Bagaimana Mengatasi Rasialisme?

Friday, 02 June 2017 - 10:06:21 WIB
By : Despasya Yonada | Category: Sosial - 735 hits
Menjadi anggota kelompok minoritas memang tidak mudah, apalagi minoritas secara ras di Asia, yang menurut saya cukup rasialis kalau sudah bicara tentang warna kulit. Lahir dari rahim perempuan berdarah Jawa-Sunda dan ayah dari benua Afrika menjadikan saya sebagai orang Indonesia dengan fisik orang Afrika. Atau dengan kata lain saya ini Blasian (Black-Asian). Orang-orang sering sekali salah mengira dari mana saya berasal -- Ambon, Papua, Timor, sepertinya semua daerah Indonesia bagian timur sudah mereka sebutkan semua.

Saya tumbuh di lingkungan menengah ke bawah dimana kebanyakan orang-orang yang saya kenal kurang berpendidikan dan menjadi minoritas di lingkungan yang seperti ini berat. Sering sekali lontaran pernyataan rasialis saya dapatkan dari anggota keluarga sendiri, yang tentu saja semua itu menurut mereka hanya gurauan belaka. Mereka tanpa sadar telah merisak keluarga mereka sendiri dan membuat saya, sebagai orang yang mereka jadikan bahan bercanda, merasa terhina. Ingin sekali rasanya memberi edukasi secara halus kepada mereka, tetapi sering kali rasa sakit hati dan amarah saya memuncak dan saya lebih memilih diam jika sedang dalam keadaan seperti itu. Hal ini sangat problematis, jika seseorang meresa dibedakan dan teralienasi bahkan dari keluarganya sendiri, bagaimana mereka akan bertahan di dunia luar?

Saya sudah banyak menerima risakan verbal sejak di bangku sekolah dasar. Dulu saya tidak melihat itu sebagai hal yang harus dipedulikan, namun sekarang saya sadar bahwa hal itu dan bagaimana saya bereaksi dapat berpengaruh terhadap kondisi kejiwaan saya. Saya cukup beruntung memiliki teman dekat saat di sekolah yang selalu ada di samping saya kemana pun kami pergi. Inilah yang membuat saya mampu bertahan. Saya tidak bisa bayangkan jika saya saat itu selalu sendiri, kemungkinan besar saya akan mengalami masalah psikologi. Terlebih lagi, orang-orang yang senang sendirian ini lah yang biasanya menjadi target empuk para perisak.

Namun bagaimana jika ternyata bullies-nya adalah keluarga sendiri? Kalau begitu kita harus membela diri. Idealnya, keluarga seharusnya tahu ada batasan-batasan yang tidak boleh mereka lewati dalam bercanda, terlepas mereka adalah keluarga atau teman dekat. Jika kita terus menerus diam saat ditindas, mereka akan mengira bahwa ini dibenarkan, bahwa sikap diam kita adalah lampu hijau untuk gurauan rasialis mereka.

Pernah ada salah satu keluarga saya, di depan anggota keluarga lainnya, mengatakan bahwa warna kulit saya yang gelap adalah kekurangan. Banyak juga yang tertawa mendengar hal itu, namun saya satu-satunya di ruangan itu yang menunduk dengan wajah datar, tidak bereaksi apa-apa. Saya sangat marah saat itu dan saya sampai sekarang menyesal hanya bisa diam. Jika saya bereaksi lebih keras dan membela diri saya sendiri, mungkin saja dapat membantu menyadarkan mereka betapa komentar itu sangat tidak pantas, tidak sopan, dan tentunya menyakiti orang lain.

Saya paham betul keluarga saya memang sebagian besar tidak berpendidikan baik, picik dan tipikal orang yang tidak mau menerima perubahan. Mungkin dulu gurauan rasialis sangat populer di Indonesia, saya tidak tahu. Namun betapa tidak sensitifnya mereka untuk mengatakan hal itu kepada keluarganya sendiri. Mereka tidak tahu, saya yang saat itu masih berumur belasan, benar-benar berpikir bahwa saya kurang berharga dibandingkan orang lain yang memiliki kulit lebih terang. Dan tidak ada tempat mengadu maupun ada yang datang untuk menghibur saya pada saat sulit itu.

Saya bisa saja terkena depresi dan memiliki krisis kepercayaan diri yang berkepanjangan. Namun, entah seberapa sering saya menerima risakan atau seberapa parah risakan itu, saya selalu dapat bangkit kembali dengan sendirinya. Belakangan saya baru sadar bahwa saya orang yang sangat berambisi dan ambisi saya itulah yang menjadi pemacu saya setiap hari untuk bersabar, terus menjadi orang yang lebih baik dan tidak pernah menyerah terhadap keadaan.

Kepercayaan saya bahwa masyarakat akan menjadi lebih baik pada akhirnya juga berperan penting dalam peningkatan kepercayaan diri saya. Saya berpikir, tidak hanya saya yang mengalami hal seperti ini dan saya seharusnya bersyukur diberi cobaan seperti ini yang pada akhirnya membuat saya menjadi lebih kuat dan tentunya lebih sensitif terhadap orang lain. Orang-orang yang tidak peka terhadap perasaan orang di sekitarnya bisa berpotensi menjadi seorang perisak. Dengan dalih hanya bercanda, ia mengatakan hal-hal yang menurut orang lain sebenarnya tidak lucu dan terkesan menyakiti hati. Tapi dia tidak tahu itu, atau terkesan mengabaikan perasaan orang lain.

Untuk kalian yang berada di posisi yang sama dengan saya, bagaimana untuk menyadarkan orang semacam itu? Bangkit dan bela diri kalian. Itulah satu-satunya cara agar orang lain menghargai kita dan tidak bertindak sewenang-wenang lagi terhadap kita. Saya tahu itu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan, tapi sampai kapan kita bisa menerima perlakuan tidak menyenangkan ini? Kita tentunya ingin punya kehidupan yang nyaman tanpa khawatir diperlakukan berbeda ataupun dicemooh orang lain. Dan karena itu lah kita harus kuat untuk diri kita. Kesampingkan rasa takut, jangan terus diam, lakukanlah hal yang menurutmu benar dan baik untuk semua pihak.

Despasya Yonada adalah mahasiswi di salah satu universitas swasta di Jakarta.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Ruby - Astari | 02 June 2017 | 17:12:03 WIB
Idealnya, keluarga seharusnya tahu ada batasan-batasan yang tidak boleh mereka lewati dalam bercanda, terlepas mereka adalah keluarga atau teman dekat. Jika kita terus menerus diam saat ditindas, mereka akan mengira bahwa ini dibenarkan, bahwa sikap diam kita adalah lampu hijau untuk gurauan rasialis mereka.

Setuju banget.
Yovita | 02 June 2017 | 16:11:37 WIB
Saya penasaran bagaimana cara konkret kamu membela diri. Karena saya juga punya isu yang sama dengan kamu, sampai sekarang pun masih mencari cara paling "pas" untuk membela diri. Kulit saya juga gelap, dan jujur saya baru berbesar hati di usia ke 20-an kurang lebih.
Ninus | 02 June 2017 | 18:07:25 WIB
Ada kajian menarik tentang persepsi kulit gelap dan terang pada perempuan sebagai penanda hierarki sosial, judulnya Seeing Beauty Sensing Race (L. Ayu Saraswati), versi bahasa Indonesianya katanya sedang disiapkan. Semoga isinya bisa bantu teman2 membongkar stigma atau label terkait warna kulitnya.















Weekly Top 5