Obsesi Terhadap Hijab adalah Produk Westernisasi

Tuesday, 21 November 2017 - 09:34:21 WIB
By : Laily Fitri | Category: Politik - 8401 hits
Masyarakat Muslim Indonesia sepertinya tidak pernah bisa berhenti untuk bicara soal hijab dan cara mengatur tubuh perempuan pada umumnya. Ejekan terhadap mereka yang tak berhijab, maupun pada mereka yang hijabnya dianggap tidak patut, kencang dilancarkan meskipun banyak akademisi Muslim telah menyatakan adanya relativitas pendapat atas kewajiban berhijab dalam Islam.

Lagi-lagi fokus terhadap dimensi ritual agama ini dibungkus rapi dalam perspektif seksis yang hanya menekankan liyannya tubuh perempuan dan normalnya tubuh laki-laki dalam kehidupan sosial-politik keagamaan masyarakat. Dalam konteks ini, tubuh laki-laki menjadi hal normatif yang tak perlu dipertanyakan lagi eksistensinya, sementara tubuh perempuan merupakan hal tak wajar yang dapat mengganggu stabilitas hidup keagamaan (apa pun itu maknanya) jika dibiarkan lolos dari pengawasan.

Di sisi lain, segmen masyarakat Muslim yang menekankan aspek pengawasan terhadap tubuh perempuan ini umumnya juga menyuarakan antipati terhadap segala sesuatu yang berbau Barat. Dengan pengawasan ketat terhadap tubuh perempuan, mereka berharap bahwa ‘supremasi’ Islam dapat dikokohkan atas ‘keunggulan’ peradaban Barat.

Namun, apakah obsesi masyarakat Muslim terhadap hijab merupakan kunci bagi supremasi Islam? Atau obsesi tersebut hanyalah produk lain dari kolonisasi Barat itu sendiri? Dengan kata lain, apakah melalui pengawasan terhadap tubuh perempuan, Muslim Indonesia sedang memperjuangkan kejayaan Islam, atau malah memperkuat asumsi-asumsi imperialis Barat yang ingin mereka lawan sebelumnya?

Dalam konteks modern, obsesi masyarakat Muslim terhadap hijab dan eksistensi perempuan di ruang publik bukanlah hal yang berasal dari komitmen terhadap ajaran Islam itu sendiri. Keinginan untuk memperkuat kontrol terhadap tubuh perempuan ini sejatinya bisa dirujuk kembali pada sejarah kolonial Barat terhadap negara-negara mayoritas Muslim.

Adalah Leila Ahmed, dalam bukunya Women and Gender in Islam, yang mendeskripsikan proses terbentuknya obsesi masyarakat Mesir di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 terhadap hijab dan bentuk ‘Islami’ lainnya dari kontrol atas tubuh perempuan. Ahmed menggambarkan bahwa intrusi kolonial terhadap masyarakat Mesir di kala itu memolarisasi konteks sosial-politik Mesir dalam dua kubu. Kubu pertama adalah mereka yang terpesona oleh kemajuan peradaban Barat dan mencoba mengadopsinya, sementara kubu kedua adalah mereka yang terancam oleh eksistensi kolonial Barat dan mencoba untuk membangun benteng moral-kultural melawan nilai-nilai Barat.

Kedua kubu tersebut menemukan bentuk ekspresinya yang paling konkret dalam kontrol atas tubuh perempuan. Mereka yang pro-Barat mengampanyekan pembebasan tubuh perempuan dalam artian sempitnya sebagai pembebasan seksual, bahwa perempuan yang bebas adalah mereka yang berpakaian terbuka, berkomunikasi secara bebas dengan lawan jenis, dsb. Mereka yang anti-Barat menekankan nilai-nilainya melalui asosiasi hijab dengan kejayaan Islam. Pada kedua sisi, tubuh perempuan hanya berfungsi sebagai manekin ideologis yang tidak memiliki subyektivitasnya sendiri.

Tidak dapat dipungkiri, proses konsolidasi identitas yang kokoh dapat dengan mudah diraih melalui politik identitas. Dalam kerangka ini, identitas dibentuk dari landasan perbedaan diri terhadap mereka yang dipandang sebagai liyan. Identitas kemudian ditampilkan dalam bentuk simbol-simbol, yang mudah dikonsumsi, dimobilisasi, dan dipolitisasi. Namun, karena polanya yang timbal-balik, konsolidasi identitas seperti ini juga berfungsi sebagai konfirmasi asumsi-asumsi salah yang dilancarkan kedua belah pihak terhadap satu sama lain.

Dari perspektif ini, obsesi Muslim Indonesia terhadap hijab merupakan produk dari proses konsolidasi identitas yang dihasilkan dari interaksi dengan nilai-nilai Barat. Keinginan untuk membedakan diri dari arus agresif norma-norma Barat – dan bukan serta-merta motivasi religius yang berasal dari ajaran agama -- merupakan motivasi utama dalam ambisi untuk mengontrol tubuh perempuan Muslim di Indonesia. Itulah mengapa kemudian obsesi ini ditampilkan dalam bentuknya yang vulgar, teatrikal, dan dramatis. Klaim kewajiban berhijab selalu dibumbui oleh narasi-narasi ‘penghormatan’ terhadap perempuan dengan cara menempatkan mereka dalam ranah domestik, dan dengan janji-janji surga. Aspek teatrikal ini penting bagi mereka yang ingin menampilkan keislamannya karena narasi-narasi Barat yang mereka lawan pun demikian sifatnya, superfisial dan teatrikal.

Dengan kata lain, hijab dan tubuh perempuan digunakan sebagai lahan pertarungan ideologis oleh mereka yang mengklaim diri sebagai pembela Islam, dalam perlawanannya terhadap dominasi Barat. Dan dengan demikian, karena politik identitas bersifat timbal-balik, semakin keras upaya komunitas-komunitas Muslim untuk melawan Barat melalui simbol-simbol teatrikal nan seksis, semakin terkonfirmasi pula berbagai kesalahpahaman Barat atas apa itu Islam dan Muslim.

Asumsi-asumsi Barat yang menyatakan bahwa Islam identik dengan kekerasan terhadap perempuan, dibuktikan dengan sukarela dan senang hati oleh mereka yang memaksakan narasi hijab terhadap perempuan Indonesia. Semakin vulgar ekspresi keislaman para Muslim di Indonesia, semakin ‘benar’ asumsi Islamofobia Barat terhadap Islam. Penggunaan simbol-simbol Islami secara membabi-buta tidaklah membawa ‘kejayaan’ Islam semakin dekat, melainkan membuat mimpi-mimpi Barat tentang keterbelakangan Islam menjadi nyata.

Lalu, apa yang harus dilakukan masyarakat Muslim untuk menghadapi arus imperialis Barat yang semakin menggila? Masyarakat Muslim Indonesia harus belajar untuk mengalihkan fokus dan energi mereka kepada isu-isu substansial yang berkontribusi terhadap hajat hidup orang banyak, seperti pemberdayaan ekonomi masyarakat, pendidikan, dsb. Mereka harus berhenti berkecimpung dalam politik identitas yang tak ada habisnya. Mereka harus menyadari bahwa kekuatan politik telah membajak simbol-simbol yang mereka gunakan.

Keislaman harus dihadirkan dalam bentuk kecerdasan sosial, keindahan moral, cara berpikir kritis, dan keterampilan untuk memosisikan diri di mata dunia. Mulailah berpikir dan bertindak untuk Indonesia, bukan untuk ‘kejayaan’ Islam yang tak lagi jelas apa maknanya.

Lailatul Fitriyah adalah mahasiswi doktoral Program Studi Gereja dan Agama-Agama Dunia, Departemen Teologi, University of Notre Dame-Indiana, AS.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Marine | 21 November 2017 | 10:08:34 WIB
Well-written article, Ma'am! Sungguh ironis ketika obsesi hijab secara tidak disadari merupakan bentuk kebencian terhadap opresi barat namun mereka tidak ada bedanya membungkam wanita hanya sebagai aikon/indikator sebuah kejayaan. Dan sekali lagi, dikontrol oleh mereka yang berkuasa.
Icha | 21 November 2017 | 22:26:47 WIB
Subhanallah-subhanallah-subhanallah. Ini bener-bener seperti yang aku pikirkan sejak SD dahulu!!
This is great article, ma'am. I'm glad to read such a masterpiece like this.
Laily | 22 November 2017 | 05:45:37 WIB
Terima kasih sudah membaca.
John Jenkins | 22 November 2017 | 08:23:23 WIB
Maaf mbak, ada satu hal yang saya gagal paham. Kenapa di essay mbak ada asumsi dasar bahwa masyarakat islam Indonesia perlu mengklarifikasi kesalahpahaman islam terkait jilbab di mata western society ya? Rasanya banyak budaya/praktik yang disalahpahami dunia barat, tapi tidak cukup signifikan sampai perlu diselesaikan. Misalnya, praktik arranged marriage di India. Meskipun dianggap aneh atau oppresive, tapi tidak ada dampak sistemik atau sanksi dari dunia barat. So, why the urgency?
Laily | 22 November 2017 | 09:19:39 WIB
Mungkin saya kurang jelas menyampaikannya, tapi pembacaan anda terhadap tulisan saya tidak tepat. Saya tidak menyatakan bahwa masyarakat Muslim Indonesia harus mengklarifikasi sesuatu terhadap masyarakat Barat. Yang ada malah artikel saya bicara soal mengapa kita harus berhenti mendasarkan pembentukan identitas kita di atas perspektif Barat soal Islam. Dan ini termasuk respon kita terhadap Barat dalam bentuk obsesi terhadap hijab.
Laily | 22 November 2017 | 09:20:41 WIB
Jika kita menilik tahun 1980an, tak ada keramaian apapun soal hijab di Indonesia, lalu 1998 terjadi, dan gejolak politik identitas Islam yang didasarkan atas narasi Islam vs Barat bermula. Pasca 9/11, narasi politik identitas gila ini semakin menjadi-jadi, dan kita bisa lihat sekarang, dimana-mana yang dibicarakan Muslim Indonesia hanya berkisar pada tubuh perempuan saja. Itu karena ada keinginan menggila dari kita untuk membuktikan bahwa Islam bukanlah Barat,
Laily | 22 November 2017 | 09:21:50 WIB
dan hal ini merupakan taktik yang salah besar, mengapa? Karena semakin kita berusaha membuktikan bahwa kita berbeda dari Barat, semakin menjadi benarlah asumsi-asumsi Islamofobik Barat tentang kita. Ini menjadi self-fulfilling prophecy. Semoga ini bisa membantu menjelaskan.
Harlani Salim | 22 November 2017 | 11:06:05 WIB
Artikel yang well written dan menarik sekali.

Secara umum saya setuju dengan pendapat dalam artikel tersebut. Namun demikian menurut pengamatan saya, perasaan ingin "membentengi diri" dari pengaruh dominasi Barat tersebut tidak asli berasal dari grass roots/ordinary people (rakyat) Indonesia. Tetapi lebih berasal dari leadership/religious elites (para pemimpin umat) yang dekat dengan political elites. Inipun juga tidak asli lahir di Indonesia. Tetapi lebih merupakan efek dari gerakan Pan Islamism yang berusaha mempersatukan seluruh umat muslim di dunia dalam satu Islamic state -- often called as Caliphate. Sponsor utama gerakan Pan Islamism adalah Saudi Arabia yang menganut Wahhabism. Dengan demikian, Indonesia sedang mengalami proses Arabisasi. Dan wanita adalah bagian yang paling mudah untuk disetir atau kalau perlu dikorbankan.
Heru Hikayat | 22 November 2017 | 11:18:58 WIB
Terima kasih Lailatul Fitriyah...
Agaptec | 22 November 2017 | 20:36:33 WIB
Anda menafikkan sumber2 asli Islam: Qur'an, hadits, sunah & Sirah Nabawiyah. Cobalah gali dari histori awal Islam & ekspansi masa kekhalifahan. Hijab tdk berdiri sendiri, dia bersama burqa, celana cingkrang, jenggot, nama2 Arab, hukum syariah, politik aliran, partai/ormas agama, konflik sektarian, terrorism, diskriminasi thd minoritas,... dll. Memang serasa menghibur diri bisa membebankan kesalahan kepada peradaban Barat dengan mengambil sampel era imperialis modern.
Laily | 22 November 2017 | 23:33:38 WIB
Harlani Salim: Inti argumentasi saya adalah supaya Indonesia jangan ikut dalam arus Pan-Islamisme, Wahhabisme, dan Pan-Arabisme. Maka sepertinya anda mengulang argumentasi saya saja. Memang ini semua tidak berasal dari Indonesia, maka saya berargumen, Indonesia jangan ikut-ikut arus tersebut. Demikian. Oh ya, Pan-Islamisme, Wahhabisme, dan Pan-Arabisme adalah tiga hal yang berbeda. Silahkan cek kembali sejarahnya.
Laily | 22 November 2017 | 23:42:04 WIB
Agaptec: Semua hal yang anda sebutkan itu tak ada dalam al-Qur'an, karena itu semua produk interpretasi ajaran Islam di masa modern. Soal hadith, dan sirah (sunnah meliputi keduanya, bukan hal yg berbeda), ketiga hal tersebut lebih merupakan produksi di masa pertengahan Islam (abad 8-10 Masehi) yg alasan berdirinya harus dibaca sesuai konteks. Penekanan terhadap ajaran tertentu dari hadith dan sirah dalam konteks poskolonial & globalisasi sebagian besar adalah hasil dari politik identitas vis a vis imperialisme Barat. Seperti apa yg saya sudah katakan.
peter suwarno | 23 November 2017 | 07:20:20 WIB
Sekarang yang penting: apakah perempuan Indonesia (seberapa banyak) punya kesadaran akan hal ini? usaha apa yang bisa dilakukan untuk menyadarkan hal ini lewat pendidikan? Kasian kalau sampai perempuan Indonesia tidak mempunyai kebebasan dan kesadaran sendiri untuk memakai atau menanggalkan jilbabnya.
Harlani | 23 November 2017 | 09:25:44 WIB
Maaf, tidak. Saya tidak mengulang argumentasi anda.
Dalam artikel di atas anda menyebutkan bahwa politik identitas yang sekarang melanda Indonesia berasal dari Mesir di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 sebagai tindakan reaktif terhadap kolonial Barat (bukan produk Westerniasasi). Menurut saya, ini terlalu jauh. "The real culprit" kebangkitan radikalisme Islam di dunia saat ini (salah satunya adalah pengenaan jilbab) -- adalah gerakan Pan-Islamism yang dimotori oleh Saudi Arabia. Mungkin-2 saja Saudi Arabia memanfaatkan pengalaman Mesir tersebut dalam memasarkan pengenaan jilbab.
Saya hampir saja tidak mau membaca artikel anda, karena judulnya sangat provokatif dan tidak masuk akal. "Obsesi Terhadap Hijab adalah PRODUK Westernisasi," saya mbatin dalam hati "You must be joking!" Tetapi setelah melihat post-script di bagian bawah bahwa anda adalah mahasiswa PhD di University of Notre Dame, saya jadi curious, anda mungkin sengaja memilih judul yang kebalikan dari isinya. But, why?
Laily | 23 November 2017 | 09:44:03 WIB
Harlani: Saya tidak menyatakan bahwa politik identitas yg sekarang melanda Indonesia berasal dari Mesir. Saya menyatakan bahwa ada pola yg sama secara signifikan dari Mesir di abad 19-20 dengan Indonesia di saat ini. Yakni pola anti-imperialisme Barat yg dikaitkan dengan pemolisian tubuh perempuan. & kalau anda mau menolak argumentasi soal Mesir di abad tsb silahkan berargumen dg Leila Ahmed, bukan dg saya. Kalaupun kita menganggap bahwa argumentasi anda benar, Pan-Islamisme yg anda sebutkan itu muncul di akhir abad ke-19 di Kairo, di bawah pimpinan Jamal al-Din al-Afghani, dan tidak dimotori oleh Saudi. Jadi kalaupun kita mengikuti argumen anda, maka andalah yg menyatakan bahwa obsesi jilbab di Indonesia dimotori oleh Mesir. Saya tdk masalah mau artikel saya dibaca/tdk dibaca.
Laily | 23 November 2017 | 09:46:47 WIB
Peter Suwarno: Betul. Konsolidasi kesadaran historis sangat penting dlm hal ini. Saya sendiri hanya bisa membantu dg menulis artikel2 seperti ini, karena saya tidak berada di Indonesia. Semoga lebih banyak perempuan Indonesia (dan seluruh masyarakat Indonesia) sadar akan sejarah.
Laily | 23 November 2017 | 09:47:29 WIB
Heru: Sama-sama.
Harlani Salim | 23 November 2017 | 10:23:08 WIB
Saya tidak menolak argumentasi soal Mesir.
Saya juga tidak menolak asal-usul Pan-Islamisme.
Tetapi Pan-Islamisme modern yang melanda dunia muslim saat ini banyak menerima dana dari Saudi Arabia.
Rina | 23 November 2017 | 22:47:02 WIB
Saya malah banyak baca argumen orang2 yg mengatakan hijab itu wajib, perintah tuhan dlsb. Judulnya sungguh aneh: hijab = produk westernisasi. Bisa gila saya menyambungkannya tapi tetap nggak nyambung. Maybe i am not that smart. Ini mirip pernyataan tsunami di aceh adalah buatan america, sulit dimengerti ujung pangkalnya. Intinya semua salahnya mamarica
Laily | 24 November 2017 | 00:39:55 WIB
Harlani: Yg berasal dari Saudi bukan Pan-Islamisme, tapi Wahhabisme, dan keduanya merupakan hal yg berbeda. Akurasi sejarah sangat penting dlm berargumentasi. Wahhabisme memang berpengaruh di Indonesia, & saya tdk menyangkal itu. Tapi mereka hanya salah satu faktor terhadap obsesi hijab, & reaksi terhadap imperialisme Barat adalah faktor lainnya yg saya highlight dlm tulisan saya. Satu lagi, Wahhabisme itu dlm tataran ideologis bersifat apolitis. Pan-Islamisme lah yg sifatnya politis. Sekali lagi, akurasi sejarah itu penting.
Laily | 24 November 2017 | 00:44:14 WIB
Rina: Sekali lagi saya sarankan di sini, akurasi pembacaan dan interpretasi, sebagaimana layaknya akurasi sejarah, adalah sangat penting di sini. Judul artikel saya jelas menyatakan, 'Obsesi Terhadap Hijab' bukan 'Hijab'. & saya tdk menyatakan bahwa obsesi terhadap hijab ini adalah buatan Amerika, melainkan bahwa obsesi terhadap hijab ini adalah hasil reaktif dari interaksi dg masyarakat Barat. Ini salah satu masalah dalam menulis u/ publik Indonesia, sebagian dari pembaca suka mengambil mudahnya saja dlm menarik kesimpulan dari suatu bacaan. Fakta itu kompleks, tak bisa diambil mudahnya saja dan tidak hitam-putih sifatnya.
Harlani Salim | 24 November 2017 | 10:22:16 WIB
Saya tahu Pan-Islamism tidak lahir di Arab Saudi, tetapi sejak minimal 20 tahun terakhir ini Arab Saudi menjadi penyandang dana terbesar untuk penyebaran Pan-Islamism (versi mereka). Arab Saudi sendiri adalah penganut Wahhabism, jadi dapat dibayangkan versi mereka adalah versi Wahhabi. "Money trail" (aliran dana) dari Arab Saudi ke ormas-2 yang mendukung radikalisme, misalnya di Eropa dan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sudah diidentifikasi oleh badan-2 intelijens di dunia. Silakan di-riset laporan-2 dari badan intelijens tersebut.

Pan-Islamism tidak tetap saja bentuknya seperti ketika dia lahir, tetapi berubah terus bentuknya dan aktor utamanya. Sebagai bahan bacaan (bukan satu-2nya, ada banyak yang lain), silakan baca: http://hegghammer.com/_files/TPV_review.pdf
Fathur | 24 November 2017 | 13:10:28 WIB
"Dalam konteks modern, obsesi masyarakat Muslim terhadap hijab dan eksistensi perempuan di ruang publik bukanlah hal yang berasal dari komitmen terhadap ajaran Islam itu sendiri. Keinginan untuk memperkuat kontrol terhadap tubuh perempuan ini sejatinya bisa dirujuk kembali pada sejarah kolonial Barat terhadap negara-negara mayoritas Muslim."

Mungkin paragraf di atas bisa diperjelas, bukan dengan perbandingan fenomena yang ada di luar negeri, tetapi benar" dengan hasil penelitian kongkrit. Jika tidak akan timbul persepsi jika penulis terlalu terburu-buru berasumsi dan bisa jadi dianggap utopis. Hal ini sangat disayangkan mengingat tulisan ini cukup bernas dab fokus dengan analisa yang memadai.
Rina | 24 November 2017 | 22:51:39 WIB

Saya menyebut mamarica cuma sbg contoh berita aneh yg pernah saya baca. Nggak ada hubungannya dg tulisan mbak selain sama2 nggak masuk akal.

Alasan anda mengatakan hijab adalah bentuk perlawanan thdp dominasi barat tidak ada fakta pendukugnya. Tulisan Leila Ahmed itu apa masih relevan dg zaman now? Dan apa hubungannya dg hijab di Indonesia?

Saya cuma melihat dari apa yg saya baca dan dengar dari pembicaraan teman2 yg muslim ketika membahas soal hijab. Ada ayatnya katanya yg mengatakan itu wajib.

Saya setuju dg mas Fathur. Utopis itu bahasa indonesianya 'ngayal' kan ya. Berarti bukan saya aja yg mikir begitu

Btw mbak, bahasa tulisannya tinggi sekali, banyak banget istilah-istilah yg bikin otak saya yg nggak seberapa ini sampe terpental-pental.

Judul tulisan yg agak 'unik' ini yg membawa saya kesini
Laily | 27 November 2017 | 23:34:35 WIB
Harlani: " Hegghammer argues the reason for little militant activity in Saudi Arabia
before May 2003 was that the ‘‘classical jihadists did not have the intention and
the global jihadists did not have the capability’’ (p. 229). He argues that Saudi jihadism
is primarily pan-Islamist, but it also ‘‘has had a comparatively strong classical
jihadist movement since the mid-1980s’’ (p. 230). The historical context for this
was explained with a Wahhabi imperative that ‘‘encourages believers to actively distance
themselves from non-Muslims and their world’’ (p. 231)"
Laily | 27 November 2017 | 23:39:59 WIB
Harlani: Dari kutipan yg saya ambil dari bacaan yg anda sediakan, jelas bahwa bacaan itu bercerita lebih soal pergerakan jihadis daripada soal pan-islamis. & walaupun ada penyebutan pan-islamisme, Hegghammer berargumen bahwa pan-islamisme di Saudi hanya terbatas pada gerakan jihadis & bahwa pemerintah Saudi sendiri tdk secara penuh memeluk pan-islamisme karena orientasi wahhabisme mereka membuat mereka ragu utk memeluk pan-islamisme. & kalaupun kita berasumsi bahwa pan-islamisme gerakan jihadis adl satu-satunya faktor dlm obsesi terhadap hijab, artikel yg anda bawa masih menyebutkan bahwa gerakan jihadis global muncul karena faktor anti-Amerikanisme. So, akhir kata, artikel yg anda bawa juga mengafirmasi argumentasi saya bahwa ini semua adalah hasil dari respon Muslim terhadap Barat.
Laily | 27 November 2017 | 23:47:31 WIB
Rina: ""Revolusi Iran itu seperti memompa percaya diri umat Islam di seluruh dunia, tentu saja di Indonesia juga. Bahwa suatu kekuasaan yang begitu sekuler dan begitu tunduk kepada superpower Amerika, ternyata bisa ditumbangkan oleh senjata agama. Pemimpinnya namanya Khomeini yang menggerakkan seluruh gerakan melawan the dominant power yang dianggap zalim itu dengan resep-resep agama," jelas Hamid." "Sebagaimana peningkatan pemakaian kata-kata Arab, Alwi Shahab memandang populernya busana Muslim erat kaitannya dengan upaya pencarian identitas orang Islam." Itu pendapat dari Alwi Shahab dan Hamid Basyaib. Saya tidak 'menghayal' sendirian. http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39064954
Laily | 27 November 2017 | 23:51:40 WIB
Rina: Tidak ada ayat dalam al-Qur'an yang mewajibkan hijab terhadap perempuan seperti apa yg ada saat ini. Teman anda salah. Dan satu lagi, saya pikir sudah cukup saya mencoba membantu anda memahami apa yang saya tulis. Jika anda masih belum paham juga akan argumentasi saya, maka itu bukan salah saya. Saya tidak punya tanggung jawab atas level pemahaman anda. Diri anda sendirilah yang bertanggung jawab atas kemampuan anda untuk memahami apapun.
santi | 29 November 2017 | 21:51:02 WIB
senang baca tulisannya mbak laily. mencerahkan. saya mendapatkan pemahaman baru. intellectually challenging. sering2 nulis ya mbak :)













Weekly Top 5