Apa yang Lucu dengan Tubuh Perempuan?

Thursday, 02 November 2017 - 11:35:35 WIB
By : Fera | Category: Sosial - 4364 hits
Semua hadirin laki-laki tertawa ngakak, bahkan volumenya seolah berlomba-lomba saat kata beha dan susu disebut-sebut. Sang pembicara, seorang tokoh nasional, makin semangat membahas susu, mengetahui hadirinnya berbahagia mendengar kata itu diucapkan.

Ia melanjutkan cerita tentang seorang temannya yang membeli 500 beha dengan berbagai ukuran. Konon mereka melemparkannya di kawasan prostitusi sambil membayangkan seberapa besar payudara yang dapat mengisi penuh beha tersebut. Pembahasan masih berlanjut, kini ia menjelaskan bahwa bentuk payudara itu berbeda-beda, ada yang ini, itu, bla bla bla. Penonton laki-laki makin terpingkal, termasuk saat nomor ukuran beha yang disebut makin tinggi secara numerik.

Tak terbatas beha dan susu, guyonan seksual masih muncul lagi beberapa kali dalam rangkaian ceramah rohani si tokoh. Mulai dari jenis-jenis perempuan sampai hubungan suami istri, dengan tema perempuan tetap menjadi target paling mudah. Para laki-laki, yang mendominasi hadirin, makin gandrung. Yang perempuan, ada yang ikut tertawa, ada juga yang merasa risih.

Tak lama saya lihat ada dua orang perempuan muda berjalan menyisir hadirin. Kebetulan payudara salah satu dari mereka cukup besar dan beberapa laki-laki di belakang saya tak bisa menahan tawany. "Aku yo fokus nang susune c*k, lha salahe gede!".

Acara yang saya hadiri malam tadi adalah gelaran rohani bertajuk kemerdekaan dengan pembicara populer yang tujuannya mewujudkan ketenangan spiritual. Tapi alih-alih tenang, saya justru dibuat bertanya-tanya.

Bukan hanya tokoh ini yang suka menggunakan guyonan seksual atas tubuh perempuan untuk meraih simpati publik. Banyak pembicara publik masih menjadikan tubuh perempuan sebagai bahan bercanda favorit.

Satu pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiran saya, apa lucunya? Selucu apa tubuh perempuan dan hal-hal yang berkaitan dengannya hingga begitu renyah ketika jadi guyonan? Selucu apa aktivitas seksual hingga semua orang terpingkal ketika membicarakannya? Semiskin apa mereka secara seksual hingga butuh guyonan seperti itu?

Ketika payudara ditelanjangi dalam bentuk lelucon, sebagai perempuan saya tidak menemukan di mana letak kelucuannya. Tidak juga malu, dan jauh dari rasa jijik. Menggunakan hal-hal terkait tubuh perempuan sebagai materi komedi sama saja menormalisasi seksisme atas perempuan. Guyonan seksual dianggap biasa dan dibiasakan, dianggap tak berbahaya meski tak bersahabat dengan mentalitas perempuan. Guyonan seksual hadir di mana-mana hingga masyarakat tidak sadar bahwa guyonan itu bisa menurunkan standar toleransi mereka pada diskriminasi terhadap perempuan.

Kita bisa menemukan guyonan seksual di kelas, baik oleh guru maupun siswa; di kantor baik oleh bos maupun karyawan; atau seperti yang saya temui, guyonan seksual terlontar dari mulut tokoh nasional dalam acara yang digelar pemerintah. Bahkan guyonan seksual dengan mudah ditemukan pada acara ceramah agama, TV, film, hingga novel dan lini masa media sosial kita.

Karena sudah dianggap sebagai sesuatu yang lumrah maka perempuanlah yang harus mengalah. Meski menjadi obyek guyonan seksual, dengan ramah hati perempuan harus menerima. Kan cuma bercanda! Jangan terlalu baper! Tubuh dan segala atribut perempuan memang lucu. Mengguyoni tubuh perempuan dianggap sah, tidak sama dengan mengguyoni tubuh difabel, berbeda dengan mengguyoni orang tua atau pejabat. Women just need to lighten up and learn to take that fu*king joke!

Hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Western Carolina University dan University of Surrey yang hasilnya mengatakan bahwa guyonan seksual atas tubuh perempuan berkaitan erat dengan perilaku seksual seseorang. Berpengaruh pula pada cara pandang pelaku terhadap posisi perempuan di dunianya. Guyonan seksual juga merombak mentalitas dan self image si perempuan, karena secara sengaja telah diturunkan nilainya dalam bentuk guyonan.

Tapi kan ini cuma guyonan, candaan saja, tidak serius! Apa ini artinya mereka yang tidak suka dengan guyonan seksual seperti saya tidak punya selera humor yang bagus? Toh, terkadang tubuh laki-laki juga sering digunakan sebagai bahan guyonan juga dan mereka biasa saja. Oke, mungkin selera humor kami memang rendah, tapi tolong dilihat lagi, meskipun tubuh laki-laki juga jadi bahan guyonan seksual secara umum, pelakunya adalah juga laki-laki sendiri. Selain itu laki-laki sangat minim sejarah pelecehan seksualnya.

Perempuan berbeda, sudah sejak lama perempuan mendapatkan stereotip, dipenjara sistem patriarki, disubordinasi, didiskriminasi, dan dijadikan obyektifikasi secara seksual. Latar belakang ini harusnya membuat banyak orang sadar kalau tak seharusnya guyonan seksual atas tubuh perempuan dianggap normal. Karena kita tak hanya sedang membicarakan lelucon di sini, namun juga mentalitas sekaligus cara pandang yang akan terbentuk pada perempuan-perempuan seperti kami yang dibesarkan secara patriarkal.

Stop making fun of a woman just because she is a woman!

Fera adalah seorang penulis lepas yang menyukai dunia media dan anak muda. Antusias belajar dan meneliti tentang gender dan seksualitas. Sudah menikah dan tetap feminis.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Irine Winta | 02 November 2017 | 15:26:04 WIB
Saya juga merasa begitu. Masih nggak paham kenapa tubuh perempuan selalu menjadi bahan guyonan. Saya bukan tipikal orang yang mudah tersinggung. Tapi ketika obrolan mengenai tubuh perempuan ini diulang dan terjadi dimana-mana kelamaan sayapun muak. Kadang saya pun pengen bilang "Halah manukmu cuilik wae rasah lah ngomongke susu. Nguyuh wae durung lurus" kepada para pria yang seenaknya menggunakan tubuh perempuan sebagai bahan candaan. Rasa tidak terima pasti ada, tapi saya pun hampir yakin bahwa ketika misal saya jadi berkata demikian posisi saya juga pasti akan dianggap salah. Mungkin dicap sebagai perempuan yang bermulut kasar dan memiliki candaan yang buruk. Padahal, para pria pun.
nur mutmainna | 02 November 2017 | 16:03:59 WIB
setiap para pria melakukan candaan seksual pada tubuh wanita dalam kepala saya terbayang pengen ngeluarin kata-kata "emang punya loe segede apa, kok bisa pede ngetawain bagian tubuh wanita" but i just keep it in my mind. pernah juga waktu itu saya ikut meeting formal urusan kerjaan yang becandain kesalahan kantor saya dengan kata-kata "kalau mau tidur dengan saya selama sebulan, beres" dan semua hanya tertawa yang notabene hanya saya seorang diruangan itu wanita, yang lainnya pria. ayo para pria diluar sana hargai lah wanita dengan memfilter kata-kata yang bakalan kalian ucapkan kepada kami wanita, karena kami berhak dihargai
Ruby - Astari | 02 November 2017 | 16:14:32 WIB
Pernah sampai keluar dari grup Whatsapp gara-gara LELUCON SAMPAH macam ini. Laki-lakinya GAK SADAR-SADAR, sesama perempuan malah ngatain saya baper dan gak ngerti bercandaan. Padahal, mereka belum paham kalo kaum mereka sendiri dilecehin.

Jujur, saya sama sekali nggak nyesal. Daripada muak sampai muntah dan nggak ada yang cukup cerdas buat ngerti betapa salahnya ini, mending saya yang ngalah dan keluar.

Empati itu pilihan. Berpikir itu keharusan.
Palupi lupitta | 02 November 2017 | 16:26:02 WIB
Kira2 begini, sosis bakar pesanan teman saya(cewek) sudah sampai di meja, tampilan penyajiannya panjang2 aja, berderet 4, hanya di garit2 tidak di potong atau variasi bentuk bunga, lalu teman2 cowok nyeletuk, "wahh kamu sukanya yg panjang2 gitu ya?" Sambil tertawa, cowok2 yang lain jg tertawa. Ada yg nyeletuk " mau lagi nggak, mau nggak?". Ada lagi " aduh,, yg dibakar ini punya siapa ya?". Lalu krn teman saya yang digodain sepeti itu merasa aneh dan cuma meringis, saya jawab ke temen2 cowok2 itu, "ohho,, punya kalian tuh sekecil2 ini ya? Ini sosis lhoo, bukan bratwurst bukan sosis jumbo ,,ini cumak kecil".
Seketika saya sadar ternyata saya sama aja membalas guyonan seksis mereka dengan hinaan seksis.. tepok jidat.
Arsi | 07 November 2017 | 00:21:22 WIB
Bercandaan itu tdk sesimple itu. Karena kata2 pun sudah banyak dikuasai pria. Lbh banyak kata2 milik pria daripada wanita. Dan selalu ingat, bentuk bullying atau bercandaan yg seksis, ujung2nya adalah keinginan utk di posisi superior. Keinginan itu kalau ngga kita ladenin, atau kita flat aja, maka umpannya ga laku. Game over. The game isnt fun anymore. Sesimple itu.













Weekly Top 5