Perisakan Dunia Maya oleh Oknum ‘YouTuber’

Monday, 12 February 2018 - 13:51:34 WIB
By : Poppy Trisnayanti Puspitasari | Category: Sosial - 7577 hits
Beberapa bulan yang lalu, saya mengalami kejadian tidak menyenangkan di salah satu ruang publik di kota Malang, yang masih membuat saya trauma dan marah sampai sekarang.

Hari itu, saya dan beberapa teman kampus dijadikan subyek “eksperimen sosial” oleh tiga oknum YouTuber, semuanya laki-laki. Mereka memandangi saya dan teman-teman saya dengan tatapan mesum yang membuat kami semua tidak nyaman. Teman-teman saya buru-buru menunduk dan pura-pura tidak melihat keberadaan mereka. Namun saya justru spontan mendekati dan meninju mereka.

Mereka selanjutnya terus menyalakan kamera dan mengonfrontasi saya, memancing saya berdebat. Selama itu pula ejekan dari mereka terus meluncur. Mereka mengatakan bahwa saya tidak berpikiran terbuka, dan ketika saya sengaja mengatakan bahwa saya tidak kuliah, mereka mengatakan bahwa saya tidak berpendidikan dan tidak akan paham jika diajak bicara. Saya sengaja tidak mengatakan identitas kampus saya karena sadar kamera menyala. Masih banyak hinaan yang sengaja mereka lontarkan dan tidak bisa saya ceritakan secara detail di sini karena saya sendiri masih marah dan merasa terluka.

Mereka juga coba terus menggiring saya terus berdebat menuju kerumunan orang banyak dengan kamera yang terus menyala. Saya berkali-kali menyatakan ketidaksediaan saya jika video tersebut diunggah. Dalam logika saya waktu itu, secanggih apa pun mereka mengedit videonya nanti, ucapan ketidaksediaan saya yang berkali-kali itu tidak akan mampu semuanya mereka potong.

Saya juga mendesak mereka minta maaf pada teman-teman saya yang kebetulan adik tingkat, masih mahasiswa baru dan berasal dari daerah lain. Jelas adik-adik saya itu ketakutan dengan eksperimen tersebut. Permintaan maaf itu saya minta dilakukan tanpa kamera menyala, untuk menunjukkan bahwa hal itu bukan sekadar komoditas untuk mereka unggah.

Mereka kemudian memang minta maaf, namun dengan kamera yang terus menyala. Setelahnya pun, mereka terus mengonfrontasi saya dengan berbagai ucapan melecehkan. Saya juga ditekan agar tidak boleh merekam apa pun dengan ponsel saya oleh mereka. Permintaan saya terkait permintaan maaf yang terakhir itu pun disambut kasar oleh mereka. Namun, kali itu saya tidak lagi terpancing dan langsung pergi.

Betul saja, mereka hanya ingin mempergunakan video tersebut untuk mencari sensasi. Sesungguhnya, mereka bisa saja memakai video tersebut untuk mengedukasi banyak orang, bahwa saya, seorang perempuan yang dipandangi mesum seperti itu juga bisa melawan. Sayangnya, mereka memotong video di sana dan sini, menggambarkan saya sebagai perempuan gemuk yang seolah-olah tiba-tiba marah-marah di depan umum tanpa sebab dan tidak menerima permintaan maaf mereka yang sangat tulus itu.

Pada kolom komentar, banyak orang mengomentari fisik dan perilaku saya, bahwa saya buruk, jelek, gemuk, gila, tidak punya malu, perempuan jadi-jadian dan banyak lainnya. Saya tidak sepenuhnya menyalahkan para penonton yang merayakan video tersebut sebagai perayaan kebencian. Video yang sengaja dipotong tersebut terlihat sangat halus dan meyakinkan mereka yang jelas tidak mengenal saya langsung itu.

Kelihatannya para oknum YouTuber tersebut telah mempelajari hukum. Ucapan saya yang berkali-kali menolak video tersebut diunggah, karena tidak sepenuhnya bisa mereka hapus. Hal itu yang nampaknya membuat mereka memutuskan memburamkan wajah saya.

Saya sempat berkonsultasi dengan penyidik di kepolisian, dan ternyata dengan wajah buram dan tidak ada penyebutan nama, saya tidak memiliki alasan kuat dalam pengaduan pencemaran nama baik atau lainnya. Agaknya, para oknum YouTuber tersebut juga sengaja memancing saya berdebat di media sosial mereka, sehingga mereka dapat lepas dari tanggung jawab apabila saya mengalami perisakan dari mereka yang menonton video tersebut, karena saya datang sendiri untuk berdebat dengan identitas jelas. Saya memilih menahan diri. Mereka hanya akan terus mendapatkan uang dan banyak orang justru akan penasaran jika saya membela diri.

Saya sengaja tidak membagikan tautan video tersebut pada teman-teman saya. Saya khawatir, dengan alasan kuat ingin membela, teman-teman saya malah berdebat dengan oknum YouTuber curang tersebut. Dengan demikian, penonton video tersebut akan semakin banyak dan identitas saya justru akan terbuka seolah tanpa campur tangan mereka.

Saya sempat berkonsultasi ke sebuah lembaga yang menangani anak dan perempuan, dan merasa kecewa. Staf mereka, kebetulan perempuan, menyalahkan perlawanan saya terhadap oknum YouTuber tersebut. Dia mengatakan bahwa seharusnya saya berteriak saja, meminta tolong pada pihak berwajib di lokasi. Selain itu, dia juga meminta segala barang bukti yang saya bawa dan menggandakannya di komputer kantor. Saya pun tidak mendapatkan pendampingan apa pun setelahnya. Jika mereka memang tidak mau mendampingi kasus saya, mestinya segala barang bukti yang berpotensi dijadikan laporan telah terjadi penanganan kasus tersebut tidak perlu mereka minta.

Dengan semua ini, saya cukup bersyukur karena bisa mendapat edukasi mengenai hukum dan dunia maya langsung dari penyidik kepolisian. Saya juga akhirnya memelajari kasus serupa dan berusaha mencarinya di internet, dan hasilnya di Indonesia sendiri belum ada yang menceritakan hal serupa saya. Kalau pun ada itu kasus seputar perisakan dunia maya dalam bentuk lain, dan jumlahnya sangat sedikit.

Saya katakan juga pada penyidik di kepolisian bahwa sejak kasus tersebut, saya jadi takut menulis di Internet atau media massa seperti biasanya, takut identitas saya diketahui oknum YouTuber tersebut dan mereka akan memancing orang-orang melakukan perisakan yang lebih hebat kepada saya. Penyidik tersebut mengatakan, ada payung hukum yang melindungi identitas seseorang. Walaupun  memang, payung hukum untuk membawa oknum YouTuber tersebut pada jalur hukum, di mana mereka mengunggah video tanpa izin memang tidak ada. Saya pun berada di posisi lemah karena tidak memiliki bandingan video utuhnya. Namun, hukum bisa dikenakan bagi mereka yang sengaja membuka identitas saya terkait video tersebut apalagi jika hal tersebut disertai ucapan melecehkan.

Semoga dengan pengalaman yang saya bagikan ini, dapat membantu teman-teman yang mengalami hal nyaris serupa agar berani berbicara dan dapat menyikapi dengan tepat oknum-oknum yang demi uang dan popularitas tega menyakiti orang lain tanpa sebab.

Poppy Trisnayanti Puspitasari adalah mahasiswi Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Negeri Malang. Arek Malang asli, yang gemar menulis hal-hal lucu di akun Instagram @TrisnayantiP dan blognya, http://semangkaaaaa.blogspot.com/

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Nina | 12 February 2018 | 19:51:25 WIB
Grhhhh, semoga kesamber geledek segera mereka. Saya salut akan keberanian, Mbak.
Marshy | 13 February 2018 | 01:06:22 WIB
Hey, let me give you a virtual hug first!
Membaca ini saya jadi ikut emosi dan tanpa sadar mengutuk. Beberapa video creator di YT sekarang ini memang banyak yang memilih untuk melakukan hal kontroversial (yang tak jarang memalukan dan tidak berguna) ketimbang membuat karya yang bermanfaat agar bisa dikenal. Saya senang begitu mengetahui sikap kamu yang langsung mendatangi mereka dan membuat mereka melakukan apologi kepada teman-teman kamu. Juga langkah kamu yang mengurus masalah ini ke pihak berwajib dan lembaga lainnya--meskipun sayang sekali, respons mereka mengecewakan. Jangan takut untuk berbuat baik, jangan berhenti menulis juga. Tidak semua orang di internet akan terpengaruh dng orang yang buruk seperti mereka kok, termasuk saya. Terima kasih untuk tulisannya, semoga harimu menyenangkan.
ran | 14 February 2018 | 17:29:45 WIB
mereka gak adil,
orang yang cari sensasi dg car sampah cuma dapat perhatian dari sampah *ups, aku emang begitu orangnya.
tp km gak perlu kesal lg yah, km udah lakuin hal yang benar dan seharusnya.
hari cahyadi | 19 February 2018 | 05:50:29 WIB
Turut prihatin mbak. Meskipun sangat menjengkelkan tapi salah satu cara. untuk mengurangi laju sebaran informasi di internet memang dg tidak nambahi komentar .sy ndak pernah nyangka sejauh ini akal sehat bisa dimatikan oleh syahwat meraih popularitas via dunia maya.
Reed | 19 February 2018 | 13:00:14 WIB
mbak luar biasa. siniin link videonya mbak, biar sya bantu "take down". klo kberatan diposting dsni, kirim email aja oke? sya tunggu.
Taufiq Hidayatullah | 19 February 2018 | 13:21:56 WIB
Gini mba, oke itu salahnya si content creator. Tapi tujuan mereka sama kaya mba ngasih judul artikel ini. Istilahnya, clickbait. Klasifikasikan YouTubers dengan lebih jelas. Saya punya saran judul, "Kalau nge prank, pake otak dong"
Poppy Trisnayanti P | 19 February 2018 | 21:37:52 WIB
Saya sangat terharu dengan dukungan dari teman-teman semua meski kita hanya saling tahu dari udara.

Mohon maaf apabila tidak dapat membalas satu per satu.

Bagi yang ingin membantu saya, karena videonya makin tersebar dan komen negatif makin banyak dan saya juga merasa tidak aman, merasa kelak identitas saya akan terkuak dan saya akan dirundung, mohon mengirim alamat email yang dapat saya hubungi 🙏

Mohon maaf saya tidak berani kirim alamat email saya di depan umum. Peristiwa ini membikin saya merasa kurang aman baik di dunia nyata maupun dunia siber.
Pritania | 20 February 2018 | 02:01:15 WIB
Watched the video and it was horrible. Really horrible. I am sorry you have to be the victim of such repulsive behavior. Not to mention the seemingly-uneducated commentors

But I just want you to know that what you did is beyond amaaaazing. I wish more women have your courage to stand up against sexual harassments that they encounter. You are brave, and beautiful. You’re such an inspiration and your marvelous soul definitely deserves a lot better.

Here’s a virtual hug {} and just know that we’ve got your back. You go, girl 💪💪💪💪
subhan nugraha | 20 February 2018 | 11:00:42 WIB
Bisa gak sih report berjamaah biar videonya dibanned? Jujur kepo pengen liat tapi berarti sy nambah viewer n nguntungin traffic mreka ya? Smoga kedepannya lancar2 aja mba n yutuber tsb diberikan ganjaran yg stimpal, like dimiskinkan rejekinya gitu, amin
tukang makan | 20 February 2018 | 16:33:22 WIB
subhan nugraha: agreed, aku dan temen2 sekantor sudah report. Ayo lebih banyak orang lagi report dan ban oknum youtuber ini
Lara | 20 February 2018 | 19:18:43 WIB
Harus banget direport mbak jahanam itu!!
Richard | 20 February 2018 | 20:39:04 WIB
Perlu ada saksi sebenarnya dalam hal ini dan pembuktian lain, misalnya via pencocokan gelombang suara. Namun perlu diteliti lagi hukum pembuktiannya.
ainun Intan prasdian | 20 February 2018 | 22:39:06 WIB
Keterlaluan memang, udah sering aku report video videonya













Weekly Top 5