Saya Cina dan Ingin Jadi PNS. Ada yang Salah?

Wednesday, 06 Desember 2017 - 13:01:03 WIB
By : Claudya Tio Elleossa | Category: Sosial - 1646 hits
 
Kita suka mengotak-ngotakkan hal-hal yang tidak sepenuhnya berhubungan, hanya karena catatan sejarah atau kecenderungan semata. Bahwa orang India suka berdagang kain, orang Cina cocok berdagang properti, dan orang Jawa pas sebagai pegawai pemerintahan.

Hal tersebut terinternalisasi dalam diri kita, seperti yang muncul dalam sebuah seminar yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Seminar itu menghadirkan sebuah permainan unik untuk melatih daya analisis seseorang. Kami para peserta diminta menentukan delapan penduduk pertama di sebuah planet baru dengan beragam pilihan pekerjaan, mulai dari guru, insinyur, hingga komedian. Lalu kami diminta memasangkannya dengan pilihan suku, dari keturunan Arab, Cina, India, sampai suku-suku Indonesia seperti Batak, Jawa, Ambon, dan Bali.

Kelompok yang mempresentasikan pilihannya rata-rata mengeluarkan pilihan senada. Orang Bali menjadi guru, sebab orang Bali terkenal lembut. Orang Jawa jadi petani atau pegawai, karena ketelatenannya. Orang Cina jadi pedagang, karena teliti dalam perhitungan. Pembicara pun angkat bicara dan menyentil kami. Beliau menyadarkan bagaimana kecenderungan memberikan stereotip sangat kental dalam diri kita, terbukti dengan pemilihan-pemilihan yang kami buat. Memang tidak ada orang Cina yang tutur katanya lembut? Memang tidak ada orang Bali yang jago bertani?

Kita suka berpegang pada stereotip, menilai seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok tempat orang tersebut berasal. Kecenderungan seperti itu rasanya hampir mustahil dipatahkan dan tidak terlalu bermasalah kecuali ketika kadar pengotakan itu melebihi batas. Misalnya saat menghalangi sebuah kelompok yang “tidak biasanya” untuk mengakses sebuah kesempatan.

Sebagai keturunan Cina, saya tidak menemui halangan semacam itu awalnya. Dulu saya menganggap diskriminasi terhadap orang seperti saya dulu adalah omong kosong. Sejak sekolah dasar sampai kuliah, saya mengenyam pendidikan di sekolah/perguruan tinggi negeri. Perbedaan perlakuan atau kondisi tidak memiliki teman sama sekali tidak saya rasakan. Atau mungkin saya tidak cukup peka terhadap hal itu saking minornya. Selain itu, mata yang tidak sipit dan kulit yang tidak putih memudahkan saya berbaur tanpa terlihat “berbeda”. Diskriminasi terasa begitu jauh, hingga tiga tahun lalu.

Dalam seleksi pegawai negeri sipil 2014, saya diwawancarai oleh seorang ibu berkerudung. Ia tersenyum ramah dan mempersilakan saya duduk. Sesaat sebelum sesi tanya jawab dimulai, dia membuka map berisi data diri saya. Pertanyaan pertama yang muncul adalah: “Namanya unik, bukan orang Jawa ya, mbak?” Saya menjawab jujur pastinya. Raut wajahnya agak berubah. Lalu meluncurlah pertanyaan: “Kok tumben orang Cina mau jadi PNS?”

Kalimat retoris itu seketika membuat saya tahu ke mana arah perbincangan berlangsung. Saya ingat persis, map data diri saya ditutup sebelum wawancara yang seolah formalitas itu tuntas dilakukan. Tuduhan bahwa seleksi itu bersifat diskriminatif agaknya terlalu terburu-buru disimpulkan. Satu-satunya yang bisa saya tangkap adalah, saya kurang beruntung dengan bertemu pewawancara yang merasa sebuah kejanggalan luar biasa bahwa saya, perempuan Tionghoa, melamar menjadi PNS.

Pengalaman tersebut masih menyelimuti saya, meski tidak membuat saya trauma dengan pilihan sadar saya untuk menjadi abdi negara. Saya mencoba lagi, pada 2017 ini. Lagi-lagi pada tahap wawancara, isu kesukuan naik ke permukaan. Namun, sepertinya semesta nusantara ingin memberitahu saya bahwa masih banyak orang yang profesional dan tidak terjebak dalam godaan stereotip.

Laki-laki itu mungkin berusia 50 tahunan. Ada uban di kepalanya dan kacamata agak turun di hidung, khas bapak-bapak yang ingin membaca sesuatu tanpa terlalu menunduk. Setelah beberapa pertanyaan dilewati, ia menyadari bahwa ada darah Tionghoa dalam diri saya. Entah karena penampilan atau hasil menebak dari nama saya yang tergolong tidak umum. Dalam hitungan detik, ketakutan singgah dan membuat saya berasumsi bahwa kejadian tiga tahun lalu akan terulang. Baris-baris kalimat berikutnya membuktikan bahwa saya telah salah.

“Wah, tumben ada orang Cina yang mau daftar jadi PNS.”

“Iya, pak, dari dulu saya memang ingin. Ini sudah seleksi kedua yang saya coba.”

“Bukan bermaksud rasialis ya, tapi jarang sekali hal ini. Saya justru kagum, ada orang kayak sampeyan mau kerja di pemerintahan terlepas dari suku apa pun. Soalnya, sebenarnya semua punya peluang yang sama lho mbak.”

“Iya pak, setuju. Dan terima kasih, pak,” kata saya sambil tersenyum

“Sudah punya pasangan, mbak?”

“Sudah, pak.”

“Ah sayang, kalau belum, mau saya jadikan mantu.”

Lalu kami tertawa.

“Pacarnya orang Cina?”

“Bukan, pak, pacar saya Jawa tulen. Dari dulu saya pengen bikin keluarga yang Bhinneka. Nanti semoga punya mantu orang Bali atau Batak, atau suku apa pun lainnya.”

Bapak itu menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.

“Semoga semakin banyak orang seperti mbaknya. Tidak perlu mempermasalahkan kesukuan, toh kita sama-sama Indonesia ya, mbak?”
Saya mengangguk mantap, tersenyum, dan lega.

Saya tidak tahu siapa nama bapak pewawancara saya siang itu. Tapi satu yang jelas, beliau telah mengobati sakit hati saya tiga tahun lalu. Tepat di hari media ramai karena istilah “pribumi”, saya masih yakin banyak orang waras dan sehat di masyarakat kita. Orang-orang yang tidak akan menganggap miring pilihan kita dan justru mengapresiasi.

Pada dasarnya manusia terlalu kompleks untuk dipahami dari satu sisi, karena itu kebiasaan menggunakan stereotip harus senantiasa ditekan. Ada begitu banyak motivasi, yang tidak mungkin dibaca hanya dari unsur primordialisme.

Pun dengan perkembangan dunia, pola pikir stereotipikal menjadi kuno. Saat ini, siapa pun bisa dan boleh menjadi apa pun. Seperti orang Cina yang sah-sah saja untuk menjadi pegawai negeri.

Tidak masalah jika kesukuan menjadi salah satu kebanggaan. Sekosmopolitan apa pun kita, ada identitas yang akan melekat dalam diri kita dan mustahil diingkari. Dengan catatan, kebanggaan itu tidak perlu membuat kita menutup pintu bagi orang lain yang berbeda.

Saya keturunan Tionghoa dan belum pernah berpikir menikahi koko-koko. Saya gadis tanpa nama Cina yang sangat bangga menjadi Indonesia. Saya tidak mau menoleransi kekangan primordialisme. Sama halnya ketika saya tidak memahami mengapa ada para pemuda Batak yang menunda menikah hanya untuk setia menanti Pariban. Namun saya memilih menghargai pilihan itu, karena saya ingin orang menghargai pilihan-pilihan saya yang mungkin tidak sesuai dengan prinsip kebanyakan orang. Saya ingin didukung menjadi abdi negeri tanpa perlu ditanya dengan nada negatif: “Kok tumben?”.

Claudya Tio Elleossa adalah orang Cina yang cinta mati sama Indonesia.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
astrid | 08 Desember 2017 | 11:00:54 WIB
Saya juga lelah dengan stereotip suku yang terus dibahas di masyarakat. Misalnya suku Sunda yang terlalu santai / pemalas padahal tidak setiap orang sunda seperti si Kabayan yang pemalas. Atau orang jawa yang selalu dianggap lambat. Setiap orang membawa karakter dari lahiriah tapi juga di bentuk dari keadaan lingkungan. Apalag identitas kesukuan semakin melebur. Saya saja setiap wawancara atau mengisi kolom suku sering bingung karena papa orang jawa yang tinggal di Bandung sehingga bisa berbahasa jawa dan sunda. Sedangkan mama saya orang sunda keturunan tionghoa tapi hanya bisa berbahasa sunda. Jadi saya ini sunda kah? jawa kah atau tionghoa kah?. Bangga pada kesukuan boleh tapi jangan akhirnya malah menyakiti orang lain. Akhirnya saya selalu bicara bahwa saya orang Indonesia lahir dari mama papa yang berbeda suku :)).













Weekly Top 5