Istilah ‘Men are Trash’ dan Kesetaraan Gender

Tuesday, 19 September 2017 - 10:26:05 WIB
By : Natasya Fila Rais | Category: Gender & Seksualitas - 1249 hits
Beberapa minggu terakhir ini, istilah “men are trash” sering dijadikan topik pembicaraan di media sosial, seperti Twitter dan Tumblr. Istilah ini kebanyakan digunakan untuk mendeskripsikan perlakuan-perlakuan buruk yang dilakukan oleh laki-laki – dalam konteks ini mengacu kepada laki-laki cis – terhadap perempuan, mulai dari perkataan, penilaian kepada perempuan secara fisik, sampai kekerasan secara verbal maupun nonverbal. Tangan-tangan netizen yang kreatif kemudian mengemas topik ini menjadi berbagai jenis meme pengundang tawa dan mengena bagi sebagian orang. Mungkin banyak yang merasa istilah “men are trash” ini tepat untuk digunakan, tetapi pernahkah terlintas di pikiran Anda apakah penggunaan ini telah tepat sasaran?

Jujur, saya sebagai perempuan cukup sering menggunakan istilah “men are trash”. Korelasi antara laki-laki dengan sampah ini cukup mendeskripsikan kekesalan saya terhadap laki-laki, terutama mereka yang telah melakukan hal yang tidak pantas, baik verbal maupun nonverbal, langsung maupun tidak langsung, terhadap saya. Saya pun suka sekali membaca meme dan berbagai cuitan bertema istilah ini di internet. Saya setuju dengan kebanyakan hal yang saya baca mengenai hal ini. Akan tetapi, beberapa kali terlintas di pikiran saya pertanyaan-pertanyaan seperti, “Haruskah istilah ini ditujukan kepada seluruh laki-laki atau sebagian saja yang memang berkelakuan buruk?” atau “Manakah yang harus disalahkan; laki-lakinya atau budaya patriarkinya?”

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya pun mulai mencari tahu jawaban atas semuanya. Pertama, “laki-laki yang seperti apa?” Tentu, jika para netizen menggunakan istilah ‘laki-laki yang melakukan ini atau laki-laki yang melakukan itu adalah sampah’ tidak akan menarik untuk dibaca, sehingga mereka pun menggunakan istilah ‘seluruh laki-laki’. Selain itu, jika para netizen menggunakan istilah yang disebutkan di kalimat sebelumnya, maka akan terjadi sebuah spesifikasi dan tidak semua perlakuan buruk para laki-laki tercakup dalam istilah tersebut. Akan tetapi, bagaimana dengan para laki-laki yang tidak melakukan perbuatan-perbuatan buruk terhadap perempuan? Apakah harus pula disalahkan? Haruskah mereka mendapatkan imbas dari tindakan-tindakan tidak senonoh para laki-laki yang memang betul, jumlahnya pun tidak sedikit?

Perlakuan laki-laki terhadap perempuan dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya budaya patriarki yang telah ditanamkan sejak dini. Suatu lingkungan yang membawa budaya patriarki memiliki andil dalam pembentukan pemikiran-pemikiran laki-laki dan perilaku mereka terhadap perempuan. Pandangan-pandangan yang lahir dari budaya patriarki sendiri, seperti paham bahwa laki-laki lebih kuat daripada perempuan, peran laki-laki jauh lebih superior daripada perempuan, keikutsertaan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat yang sering ditentang oleh laki-laki, hingga pandangan yang masih melihat perempuan sebagai objek seksual, membentuk para laki-laki menjadi seseorang yang tidak menghormati perempuan sebagai manusia, bahkan mengekang keberadaannya. Budaya patriarki yang menjadikan laki-laki bebas memperlakukan perempuan seenaknya inilah yang menjadi cikal bakal dari perbuatan-perbuatan tidak pantas para laki-laki yang dapat dideskripsikan sebagai ‘sampah’.

Paham kesetaraan gender yang kita anut selama ini terfokus kepada bagaimana seluruh gender memiliki kesempatan dalam bermasyarakat dengan setara. Seluruh gender berhak atas perlakuan adil di masyarakat, di mata hukum, mendapatkan kesempatan politik, dan lain-lain. Kesetaraan gender pun mengajarkan untuk tidak merendahkan gender lain karena pada dasarnya, seluruh manusia adalah sama.

Miskonsepsi dari penggunaan istilah ‘men are trash’ membuat banyak orang berpikiran bahwa laki-laki-laki-laki yang melakukan perbuatan buruk sangat lah rendah derajatnya dan perempuan memiliki derajat tertinggi dari semuanya. Pemikiran seperti ini memunculkan suatu perspektif radikal dan melenceng dari apa yang disebarkan dari paham kesetaraan gender dan feminisme yang seharusnya, yaitu kebencian akan suatu gender – dalam hal ini, laki-laki – dan pandangan bahwa suatu gender lain merupakan gender yang superior, padahal inti dari paham feminisme bukanlah untuk membuat perempuan sebagai satu-satunya gender yang superior, tetapi perempuan merupakan gender yang sama kuatnya dan memiliki kesempatan yang sama dalam kehidupan sosial.

Melalui tulisan ini, saya tidak mendukung perbuatan-perbuatan laki-laki yang tidak pantas dilakukan terhadap perempuan. Saya pun memberikan kebebasan bagi pembaca untuk menggunakan istilah “men are trash” sesuai kehendaknya. Akan tetapi, perlu pula diingat konteks penggunaan istilah ini, apakah sudah cukup tepat untuk menggeneralisasi seluruh gender, atau apakah gender itu yang harus dipersalahkan dan bukan budaya yang berkembang dalam lingkup gender tersebut.

Faktanya, tidak sedikit laki-laki yang geram akan generalisasi ini. Mereka menganggap bahwa perbuatan buruk beberapa laki-laki tidak dapat mendeskripsikan perbuatan seluruh laki-laki. Selama ini, para perempuan yang terkena perlakuan buruk maupun tidak senonoh dari para laki-laki mengaku tidak mengerti mengapa para laki-laki tersebut memperlakukan mereka seperti itu, padahal selama ini para perempuan telah memperlakukan para laki-laki, seperti pasangannya, dengan baik, seperti setia kepada mereka dan mengikuti keinginan mereka. Mungkin jika para laki-laki tidak terlalu fokus untuk meluapkan emosinya terhadap generalisasi istilah “men are trash”, ada baiknya jika para laki-laki lebih menghargai perlakuan baik para perempuan terhadap mereka.

Natasya Fila Rais adalah aktris, novelis, jurnalis, dan musisi. Novel debutnya, Ephemerae, telah terbit pada 12 Januari 2017. Mahasiswi Fakultas Hukum ini juga aktif dalam memperjuangkan kesetaraan gender dan hak-hak LGBTQ+.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS













Weekly Top 5