Quran Tak Ajarkan Membenci Kelompok LGBT: Akademisi Muslim

Friday, 16 June 2017 - 10:38:36 WIB
By : Ayunda Nurvitasari | Category: Spiritualitas - 7737 hits
Adakah ruang untuk LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) dalam Islam? Dapatkah ajaran Islam direkonsiliasi untuk menerima keberadaan LGBT? Bagaimana dengan Hadits yang mengajak untuk membunuh kelompok LGBT?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, dari banyak yang lainnya, telah mendorong Magdalene melakukan diskusi interaktif di Twitter, #MadgeTalk, dengan tajuk “LGBT dan Islam”. Dalam diskusi seri kedua yang diadakan minggu lalu (6/6), Magdalene mengundang akademisi Muslim Lailatul Fitriyah, atau akrab dipanggil Laily, yang sedang dalam proses memperoleh gelar Doktor dari Departemen Teologi di Universitas Notre Dame, Amerika Serikat.

Laily menjelaskan bahwa dari sisi teologi Islam, tidak ada pembahasan sistematis mengenai isu LGBT. Meski demikian, posisi teologis LGBT dalam Islam dapat dipahami dari dua inti konsep teologi feminis, yakni Prinsip Keesaan Tuhan dan Prinsip Penciptaan Manusia.

Prinsip Keesaan Tuhan memiliki pengertian bahwa segala keunggulan ontologis hanya lah milik Allah, sehingga tidak ada satu pun manusia yang lebih unggul dari manusia lainnya. Kedua, Prinsip Penciptaan Manusia menjelaskan bahwa manusia adalah ruh yang satu (nafs wahidan) sehingga segala perbedaan sekunder, termasuk seks dan gender, adalah produk dari dinamika kemanusiaan.

Laily mengatakan bahwa “ajaran Islam” dalam artian fiqh (yurisprudensi Islam) membuka banyak ruang terhadap eksistensi LGBT. Fiqh hanya membahas tindakan, bukan perasaan dan orientasi seksual, ujarnya. Dengan kata lain, yang dilarang adalah praktik “liwat” (hubungan seksual anal atau sodomi), dan bukan perasaan atau ekspresi homoseksualitasnya. Kategori homoseksualitas tidak dikenal dalam periode formasi fiqh Islam.

Permasalahan utama terkait penolakan ulama dan masyarakat Muslim terhadap homoseksualitas, ujarnya, adalah pemahaman tumpang-tindih antara kategori homoseksualitas, yang merupakan konsep modern Barat, dengan kategori liwat. Liwat itu sendiri dalam fiqh tidak selalu berarti homoseksualitas. Sedangkan, kategori “homoseksualitas” itu sendiri baru muncul pada abad ke-19 di Eropa.

“Jadi, meski liwat dilarang, banyak ilmuwan Muslim abad pertengahan yang menulis puisi homoerotis. Kegiatan seksual lain selain liwat hanya dianggap sebagai “dosa kecil”—tidak ada hudud-nya (hukum Tuhan). Kesimpulannya, fiqh Islam melihat aksi, bukan gender pelaku aksi,” tambahnya.

“Masalah terdapat pada sebagian ulama dan masyarakat Muslim yang mengadopsi oposisi biner seksualitas dari produk modernitas Barat melalui proses kolonialisme. Oleh karena itu, pengajaran etika perbedaan pendapat dalam fiqh harus ditegakkan kembali. Masalah hari ini berakar dari pandangan literalis dan esensialis terhadap fiqh,” Laily memaparkan.

Konteks Sejarah

Menurut Laily, dalam sejarah Islam, tepatnya pada awal abad-19, homoerotisme dan homoseksualitas maupun pederasti, masih menjadi bagian dari dinamika sosial di banyak masyarakat Muslim. Contoh paling jelas adalah hingga detik ini adalah tidak ada posisi yurisprudensi yang sama dari keempat mazhab utama Sunni dalam perlakuannya terhadap isu LGBT. Dengan kata lain, dimensi seksualitas dan gender tidak pernah sepenuhnya hitam putih dalam tradisi Islam.

“Kita harus ingat bahwa masa formasi fiqh adalah abad pertengahan yang patriarkal. Sihaq (hubungan seksual lesbian) tidak dimasukkan dalam hudud fiqh karena tidak ada penetrasi penis. Jadi, ilmuwan Muslim saat ini harus bisa menjawab soal larangan anal tersebut, apakah masih relevan atau tidak, sebab fiqh itu sifatnya fleksibel dan kontekstual sesuai dengan jaman dan tempat,” jawab Laily.
 

Pengajaran etika perbedaan pendapat dalam fiqh harus ditegakkan kembali. Masalah hari ini berakar dari pandangan literalis dan esensialis terhadap fiqh.


Dalam konteks Indonesia sendiri dinamika seksualitas dan gender cenderung lebih fleksibel sebelum penjajahan dimulai. Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 dan paling tidak telah tersebar luas pada abad ke-16. Fakta bahwa adat bernuansa LGBT, seperti Reog Ponorogo maupun 5 macam gender di Bugis, masih dipertahankan hingga jauh sesudah Islam datang ke Nusantara menunjukkan bahwa persekusi LGBT merupakan hal modern dalam sejarah Islam di Indonesia.

Di negara-negara Islam, perlakuan terhadap homoseksualitas terbilang beragam. Saudi Arabia, Iran dan Yaman adalah beberapa contoh negara yang menjatuhkan hukuman pidana untuk sodomi. Namun, di sisi lain, praktek homoerotisisme dan homoseksualitas tidak pernah benar-benar hilang dari negara-negara mayoritas Islam.

“Hingga awal abad ke-20, para homoseksual Eropa yang dialienasi karena homoseksualitasnya mencari suaka di Maroko yang ramah terhadap homoseksualitas. Kota-kota seperti Idlib dan Kandahar pun terkenal karena popularitas homoseksualitas di sana,” ujarnya.

Kebanyakan, negara-negara berbasis Islam mengadopsi hukuman tegas bagi LGBT pascakolonialisme dimana mereka mengenal standar moralitas Victorian dari Eropa yang mengagungkan heteroseksualitas.

Moral vs. Legal

Terkait dengan persekusi LGBT yang seringkali memakai contoh kaum Nabi Luth, atau dalam ajaran Kristiani dikenal dengan peristiwa Sodom Gomorah, Laily mengingatkan bahwa “al-Quran penekanannya banyak ke pelajaran moral, sedikit ke aturan legal”. Narasi Nabi Luth itu sendiri dimaknai oleh beberapa ilmuwan Muslim sebagai azab yang turun karena rakyat Nabi Luth melanggar nilai kemanusiaan, dan bukan soal perilaku homoseksualnya. Berbeda dengan al-Quran, Hadits memang menekankan pada pelarangan liwat, tidak hanya pada homoseksual tapi juga heteroseksual.

Terkait Hadits yang berisi ajakan untuk membunuh kaum LGBT, Laily menjelaskan bahwa Hadits harus dilihat kembali kualitas isi dan perawinya (pencatatnya). Harus juga diingat bahwa tradisi Hadits itu sendiri juga lahir pada konteks yang patriarkal.

“Intinya adalah kita tidak bisa sepenuhnya menggantungkan penerimaan LGBT dalam Islam hanya dari Hadits,” jelas Laily.

Selain itu, Laily juga menyatakan bahwa transgenderisme lebih memiliki preseden historis dibandingkan gender non-biner atau yang lainnya.

“Salah satu asisten rumah tangga di rumah Nabi yang diizinkan untuk membantu istri-istrinya bersolek adalah seorang transgender. Para laki-laki berperilaku feminin juga banyak menjadi seniman di istana-istana khalifah. Umumnya, diskusi tentang transgender berkisar pada apakah mereka harus diklasifikasikan sebagai perempuan atau laki-laki dalam fiqh,” Laily memaparkan.
 

Kebanyakan, negara-negara berbasis Islam mengadopsi hukuman tegas bagi LGBT pascakolonialisme dimana mereka mengenal standar moralitas Victorian dari Eropa yang mengagungkan heteroseksualitas.


Meski demikian Laily menekankan bahwa posisi fiqh sendiri beragam terkait transgender dan tidak ada hukuman untuk transgenderisme. Sedangkan untuk gender non-biner, ilmuwan muslim saat ini harus membahasnya karena merupakan fenomena baru dalam tradisi Islam.

“Kesimpulannya, transgender selalu ada dalam Islam sementara gender non-biner merupakan fenomena baru,” tambahnya.
Mendiskusikan transgenderisme juga tidak dapat dipisahkan dari pembicaraan tentang operasi penggantian kelamin. Laily menjelaskan bahwa operasi kelamin termasuk dalam persimpangan antara fiqh kontemporer dan etika Islam.

“Prinsip umumnya, jika hal itu memang dibutuhkan maka bisa dilakukan, yakni berbasis pada dua prinsip utama fiqh: kemudahan dan kenyamanan. Sedangkan dari sisi teologis, konsep ‘fitrah’ digunakan untuk melihat ‘pembebasan diri kita yang sebenarnya’,” jelasnya.

Meski demikian, Laily menyatakan bahwa tetap harus diingat bahwa argumentasi fiqh akan berbeda-beda dari satu ilmuwan ke ilmuwan lainnya.

Menyikapi Persekusi LGBT

Secara garis besar, Laily menekankan bahwa dari sisi teologis, al-Quran jelas menyatakan bahwa tidak ada keunggulan ontologis antara satu manusia dengan manusia lainnya.

“Yang sering dijadikan basis utama persekusi LGBT hanya narasi Nabi Luth dan beberapa narasi soal zawj atau ‘berpasang-pasangan’ yang seringkali dimaknai sebagai hubungan antara laki-laki dan perempuan. Namun, al-Qur’an juga merupakan kitab suci yang berdialog pada jamannya, seperti juga kitab suci lainnya. Al-Qur’an turun pada abad ke-7 Arabia yang tidak mengenal kategori modern seperti ‘kesetaraan gender’ dan ‘homoseksualitas’,” jelas Laily.

Kombinasi antara apresiasi terhadap budaya tradisional kita yang ramah terhadap fleksibilitas gender dan pengajaran kembali prinsip-prinsip perbedaan pendapat dan kontekstualisasi fiqh merupakan hal yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah persekusi LGBT di Indonesia, ujarnya.

“Kesimpulannya, jangan mencari landasan sempurna dari al-Quran untuk advokasi LGBT. Ambillah pesan kemanusiaan al-Quran sebagai landasan berpikir lalu kembangkan respon yurisprudensi dan teologis kita sendiri saat ini,” tambahnya.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Writer Profile
Ayunda Nurvitasari, Reporter/Social Media Manager
Ayunda is interested in the intersection of pop culture, media, and gender issues. She's currently pursuing a master's in Cultural Studies department, University of Indonesia. She's been into Lana Del Rey, speculative fiction, and BoJack Horseman series. Her own social media sites, however, are quite uneventful, but feel free to say hi: facebooktwitter.
Related Articles
COMMENTS
Dkf | 17 June 2017 | 02:38:34 WIB
1) Sebagai seorang gay muslim, aku sangat respect dengan pemikiran progresif seperti di atas. Pemikiran seperti itu membuka jalan untuk aku pribadi menemukan keyakinan.

Tapi di lain sisi, aku dengan pengetahuan agamaku yang minim, melihat bahwa Alquran dan Hadist entah kenapa jadi kehilangan makna. Dan pertanyaanku, jika memang Allah itu maha agung, kenapa kita harus ribet-ribet membolak balikkan alquran sedemikian rupa? Ini berujung pada rasa gundahku bahwa: Allah itu sebenarnya ngga adil untuk kaum sepertiku.
Dkf | 17 June 2017 | 02:40:10 WIB
2) Hal ini aku lihat dari keistimewaan yang Allah berikan untuk kaum hetero, sedangkan untuk kaum sepertiku sampai-sampai harus menafsirkan Alquran dan Hadis dengan susah payah (bahkan perlu seorang calon doktor untuk menafsirkannya). Aku mungkin bisa menerima tafsiran progresif di atas, tapi hatiku ngga bisa bohong bahwa, itu semua manusia yg menafsirkan, bukan dari Allah sendiri. Ada rasa keyakinan yang hilang jika hanya melalui pembenaran manusia.

Mungkin ada pembaca magdalene yang bisa membantu menjawab rasa gundahku. Aku akan sangat mengapresiasi jawabannya. Terima kasih😊
Dkc | 17 June 2017 | 10:06:37 WIB
@DKF Allah menunjukkan kekuasannya pada kaum yang berpikir :)
muslim | 18 June 2017 | 05:14:33 WIB
@Dkf, pada dasarnya yang membuat orang merasa diperlakukan tidak adil itu ada 2, memang karena perlakuannya tidak adil atau perlakuannya sudah adil tp orang yg bersangkutan kurang bisa memahami dengan baik. berkaitan dengan pemikiran bahwa Allah tidak adil, tentu saja ini hal yang salah. Karena kita sudah tau Allah adalah Tuhan yang menciptakan segalanya disertai bukti2 logis dan fakta ilmiah yang ada di Al-Qur'an.

Sebagai contoh, ada 2 orang, mereka kakak beradik. si Kakak sudah SMP dan adiknya masih TK. sang ayah tentu saja memberikan perlakuan yang berbeda, uang jajannya berbeda karena kebutuhan dan kemampuan menggunakannya berbeda, diberi pelajaran les yang berbeda karena yang diujikan di sekolah jg berbeda. jika si adik merasa tidak adil, maka si adik belum memahami maksud sebenarnya dan efek kebaikan yang ditimbulkan dari perlakuan sang ayah yang dianggap tidak adil oleh si adik.
muslim | 18 June 2017 | 05:16:08 WIB
bersabarlah. karena kesulitan yg menimpa kita cuma sedikit dibanding nikmat yang kita dapat dari Allah setiap harinya. kalo mau coba menghitung, silahkan hitung jumlah oksigen gratis yang anda hirup sampai hari ini, nikmat sehat yang kalau sakit butuh jutaan hingga milyaran rupiah untuk pengobataannya, itu semua kita dapat gratis setiap hari. sesungguhnya manusia itu sedikit sekali bersyukur.

surat Huud ayat 78:
Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji (homoseksual). Luth berkata: "Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagimu, maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini. Tidak adakah di antaramu seorang yang berakal?"

Cukuplah satu ayat dari Qur'an untuk menyatakan hukum dari LGBT. Silahkan berpikir.

mudah2an bermanfaat :)
Dkf | 19 June 2017 | 01:47:26 WIB
@muslim Kaum sepertiku ini hidup dalam diskriminasi, dikucilkan, dihukum cambuk, dipidana, bahkan dibunuh.

Dan....... itu semua sumbernya karena agama, karena ayat Alquran, karena firman-Nya.

Padahal kaumku cuma ingin merasakan cinta kasih, tapi sama Allah ngga boleh... Duh, kasian ya
Aan | 23 June 2017 | 20:03:34 WIB
Dear Dkf, let's talk, email me your WA number....mudah2an dgn berbagi pandangan progresif bisa lebih membuat kita tenang dalam beribadah dan dapat lebih menerima kondisi diri kita, karena tidak ada seorangpun yg mau dilahirkan sebagai lgbt dan banyak yg tidak menyadari bahwa sexual orientation adalah hal yg berbeda dgn sexuak preference.
Email me your contact aanrianto@gmail
Aan | 23 June 2017 | 20:04:45 WIB
Ibnu | 03 July 2017 | 06:05:00 WIB
Artikel sampah. Tidak bermutu karena ditulis orang kafir cuma modal terjemah? Jurusan English pula bukan agama. SOk tahu.
Kalau mau tahu cara ISlam menyikap LGBT, pelajari jarhu wa tadil dan tahdzir.,
Udah itu saja.,
ISM | 06 July 2017 | 18:48:49 WIB
Terima kasih tulisannya, sedikit tercerahkan dengan bacaan ini. kalau boleh menanyakan lalu bagaimana dengan tanggapan berbagai agama lain (agama secara umum) dalam menyikapi sosok waria?
VLN | 18 July 2017 | 11:54:08 WIB
Ibnu, kalau ada bisa membaca, dijelaskan di bagian atas artikel ini ditulis dari sesi kultwit langsung Magdalene dengan: "akademisi Muslim Lailatul Fitriyah, atau akrab dipanggil Laily, yang sedang dalam proses memperoleh gelar Doktor dari Departemen Teologi di Universitas Notre Dame." Artikel ini bukan terjemahan dari artikel bahasa Inggris, tapi memang ditulis dalam 2 versi bahasa Inggris & bahasa Indonesia. Yang jurusan "English" adalah jurnalis yang mendokumentasikan kultwit, bukan narasumber. Memang sulit kalau tidak mau membaca dan hanya langsung menyerang saja.
Edy | 14 September 2017 | 14:35:49 WIB
"Harus juga diingat bahwa tradisi Hadits itu sendiri juga lahir pada konteks yang patriarkal". Dari sisi Islam, ini adalah pernyataan yang tidak benar, dan semoga yang melahirkannya (mbak Laily, yang katanya seorang Muslim) segera di beri hidayah. Pertama, Hadist bukan sekedar tradisi, tapi salah satu sumber hukum Islam setelah Al-Qur'an. Bersifat kontekstual, iya, tapi secara general penerapannya tidak akan lekang oleh zaman. Di situ bedanya dengan tradisi, yang merupakan kreasi manusia dengan kualitas temporer, yang mana tradisi lama akan tergantikan dengan tradisi yang baru karena berbagai alasan.
Edy | 14 September 2017 | 14:37:04 WIB
Kedua, Rasulullah lahir pada zaman patriarkal, namun sejak diangkat jadi Rasul, stigma laki2 berkuasa atas perempuan menjadi salah satu fokus perubahan yang di usung dalam bingkai Islam. Memaknai bahwa hadist lahir dalam konteks patriarkal sama artinya memberikan ruang pemahaman bahwa hadist dipengaruhi oleh gagasan patriarkal. Ini fitnah kawan, hati2. Yang anda Fitnah itu Rasulullah. Apakah mbak Laily berprasangka bahwa hadist yang dilahirkan oleh Rasulullah bertendensi memposisikan laki2 superior dari perempuan?
Edy | 14 September 2017 | 14:38:05 WIB
Ingat, saat golongan feminist menyuarakan kesetaraan Gender, sejatinya itu mendiskreditkan Islam. Kenapa? karena dalam Islam derajad perempuan itu tiga kali (3x) lebih tinggi daripada laki2. Yang bilang -surga itu ditelapak kaki ibu- siapa? Islam. Yang bilang -SEANDAINYA ada Tuhan yang bisa disembah selain Allah-, itu adalah Ibu, siapa? Islam.
Yang bilang -tiang negara itu perempuan- siapa? Islam. Yang menyatakan keagungan seorang anak perempuan berupa -dengan memiliki satu anak perempuan, maka satu kaki orang tua sudah di surga- itu siapa? Islam. Serta masih banyak pemahaman dasar lainnya tentang kelebihan perempuan dibanding laki2.
Edy | 14 September 2017 | 14:39:31 WIB
Dalam sejarah perkembangan Islam, sebelum adanya Islam itu sendiri, peran dan posisi perempuan dalam konteks dunia Arab itu sangat kecil bahkan ditiadakan. Kehadiran Islamlah yang mengubah sudut pandang itu. Jadi mohon tarik fitnah anda tentang Hadist yang lahir pada konteks patriarkal. Ini baru satu sisi 'logical fallacy' yang disajikan dalam tulisan ini, sesungguhnya masih banyak yang lain. Wallahu a'lam bissahwab. Kepada saudaraku sesama muslim yang saat ini masih memiliki orientasi seksual yang menyimpang, mari berbenah diri. Di dunia ini sungguh banyak bentuk ujian, ada orang yang di uji dengan kelebihan dan kekurangan harta,
Edy | 14 September 2017 | 14:41:26 WIB
ada orang yang diuji dengan ketakutan kehilangan nyawa akibat perang dan penyakit, ada orang yang diuji dengan kekuasaan dan penindasan, dan engakau saudaraku yang berorientasi LGBT, yakinlah ini adalah ujian kalian, semoga kalian bisa melewatinya dengan baik. Karena sesungguhnya dunia ini adalah tipu muslihat. Mari kita belajar untuk tidak memperturutkan hawa nafsu. walaupun tantangannya berat, tapi yakinlah usaha kalian untuk berbenah akan menjadi pemicu dihembuskannya hidayah di dalam dada dan hati kalian. Berjuanglah. Wallahu a'lam bissahwab.
Han | 29 September 2017 | 00:13:44 WIB
"Bersifat kontekstual, iya, tapi secara general penerapannya tidak akan lekang oleh zaman."

Hadits riwayat Ibnu Majah 2462 secara singkat menyatakan bahwa Nabi menyerahkan urusan duniawi kembali kepada umatnya. Hadits adalah ucapan Rasulullah yang terikat oleh latar belakang dan sejarah hidup beliau. Nabi Muhammad SAW, seberapapun mulianya dia, tetaplah manusia. Beliau pernah berbuat kesalahan yang hingga ditegur oleh Allah langsung. Sementara sahabatnya sering berkeberatan atas kata-kata beliau bila itu bukan berkaitan dengan urusan agama atau wahyu. Ingat, Rasulullah SAW MELARANG pencatatan hadits dalam bentuk apapun. Pengumpulan hadits baru dilakukan ketika banyak hadits palsu berkeliaran dan untuk mempermudah proses peramuan yurisprudensi fiqih baru.
Han | 29 September 2017 | 00:20:46 WIB
Ketika Mas Edy di sini mempertanyakan keislaman Mbak Laily (tidak bahkan Rasulullah pun mempertanyakan keislaman Abdullah bin Ubay, bapak munafik sekalipun) , lantas saya mempertanyakan dasar pengetahuan Mas Edy dalam dasar2 yurisprudensi fiqih, dasar2 ilmu hadis, dan sejarah Islam secara umum. Pada faktanya, ilmu hadis merupakan ilmu pelik yang melibatkan pengecekan sanad dan perawi suatu hadis demi memastikan kepastiannya. Bahkan setelah melewati proses demikian, banyak sekali hadis Rasulullah yang sifatnya ramalan, sesuatu yang sangat bertentangan dengan pembelaan beliau di masa dakwah bahwa dirinya bukan lah peramal. Kepelikan dalam perkara hadis, mulai dari hadis lemah hingga redaksi periwayatannya yang bias adalah bagian dari kenyataan bahwa Sunnah dari Rasulullah tidak untuk diikuti setiap perkataannya secara literal.
Han | 29 September 2017 | 00:21:11 WIB

Banyak hadis Nabi yang secara substansi memang lekang dari zaman. Tapi apakah itu berlaku untuk semua hadis? Tentu saja tidak, dan Rasulullah tahu itu hingga dia melarang kata2nya dicatat agar umatnya tidak tertukar antara ucapan beliau dengan firman Allah itu sendiri. Larangan itu dilanggar demi kebaikan yang lebih besar, namun sayang melihat orang sebegitu mudah menentukan bahwa hadis adalah kebenaran yang tidak terbantahkan meski para ahli hadis tidak berpikiran demikian, sehingga kata2 Nabi banyak yang membawa mudharat karena dipelintir sedemikian rupa.













Weekly Top 5