Perempuan Bergosip, Laki-laki ‘Boys Talk’

Thursday, 14 September 2017 - 07:05:49 WIB
By : Christian Paskah Pardamean Situmorang | Category: Sosial - 1676 hits
Saya memiliki kebiasaan yang sama sekali tidak penting menurut orang yang jalan hidupnya lurus, dan kebiasaan itu saya pelihara sampai sekarang: ‘bergosip’. Kebiasaan ini tumbuh ketika saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Biasanya, saya akan menelepon teman saya sambil duduk bersandar di sofa. Dari hal remeh temeh, akhirnya segala jenis gunjingan dan obrolan keluar dari mulut saya dan teman saya hingga orang tua saya marah karena tagihan biaya telepon yang membengkak. Tetapi, di balik kebiasaan saya yang sangat tidak penting ini, ada sebuah keganjilan yang mengganggu saya.

Ketika saya masih SMA, saya diharuskan untuk belajar dari pukul tujuh malam hingga pukul sepuluh malam atau lebih, dari Minggu hingga Jumat. Sabtu adalah hari untuk bebas dari buku pelajaran dan tetek-bengeknya. Peraturan selanjutnya adalah kami harus terus belajar, entah kedua orang tua ada atau tidak ada di rumah. Suatu hari, ibu saya pergi menghadiri persekutuan mingguan yang diadakan setiap Rabu. Saya tentunya menggunakan kebiasaan ini untuk bergosip dengan teman lewat telepon. Ibu kemudian tahu dan ia marah besar. Ketika Ibu marah besar, ia biasanya akan mengadukan hal ini kepada Ayah lewat telepon. Saat itu, Ayah saya masih berstatus karyawan aktif di sebuah perusahaan sehingga ia hanya pulang sebulan sekali.

“Yah, anakmu ini, lho. Bukannya belajar, malah ngegosip!” kata Ibu dengan amarah. Lalu, ia menyerahkan teleponnya kepada saya dan meminta saya agar mendengarkan nasihatnya baik-baik.

“Abang, dengerin, dong, kalau orang tuanya ngomong. Kalau bukan kedua orang tuanya, siapa lagi yang mau didengerin? Lagipula, ngapain juga ngegosip? Abang, kan, laki-laki. Ngapain ngegosip, Nak?” Ayah menasihati saya lewat telepon.

“Iya,” jawab saya sekenanya.

Saya lahir di keluarga dengan budaya maskulin yang tinggi. Prinsipnya, let man be a man, let woman be woman. Memang nasihat Ayah baik,  meminta saya untuk menuruti nasihat orang tua dan tidak bergosip. Namun belakangan, setelah hidup di Salatiga dan kuliah di universitas yang membuat para mahasiswanya terbuka pikirannya, saya melihat masalah ini dari sudut pandang berbeda.

Gosip memang diidentikkan dengan sesuatu yang negatif. Definisi pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengenai kata ini adalah obrolan tentang orang-orang lain; cerita negatif tentang seseorang; pergunjingan. Dikatakan negatif karena memang orang-orang yang bergosip kebanyakan menceritakan sesuatu yang negatif, baik yang faktual atau yang diada-adakan, alias harus dikonfirmasi dulu kebenarannya.

Tetapi, mengapa hal yang negatif ini diidentikkan dengan perempuan? Apakah laki-laki tidak suka bergosip? Banyak laki-laki yang tidak mengakui dirinya sedang bergosip. Alih-alih menyebutnya bergosip, mereka akan menyebutnya dengan ‘boys-talk’. Apa, sih, yang mereka bicarakan dalam ‘boys-talk’? Sembilan puluh persen ‘boys-talk’ adalah soal asmara dan perempuan. Sisanya? Politik, otomotif, dan tetek-bengek lainnya. Saya pernah terlibat dalam ‘boys-talk’, meski cuma numpang ketawa dan numpang mendengarkan, di tempat kos saya. Isinya menelanjangi kehidupan asmara masing-masing anggota.

“Gue putus sama pacar gue, tuh, gara-gara oomnya bilang hanya orang yang sesuku sama dia yang tepat buat dia,” kata teman saya, A.

“Gue putus sama pacar gue, karena ternyata diam-diam dia punya yang lain dan banyak alasan banget sama gue. Salah gue nerima dia dulu,” ujar B.

“Gue putus sama pacar gue karena pacar gue, tuh, kekanak-kanakan banget. Sampe gue bikin status di FB dan gue emang enggak bisa angkat telepon dari dia aja dipermasalahkan,” ungkap C.

A, B, dan C adalah ketiga teman kos saya. Mereka laki-laki. Yang mereka lakukan, apa bukan bergosip namanya? Mereka membicarakan orang lain, kan? Tepatnya, mereka membicarakan keburukan orang lain, kan? Atau telinga saya yang salah dengar? Artinya, kadang laki-laki bergosip juga, toh? Tetapi, mereka bermegah-megah dengan ‘boys-talk’ dan menganggap bahwa pembicaraan mereka tidak bertendensi gosip. Padahal, sama saja mereka membicarakan orang lain.

Di masyarakat yang patriarki ini, sering ada pembenaran terhadap perilaku laki-laki. Saya tidak mengatakan bahwa kita bisa bebas bergosip. People, walls have ears. Tetapi, jangan sampai kita mengidentikkan sesuatu yang buruk dengan sebuah gender dan jangan kita bersembunyi di balik kemegahan yang justru tidak membuat kamu lebih baik.

Christian Paskah Pardamean Situmorang adalah mahasiswa Sastra Inggris di sebuah universitas di Salatiga. Pemilik akun Instagram @christianpardameansitumorang ini akan mendengarkan lagu-lagu era 70-an, 80-an, 90-an, pop tradisional Melayu, dan dangdut jika tidak sedang mencari apa yang hilang dalam kehidupan laki-laki dan perempuan.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Ruby - Astari | 14 September 2017 | 09:48:55 WIB
Nah! Sudah lama sekali saya menunggu artikel bagus seperti ini. Banyak laki-laki masih menganggap remeh pembicaraan antar perempuan, padahal sesama mereka juga hobi membahas yang receh, makanya keluar hinaan 'gosip' untuk obrolan antar perempuan. Semuanya sama, kok!
Sunflower | 14 September 2017 | 12:12:50 WIB
Setau saya ya, berdasar pengalaman dan pengamatan: boys talk jarang pake perasaan, jarang pake bumbu (dilebih2kan), singkat, padat, dan jelas. Topik ga diangkat berulang2, direview berkali2, udah apa yg penting aja. Be it ngomongin orang apa nggak.

Bedanya dengan gosip ya gosip itu penuh perasaan/emosi (ih nyebelin banget ngga sih dia enak aja minta kita yg ambil alih tugas dia!!1!1), diulang2 walau pernah dibahas dan disebar luaskan (eh eh gimana si itu jadinya? Masih gitu? Ih, kemaren gue cerita sama temen smp-nya, emang dia gitu dari dulu!1!!) -cont
Sunflower | 14 September 2017 | 12:17:26 WIB
-cont
Umumnya boys talk itu semacem saling support, cari solusi yg singkat dan ga dipanjang2in. "Yaudah sih bro tinggalin aja cewek matre kek gitu. Cari aja yg kek cewek gue, manis tapi mandiri gak manja."

Ngerti ngga maksud saya? Sense-nya biasanya beda. Tujuan gosip dan boys talk beda. Adabnya beda. Ya jangan disamaratakan. Mungkin makanya kalo ada cowok demen banget cerita panjang lebar itu dia disebut nyinyir dll.
Palguno | 14 September 2017 | 15:16:09 WIB
Yang saya tangkap dari artikel di atas, mungkin si penulis hendak menekankan bahwa gosip itu tidak hanya dilakukan oleh perempuan. Stereotype yang demikian yang mungkin hendak di bantah oleh si penulis. Entah apapun nomenclature yang dipakai, gosip bisa dilakukan oleh siapa saja, baik laki laki maupun perempuan, dan tidak harus lekatkan pada gender tertentu, jatohnya jadi seksis bro!
Strimaya Sindi | 15 September 2017 | 09:41:02 WIB
Ya betul sekali ! Mau dikata Bergosip atau Boys Talk kalaupun apa yang kita bicarakan membahas tentang persinggungan atau gunjing-menggunjing ya itu sama saja. Kita bukan membicarakan masalah seksis namun artikel ini berbicara dari sudut pandang netral. Tidak ada yang memihak kaum pria atau wanita.
Tray | 15 September 2017 | 12:36:23 WIB
Mas/Mbak @Sunflower, mau laki-laki sama perempuan kalo curhat ya pasti sama-sama cari solusi lah. Sebenernya ga ada bedanya kok dan saya juga pernah ngedengerin curhatan temen cowok saya yang penuh emosi mengenai masalah pribadinya dengan keluarganya. Lagi-lagi, ini ulah society (patriarkis) yang menggeneralisasi bahwa boys talk itu lebih 'superior' dibandingkan girls talk. Padahal nggak ada bedanya wong tujuan mereka ngobrol juga ya sama bersosialisasi dengan sesama, namanya juga makhluk hidup sosial.

Adabnya beda itu maksudnya gimana, mas/mbak? Apakah boys talk dan girls talk itu doanya berbeda sebelum memulai mengobrol?
Sunflower | 15 September 2017 | 21:37:05 WIB
Tray, maksud sy adl pembeda dari gosip dan boys talk, BUKAN girls talk dan boys talk. Baca kalimat sy yg paling akhir. Bahkan cowok pun bergosip, ga cuma boys talk, dan sama society dibilang "nyinyir". Jadi, bedakan antara gosip dan girls talk. Apa anda maksud girls talk = gosip? Now that's offensive. Gosip bisa juga dilakuin cowok duh. Dan girls talk itu juga kayak boys talk. Intinya, nggak bitchy gitu.

Emang adab itu cuma soal "doa" mas? Tsk. Adab itu sikap, tata cara, pola perilakunya. Malah sy ga kepikiran kalo adab itu doa lol.
Dyah Ayu Larasati | 16 September 2017 | 10:47:08 WIB
Mas/Mbak @Sunflower, sebenarnya ini bukan permasalahan bedanya "bergosip" atau "boys talk", tapi lebih ke konotasi yang dibawakan oleh dua istilah tersebut.

Secara general bergosip dan boys talk itu sama aja. Sama-sama ngobrolin orang lain. Bedanya adalah di telinga masyarakat kita, kata "boys talk" terdengar lebih positif daripada kata "bergosip". Dan sedihnya lagi, ketika cewek ngobrolin orang lain, kita "bergosip" = melalukan sesuatu yang berbau negatif. Tapi ketika cowok ngobrolin orang lain, mereka sedang "boys talk" = melakukan sesuatu yang terdengar positif. Padahal itu sama aja sih sebetulnya.

Artikel ini membahas double standards yang terdapat pada kata-kata digunakan untuk mendeskripsikan perempuan dan laki-laki. Kenapa kata-kata yang digunakan untuk mendeskripsikan perempuan cenderung berkonotasi negatif, sedangkan untuk laki-laki, malah sebaliknya.
Sunflower | 17 September 2017 | 19:04:27 WIB
Mba Dyah, menurut sy gosip bisa dilakukan siapa saja. Cowok pun sering kan dibilang bergosip. Gosip ga exclusively for females talk ah. Yg harus disalahkan adalah pandangan kalo girls talk=gosip.













Weekly Top 5