Menikah dengan Keluarga Patriarkal

Wednesday, 26 July 2017 - 12:14:13 WIB
By : Christine Lie | Category: Sosial - 3584 hits
Saya adalah perempuan yang berasal dari keluarga yang bercerai, pernah bangkrut dan tidak punya teman seorang pun karena menurut teman-teman saya berteman dengan orang dari keluarga broken home adalah hal yang merugikan. Selama bertahun-tahun saya berdiri sendiri dengan bertanggung jawab pada ibu dan adik-adik, sehingga membuat diri saya adalah orang yang individual, enggan menggantungkan diri ke orang lain, cukup keras kepala dan memiliki pendapat sendiri. Setelah beberapa tahun bekerja di isu perempuan, prinsip hidup saya semakin kuat bahwa saya adalah seorang manusia utuh yang bertanggung jawab atas diri saya sendiri, dan benci dengan patriarki, apa pun bentuknya.

Bertahun-tahun saya tidak peduli apakah saya lajang atau tidak. Bagi saya jika dalam hidup kita tidak bertemu seseorang yang sama-sama saling mencintai itu urusan takdir, bukan sesuatu yang harus didramatisir menjadi kiamat kecil. Meskipun orangtua dan keluarga saya kebingungan, takut saya sendiri seumur hidup, saya tidak peduli. Keyakinan saya tak tergoyah, jodoh itu takdir yang manusia tidak bisa mencampurinya.

Pada akhir usia 20an, saya bertemu calon suami saya. Dia adalah seorang laki-laki yang besar di keluarga yang menganggap laki-laki adalah sosok pengganti Tuhan di dunia, yang titahnya harus dituruti. Awal-awal berhubungan dengan dia, saya mengalami banyak kesulitan. Saya sangat tidak kompromis dengan sikap patriarkal. Saya mencoba berdiskusi dengannya mengenai hal-hal yang ia tidak sukai dan ingin ubah dari saya.

Calon suami saya bukan orang yang bisa berdiskusi dan tidak ada konsep diskusi dalam sistem keluarganya. Namun, setelah setengah mati saya coba dan dengan waktu yang tidak sebentar, akhirnya saya bisa membuat ia membuka pikirannya dan menelaah, apa yang ia tidak sukai dari saya, mengapa, apa dasar kuatnya, merugikan siapa, apakah itu didukung fakta, apa maunya dan bagaimana jika saya tidak bersedia.

Diskusi-diskusi yang tidak jarang diiringi air mata dan amukan itu pada akhirnya berhasil melunturkan selubung patriarki yang sudah berkerak di diri calon suami saya sedikit demi sedikit. Bahkan, saat kami akan menikah saya bertanya padanya, bentuk relasi apa yang ia inginkan dari pernikahan kami serta menjabarkan risiko dari segala bentuk yang ada. Pada ujung diskusi kami bersepakat bahwa kami akan membangun rumah tangga dengan bentuk ‘kemitraan’, yaitu posisi kami sejajar, tidak ada subordinat, ia bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dan lainnya dan saya tidak masalah jika harus berkontribusi dalam keuangan rumah tangga.

Teman saya pernah berkata bahwa dalam budaya Indonesia, menikahi seseorang itu berarti menikahi keluarganya. Inilah yang sampai detik ini menjadi tantangan untuk saya. Saya sudah cukup bahagia suami saya perlahan-lahan mau belajar mengenai feminisme dan mempraktikkannya, tetapi tidak di keluarganya. Untuk keluarganya yang menjunjung tinggi maskulinitas, perempuan tidak terlalu dianggap, betapa pun si perempuan berprestasi atau apapun. Jika si perempuan memiliki penghasilan yang sama atau bahkan lebih dari suaminya, ia tidak akan dianggap sebagai pencari nafkah melainkan hanya dianggap membantu suami. Jika si perempuan pandai, ia tetap akan dianggap bodoh dan tidak akan pernah lebih pintar dari suaminya.

Saya adalah bencana untuk keluarga suami saya, karena saya adalah perempuan yang bisa berpikir sendiri, bisa menentukan hidup sendiri dan keras kepala. Tidak jarang mereka secara tidak langsung berusaha menekan saya agar tidak terlalu dominan, tetapi sia-sia dan akhirnya sebagian dari mereka menyerah dan menerima bahwa saya adalah manusia utuh, bukan subordinat suami saya. Hanya sebagian yang masih menganggap saya si paku yang mencuat sehingga setiap saya datang mereka akan menyombongkan sikap maskulinitas mereka yang saya tanggapi dengan tertawa.

Tentu saja, setelah ini akan banyak tantangan lainnya salah satunya adalah cara pengasuhan anak. Saya sudah berdiskusi lama dan intens dengan suami mengenai cara pengasuhan anak kami nanti tetapi tantangan pasti muncul kembali dengan bentuk yang berbeda tetapi dengan inti yang sama: patriarki.

Christine Lie adalah perempuan biasa yang tinggal di Jakarta dan mencoba berbagi pemikiran.
 

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS













Weekly Top 5