Tanpa Senjata

Friday, 01 September 2017 - 13:07:19 WIB
By : Dewi Nova Wahyuni | Category: Seni - 810 hits
Cerita Pendek
Aku ke pub untuk melepas lelah. Lalu kupaksa siapa pun untuk mengikuti aturan ini. Juga kepada mereka, yang bersenjata dan bersepatu lars. Temanku telah berhenti ke pub itu, setelah tamu-tamu bersenjata semakin banyak. Katanya tidak nyaman, tidak  ‘kita’ lagi. Di Indonesia kalau mau pilkada semua dikerahkan, dari yang bersenjata  hingga yang bersorban. Tapi mana mau aku berhenti ke pub. Di daratan ini, setiap pilkada harga peluru murah. Sedikit kerja untuk perdamaian menjadi banyak gilanya, kalau otoritas tak berkepentingan dengan damai. Jadi marilah kongko di pub, menikmati musik sambil gerakkan tubuh. Lupakan hal-hal yang di luar pintu. Selamat datang, di sini kita bersaudara untuk menghempas, nafas-nafas berat.

Led, temanku yang sungguh manly, posturnya tinggi asyik dan pandai menyanyi. Ia suka menghibur kami dengan beberapa lagu. Selagi nyanyi, kadang-kadang, kulihat percikan api di bekas telapak kakinya, tetapi aku sudah mengutuk diri jadi ibunya.  Beberapa tamu yang terhibur suka menghadiahinya dengan minuman, yang ia bagi selalu denganku. Juga kalau ada tamu yang menyukaiku, mereka suka memberi minuman lewat Led. Para lelaki sulit melihat perempuan tak dimiliki sesiapa. Ia objek! Jadi menurut mereka aku pasti propertinya Led. Kami selalu menikmati kiriman minuman itu, sambil menertawakannya. Pernah mereka mengajakku bergabung ke mejanya. Kubilang, aku tak terbiasa berkenalan dengan benar di  pub. Bagiku keluar dari pub, anggap saja kita tidak pernah bertemu. Orang yang mengaku Bawahannya dari yang Berkehendak itu ngotot, “Yang mau berkenalan sama Mbak, orang Polda lho.” “Nah, apalagi tuh, harusnya Bapak tidak usah menyampaikan ke saya bahwa ia orang Polda. Terima kasih, mari menikmati musik di meja masing-masing.”

Waktu pilkada semakin dekat, jumlah pasukan penjaga negara kini lebih banyak dari pasukan penjaga warga. Led, seperti pada setiap tamu, menyambut hangat tetamu baru yang katanya pasukan spesial dari jauh. Sesekali mereka ngobrol politik, yang kupikir harusnya ada di meja kopi, bukan di meja contreus.  Meja kami selalu bertetangga, dan si Bawahan tak lagi datang untuk ngotot. Pemimpin tetamu baru berpesan pada Led, “Kalau ada apa-apa, Abang sedia bantu.”

***


Korban penembakan mulai berjatuhan di pantai timur. Provokasi  melalui spanduk mulai ramai di pantai barat. Ada dua kombatan yang hidup. Yang satu sungguh percaya telah terlahir untuk membela kesatuan negara. Yang lain yakin memilih untuk menjadi martir kemerdekaan cita-cita politiknya.

“Aku dengar kamu akan kembali ke negara satu?” tanya si Martir. Lalu ia dan apa yang ia panggil Pemimpin ingin mentraktirku di pub itu. Ya, satu-satunya pub bawah tanah yang bebas dari hukum cambuk. “Ini akan jadi pesta perpisahan yang menyenangkan, ayolah,ajaknya.
Suara Led terdengar lebih seksi malam itu. Barangkali karena sebentar lagi kami akan berpisah. Abang-abangnya Led, kulihat sungguh bersenang-senang, juga teman yang mentraktirku yang berarti juga mentraktir Led.  Mereka teman yang baik, menjamu kami hingga tipsy. Kami hanya akan pulang ketika semua lampu dinyalakan, dan para pelayan  salah tingkah, antara harus menjaga hubungan baik dan mengusir kami.

Itu malam yang tidak cukup buat kami. Dua temanku pemimpi merdeka, aku, Led dan Abang yang pasukan khusus pilkada itu, melanjutkan minum bir dalam kemasan kaleng, di tangga pub. Pembicaraan mulai tanpa batas. Dalam  limbung, aku khawatir, mereka meracau tentang senjata. Aku dan Led saling tatap, mengingat itu. Tetapi yang terjadi di luar dugaan.

Si Abang dalam mabuk, curhat tentang ketakutan pada istrinya. “Ow..ow... jangan sampai ia SMS. Kalau ia SMS ia akan bilang, ‘Abang di mana, jawab!’ Nah, itu saya jawab segera. Takut.. takut saya melebihi pada komandan. Oh, itu dia komandan saya nomor satu.” Kami semua tertawa mendengar curhat-nya. Semakin kami tertawa, semakin bangga Abang cerita tentang istrinya. Sementara temanku yang sejatinya juga sedang kasmaran pada calon istri mulai meresponnya dengan ungkapan-ungkapan penuh perasaan. Ah..ah... indah. Aku bersandar pada bahu Led, menikmati tipsy dengan sempurna.
 
Bayangkan jika kita bisa melakukannya di luar pub. Bangkrutlah pabrik-pabrik senjata dan tentu hanya manusia yang benar-benar mampu yang akan jadi pejabat negara. Aku dan Led bersitatap seperti sepasang kekasih terbius gairah negara tanpa senjata.

Dewi Nova Wahyuni lahir di perkebunan teh, Kabupaten Bandung pada 1974. Menulis puisi, cerpen, esai sosial, liputan jurnalistik dan buku dokumentasi. Ia telah menerbitkan buku kumpulan cerpen Perempuan Kopi  dan antologi puisi  Burung-burung Bersayap Air. Saat ini  ia tinggal di Tangerang Selatan, Banten, dapat dihubungi melalui dewinova.wahyuni@gmail.com.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS













Weekly Top 5