Tak Ada Surga untuk Para Homoseksual

Tuesday, 17 October 2017 - 10:27:49 WIB
By : Maicel Andrea | Category: Gender & Seksualitas - 1855 hits
Walaupun dikatakan bahwa ibadah tak seharusnya dilakukan karena mengerjakan surga, tapi tak bisa dipungkiri bahwa banyak manusia yang menginginkan surga dan hanya karena itulah mereka memilih patuh akan aturan-aturan agama, dalam hal ini Islam. Satu-satunya alasan adalah karena surga menawarkan semua jenis kemewahan dan kesenangan yang merupakan kelipatan dari apa yang bisa ditawarkan oleh dunia. Lebih hebat lagi, itu semua bersifat abadi, tak seperti di dunia yang katanya semu dan hanya sementara.

Berbeda dengan neraka yang merupakan rumah bagi segala macam siksaan, surga adalah seperti waktu maghrib di bulan puasa bagi para Muslim. Di surga, semua yang dilarang di dunia bisa dilakukan dengan sepuasnya. Puasa yang panjang bertemu dengan buka yang abadi, terutama hal-hal yang berbau seksual. Kehadiran puluhan bidadari yang akan melayani nafsu birahi para pria, yang akan selalu perawan setiap selesai disetubuhi, adalah salah satu dari daya tarik utama yang membuat setiap pria ingin segera ke sana. Tentu saja bidadari-bidadari itu bukanlah satu-satunya fasilitas yang disediakan oleh surga. Semua bentuk kemewahan juga tersedia di sana. Namun dalam perspektif manusia dewasa yang masih hidup di dunia, pastinya hal-hal yang berbau birahi menjadi sangat menggoda. Dan, di sinilah permasalahannya. Surga ternyata bukan untuk semua orang, terutama para homoseksual.

Banyak Muslim pasti akan sangat setuju dengan pendapat itu tanpa merasa perlu dipikirkan ulang dengan kritis. Tidak hanya karena mereka percaya bahwa homoseksualitas adalah perbuatan yang dilaknat oleh Allah S.W.T. seperti yang pernah terjadi pada masa Nabi Luth, tetapi mereka juga percaya bahwa homoseksualitas adalah sebuah penyakit yang perlu diobati atau hanya pilihan hidup yang salah. Bahkan banyak dari mereka yang berpendapat bahwa homoseksualitas itu lebih hina daripada binatang. Padahal para peneliti menemukan bahwa  perilaku homoseksual ada di ribuan jenis hewan. Terlepas dari pendapat itu, seandainya Tuhan ternyata menerima homoseksual juga di surga, surga tetap bukan diperuntukkan untuk kaum homoseksual. Karena hanya bidadarilah yang katanya diperuntukkan untuk para pria, bukan bidadara.

Dikatakan bahwa salah satu kenikmatan surga adalah kemampuan lelaki untuk menggauli seratus perempuan dalam sehari. Dan oleh karena itu, sibuklah para lelaki-lelaki penduduk surga mengejar kenikmatan itu. Tapi dalam logika dunia fana, memiliki kemampuan untuk menggauli seratus perempuan dalam sehari bukan berarti mereka harus melakukan itu. Pastinya mereka bisa memilih karena tentu saja di surga tidak ada paksaan.

Apalah arti sebuah surga kalau semuanya serba dipaksa? Artinya, seandainya seorang pria homoseksual yang sangat taat pada agama di dunia diterima di surga, maka hal itu akan sangat sia-sia. Untuk apa bidadari-bidadari itu kalau tak digauli? Tak ada gunanya berbicara tentang baju-baju mewah dengan mereka karena pastinya mereka lebih memilih tak berbusana agar selalu siap kalau dibutuhkan. Tak ada gunanya juga menjadikan mereka sebagai teman ber-ghibah (bergunjing) karena pastinya semua orang pantas untuk diperbincangkan mengingat apa kesibukan mereka. Lalu pertanyaannya, untuk apa seorang homoseksual ingin masuk surga?

Kasihan pria homoseksual tak bisa masuk surga, tapi lebih kasihan lagi perempuan homoseksual. Bagaimana mungkin mereka akan merasa adil kalau bidadari-bidadari yang melimpah itu hanya untuk laki-laki saleh di dunia? Namun dari logika tersebut, berarti semua perempuan, entah homoseksual atau heteroseksual, sama kasihannya. Mana mungkin laki-laki akan memilih perempuan di Bumi kalau puluhan bidadari tanpa cela telah tersedia untuk mereka seorang?

Maicel Andrea adalah seorang pemimpi profesional dan manusia amatir. Tak pernah sendiri walaupun hampir selalu menyendiri, dan punya mimpi memiliki perpustakaan untuk dirinya sendiri.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Anggi | 18 October 2017 | 11:23:22 WIB
Sebagai individu yg lebih memilih kenikmatan selepas buang air besar daripada kenikmatan orgasme, saya pun turut bertanya untuk apa seorang heteroseksual seperti saya ingin masuk surga?


FYI, saya bisa survive bertahun-tahun tanpa orgasme. Tetapi seminggu saja konstipasi tuh rasanya kayak di neraka dunia..
Dhita | 20 October 2017 | 04:01:21 WIB
Bagi orang yg memandang surga sebatas tempat buang sperma mungkin artikel di atas terasa benar. Dan saya rasa penulis belum benar benar berkenalan pada ia yang ingin surga karena ingin melihat wajah Rabbnya, yg siang malam mendaras quran, yg tanpa dipaksa pun keinginan birahi keduniaan sendirinya agak terpinggirkan jika dibanding benikmat2 dengan kalam Tuhan. Merasa dipaksa tergantung dari sudut pandang pelakunya, jikalah ia memang sangat cinta pada Tuhannya, mungkin rasa dipaksa itu tak begitu kentara. Semoga kita semua fiberi hidayah dan semoga Tuhan mengampuni kealpaan manusia-manusia berakal, dan semoga penulis bisa lebih objektif memandang surga tak sekadar sebagai pelampiasan nafsu dunia saja, karena sungguh kak.... Surga jauh lebih mulia dari pada itu.

Salam













Weekly Top 5