Pelajaran Menghargai Perempuan dari Dunia ‘Alter’

Tuesday, 13 February 2018 - 09:49:57 WIB
By : V | Category: Gender & Seksualitas - 821 hits
You can’t kill your curiosity, curiosity kills you.

Saya adalah salah satu dari banyak orang yang terbunuh oleh rasa ingin tahu. Saya laki-laki 24 tahun yang sekali pun belum pernah menjalani hubungan percintaan alias tidak pernah pacaran. Tumbuh di lingkungan atau lebih tepatnya masyarakat dan negara yang patriarkal, di mana laki-laki mempunyai kekuatan dan hak istimewa yang lebih dibandingkan perempuan, membuat saya kadang merasa aneh karena tidak pernah sekali pun menjalin hubungan dengan perempuan. Sementara teman-teman saya sudah bisa dinobatkan sebagai kolektor mantan, atau bahkan sudah layak dicap playboy.

Hingga pada suatu ketika, saya berada di titik di mana kesepian saya meraung-raung, di saat itu juga saya mulai masuk ke sisi lain dari dunia maya, yaitu alterland alias dunia alter. Ini adalah dunia yang berisi akun-akun anonim atau akun yang menampilkan sisi lain dari penggunanya. Singkat kata, dunia alter adalah tempat kamu menjadi orang lain tanpa takut ketahuan identitas aslimu. Terdengar asyik? Tidak juga. Celakanya saya justru terjebak dalam dunia alter yang masyarakatnya mencari kenikmatan seksual di dunia maya.

Sedikit mundur, saya pernah kecanduan film porno dan lembaran kelam itu membuat saya terpuruk. Konsumsi film porno yang berlebihan membuat saya tidak pernah bisa menerima diri apa adanya maupun menerima orang lain. Orang bilang pornografi berbahaya untuk fantasimu, dan itu menyedihkan, tapi benar adanya.

Pada akhirnya saya melawan kecanduan itu dengan cara mengobrol dengan teman saya hingga saya larut dan lupa itu semua. Namun hal itu tidak bertahan lama. Kesepian merengkuh saya lagi, dan saya kembali ke kenikmatan seksual, tapi kali ini berbeda. Saya masuk ke dunia alter yang membunuh kesepian saya dan memanjakan gairah saya dengan sexting alias obrolan seksual.
Jangan bayangkan saya sexting dengan satu atau dua orang saja, karena saya berganti-ganti pasangan dalam sexting. Meskipun sexting tidak menjadi adiksi saya, tapi dari dunia alter ini saya mulai mengenal metode-metode lain untuk menyalurkan hasrat seperti telepon seks, panggilan video seks, atau malah melakukannya secara langsung di Instagram.

Ketakutan saya melakukan hubungan seks di luar nikah, ditambah keingintahuan dan hasrat yang menyiksa serta gawai dengan koneksi internet, membuat dunia alter menjadi sangat lekat dengan saya. Sexting demi sexting, phone sex demi phone sex dan lain sebagainya menggerus saya. Saya seperti hidup hanya untuk melayani hasrat.

Celakanya lagi, saya bukan orang yang datang dan pergi hanya untuk memenuhi hasrat. Saya selalu berusaha untuk menjaga koneksi dengan perempuan-perempuan yang pernah menjadi mitra sexting, phone atau video call sex saya. Namun tidak semua mau tetap mengobrol atau sekedar basa-basi dengan saya. Banyak yang hilang bahkan di tengah-tengah prosesi, memblokir saya karena saya hanya sekali pakai (mungkin), dan tersisa beberapa yang akhirnya membuka pengetahuan baru untuk saya. Mereka yang tinggal untuk mengobrol dengan saya lambat laun bercerita tentang kehidupan seks mereka di dunia nyata. Hampir semua cerita mereka membuat saya terperangah.

Beragam kisah yang saya dengar dari mereka (entah itu pengalaman sendiri atau teman), mulai dari yang melakukan hubungan seks saat umur 16, bergonta-ganti pasangan, hiperseksual, hingga korban kekerasan seksual. Beberapa cerita itu membuat saya sedih dan murka, terutama yang dimanfaatkan oleh pasangannya lalu ditinggal, dan mereka yang menjadi korban pelecehan seksual dan pemerkosaan. Kenapa hidup sejahat ini, kenapa mereka harus melalui itu semua, pikir saya.

Kejenuhan saya dengan dunia alter dan cerita-cerita tadi membuat saya terpukul. Beberapa malam saya menangis ditemani “Abcessive Compulsive Disorder” dari Nothing.  “I’d eventually hurt you.” Ya, pada akhirnya saya akan menyakiti mereka, yang pernah saya goda, saya ajak bertukar foto telanjang, sexting atau phone/video sex.  Ada banyak hal buruk yang saya lakukan terhadap perempuan.

Saya jadi merenung, kenapa laki-laki sangat leluasa mempermainkan perempuan, sangat mudah menyakiti perempuan, dan sangat hebat dalam mencari keuntungan dari perempuan. Melihat atau mendengar tentang laki-laki seperti itu membuat saya muak. Mereka yang semena-mena kepada perempuan, berpura-pura baik dengan pretensi negatif kepada perempuan, dan memanfaatkan perempuan untuk kepuasan mereka sendiri membuat saya murka. Dan tentu saya juga murka kepada diri saya sendiri karena saya juga laki-laki.

Saya mulai berhenti menjalani hidup di dunia alter, memulai hidup saya di dunia nyata kembali dengan rasa kebencian mendalam kepada lelaki, kepada saya sendiri. Setiap kali saya melihat perempuan, saya melihat ibu saya, kakak saya, keponakan saya dan itu membuat saya tambah membenci diri saya karena saya pernah melakukan hal buruk pada perempuan-perempuan di dunia alter.

Perlahan tapi pasti, saya merangkul kesepian dan menghalau gairah berlebihan agar bisa mencegah diri melakukan hal-hal buruk pada perempuan. Obat untuk menjauhkan diri saya dari dunia alter adalah obat yang sama untuk melawan adiksi saya kepada film porno, yaitu berinteraksi dengan orang lain. Saya mulai memperbanyak mengobrol dengan teman saya, chatting atau sekedar bermain game.

Saya juga sudah meminta maaf kepada mereka yang pernah menjadi pasangan saya. Mungkin tidak semua dan mungkin hanya sedikit membuat saya lega. Lebih baik saya menyendiri daripada menyakiti dan saya harap saya bisa menjadi orang yang lebih baik lagi kepada perempuan, untuk Ibu saya, untuk kakak saya, keponakan, teman-teman dan semua perempuan yang derajadnya jauh di atas saya, lelaki.

V adalah penulis moody yang suka menghabiskan waktu nonton serial TV, film dan konser. V juga sedang iseng membuat proyek spoken words.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Saya | 15 February 2018 | 08:27:54 WIB
"Ketakutan saya melakukan hubungan seks di luar nikah, ditambah keingintahuan dan hasrat yang menyiksa serta gawai dengan koneksi internet, membuat dunia alter menjadi sangat lekat dengan saya." saya sungguh related dengan kalimat tersebut. Saya perempuan dan saya juga pernah berada di posisi sama seperti penulis, terhanyut pada dunia alter. Tapi memang semua itu tidak memberikan apa-apa selain kepuasan semu dan rasa bersalah, tidak tahu rasa bersalah atas apa, moral? norma? i dont know. Terima kasih atas tulisannya.













Weekly Top 5