Festival Film 100% Manusia Rayakan Keberagaman

Tuesday, 26 September 2017 - 10:56:37 WIB
By : Elma Adisya | Category: Seni - 459 hits
Tepuk tangan dan tawa riuh rendah membahana di dalam Auditorium Goethe Institute Jumat, 22 September lalu, mengiringi penampilan duo transpuan Megap Nikmat yang dengan atraktif membawakan lagu Beyonce pada malam pembukaan festival film 100% Manusia. Sejenak, para hadirin dapat melupakan situasi intoleransi yang terjadi di negara ini dan larut tertawa bersama.

Hadir untuk pertama kalinya, 100% Manusia merupakan festival film yang ingin meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai keberagaman, hak asasi manusia, isu minoritas,  dan kesetaraan gender, melalui film-film terpilih dari berbagai belahan dunia termasuk Indonesia.

“Festival film 100% Manusia adalah gerakan yang intinya mengajak untuk menghormati dan menghargai kemajemukan lewat medium seni budaya seperti festival film, pemutaran film berkala, tur-tur jalan kaki di kota Jakarta dan pertunjukan seni. Gerakan ini muncul karena kami melihat bahwa fenomena intoleransi semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Rain Cuaca, direktur festival film 100% Manusia.

“Karena itu, kami ingin membuat wadah interaksi untuk mencari persamaan di tengah perbedaan yang ada. Kami juga percaya bahwa rasa persaudaraan itu lebih kuat daripada kebencian yang muncul akibat adanya rasa saling tidak mengerti dan kurangnya empati. Festival film 100% Manusia ini diharapkan semakin menumbuhkan rasa toleransi satu dengan yang lain.”

Berlangsung sampai 1 Oktober 2017, festival ini memutar lebih dari 54 film lokal dan internasional dan memberi ruang untuk berdiskusi mengenai film yang sudah ditayangkan.

Pada malam pembukaan festival diputar Die Beautiful karya sineas Filipina, Jun Robles Lana, film komedi yang mengisahkan seorang transpuan bernama Trisha yang tiba-tiba meninggal dunia setelah memenangkan kontes kecantikan.

Permintaan terakhir Trisha, ia ingin didandani mirip seperti selebriti idolanya, dan tiap berganti dandanan, teman-teman Trisha kembali mengenang sosok Trisha semasa ia hidup. Dengan menyentuh, penonton dibawa melihat kehidupan transgender di Filipina, mulai dari mereka yang menggantungkan hidup melalui kontes-kontes kecantikan, sampai mengenai hubungan mereka dengan keluarga mereka yang konservatif.

Beberapa film unggulan dan tayang perdana festival film 100% Manusia ini adalah Sold yang dinominasikan sebagai Audience Award di Palm Springs International Film Festival 2015; Nokas, yang masuk dalam kompetisi program Screen Awards Singapore International Film Festival 2016; serta Tamara, Taxi Stories, dan Wasp-Men from Mars. Semua penayangan film tidak dipungut biaya akan dihadiri oleh perwakilan dari filmnya dan perwakilan organisasi HAM di Indonesia untuk sesi diskusi.

Budi Wahyuni, Wakil Ketua Komisi Nasional Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), mengatakan festival ini paling tidak akan mampu membuka berbagai peristiwa dan berbagai dari berbagai belahan dunia maupun Indonesia.

“Melalui festival ini, Komnas Perempuan berharap banyak agar sosialisasi tentang pelanggaran HAM, dan kekerasan terhadap perempuan akan semakin bisa dimengerti bahwa sudah tidak layak lagi untuk diteruskan,” ujarnya pada malam pembukaan.

Festival ini berlangsung September karena dalam sejarah Indonesia, banyak tragedi pelanggaran HAM berlangsung bulan ini, seperti peristiwa 30 September 1965, tragedi Tanjung Priok, serta pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib. Festival 100% Manusia pun ikut berkontribusi dalam kampanye Gulita Blackout yang menjadi saluran masyarakat untuk mengetahui bahwa banyak sekali pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia, dan juga mendorong negara agar menerapkan HAM secara holistik dan tersistem.

Tidak hanya melalui film saja, 100% Manusia juga melakukan rangkaian acara seperti tur jalan kaki A Walk to Understand mengelilingi beberapa lokasi di Jakarta, diskusi buku, acara bincang-bincang 100% Nyinyir dan pameran kolaborasi.

Untuk jadwal lengkap dan tempat acara, bisa dilihat di laman 100% Manusia.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Writer Profile
Elma Adisya, Reporter
Elma adalah reporter magang Magdalene, dan manusia yang sedang menyelesaikan studi jurnalistik. Selain menulis dan memotret, ia juga ahli dalam hal fangirling fandom kesayangannya yang jumlahnya tak terhitung. 
Related Articles
COMMENTS













Weekly Top 5