Gerakan Mahasiswa Kental Maskulinitas

Friday, 08 September 2017 - 10:48:48 WIB
By : Dea Safira Basori | Category: Politik - 1633 hits
Apa yang kamu bayangkan ketika mendengar "gerakan mahasiswa"? Kemungkinan laki-laki muda berjas almamater universitasnya sedang berorasi menggunakan pengeras suara yang didekatkan ke mulutnya. Ia dikelilingi oleh teman-teman sebayanya yang juga sama-sama mengenakan jas almamater sedang mendemonstrasi di depan sebuah gedung pemerintahan. Mereka berbondong-bondong menyuarakan aspirasinya di bawah terik matahari.

Gambaran itu tidak keliru. Sampai hari ini, organisasi mahasiswa sayangnya masih didominasi laki-laki. Lembaga ini melanggengkan budaya patriarki yang menghalangi perempuan untuk bergerak ke depan. Bahkan di fakultas yang isinya 80 persen mahasiswi, laki-laki masih dianggap paling mumpuni untuk memimpin badan mahasiswa.

Dalam kepengurusan badan mahasiswa, perempuan sering ditempatkan pada posisi-posisi seperti kesekretariatan dan pekerjaan kasar yang lebih melibatkan banyak tenaga sementara laki-laki adalah pembuat keputusan. Dalam penyelenggaraan sebuah acara, perempuan dijadikan seksi konsumsi, undangan, hubungan masyarakat, acara, serta seksi pendukung lainnya, sementara laki-laki ditempatkan sebagai pusat perhatian serta lebih banyak diberikan porsi sebagai pembicara. Walaupun perempuan sangat terlihat sebagai penggerak acara tersebut, namun perempuan direpresentasikan sebagai kelompok yang hanya memenuhi kepentingan laki-laki. Pemikiran dan suara perempuan cenderung tenggelam sementara banyak laki-laki mengambil kredit atas kerja mereka.

Sering terlihat di acara seminar di kampus universitas, jajaran petinggi kampus adalah laki-laki yang duduk di depan, di atas sofa yang lebih empuk sambil menyaksikan presentasi seminar yang berlangsung, mereka juga yang akan memberikan tanda penghargaan di akhir acara. Sedangkan perempuan akan terlihat sebagai pembawa acara atau pembawa bingkisan makanan untuk para pembicara dan tamu kehormatan (yang notabene adalah pejabat kampus).

Banyak himpunan mahasiswa dan organisasi mahasiswa di tingkat kampus mengeksklusifkan diri dari perempuan dengan pembentukan sebuah divisi khusus untuk perempuan. Walaupun awalnya divisi tersebut dibentuk untuk pemberdayaan perempuan, namun yang terjadi adalah peminggiran perempuan. Hal ini berlanjut ke tingkat organisasi masyarakat dan partai politik, dimana divisi khusus perempuan adalah pajangan semata untuk mempercantik dan memenuhi kualifikasi partai politik untuk melibatkan perempuan dalam jumlah tertentu. Hal seperti ini dapat terlihat jelas ketika deklarasi atau peluncuran sebuah organisasi massa dan partai politik, yang berada di atas panggung yang paling banyak adalah laki-laki.

Hal-hal seperti ini turut menjadi faktor mengapa politik tidak menjadi menarik di mata perempuan. Adanya peminggiran, intimidasi dan dominasi yang dilakukan oleh laki-laki membuat perempuan tak mampu menembus batasan yang tak terlihat tersebut. Demi menunjukkan riwayat kerja mereka berorganisasi, ada perempuan yang rela mengondisikan diri namun akhirnya dibungkam karena adanya eksklusivitas tersebut. Situasi yang memarjinalkan dirinya memang tidak serta merta diutarakan oleh pemimpinnya namun dapat dirasakan di antara perempuan yang berupaya bekerja di dalam organisasi.

Tidak heran jika dalam gerakan mahasiswa, ada kelompok mahasiswi yang cenderung apatis. Mereka sebenarnya cukup peduli dengan berbagai isu namun saat mereka terbungkam hanya karena mereka perempuan, maka mereka akan mencari cara lain untuk memberdayakan diri tanpa melibatkan laki-laki. Selain itu, tuntutan dan tekanan sosial seperti perempuan harus menikah seusai sekolah, membuat mahasiswi cenderung memikirkan cara agar lebih cepat selesai sekolah dan buru-buru menikah ketimbang mengikuti gerakan yang akhirnya menyita waktu.

Padahal pelibatan perempuan dalam mengambil keputusan dan menjadi bagian dari inti sebuah organisasi sangat dibutuhkan untuk memastikan keberlangsungan organisasi. Namun kita tidak bisa serta merta menaruh sejumlah perempuan dalam kepengurusan inti tanpa memerhatikan kebutuhan untuk menanggapi isu perempuan, seperti hambatan dalam mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Isu perempuan seperti peraturan yang bias gender, kekerasan seksual (termasuk pelecehan di antara anggota organisasi) dan lain-lain perlu menjadi bahasan para petinggi organisasi.

Organisasi mahasiswa yang seharusnya menjadi tempat pembelajaran berpolitik menjadi tidak menarik saat tujuan politik yang diperjuangkan hanya menyangkut hajat laki-laki saja, dan upaya untuk mendapatkan kesejahteraan dan penghidupan yang layak dan aman untuk perempuan menjadi tidak tersuarakan.

Kebutuhan perempuan untuk mencapai penghidupan yang layak pun bukan sekedar pembagian sembako gratis saja seperti yang biasa dilakukan oleh banyak organisasi mahasiswa dan masyarakat, namun melibatkan mahasiswi dan segala lapisan masyarakat perempuan untuk dapat menyuarakan isu-isu yang dirasakannya penting.

Jika organisasi sekecil organisasi mahasiswa masih abai memerhatikan kebutuhan perempuan maka jangan heran jika organisasi kemasyarakatan pun masih belum memberi kontribusi kepada masyarakat pada umumnya.

Dea Safira Basori adalah perempuan kelahiran Jawa yang senang melakukan eksplorasi jiwa mengalahkan segala rintangan untuk menemukan hasrat, hidup dan cinta. Sekarang sedang menyelesaikan studinya di kedokteran gigi dan mempelajari tarian tradisional Jawa serta menaruh minat pada isu perempuan, hubungan internasional dan kebijakan luar negeri. Ia dapat disapa di akun twitter @DeaSB dan situsnya di www.deasafirabasori.com.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
riz | 08 September 2017 | 22:44:39 WIB
hahaha agak terdengar iri atau playing victim sih :(
anon | 08 September 2017 | 22:42:25 WIB
Feminists believe If more men are in higher places in the corporate world or organization then it's
because of sexism, not because of actual qualifications. lmao that sound playing victim to me
Josh | 08 September 2017 | 18:08:56 WIB
Maaf sepertinya menurut saya, artikelnya kurang jelas mendeskripsikan studi kasus dan kesimpulan dari persoalan yang ditunjukan.
Karman | 09 September 2017 | 11:45:29 WIB
Saya suka sekali dengan gagagasan yang segar ini. Hanya saja, memang, tulisan ini kurang data. Jadi susah buat ngeyakinin orang lain. Akan sangat menarik kalau kajian ini diteruskan dan diperdalam. Isu sudah digulirkan, selanjutnya tinggal pendalaman.
tyas | 09 September 2017 | 09:57:25 WIB
Agar lebih fair, perlu juga dipertimbangkan ttg partisipasi. Sudah umum diketahui jika di lingkungan mahasiswa, politik (spt BEM) kurang begitu populer, angka pertisipasi saat pemilihan ketua brm cukup rendah. Dan selain mempertanyakan kenapa mahasiswa yang "selalu" menjadi ketua, juga perlu dilihat berapa mahasiswi yg mencalonkan diri. Krn setahu saya proses di BEM (jg di OSIS) adalah pencalonan, kampanye, baru pemilihan umum. Bagaimana bisa terpilih jika tidak mencalonkan, bukan?
Dan yang unik pada kegiatan mahasiswa adalah bahwa kadang penentu kebijakan lebih ke kepala divisi, ketua lebih sebagai penghubung ke rektorat/fakultas dan organisasi lain. Dalam hal ini, cukup umum saat posisi kadiv diisi mahasiswi, bahkan di mapala fakultas teknik (note: setahu saya tidak pernah ada divisi konsumsi di pengurus harian).
Bagaimanapun, menjadi feminis bukan berarti anti laki-laki atau harus selalu di atas mereka.
tyas | 09 September 2017 | 09:18:43 WIB
Saya setuju dgn bbrp komemtar sebelumnya bahwa mungkin perlu diberikan beberapa contoh yang lrbih jelas, bukan generalisasi sehingga tidak terlihat seperti "playing victim" atau prejudice.
Justru yg saya hadapi di bbrp organisasi yg saya ikuti, proporsi wanita menjadi pimpinan cukup seimbang, entah sbg ketua organisasi atau ketua panitia di unit kegiatan mahasiswa (ukm) saat kuliah maupun di perusahaan tempat saya bekerja. "Lucunya", saat saya main ke ukm lama saya, posisi ketua justru diisi wanita (yg dari dulu biasa terjadi) dan sekretaris malah pria. Memang ukm ini bukan bem, tp jg bukan ukm "kewanitaan".
Lara | 09 September 2017 | 03:30:06 WIB
I think your argument would be better if it's delivered as personal experience. I witness that some of your points are quite right, but again it might happen in certain organization. In my own experience, I have ever been charged many position with authority and my consideration does have some weight. My organization is also very democratic that the president, which has given me the authority, to decide the course of action. I don't agree with this point: politic become uninteresting to woman and woman become apathetic to it not simply because this masculinity and marginalization. There are a lot of reasons to grasp, by assuming you know what "woman" that you explain generally , dislike about politic seems like you're acting like "the man who knows better".
Overall, this article brings a real issue, despite the deliverance that i believe is antagonizing man-which in my opinion, should also be OUR PARTNER to promote feminism.
Dina | 09 September 2017 | 00:20:14 WIB
Setuju dengan pendapat penulis. No, bukan playing victim, karena laki-laki mahasiswa sering tidak sadar akan budaya machismo yg ada di struktur organisasi, seperti mendominasi rapat, memimpin rapat, memotong pembicaraan, menentukan keputusan--hal2 kecil tentang machismo adalah kencenderungan untuk menunjukkan "taring" diri sendiri, tentu membuat risih para perempuan. Ditambah lagi dengan budaya yang membuat perempuan jarang muncul di ruang publik--membuat para perempuan yang merasa risih akan menghindar.













Weekly Top 5