkan)nya." (HR Bukari dan Muslim).
Marli | 16 May 2017 | 14:54:16 WIB
Penulisnya belum paham ajaran Islam perihal hijab makanya dengan mudah goyang dengan pikiran2 liberal. Kesimpulan saya tulisan ini tak ubahnya sampah yang mestinya ditempatkan di tempat sampah...banyak kontradiktif...di paragrap pertama saja menunjukkan paham liberal yang tak sesuai dengan Islam...
etta | 16 May 2017 | 15:12:39 WIB
mbak, saya percaya perempuan bebas berpikir apa saja dan memakai apa saja sesuai dengan apa yang dikehendakinya. kalo mbak buka jilbab karena mbak ga merasa cocok dengan berjilbab, mangga. tapi buka jilbab karena "memberontak" padahal ga ada yang minta mbak lebih dari mbak yang sekarang mah... itu halusinasi mbak. menyalahkan orang dan keadaan untuk suatu keputusan yang dasarnya dari dalam diri mbak sendiri. that's cheap.
Mrs. Regalario | 16 May 2017 | 15:20:50 WIB
Salut mbaknya, anda berani mencurahkan isi hati , saya juga dulu pernah menjilbab , membuka nya, lalu saya menemukan jodoh saya,,sempat melakukan pernikahan beda agama, lalu setelah 11 tahun menikah, saya mengikuti keyakinan agama suami saya, tinggal di timur tengah, yg notabene negara islam, tapi sangat sangat menghormati non islam, Tuhan maha baik :)
Wahyu | 16 May 2017 | 15:57:43 WIB
Cobalah sekali saja anda sholat, tanpa memakai hijab yang menutupi aurat, atau gunakan pakaian biasa yang anda maksud. Resapi saja setiap ucapan, doa, dan dzikir pada sholat Anda tersebut. Saya kira akan sangat janggal. Saya heran dan bingung dengan argumentasi anda. Kenalilah agama anda sendiri, bacalah pedoman hidup anda yaitu Al Quran. Semoga saya, anda, semua muslimah, dan semua orang, mendapatkan hidayah untuk mendapat rahmat Allah.
A. Siwie | 16 May 2017 | 16:26:19 WIB
Sebagai sesama muslim, saya sarankan mbak utk mencari guru mengaji. Bukan hanya ngaji membaca Al Quran melainkan juga mempelajari makna dan hakekatnya. Tapi dengan catatan, mbak harus punya pikiran terbuka utk menerima masukan.
Nb. Empat belas tahun yg lalu, saya punya pemikiran yg sama dengan mbak.
A. Siwie | 16 May 2017 | 16:34:02 WIB
Tambahan lagi..
Jika kita sebagai muslim merasa belum mengerti mengapa diperintah begini dan begitu, sebetulnya itu adalah warning bahwa kita harus lebih banyak belajar (mohon maaf, bukan malah menyudutkan agama sendiri dan saudara seiman).
Iqra'. Belajarlah. Bacalah. Mengajilah.
Mbak butuh pertolongan...
Toyor | 16 May 2017 | 18:45:31 WIB
Tetap semangat, kakak.
Whesty putri | 16 May 2017 | 18:52:01 WIB
Belajar agama itu sungguh butuh kesabaran yang terkadang dalam prosesnya..iman kita naik dan turun...dipengaruhi oleh banyak faktor..baik desakan dari dalam maupun dr luatlr. Maka bersabarlah mbak dalam rangka sami'na wa ato'na. InsyaAllah jiwa pemberanimu akan menemukan jalan jalan yang Allah ridho.

Teringat kisah ummu Umaroh, sahabat nabi seorang muslimah yang seorang aktivis jihad. Dialah salah satu sahabat yang menjadikan badannya sebagai tameng tak bersenjata sa'at Rosulullah diserang tentara musuh di perang uhud, hingga sabetan pedang dan tusukan tombak melukai sekujur tubuhnya. Dan ia tak menanggalkan hijabnya walau terkoyak. Ke aktifannya dalam memerangi kemungkaran terus dilakukan..baik dalam keadaan perang maupun aman, hingga wafat.

Semangat dan tetaplah bersabar di jalan yg Allah perintahkan.
Anisa | 16 May 2017 | 18:09:59 WIB
Mbak, saran saya lebih baik mbak meninggalkan Islam sebagai identitas publik (meskipun masih mempraktekkannya di balik layar mungkin). Saya sudah tidak lagi Islam karena kerasnya penolakan dan cibiran sesama Muslim ketika saya memutuskan untuk tidak berhijab, dan kini saya merasa lebih bahagia dan nyaman. Tapi sekali lagi, ini pengalaman saya ya. Mungkin tidak sesuai untuk kondisi mbak. Semoga mbak bisa menemukan kedamaian dan terhindar dari hujatan mereka.
Gudeljinak | 16 May 2017 | 19:35:38 WIB
kebenaran Tuhan itu mutlak.
Dan hidup hanyalah soal pilihan.
Menjadi baik ataupun buruk kita sendiri yg memutuskan.

Wa'llahu 'alam
mau tanya | 16 May 2017 | 19:43:10 WIB
Narrated `Aisha: The wives of the Prophet used to go to Al-Manasi, a vast open place to answer the call of nature at night (buang air). Umar used to say to the Prophet "Let your wives be veiled," but Allah's Apostle did not do so. One night Sauda bint Zam`a the wife of the Prophet went out at `Isha' time and she was a tall lady. `Umar addressed her and said, "I have recognized you, O Sauda." He said so, as he desired eagerly that the verses of Al-Hijab may be revealed. So Allah revealed the verses of "Al-Hijab"

- If Muhammad is just a messenger, relating Allah's word, why did Umar ask Muhammad for the hijab revelation? Why did he not just pray to Allah and ask directly?
- No revelation was sent down until Umar spied on Muhammad's own wives. Why did Umar do this? How did he know (or at least suspect) it would be successful? Why does Allah care about toilet privacy so much that he revealed a verse pertaining to all Muslim women that will ever live?
Dania | 16 May 2017 | 20:07:10 WIB
Mau pakai jilbab atau nggak ya terserah si mbaknya dong. Yang bilang si mbaknya kafir, kalian siapa sih? Sok lebih tinggi secara moral. Memangnya kalian itu Tuhan?
lady | 16 May 2017 | 20:47:55 WIB
Assalamualaikum wr wb. Bacaan yang bagus, Mba hanya saja saya menyesalkan alasan mba utk membuka jilbab. Kenapa mesti tanya apa alasannya? Tentu karena Allah Ta'ala. Tidak ada yang rugi mengikuti jalan-Nya, mba. jika hari ini atau saat itu mba merasa berkebalikan itu artinya mba tengah diuji, dan bukankah Allah tidak akan memberi ujian di luar batas kemampuannya? :) Untuk referensi belajar lebih dalam, pun tentang sunnah Nabi SAW sila buka, tonton, dan resapi youtube https://www.youtube.com/user/khalidbasalamah :) oh ya, Nabi SAW juga merupakan seorang feminis lho, Mba :) Jika saat ini mba belum kembali berjilbab, saya doakan semoga Allah bukakan hati Mba untuk berjilbab kembali, dan kita sama2 belajar memperbaiki diri ya, Mba.

Wassalamualaikum wr wb
Rie | 16 May 2017 | 23:33:06 WIB
Menurut saya, jilbab seperti pakaian lainnya, sama ky kita make syal. Tapi yang membedakan adalah niat kita saat memakainya, ada yang mungkin merasa lebih nyaman karena dia menunjukkan simbol agama yang dianutnya. Ada yang merasa jilbab sebagai simbol proteksi diri dll.
Pilihan kita yang membedakan.
Saya sendiri memakai jilbab dalam rangka rasa syukur saya kepada Allah dan alam semesta ini karena sudah baik banget sama saya.
Memakai jilbab jadi salah satu cara untuk mengingat kebaikan2 Allah kepada diri saya.
Tulisan yang bagus mba. Jadi membuat saya makin mantep memilih dan menghormati apapun pilihan orang lain terkait keyakinannya.
Penilaian iman seseorang tidak akan bisa diukur oleh apapun dan siapapun kecuali oleh Allah & dirinya sendiri. Jadi apapun itu semoga kita selalu istiqomah dalam kebaikan ya mba. Tetap berjuang membantu perempuan2 yang terdzolimi. Terima kasih banyak sudah berbagi pengalaman.
Sirumi | 17 May 2017 | 12:33:08 WIB
"Memang perempuan sebagai orang yang merdeka atas tubuhnya berhak untuk pakai baju apa saja -- bikini, rok mini dan baju seseksi apa pun tanpa mendapat pelecehan. Tapi pertanyaannya, jangan-jangan baju-baju seksi itu sebetulnya didesain untuk memuaskan laki-laki dan bukannya membuat perempuan menjadi merdeka atas tubuhnya, malah membuat laki-laki semakin merdeka menjadikan mereka obyek seks?"
Lha Alhamdulillah bisa mikir itu, Mbak. Jangan cuma bisanya memojokkan jilbab, Mbak. Coba kupas juga lebih dalam ttg pakaian2 minim tsb. Setidaknya, sy berjilbab bukan karena sy udah benar, Tp krn sy ingin mulai belajar menambah taqwa kpd Allah.
Kadang ga semua hal bisa dinalar dengan pikiran, karena akal manusia kadang ga nyampe mbak. Seperti kisah Bani israil. Semoga tulisan yg provokatif dan menyesatkan ini tidak menambah dosa penulis, editor dllnya dgn wanita2 baru yg juga lepas jilbab. Dosa, seperti pahala, bisa mengalir secara pasif. Wallahu'alam.
Muhammad Yafits Suryanata | 17 May 2017 | 16:38:47 WIB
simple. kenapa islam "menganjurkan" wanita berhijab? karena kita adalah makhluk yang diberi akal dan nafsu. Jika pemikiran mengapa hijab merupakan salah satu hal "penangkal" tindakan kriminal seperti pemerkosaan, dll. Itulah salah satu pemicunya. Mengumbar aurat, mempertontonkan aurat adalah salah satu bentuk memberikan kesempatan untuk orang lain melihat hal yang tidak boleh dilihat. Jika orang lain melihat mba tidak berhijab, yang saya khawatirkan jika ada orang lain melihat anda dan "berfantasi" bagaimana lekuk tubuh anda. Zina mata dan zina pikiran yang secara tak langsung bisa menambah pundi dosa anda. Dosa seperti itu yang seharusnya dapat dihindari dari wanita. Menggunakan hijab salah satunya melindungi dari tindakan asusila, serta menjauhkan kita dari "potensi" dosa dari orang lain. Salam.
Angie | 17 May 2017 | 11:59:26 WIB
Menarik melihat orang-orang yang merasa berhak mengatur urusan persona orang lainl, seperti bagaimana seseorang "seharusnya" beribadah kepada Penciptanya. Selama penulis adalah seorang individu yg menebar kebaikan pada sesamanya, maka kadar dan atribut keimanan penulis tidaklah relevant.


Kalau mengikuti logika para komentator yg menghujat penulis hanya karena melepas kerudungnya, maka dalam pandangan mereka: perempuan-perempuan islami berjilbab hitam bercadar, tetapi dg suka rela menjadi pengantin bom bunuh diri dan menghancurkan hidup individu-individu tidak bersalah lainnya sebagai orang dg derajat yg jauh lebih tinggi daripada seorang penulis yg memutuskan tidak berjilbab 14thn lalu, dong?
Anggi | 17 May 2017 | 16:50:06 WIB
Saya kira magdalene itu dibaca sama orang2 yg punya nalar kritis lebih dan terbuka. Ternyata isinya begini2 juga ih salah kamar mas/mbakya :((
Ummu | 17 May 2017 | 10:19:38 WIB
Astaghfirullah.. semoga Allah memberi hidiayah untuk penulis dan kita semua aamiin...

Artikel ini penuh dengan "menurut saya". Iya, ini sudut pandang penulis yang sungguh keliru. Sudahkan ia melihat firman Allah?? Penjelasan dari rasulullah?? Perkataan dan penjelasan sahabat yang hidup di zaman rasulullah?? Penjelasan para ulama?? Dan kalaupun dia membaca hadits", shahihkah haditsnya??

Jangan terpengaruh tulisan "menurut saya".. ikuti apa kata Allah dan rasulnya. Semoga kita semua selalu dibimbing olehNya menuju surga aamiin
verro | 17 May 2017 | 20:16:51 WIB
I couldnt agree more :-D
Ummu Abdullah | 17 May 2017 | 01:44:07 WIB
Bismillah... Mbak, saya dlu juga jilbabnya pndek. Bajunya ketat. Saya pkir klo dgn pakaian tertutup ga akan digodain. Tp trnyta salah, yg ada malah dirayu, digodain laki2...

Terus saya kenal sunnah, yg mana bner2 sunnah murni. Saya ke situ msh pakai baju wrna wrni kok.

Ma syaa Allah, ndak ada yg menyindir mbak. Cuek semua. Saya rasa mbak2 berjilbab pndek perlu tahu, yg bergamis dan pakai khimar pnjg blm tntu akhlaknya baik. Tp jgn salahin hijrah mrka. Slhin akhlaknya.
Ummu Abdullah | 17 May 2017 | 01:45:48 WIB
Habis itu saya prnh chat sama laki2 pas jaman jahiliyah, dia srg bgt share pkiran laki2 yg piktor (pkiran kotor). Dri dada wanita yg (maaf) nonjol bgt , bulet dan ngangkat. Klo ada polisi tdr dadanya goyang2.. itu suka bgt mrka liatnya. Dipake halusinasi.

Kdg , pantat kita yg pake celana jeans ketat, udh terbalut kan ya? Pikiran laki2 itu sampe ke montoknya, ke ketatnya segala. Ngangkat pula. Klo lagi menggagah jd mkir aneh2 laki2nya.
Ummu Abdullah | 17 May 2017 | 01:46:34 WIB
Pake jilbab itu krna wanita itu mulia dlm islam mbak. Bukan utk fashion, bukan utk bosen2an. Tapi jilbab itu utk menjaga wanita dri godaan dan rayuan.

Perintah pake jilbab menutup dada hingga menutupi tbuh wanita sndri itu dri Rasulullah mbak. Dan kita hanya perlu samina' wa athona' kami patuh dan kami taat. Ga bsa mbak pake logika dan hawa nafsu menafsirkan nya. Krna itu wahyu.

Ummu Abdullah | 17 May 2017 | 01:47:14 WIB
Klo mbak mau melogikakan, bisa ga mbak logikakan, mana yg lebih dlu dtg ke bumi, ayam apa telur? Saya pgen tahu jwbn nya klo mbak emg bsa jawab. Kita ckup mengimani apa yg tlh Allah dan Rasulullah katakan. Semoga mbak dpt hidayah yah hbs nulis kayak gni. Allahu yahdiik
Hikmat | 17 May 2017 | 07:56:04 WIB
@Ummu Abdullah sains sudah menjawab, lebih dulu ayam daripada telur. https://science.idntimes.com/discovery/bayu/pertanyaan-sel ama-ini-terjawab-oleh-penelitian-duluan-mana-telur-atau-a yam
Ema | 18 May 2017 | 20:15:18 WIB
Sebelum buat artikel tentang isu-isu jilbab, islam dll.. Tolong pahami dulu dengan benar ajaran islam, pahami dulu dengan baik ayat-ayat yang kamu kutip. Atau kalau perlu belajarlah ke pesantren,! maka kamu akan tau apakah identitas islam itu hanya sebatas jilbab, apakah jilbab itu ukuran ketaatan seseorang atau tidak.
Menggunakan jilbab dengan ukuran ketakwaan seseorang memang masalah yg berbeda. Dari dulu memang spt itu! Jilbab adalah kewajiban menutup aurat, sama seperti ketika makan babi itu diharamkan! Jadi prbndinganya, apakah seseorang yg tidak makan babi itu pasti seseorang yg sudah tinggi kadar ketakwaannya? Belum tentu. Sama spt berhijab, tidak semua yg berhijab punya tingkat ketakwaan yg tinggi. Entah itu, takwa nya rendah atau tinggi, hukum berhijab tetap wajib bagi seorang muslimah!
Ema | 18 May 2017 | 20:15:58 WIB
Dan juga, kalau anda membandingkan budak dengan kalangan bawah d masa sekarang, itu sungguh tidak logis sama sekali.
Budak dijaman sekarang yg sama pengertiannya dengan budak jaman dahulu sudah tidak ada!
Indrajaya | 18 May 2017 | 11:25:09 WIB
Ketika nalar menjadi syahwat maka inilah jadinya
Danielle | 18 May 2017 | 11:33:33 WIB
"Beberapa kabupaten di Indonesia sudah menerapkan syariah Islam, atau setidaknya yang mereka sebut sebagai syariah Islam. Namun, alih-alih menyentuh hal yang lebih esensial, hal pertama yang dilakukan adalah mewajibkan perempuan untuk berjilbab. Jika penerapan ekonomi syariah terlalu sulit dilakukan, kenapa tidak mulai dari menjaga kebersihan, meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja, menghapuskan pungutan liar dan uang sogok kepada pegawai pemerintah, memperbaiki kesejahteraan guru dan petugas keamanan? Bukankah itu lebih Islami?"

sebetulnya saya lebih melihat beberapa faktor penting yang lebih dapat di soroti ketimbang terus mempermasalahkan mengapa penulis melepas jilbabnya. yaitu statement diatas. Mengapa beberapa umat muslim saat ini terlalu mempermasalahkan apa yang dipakai ketimbang meningkatkan efisiensi dalam bekerja, bagaimana caranya meningkatkan ekomoni bangsa, hidup sejahtera antar masyarakat dan hal positif membangun lainnya.
Danielle | 18 May 2017 | 11:34:15 WIB

Perihal urusan personal dan hubungannya dengan Tuhan itu juga sesuatu yang sifatnya sangat pribadi, beribadah itu merupakan privacy, dan memangnya apa yang salah dengan menjadi liberal? jangan-jangan dalam pemikiran beberapa orang, menjadi liberal itu sesuatu yang sangat mengerikan dan tabu. tapi seberapa pahamkah anda dengan konsep liberal, konservative, feminism dan lain sebagainya?

Saya suka dengan gaya tulisan penulis. keep it up!
La Ode Aris | 18 May 2017 | 12:43:50 WIB
hahahahahahahahahahaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... manusia sia-sia......haaaahahahahahahaha
ilmi | 19 May 2017 | 13:17:14 WIB
sesungguhnya dunia memang penjara bagi orang beriman, kadang manusia goyah oleh manusia lainnya, kekecewaan terhadap dunia maupun hal-hal dinilai tidak ideal.
fitra | 19 May 2017 | 14:59:32 WIB
saya justru lebih tertarik pada yang memberi komentar,semakin membuka wawasan tentang hakikat menutup aurat,tidak selamanya bakar kita mampu menganalisa apa yang tertera dalam Al quran , kita hanya harus patuh pada perintah Allah dan Sunnah Rasulullah serta hadits yg shohih..semoga Allah membuka hati penulis untuk bisa memaknai jilbab sesuai Al quran dan sunnah serta hadits yg benar.aamiin
windi | 19 May 2017 | 06:24:52 WIB
sudah pasti tulisan ini dibuat untuk mengundang komen pro kontra utk memecah belah umat. kalau tidak misionaris, sang liberalis paling2 orang iseng yg mau mencicipi rasa panas dibakar di neraka. jgn sampai terpancing dah
Morena | 19 May 2017 | 11:52:08 WIB
Saya pernah memakai jilbab dan membukannya kembali. Intinya sih gini, masalah buka tutup aurat itu adalah hak perempuan itu sendiri. Kalau kalian gak setuju sama saya, it's okay. Yang saya percaya, I believe God is the greatest, penilaianNya gak secetek yang kita-kita bayangkan. Pernah denger gak sih cerita pelacur yang masuk surga karena dia ngasih minum anjing di gurun pasir? Nah, itu salah satu contoh kalau Tuhan punya pertimbangannya sendiri. Kan ada firmannya "Aku adalah sebagaimana prasangka hamba-hambaku", kalau kita berprasangka baik sama Tuhan, dan apapun yang kita lakukan niatnya baik untuk orang lain, ya masa Tuhan gak baik sih sama kita?. Membuka aurat itu gak masalah, apalagi menutup aurat. Yang masalah itu adalah MEMAKSA, baik itu MAKSA BUKA ATAUPUN MAKSA NUTUP. udah ye jan berantem hehehehhehehe.
Ms. M | 20 May 2017 | 08:07:29 WIB
Now i know I'm not alone.
Saya tetap menggemari kaos longgar dan celana panjang, namun saya lebih nyaman jika kualitas ibadah dan tingkat keimanan saya menjadi privasi saya dan Tuhan, bukan konsumsi dan penilaian publik, hitam dan putihnya adalah dari apakah saya menutupi rambut saya atau tidak.
Dalam pengalaman saya, begitu lucunya pengkotak-kotakan di negeri ini sudah sampai di taraf di mana orang-orang yang berani menghakimi moral saya karena melepas jilbab adalah sesama perempuan muslim yang sejak baligh hingga sekarang tidak pernah mengenakan jilbab. Saya jadi semakin mengerti bahwa di society kita ini, tidak pernah memakai jilbab itu lebih suci daripada pernah pakai lalu lepas.

Lalu, memakai dan tidak memakai, sudah berbuat apa kita untuk umat?


Her | 08 June 2017 | 07:22:10 WIB
Saya tdk heran dg tulisan tsb karena ukurannya "saya". Jadi seolah "saya" itu sdh yg paling benar dan paling sesuai. Padahal "saya" dalam quran masih sangat mungkin berubah ubah karena ada Allah yg maha kuasa yg membolak balikan hati.
Akan beda kalau pakai sudut pandang quran (islam) secara kafah, karena letak kebenaran pada quran bukan "saya" tapi kebenaran yg hakiki.
Putra | 11 July 2017 | 12:41:51 WIB
di akhirat nanti kira2nya/katanya kan masing2 mempertanggungjawabkan di hadapan Tuhan kan? Kemudian bila ada perbedaan pemahaman dan penafsiran atas Kebenaran Mutlak yg dari Tuhan datangnya kenapa kita harus ribut n saling memaksakan "kebeneran' atas tafsir yg kita masing2 yakini n pahami..? Soal Jilbab/hijab ini kan perintah utamanya menutup aurat ... soal bagian mana yg jadi aurat itu banyak penafsiran baik yg utama mayoritas maupun yang minoritas (ini fakta kan? bukan kata pemberi komen) jadi kalau ada perbedaan ukuran kan sebaiknya tidak dipertentangkan..? Masing2 sajalah....
Putra | 11 July 2017 | 12:42:43 WIB
Bukannya atas tafsir hasil ijtihad itu nilainya 2 kalau benar n 1 kalau salah..? sekali lagi itu soal tafsir... bukan hasil akhirnya yg diutamakan tapi prosesnya..... Kita mau sholat, berpuasa n melakukan ritual formal Islam setiap saat kalau Tuhan tidak ridho juga kira2nya kita celaka kan..? Jadi sebaiknya tidak saling menyalahkan... Penulis tidak salah karena konteksnya patriarki.... yg komen bawa2 liberal juga tidak salah karena dari sudut pandang teman2 pemberi komen yg terkait liberal itu sudah pasti salah.... sama2 saling menjaga diri sajalah.... Smoga kita mendapat kebaikan bersama....
Putra | 11 July 2017 | 12:40:02 WIB
Tulisannya bagus.... bagus sekali yg berani menentang/mempertanyakan mainstrean dalam konteks kini dimana masyarakat Muslim Indonesia sedang "berjilbabisasi" atau "berhijabisasi" (istilah saya ini...). Orang2 Indonesia yg katanya "Islam" n kayaknya beriman ini (termasuk saya) rasa2 nya kok banyak ribut soal ukuran dalam beragama: Jilbab atau tidak, jilbabnya panjang atau tidak, berbentuk atau tidak.... pemimpin agama formalnya islam atau tidak.... syar'i atau tidak..... benar atau salah.. dosa atau tidak berdosa.... tanpa kita paham esensi dari agama itu sendiri....













Weekly Top 5