Gadis Kalender

Monday, 07 August 2017 - 09:09:16 WIB
By : Trias Yuliana Dewi | Category: Seni - 1072 hits
Cerita Pendek
Aku diciptakan begitu seksi. Bahenol menggiurkan. Sebagai perempuan, aku sungguh teramat menggairahkan. Aku memancing gairah. Tapi sialan seseorang menggunting bokongku terlalu dalam. Aku tidak tertempel sempurna sekarang. Syukur penuh puji payudaraku masih memesona, juga wajahku yang menghadap kiri, agar telingaku dapat menangkap kuat-kuat pembicaraan di sel ini. Seluruh kesempurnaan perempuan telah kuraih, apalagi yang paling kuinginkan di dinding pudar ini selain menguping?

Penghuni sel ini semuanya laki-laki. Ranum ingin kupetik, karena jiwa muda masih mengkal. Kronyah-kronyah jika kukunyah. Selain itu mereka laki-laki yang lebih tua, tapi sama menggairahkan.

Mereka semua berjumlah 12 orang. Dalam sel sekecil ini. Amboi, apa manusia begitu senang pada keakraban yang intim? Sehingga gemarlah mereka berdesakan di sini.

Hobiku menguping memberi tahu banyak hal, mereka di sini karena mereka dipaksa mengaku PKI! Ah, apalah PKI itu?

Sering malam kulewati dengan mendengar tangis sedu-sedan amat perih. Ada yang rindu ayah ibu, anak keponakan, kekasih juga peliharaan. Ada yang mengutuk meracau, mereka tak seharusnya di sini. Mereka bilang mereka bukan PKI, mereka tak tahu PKI, sama sepertiku.

Ada yang begitu gelap di ruangan ini. Bukan karena memang tidak ada lampu, tapi karena jiwa mereka berduka. Belasan tahun berpindah. Sampailah mereka di sini, bukan dalam hasil doa keluarganya, bukan di rumah mereka.

Aku tak suka di sini, tak ada lagi yang sempat mengagumi payudaraku yang elok, pantat gemukku yang tergunting. Mereka semua meratap, tak sempat merancap.

Tetapi ada yang istimewa dari ruangan ini, ketika mereka bersorak riuh menangkap tikus berbulu. Kemewahan pria sejati di sel ini. Mereka membakar tikus itu, lalu berpesta, maka mereka akan lupa meratap selama dua hari penuh.

Eloknya didikan PKI. Membentuk pria menggairahkan ini sepenuhnya tangguh, mereka menangkap dan memakan tikus: tanpa berteriak sedikit pun. Teman-teman lelakiku di dalam majalah selalu berteriak gaduh jika melihat tikus, mereka melompat takut. Beruntung aku sudah digunting dan tak perlu lagi mengenal laki-laki lemah macam mereka.

Jika malam tiba sehabis mereka berpesta tikus, mereka lupa meratap. Maka satu bapak bekas pekerja kantor dinas luar negeri di situ membacakan cerita dalam bahasa Inggris. Lalu membacakan artinya dalam bahasa Indonesia keesokan harinya. Teman-temannya meminta ia begitu. Agar mereka dapat mencatat kata-kata baru, lalu mendapati artinya esok harinya.

Kata-kata kegemaran para PKI yang tangguh minggu ini adalah ‘neither do I’.

Ketika satu orang berkata aku tidak akan bersedih lagi, maka yang lain menjawab neither do I. Ketika satu orang berkata aku tidak akan mencungkil tanah dan memakan cacing lagi, maka yang lain berkata neither do I.

Suatu waktu Bapak pekerja kantor dinas luar negeri membacakan sebuah saduran Petualangan Huck Finn. Kali lain Bapak penjaga huler gabah mengajarkan kawan-kawannya serat Wedhatama. Suatu malam pula ada yang merangkumkan Anna Karenina. Kemudian mereka saling bertukar cerita soal dedemit di dekat rumahnya juga di kamar mandi penjara. Mereka begitu terus selama 14 tahun. Di ruangan yang sama. Selama itu pula tidak ada yang merancap menghadapku lalu melenguh nikmat. Aku merasa semakin tua. Aku bukan lagi primadona kalender dan katalog.

Mereka tak merancap menghadapku. Tapi mereka meracau lancar dalam bahasa Inggris menghadapku. Seolah-olah aku adalah gadis pujaan yang hendak mereka lamar. Suatu kali aku dianggap bos perusahaan di tempat mereka melamar bekerja kelak.

Suatu Selasa siang, mereka semua berkemas terburu. Tapi mereka girang. Mereka keluar sel bersamaan. Aku menunggu mereka hingga malam. Hingga malam berikutnya. Hingga suatu subuh kusempatkan bangun, sel itu tetap sepi. Aku merindukan mereka. Aku merindukan hobiku: menguping PKI. Aku kini resmi sebagai model kalender katalog yang tua dan sepi.

Aku akan tidur sambil mengubur kutuk. Maka ketika bangun, kejayaanku akan kembali: menjadi tempat menghadap para pria merancap.

Kelopak mataku berlipat, pandangku terbuka. Aku lihat badanku: pantatku tetap tergunting, payudaraku masih menonjol dan wajahku masih menoleh kiri. Memudahkan hobiku menguping PKI. Tapi PKI sahabat berbelas tahunku sudah enyah tanpa pamit. Tapi ada yg berubah dari diriku! Aku kini berbingkai!!!!! Aku ditempatkan di sebuah ruang baru, berseberangan dengan sebuah kotak kaca berbicara.

Dan tebaklah! Aku melihat si pria bungsu yang mengucap ingin universitas. Rambutnya kini putih uban. Kotak kaca itu mengizinkanku menguping: si pria uban bungsu sedang Kamisan.

Si pria uban bungsu sedang Kamisan. Setiap Kamis ia menuntut harap meminta jawab. Adalah mengapa ia di sel selama ini berbelas tahun.
Tapi pada siapakah ia menuntut jawab?

Amboi elok PKI masih juga dipenjara dalam padang lapang. Masih juga terkungkung kurung di hamparan bebas.

Setiap Kamis selama enam tahun dan beratus Kamis kemudian pria uban bungsu akan setia pada gigihnya menuntut jawab.
 
Aku si gadis seksi kalender katalog dalam bingkai akan tetap menguping PKI agar mereka memiliki sesuatu yang mendengar, meski aku tak mampu berbalas jawab.

Trias Yuliana Dewi menyenangi surealisme dengan isi kepala realis.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS













Weekly Top 5