Penulis Feby Indirani Ajak Masyarakat Indonesia Beragama Secara Rileks

Saturday, 15 July 2017 - 12:39:40 WIB
By : Hera Diani | Category: Seni - 3722 hits
Di sela-sela mengikuti acara Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Cirebon beberapa bulan lalu, penulis Feby Indirani tiba-tiba bertanya pada saya, “Her, lu masih berdoa, nggak?”. Saya tertawa dan menjawab dengan setengah bercanda, “Masih, terutama kalau naik pesawat terbang.”

Pertama kali kenal Feby di sebuah kuliah tentang Feminisme dan Islam yang diadakan Jurnal Perempuan pada 2016, kami berdua kemudian menemukan bahwa ternyata kami memiliki sejumlah kesamaan yang membuat kami cepat akrab. Selain sama-sama jurnalis, kami memiliki kegelisahan dan keingintahuan yang sama mengenai agama, khususnya Islam. Sama-sama lahir dalam keluarga yang menjalankan agama Islam secara taat dan ketat, Feby sendiri sempat berjilbab ketika kuliah, kami memiliki banyak pertanyaan soal agama dan melakukan pencarian untuk jawaban-jawabannya itu melalui berbagai jalan. Meski tidak lagi menjadi religius, paling tidak saya, Islam kemudian menjadi pet issue atau mungkin malah obsesi.

Hari ini, 15 Juli 2017, Feby meluncurkan buku kumpulan cerita pendek (cerpen) yang berjudul Bukan Perawan Maria. Cerpen yang menjadi judul buku itu sendiri pertama kali dimuat di Magdalene, berkisah tentang seorang perempuan yang yakin dia hamil tanpa dibuahi. Ke-18 cerpen lainnya di buku ini juga berpusat pada tema yang sama, yakni satir tentang umat Islam di Indonesia. Ada kisah babi yang ingin masuk Islam, perempuan bercadar yang kehilangan wajahnya, iblis yang pensiun dini, dan favorit saya, tentang tanda hitam di dahi bekas sujud. Semuanya asyik dibaca, karena lugas, menggigit dan humoris, serta mengalir jernih, tidak pretensius dan tidak provokatif hanya untuk sekadar ingin provokatif. Cerita-cerita ini seperti mengajak kita menertawakan diri sendiri. Akan lebih terasa lucu membacanya, seandainya saja situasi keagamaan di negara ini tidak sevulgar sekarang.

Sebelum kumpulan cerpen ini, Feby yang lulus dari Universitas Padjadjaran jurusan jurnalistik ini telah menerbitkan sejumlah buku fiksi dan nonfiksi, antara lain Ahmadiyah: Keyakinan yang Digugat (bersama tim Pusat Data Analisa Tempo), Alien Itu Memilihku dan I Can (Not) Hear. Novelnya, Clara’s Medal, menjadi bacaan wajib dalam pelajaran Bahasa Indonesia kelas tujuh di salah satu sekolah internasional di Indonesia.

Feby pernah bekerja sebagai jurnalis di sejumlah media seperti Tempo dan Kompas TV. Ia juga meraih sejumlah fellowship dan mewakili Indonesia di sejumlah program internasional, yakni Muslim Exchange Program di Australia, Asia Journalism Fellowship di Singapura, Internasional Journalist Program di Jerman dan IATSS (Internasional Association of Traffic and Safety Science) Forum-Leadership Training Program di Jepang.

Bersamaan dengan Bukan Perawan Maria, Feby juga meluncurkan Relaksasi Beragama (Relax, It’s Just Religion), sebuah gerakan yang mengajak orang berpikiran terbuka, mampu menertawakan diri sendiri dan berempati kepada orang lain yang memiliki tafsir beragama yang berbeda.

Baru-baru ini, saya berbincang dengan Feby mengenai buku terbarunya, usai mengikuti sebuah kuliah (lagi-lagi) mengenai aliran dalam Islam. Berikut adalah cuplikan dari perbincangan tersebut.

Hera Diani: Mengapa mengambil tema sentral Islam untuk cerpen-cerpen ini?

Feby Indirani: Agama itu sudah sering menjadi kegelisahan dari dulu, mungkin sejak kecil, mulai dari persoalan, “Kenapa tidak boleh mengucapkan Selamat Natal?”. Akar mengenai tradisi Islam itu panjang. Sebetulnya ini bukan pertama kali menulis dengan tema agama. Novel pertama gue, Simfoni Bulan, yang terbit 2006 merupakan protes atas ditutupnya (kompleks lokalisasi) Kramat Tunggak, yang dijadikan masjid. Novel itu ditulis umur 25, gue masih punya persoalan untuk menjadikan ini fiksi tanpa preaching. Dari awal sebagai kegelisahan, tapi kalau dijadikan artikel hanya akan membuat marah orang, makanya menulis fiksi. Tetapi intinya, protesnya, kenapa Kramat Tunggak ditutup dan dijadikan masjid terbesar se-Asia Tenggara. Gubernur saat itu pada saat peletakan batu pertama mengatakan, “Hari ini, tanah hitam menjadi tanah putih.” Gue sangat keberatan dengan hal itu. Kalau dijadikan pabrik masih mending karena memikirkan kelangsungan hidup orang banyak. Tapi kenapa masjid? Berapa banyak tenaga kerja yang akan terserap ke situ? Yang perempuan terutama tidak akan terserap.

Itu novel pertama, dan itu membuat hubungan dengan orang-orang dekat menjadi buruk. Hal itu menghasilkan trauma kreatif yang panjang. Setelah itu baru pada 2016 menulis fiksi lagi. Jadi kenapa Islam? Sudah menjadi kegelisahan sejak lama. Sebagai penulis ada kegelisahan kreatif, akar gue itu apa sih? Kadang-kadang gue suka iri dengan orang-orang yang punya akar Nusantara yang kuat. Bokap gue Sunda, Nyokap Minang-Batak-Sunda, tapi di rumah kita nggak ngomong bahasa daerah mana pun, nggak ada akar tradisi apa pun. Tinggal di Jakarta, tapi Betawi juga bukan.

Pertanyaan tentang identitas itu pernah singgah di gue, dan pada suatu titik akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa, basically, hidup gue nggak pernah lepas dari Islam. Waktu baru lulus, sedang cari kerja, ternyata ada call for paper dari Muhammadiyah dan Asia Foundation untuk grant penelitian, temanya soal perempuan di Muhammadiyah. Ternyata jadi salah satu pemenang, dan gue perempuan sendiri. Hal itu jadi jembatan buat gue ngomong lagi sama Nyokap, yang sebelumnya sempat ada ketegangan karena gue buka jilbab. Nyokap senang, “Ibu itu dari lahir sudah Muhammadiyah.” Karena ibunya Aisyiyah dan dia juga pengurus Aisyiyah. Akhirnya memang Islam-lah yang jadi akar gue.

Cerpen-cerpen ini gayanya surealis, kenapa?

Sebagai pembaca gue menikmati cerita-cerita yang sureal, karena menurut gue itu indahnya fiksi. Bukan berarti yang realis nggak bisa indah ya. Tapi di Indonesia ini berita sehari-hari sudah stranger than fiction, jadi kalau bikin fiksi yang realis.. berita-berita sehari-hari aja sudah nggak masuk di akal gue. Jadi ada pertimbangan estetis, pilihannya tepat. Belakangan, kayak di bawah sadar, itu menjadi siasat karena tema-temanya sensitif. Gue memperbesar ruang ‘main-main’ dengan topik ini. Kalau nyata banget, kita sudah cukup tegang dengan kenyataan ini.

Gaya menulis lu di cerpen-cerpen ini mengingatkan gue pada gaya Danarto, dengan tradisi sufistik dan humoris.

Gue memang tertarik pada tradisi sufistik. Gue selalu senang dengan gagasan Wahdatul Wujud, yang secara sederhana mengatakan bahwa Tuhan ada dalam diri kita. Jadi kita dan Tuhan itu Manunggaling Kawula Gusti (menyatunya manusia dengan Tuhan). Gue senang dengan gagasan itu... Syekh Siti Jenar, Rumi, Ibnu Arabi, yang bilang bahwa tauhid iblis itu paling benar karena menolak waktu disuruh menyembah manusia sebab mereka setara. Gue senang karena agama itu dilihat dari esensi, bisa nggak menjadi manusia yang lebih baik.

Gue tersanjung sekali dibilang mirip dengan Danarto. Dia kan canggih banget. Dan menurut gue gaya dia itu tradisi yang hilang di sastra Indonesia. Gue ingin mengembalikan tradisi sastra yang bercerita. Jangan terlalu err... gaya, dengan kata-kata indah dan canggih tapi substansi cerita nggak selesai. Bunga-bunganya banyak tapi ceritanya jadi lemah. Kalau bisa dibilang ambisi, gue ingin mengembalikan sastra Indonesia agar bertumpu lagi pada cerita.

Dengan tema seperti ini, takut nggak akan ada sensor atau protes?

Di awal nulis sudah ada ketakutan-ketakutan, pertama takut nggak bagus. Aduh, gimana ya, mana kita sudah biasa nyela-nyela tulisan orang (tertawa). Ada kegelisahan kreatif, sebagai pembaca kan kita punya standar tertentu, takut dibilang jelek. Itu hantu buat banyak penulis. Ada yang mengatakan itu hantu yang bisa sehat juga. Kalau abai, dan ignorant, hasilnya seperti kita tahu. Tapi itu kan hantu juga, nulis jadi susah ngelarin. Gue ada waktu panjang nggak bisa ngelarin fiksi.

Ketakutan kedua, sensor. Takut ini isu sensitif, takut dihujat. Akhirnya gue menguatkan diri, pokoknya selesai dulu aja. Satu cerpen harus selesai dalam satu dudukan, nggak mau tahu. Kebetulan ada support system teman yang mau jadi pembaca pertama. Jadi selesai tulis, kirim. Karena cukup lama jadi wartawan juga, deadline menyelamatkan gue. Setiap minggu kirim, jadi prosesnya sebentar, satu cerita seminggu, 19 cerita jadi sekitar 19 minggu. Tapi itu kan yang sudah diendapkan lama juga. Paling lama (proses menulisnya) seharian atau semalaman. Memang harus dipaksain, mau jelek mau baik.

Untuk sensor dari pembaca, sejauh ini yang sudah baca welcome tapi ada juga kekhawatiran. Mereka bilang, senang bukunya, tapi cemas takut lu diapa-apain. Orang-orang pada cemas. Gue jadi kayak, wah kok begini banget ya. Kayak 1984, sudah sebegitunya. Tapi buat gue, this is exactly why kita harus jalan terus untuk melawan sensor. Sampai kayak begitu banget sih, orang mikir saja takut. Misalnya saja, cerpen “Ruang Tunggu” pernah dimuat di Jawa Pos. Kemudian ada tim teater yang tertarik untuk bikin pertunjukannya tapi lalu batal, takut SARA (suku, agama, ras, antargolongan). Jadi sekarang ini hal itu sudah jadi teror kreatif.

Ya sudah akhirnya gue nggak mau fokus ke situ. Gue cuma pingin jalan. Basically gini, gue sadar gue ada on the edge, posisinya kritis. Tapi gue sadar betul gue tidak menggugat doktrin agama. Gue paham betul karena tradisi (agama) yang panjang tadi. Gue nggak menggugat doktrin Islam, Quran atau Nabi Muhammad. Semua tentang interpretasi, pemahaman yang umum juga kita ketahui. Jadi gue sih merasanya gue bisa mempertanggungjawabkan itu, tapi kan hari gini semua jadi ekstra sensitif.

Komentarnya Ibu Melani (Budianta, guru besar sastra di Universitas Indonesia) itu menarik. Waktu gue baca salah satu cerpen di acara The Jakarta Post Writing Center, dia bilang, “kamu itu strategis ya, orang nggak bisa marah sama kamu.” Maksudnya gini, orang baca cerita itu mungkin kesal, tapi nggak bisa marah. Mau marah sama apanya?

Gue melihatnya, kalau kita nulis opini, orang tersulutnya cepat sekali. Tapi waktu gue posting salah satu cerpen gue, ternyata nggak ada respon marah meskipun banyak yang membaca dan mem-posting. Ada perbincangan tapi sangat berbeda (dengan opini). Menurut gue itu menarik. Ini eksperimen sosial juga buat gue. Jadi seperti zaman Orde Baru, dimana fiksi menjadi alat kritik.

Kelompok Islam ini seperti dulu kita takut pada rezim Orde Baru. Sudah seperti itu. Dulu kita yang, “Ah, jangan ngomong politik’”, sekarang politik digantikan agama. Itu jadi hantu teror. Sebegitu takutnya SARA atau apa. Tapi kita jangan mereproduksi ketakutan itu sendiri, kalau nggak teror kreatif itu tercapai. Buat gue fiksi itu jadi alternatif. Karena diajak dialog sudah nggak bisa. Untuk fiksi itu, namanya cerita, lu mesti baca dulu baru bisa bereaksi, tidak seperti opini. Kadang hanya baca judulnya saja orang sudah marah-marah, baca saja nggak. Itu sih yang ingin gue lakukan, lewat fiksi, lewat cerita surealis. Supaya orang punya jeda sebelum merespon.

Jumlah cerpen ada 19 itu disengaja atau tidak?

Disengaja, karena 19 adalah simbol yang penting dalam Islam. Bismillahirrahmanirrahim, misalnya, ada 19 huruf, lalu jumlah ayat habis dibagi 19, dan seterusnya.

Penulis yang punya latar belakang sebagai wartawan katanya diuntungkan karena menguasai ekonomi bahasa. Apakah itu juga berlaku buat lu?

Betul. Tapi mungkin itu jadi hantu juga, suka “Aduh, kepanjangan ini, potong aja”. Jadi isu juga buat nulis panjang. Gimana ya, sudah terbentuk seperti itu. Selain itu.. Sebenarnya itu juga jawaban mengapa gue memilih gaya surealis, karena untuk membedakan ranah sebagai wartawan dan penulis fiksi. Kalau nulis fakta kan jelas, gue yakin dengan integritas gue sendiri, ini detailnya kayak apa, deskripsinya begini as I perceive it as a journalist. Tapi ketika menulis fiksi realis, jadi nggak yakin-yakin, ini bener nggak, karena itu nggak ada, semestanya gue bangun sendiri. Siapa yang memvalidasi itu? Ada kegelisahan itu. Tantangannya, menurut gue, hantu buat jurnalis saat menulis fiksi adalah seperti itu. Ketika surealis itu lebih memudahkan gue. Tidak lebih mudah ya, tapi membebaskan gue.

Mengapa mengambil tema Relaksasi Beragama untuk peluncuran buku?

Gue pingin merangkum ini dalam sebuah tema. Sebenarnya apa sih tujuan dalam cerita-cerita ini? Terutamanya adalah menghibur, kepingin bikin orang-orang bisa ketawa-ketawa lagi dan bisa menertawakan diri sendiri. Sebenarnya Islam itu punya tradisi yang penuh humor, cerita-cerita hikmah dan cerita-cerita yang lucu, yang gue senang banget. Gue senang cerita-cerita model pelacur masuk surga karena memberi minum anjing. Kayak gitu-gitu kan banyak itu. Gue ingin menghidupkan tradisi itu lagi dengan konteks kontemporer kita. Segalanya yang ada di buku ini hal-hal yang banyak ditemui di Indonesia.

Lalu gue ngobrol sama Hikmat (Darmawan, pakar komik dan pengamat budaya pop). Pokoknya gue ingin orang-orang rileks dan gue ingin berempati pada orang lain. Sekarang ini kan modelnya, satu kelompok sedikit-sedikit bilang, “Ah, lu kafir”, sementara kubu sana, “Ah, bego”. Gue nggak suka kecenderungan keduanya, nggak menyelesaikan apa-apa. Dan kok nggak ada jembatannya ya. Lalu kata Hikmat, relaksasi beragama saja. Bahasa Inggrisnya, Relax, it’s just religion. Mungkin sebagian orang akan marah dengan kata ‘just’, tapi kan poin gue bahwa memang ini cuma agama, bukan Tuhan.

Buku ini kemudian diterbitkan oleh Pabrikultur, yang sebetulnya bukan penerbitan juga. Tapi penerbit yang ada nggak kunjung menerbitkan buku ini, walaupun gue paham sih posisinya. Jadi gue pikir kenapa tidak menerbitkan sendiri saja. Selain buku, pingin ada pameran, visualisasi cerita, tapi kan gue bukan seniman. Jadi ada tim seniman yang menerjemahkan konsep dari gue. Nanti ada area surga neraka dengan video mapping, misalnya. Lalu ada area interaktif juga, dimana orang-orang bisa menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang paling takut ditanyakan mengenai agama dan Tuhan. Jadi ini sebetulnya orang-orang saling menguatkan juga. Kalau ada yang tanya, kenapa relaksasi? Kadang gue jawab, soalnya lagi berobat jalan (tertawa).

Pencarian lu terhadap agama ini panjang juga ya, ikut segala macam. Jadi apa yang kau cari Palupi? Haha.

Mencari kebenaran hahaha. Itu tadi, ternyata nggak bisa lepas dari tradisi Islam. Dari keluarga gue, kami memang senang belajar. Kakak-kakak ikut organisasi pemuda Islam dan gue juga ikut. Lalu waktu kuliah ikutan kelasnya Kang Jalaludin Rakhmat, asyik banget, banyak membahas konsep sufistik juga. Sempat ikut Daarut Tauhid, jauh sebelum Aa Gym poligami.  Sekarang lebih ke New Age-ism (tertawa). Kayak butuh banget punya belief haha. Tapi pada dasarnya gue merasa gue orang yang beriman, punya faith, dan monoteistik.

Salah satu cerpen tentang LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender). Kenapa memilih itu?

Gue pro-LGBT, dan gue nggak bisa terima banget kalau memang Tuhan menghujat LGBT. Bukan Tuhan yang seperti itu yang gue percaya. Masa sih Alan Turing nggak masuk surga? Katanya amal jariyah akan mengalir kepada kita. Nggak mungkin Tuhan kayak begitu.

Dari sekian panjang pencarian lu soal Islam ini, apa yang masih mengganjal?

Akhirnya gue sekarang melihat Islam ini tidak hanya sebagai isu personal gue dengan diri gue atau Tuhan. Jadi bukan fardhu ain (kewajiban individual yang tidak bisa digantikan oleh orang lain) tapi fardhu kifayah (kewajiban umat). Gue nggak tahu kalau di negara lain, tapi di Indonesia ini penekanannya sepertinya selalu pada fardhu ain, mencari-cari pahala, umrah berapa kali, haji berulang-ulang. Sementara fardhu kifayah itu nggak. Waktu SD, contoh yang diajarkan mengenai fardhu kifayah itu cuma bagaimana mengurus jenazah. Jika tidak disalatkan maka dosanya buat semua, kalau ada yang melakukan maka semua terselamatkan. Menurut gue, fardhu kifayah itu harusnya ditekankan lebih banyak. Hablum minannas (akhlak yang baik terhadap sesama manusia), exactly. Misalnya soal sampah, ada kesadaran bahwa semua harus ingin jadi penyelamat untuk kemaslahatan semua. Sebagai orang yang so-called paham dan punya tradisi panjang soal Islam, kontribusi apa yang bisa gue lakukan? Gue menyikapinya sebagai persoalan sosial.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Writer Profile
Hera Diani, Managing Editor
Hera, like many Indonesians, has two names and she relishes the fact that Indonesian women do not have to take the surname of their fathers and husbands. Pop culture, not Deepak, is her guru, but she is critical of the terrible aspects of it, such as the contents with messages of misoginy and rape culture, and The Kardashians.  
Related Articles
COMMENTS
Marlinda Djajadisastra | 16 July 2017 | 14:48:37 WIB
Saya akan keliling utk mencari buku ini sampai dapat. Di benak saya "Relax, it's just religion", setara dgn frase "Ngaji aja, Belanda masih jauh" atau "Sok ngaji, mumpung di Bandung keneh" 😊. Salam.















Weekly Top 5