Mei 1998 yang Mengubah Saya

Monday, 23 June 2014 - 10:06:24 WIB
By : Elisa Sutanudjaja | Category: Edisi Indonesia - 66368 hits
Kelahiran anak biasanya merupakan peristiwa terpenting dalam kehidupan seorang perempuan, demikian juga dengan saya. Namun tonggak peristiwa yang paling penting dalam kehidupan saya adalah hari-hari penuh pergolakan pada Mei 1998 – serangkaian waktu yang telah membentuk saya menjadi seperti sekarang ini.

Bulan itu telah mentransformasi saya dari seorang perempuan muda apolitis dan tidak peduli menjadi seorang warga yang sangat terlibat dengan lingkungan saya. Peristiwa itu telah mengubah aspirasi saya dari arsitek terkenal menjadi seorang aktivis yang bekerja keras untuk membantu membentuk lingkungan yang lebih baik untuk anak perempuannya.

Saya masih menjadi mahasiswi pada Mei 1998. Sebagai mahasiswi arsitektur, saya selalu dihadapkan dengan setumpuk tugas dan proyek tanpa akhir, sehingga aktivisme politik merupakan prioritas terakhir. Saya juga seorang keturunan etnis Cina dan beragama Katolik, yang membuat saya seorang minoritas ganda. Sejak awal orangtua saya selalu mengajarkan kami untuk menghindari urusan terkait pemerintah dan politik supaya tetap aman.

Universitas Tarumanegara tempat saya belajar sering disebut Shanghai atau Peking karena mayoritas mahasiswanya saat itu, dan sampai sekarang, adalah warga Indonesia keturunan Cina. Satu-satunya ‘gejolak politik’ di dalam kampus waktu itu adalah ketika para mahasiswa fakultas teknik berkelahi satu sama lain. Demonstrasi politik merupakan sebuah konsep yang sangat asing.

Bahkan pada awal Mei 1998, ketika para mahasiswa Universitas Trisakti yang dekat kampus mulai bergabung dalam protes-protes, saya tetap bergeming. Mereka memblokir pintu depan kampus, yang saya anggap merepotkan karena saya tidak bisa menggunakan angkutan umum. Saya tidak punya empati. Saat itu saya hanya merasa senang karena ayah baru saja menaikkan uang saku saya.

Pada puncak demonstrasi mahasiswa pada 12 Mei, saya dan dua orang teman keluar dari pintu belakang kampus untuk menghindari demonstrasi saat menuju tempat melakukan tugas di Jakarta Selatan. Sementara para mahasiswa Trisakti memagari jalan tempat kedua kampus berada, kami bertiga melakukan riset mengenai tangga di dalam Hotel Gran Mahakam.
 
Tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi, saya pulang ke tempat kost dekat kampus dengan naik bajaj. Supir bajaj mengatakan ada sesuatu yang buruk yang terjadi, namun pikiran saya sedang dipenuhi macam-macam sehingga saya tidak memperhatikannya. Saya tiba di tempat kost dengan selamat, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi hanya satu kilometer dari tempat saya tinggal. Saya berpapasan dengan teman kost, seorang mahasiswi fakultas kedokteran yang sedang buru-buru pergi. Ada penembakan, ujarnya, dan ia perlu berjaga-jaga di klinik. Inilah yang kemudian menarik perhatian saya.

Teman-teman kost saya yang lain menunggu mahasiswi kedokteran tersebut pulang ke rumah dengan gelisah. Ketika ia sampai tempat kost kami pada pukul 10 malam, badannya gemetar menahan tangis. Ia menceritakan bahwa di rumah sakit banyak mahasiswa yang terluka dan meninggal dunia. Kami terperangah, sama sekali tidak menyangka. Di dalam diri saya, ada sesuatu yang rasanya sedang berubah.
 
13 Mei

Esoknya, berita utama harian Kompas memasang foto besar seorang gadis yang terbaring di tengah jalan, dengan barang berserakan di sekitarnya dan di atas genangan yang tampak seperti darah (belakangan dikabarkan bahwa gadis itu selamat). Rasanya sungguh tidak nyata. Banyak teman saya yang kemudian pulang ke kota asal. Saya berhasil meyakinkan orangtua bahwa saya akan baik-baik saja.

Dengan bodohnya saya memutuskan untuk mengunjungi Monumen Nasional untuk menyelesaikan tugas ‘Studi Tangga’. Saat kembali, masuk SMS dari seorang teman yang mengabarkan bahwa kuliah dibatalkan karena situasi yang semakin tegang.

Di jalan, saya melihat banyak mahasiswa dari berbagai universitas dengan beragam warna jaket almamater berjalan menuju Trisakti untuk mengikuti acara peringatan kejadian berdarah hari sebelumnya. Saya mengambil jaket saya dan memutuskan untuk ikut. Kami semua bergandengan tangan untuk membentuk barikade supaya orang lain, seperti intel pemerintah, tidak bisa masuk. Saya merasa sedikit patriotis, rasanya keren berpegangan tangan dengan orang yang tidak saya kenal.

Trisakti membuka gerbangnya sedikit, dan mahasiswanya memeriksa setiap orang sebelum mengijinkan masuk. Saya tidak membawa kartu mahasiswi, tetapi saya berhasil lewat setelah menunjukkan lambang universitas di jaket saya dan mengatakan, “Hei, kita tetangga!”

Di dalam, banyak yang berorasi. Sumbangan makanan dan air minum mengalir. Tapi kami dapat melihat kehadiran tentara di luar kompleks. Tiba-tiba, kami melihat helikopter tentara terbang sangat rendah. Mereka menembakkan gas air mata yang mengisi udara dengan asap yang menyesakkan. Suasana sangat membingungkan – saat itu merupakan salah satu pengalaman paling menakutkan dalam hidup saya.

Saya lari dan bersembunyi di dalam sebuah gedung. Mata saya rasanya terbakar, dan beberapa mahasiswi menyuruh saya pergi ke kamar mandi untuk membasuhnya dengan air mineral. Terdengar banyak tembakan, dan kemudian saya mendengar sebuah ledakan di luar, yang ternyata muncul dari SPBU yang dibakar.

Trisakti tidak memiliki pintu belakang – semua pintu masuk dan keluar menghadap jalan utama yang telah dikelilingi orang dan tentara. Baterai telepon genggam saya mati, dan saya mulai benar-benar takut bahwa hidup saya akan segera berakhir. Di tengah bunyi tembakan, naluri membawa saya ke dinding selatan Trisakti, yang memisahkannya dengan Tarumanegara.

Kampus saya memiliki beberapa pintu keluar ke gang-gang kecil yang terhubung dengan jalan-jalan utama. Beberapa mahasiswa membantu banyak orang yang ingin meninggalkan kompleks, termasuk staf universitas. Mereka menggunakan tubuh sebagai tangga sehingga kami dapat memanjat dinding, dan di sisi lain, beberapa satpam dan mahasiswa Tarumanegara membantu kami.

Saat itu hampir pukul 3 sore, dan saya tidak bisa pulang karena banyaknya tembakan yang masih terdengar. Saya bertahan di pos satpam dekat gerbang depan kampus dengan beberapa mahasiswa lain. Setiap ada bunyi tembakan terdengar, kami langsung merunduk. Air mata saya menetes dan seorang mahasiswi di sebelah saya memeluk saya untuk menenangkan saya.

Tidak ada bajaj yang lewat ketika magrib datang dan saya memutuskan untuk pulang. Gang-gang kosong dan sepi dengan latar belakang asap tebal di sebelah utara. Perjalanan pulang itu rasanya seperti jalan kaki paling panjang seumur hidup saya. Adzan dari masjid di dekat saya membuat hati sedikit lebih tenang. Kemudian saya menyadari bahwa ada seseorang yang mengikuti saya. Ternyata dia adalah seorang mahasiswa Trisakti. Dia tetap menjaga jarak, seperti hanya ingin memastikan saya sampai ke rumah. Saya naik jembatan penyeberangan dan melihat sebuah truk dan SPBU yang masih terbakar. Semua teman kost memarahi saya; salah satu di antara mereka menangis dan memeluk saya ketika dia tahu saya selamat.

Jalan Tol

Situasi bergulir menjadi kerusuhan di banyak tempat. Pusat perbelanjaan Topas (sekarang disebut Roxy Mas Square) dibakar di tengah malam. Kami dapat mendengar ledakan dan teriakan-teriakan dari atap tempat kost. Saya tidak bisa tidur malam itu. Kami terus mendapatkan informasi dari televisi dan radio, tapi karena kami ada di pusat kerusuhan, rasa takut kami membumbung tinggi. Pasar Grogol, yang hanya berjarak 300 meter dari tempat tinggal kami, dijarah habis.    

Mulai 14 Mei, dari atap kami dapat melihat asap dan api dari lebih dari 20 tempat. Ketika seorang reporter Radio Sonora melaporkan dari sebuah rumah sakit, dia nyaris tersedu. Laporannya menggugah saya lebih dari berita TV manapun.

Saya mengecek kondisi adik saya yang bersekolah di SMA Kanisius, Jakarta Pusat. Dia tinggal di sebuah rumah kost di dekat rumah presiden, jadi kami pikir dia pasti aman di sana. Saya tidak bisa keluar dari rumah kost karena situasi masih berbahaya dengan kebakaran dan penjarahan yang terus berlangsung. Pada 14 Mei malam, ketua RT mengumpulkan warga untuk membuat rencana pengamanan dan evakuasi. Para mahasiswa/i diminta untuk mengenakan jaket universitas bahkan ketika sedang tidur.  Pria-pria berpatroli di sekitar lingkungan tersebut di malam hari dengan dipersenjatai samurai dan parang.

Hari berikutnya, 15 Mei, orang tua saya menelepon beberapa kali karena mereka mendengar desas-desus mengenai pemerkosaan massal. Di tengah tangisan ibu saya, saya bertanya-tanya mengapa saya rasanya tidak setakut itu. Namun saat itu merupakan masa paling gelap dan menyedihkan bagi kami – saya, keluarga, dan teman-teman. Kami tahu bahwa kerusuhan tersebut dipicu oleh kondisi ekonomi dan politik yang buruk, dan seperti biasa kami, sebagai orang Indonesia keturunan Cina, akan selalu menjadi target.

Bergabung

Saya hampir tidak ingat bagaimana saya melewati beberapa hari berikutnya. Tiga hari kemudian, kami menyaksikan televisi bahwa mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR. Saya tidak tahu apa yang merasuki saya, tapi saya pergi ke sana bersama seorang teman. Saya pikir, cukup sudah, saya tidak mau lagi tinggal diam. Saya ingin mengambil bagian dalam perlawanan, betapapun kecilnya peran saya.

Kami adalah satu-satunya penumpang dalam bus yang kami naiki menuju ke sana. Supir bus tampak takjub ketika dia melihat kami. Sampailah kami di gerbang gedung DPR, dua gadis dengan mata sipit dan kulit putih. Tempat itu penuh dengan manusia, dan tidak ada yang terlihat seperti keturunan Cina. Sulit masuk ke dalam kompleks karena ketatnya penjagaan oleh mahasiswa, namun untungnya seorang mahasiswa Universitas Indonesia menyambut dan membantu kami masuk.

Suasana tegang diiringi turunnya hujan. Tapi saya tidak bisa tidak merasa bangga bahwa saya berpartisipasi dalam revolusi ini. Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, setelah selalu dipanggil “Hei, Cina” dan kata kasar lainnya, saya benar-benar merasa sebagai orang Indonesia. Saya tidak ingat sama sekali bahwa saya merupakan bagian dari minoritas ganda sebagai keturunan Cina dan pemeluk Katolik. Kami semua sama, berteriak tanpa henti, “Reformasi! Reformasi sampai mati!”

Kami datang kembali esok harinya, kali ini saya membawa kamera dan pacar saya. Kami mengambil beberapa foto di dalam gedung. Suasana sangat menyenangkan, karena akhirnya Soeharto memutuskan untuk turun.

Saya pergi dari Jakarta bulan Juni karena harus menjalani operasi lutut dan hanya dapat mengikuti perkembangan selanjutnya di televisi. Tapi saat itu saya telah menjadi orang yang berbeda. Saya mulai membaca banyak buku filsafat dan sejarah, terutama tentang sejarah perlawanan. Entah bagaimana saya kehilangan minat menjadi arsitek terkenal – rasanya sudah tidak perlu lagi. Saya melibatkan diri dalam serangkaian kegiatan urban, termasuk di LSM Rujak Center for Urban Studies yang ikut saya dirikan.

Saya merenungkan kembali kisah Mei 1998 pada 2011, ketika kehamilan saya mencapai tujuh bulan dan ketika saya sedang menyelesaikan bab tentang periode untuk buku Kata Fakta Jakarta. Sangat sulit membaca laporan-laporan Tim Gabungan Pencari Fakta dan buku-buku mengenai kerusuhan Mei: data perkosaan; teori tentang apa yang ada di balik penembakan, pemerkosaan, penjarahan dan kerusuhan; dan bagaimana persaingan antara jenderal-jenderal terkait dengan konflik-konflik tersebut. Saya menangis ketika membaca tentang pemerkosaan yang juga melibatkan anak-anak, dan menghadapi kesulitan memutuskan informasi mana yang sebaiknya menjadi fokus tulisan saya.

Saya tidak pernah melupakan apa yang terjadi pada Mei 1998, dan saya akan terus menceritakan kisah ini sepanjang hidup saya.

Tentang Elisa Sutanudjaja
Elisa sedang menjalankan sabatikal dan menjadi yang orang-orang sebut ‘ibu penuh waktu” (istilah yang dia rasa agak aneh karena bagaimana caranya menentukan paruh waktu atau penuh waktu dalam hal menjadi ibu?). Elisa sedang menulis sebuah buku tentang pemerintahan terbuka dan data terbuka, dan mengambil beberapa kursus gratis dari EdX dan Coursera.

Diterjemahkan oleh Leony Aurora dari artikel “May 1998 and How It Changed Me.” 

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Setiaji Purnasatmoko | 24 June 2014 | 17:19:04 WIB
salam hormat sedalam-dalamnya : dorongan kemanusiaanmu, ketulusanmu bergabung dan keberanianmu yang polos, itulah yang amat penting guna turut menentukan wajah politik
Dr. Adi Susanto, SE, MM.Int'l.Buss, MSBA | 24 June 2014 | 19:01:16 WIB
tahun 1998 merupakan pengalaman kelam bagi minoritas waktu itu, saya kuliah di UNIKA Soegijapranata Semarang yang juga merupakan kampus Katholik yang mayoritas etnis TiongHoa. Kebijakan kampus waktu itu melarang kami semua mengikuti demo massal menuntut lengsernya ORBA. hingga pada titik BEMU dikirimin Celana Dalam dan BH dengan slogan kampus banci, akhir dari rektorat yang waktu itu dipimpin seorang Romo SJ. turun long march jalan kaki dari kampus ke pusat kota, pengalaman saya kena kenut polisi, sungguh mencekam situasi waktu itu. Saya merasakan begitu menakutkan dimana rasa kemanusiaan sudah hilang, kita menjadi binatang yang menjadi sasaran empuk kenut, pentungan dari oknum aparat. Semenjak era Presiden Gus Dur, kita semua kaum minoritas menghirup napas lega, belenggu itu sudah hilang. Tetapi perjuangan tetap jalan terus untuk mengungkap kebenaran dan keadilan para sahabat yang hilang dan terbunuh. "Dimana ada perjuangan disitulah akan ada korban".
Semoga Tuhan Memberkati.
Wandi Tambunan | 25 June 2014 | 18:44:10 WIB
Touching.. Keep writing something like this..
Endang Triani | 26 June 2014 | 08:51:37 WIB
Nasionalisme memang harus selalu didengungkan pada anak-anak muda yg tdk dibatasi oleh minoritas etnis maupun agama, agar kaum muda menyadari akan tanggung jawab dan hak kita dalam berbangsa. Sy berharap akan muncul tulisan2 lain semacam ini yg akan mengungkap kebenaran akan apa yg terjadi di hari2 kelam di Mei '98. Selamat tetap berjuang untuk bangsa dan negara kita tercinta. Salam.
Indryani Beby Tjandra | 26 June 2014 | 09:31:39 WIB
Sangat menggugah, Pembuktian bahwa perjuangan reformasi mahasiswa pada saat itu tidak hanya tentang suatu etnis atau agama tertentu
Elisa Sutanudjaja | 26 June 2014 | 19:30:37 WIB
Wah terima kasih untuk komentar2nya :) dan juga untuk sharing pengalaman di Mei 1998.
Minggu-minggu ini adalah masa genting, mari kita berusaha agar kemungkinan untuk kembali ke bulan kelam tersebut semakin kecil dan kecil. Semangat! :)
Bowo Leksono | 26 June 2014 | 20:30:44 WIB
Yang juga mengharukan saat itu, kita saling bertukar kancing jaket almamater. Dan berjanji, bila Soeharto turun, kita bertukar jaket almamater.
Anugrahita Nirmala | 26 June 2014 | 23:01:37 WIB
Langsung teringat waktu jaman itu saya masih duduk di kelas 2 SD kalo ngga salah. Kebetulan saya juga sama seperti ibu, keturunan Cina dan beragama Katolik. Bahkan meskipun masih SD waktu itu, saya masih ingat sekali wajah-wajah kekhawatiran kedua orangtua saya, sampai mama berniat dan berjaga-jaga untuk pindah. Saya tidak akan pernah lupa masa-masa itu, meskipun puji Tuhan pada akhirnya kami semua selamat dan ngga kena bencana sama sekali.
Semoga untuk ke depannya bangsa kita mengalami perubahan. Saya heran masa-masa sekarang masih aja ada orang-orang yang berpikiran sempit dan menyinggung SARA baik dalam permainan politik, ekonomi, dll. Toh kita sama-sama manusia, etnis apapun kita, kalau kita sama-sama punya visi bagus untuk negara ini apa salahnya, bukan? Kenapa harus menutup perubahan yang lebih baik hanya karena idealisme dan gengsi pribadi? Salam.
Paramita | 28 June 2014 | 12:21:34 WIB
Artikel yang sangat menggugah hati. Meskipun saya tidak terlibat dan melihat langsung kejadian Mei 1998 (karena pada saat itu saya masih SD), begitu saya membaca dan mendengar pengalaman orang-orang terutama dari kalangan etnis minoritas, hati saya benar2 perih. Sekarang saatnya reformasi yang sebenarnya, usut tuntas kasus Mei 1998! Salam.
Cokin | 28 June 2014 | 23:24:28 WIB
Beruntung Elisa selamat dari kerusuhan itu. Kita boleh2 saja mempunyai rasa nasionalisme tinggi dan mengaku sbg org Indonesia, tapi tetap saja kita harus merasa bangga sbg keturunan Cina. Lihat saja kenyataannya, biar bagaimanpun org2 pribumi akan tetap men-'Cina2-'in kita.
Revy dc | 29 June 2014 | 12:15:46 WIB
Wew tahun segitu udah punya telepon genggam. Salut. Kisahnya bagus
Denrij Andries. drs. | 29 June 2014 | 19:04:35 WIB
Luar biasa, mengharukan namun jg membanggakan, Sy menaruh simpati yg mendalam atas kisah ini. Salam hangat.


Via | 02 October 2014 | 04:03:39 WIB
Salam kenal. Saya tidak tahu persis bagaimana keadaan saat itu, karena pada saat itu saya baru berumur 3 tahun. Saya hanya tahu kondisi saat Mei 1998 melalui cerita ibu dan berbagai tulisan sejarah yang diajarkan dan diberitakan di buku sekolah. Tapi membaca hal seperti ini membuat saya bertekad untuk mempertahankan kedamaian. God bless us.
mira | 14 May 2016 | 18:42:28 WIB
Saya sangat membenci orang rasis...walaupun saya berdarah pribumi asli...bukankah cina juga mahluk ciptaan Tuhan??saya selalu membela ketika salah satu teman cina saya di cina2in sama teman saya lainnya yg Jawa...jstru kita hidup berdampingan haruslah saling menghormati...toh juga sama2 manusianya...saya benar2 sangat benci pada orang yg rasis
sukma | 05 September 2016 | 06:50:37 WIB
sebenarnya saat mei 1998 bukan hny cina yg mengalami kerugian. di daerah saya, semua toko dijarah. pribumi atau cina. semuany habis. Tetangga saya yg juga pny toko dipasar. mereka org bugis dan jawa tidak pernah bisa membuka toko lagi. Mereka bukan pedagang besar.
DollyPR | 10 Desember 2016 | 13:11:26 WIB
Saat ini saya sedang menulis sebuah buku dimana kerusuhan 98 menjadi bagian yang sangat penting. Terus terang sangat sulit mencari data-data yang valid, bahkan data dari tim pencari fakta gabungan pun rasanya tidak 100% benar.
Terimakasih, dari cerita anda sedikit banyak saya dapat merasakan emosi yang jarang diungkapkan oleh orang lain.
Virginia | 31 January 2017 | 14:31:39 WIB
Mbak boleh saya minta email ga?
edie panjaitan | 27 February 2017 | 15:12:50 WIB
Peristiwa ini harus dibuka kembali. Rasa keadilan dan kemanusiaan yg sangat tragis yg bernuansa pilitik dan agama minoritas. Saya teringat sejarah penyebaran agama salahbsatu agama di indonesia ini, yg memakai cara cara kekerasan dan sadistis melalui perang dgn dalil berperang melawan orang kafir, berperang di jalan Allah. Namun sesungguhnya alasan itu dipakai untuk merampok, memerkosa, dan membunuh. Menundukkan lawan dgn cara cara yg sangat keji, untuk memenuhi nafsu duniawi. Kasus kasus sejarah di indonesia banyak yg dimanipulasi, begitu juga dgn peristiwa PKI. Yg sampai detik ini slogan malik teriak maling belum diungkap kebenaran aslinya. Pemerintah yg melibdungu segenap warganya harus berupaya mebegakkan kebenaran dan keadilan bagi warga negaranya, jgn ada keberpihakan terhadap satu kekompok, golingan, atau agama sekalipun.
Ahmad | 19 April 2017 | 10:01:29 WIB
Saya sarankan Anda untuk membaca dan membeli buku "Mati Ketawa Ala Refotnasi" tahun 2016 karya Emha Ainun Nadjib, mumpung stoknya masih ada di toko-toko buku terpercaya di kota Anda. Semoga buku itu dapat memberi sedikit "pencerahan" atas permasalahan Anda itu! :)
Bukan Cokin | 13 May 2017 | 12:22:55 WIB
Sukma: iya, gak cuma cina doang kok korban 98. Banyak yg dibakar di mall itu bukan cina. Tp yg spesifik ditargetkan karena kecinaan mereka ya org cina. Itu bedanya.
Ihsan Ishaq | 13 May 2017 | 19:12:35 WIB
Mengesankan, semoga tak terulang jika kita memperbesar kesabaran dan saling peduli. Pelaku ketika itu sebagian besar awam yg tentu menyesali apa yg telah mrk lakukan ktk itu.
ada deh | 13 May 2017 | 22:45:04 WIB
Dan sekarang penulis jadi pendukung Sandi/Anis yg notabene pentolannya Prabowo??
Balabala | 19 July 2017 | 20:42:42 WIB
Netesin air mata baca tulisan ini, saya merasa mahasiswa kala itu benar2 berjiwa pancasila.. saya tidak tau kejadian mei 98 secara langsung karena saat itu saya masih bayi.. tapi saya sangat ingin tau dengan sejarah itu sehingga membaca artikel ini.. benar2 bangga dengan semua yang memperjuangkan reformasi saat itu.. bangga dengan mahasiswa yang tidak rasis.. gabisa dijelasin pake kata2 intinya aku nangis bacanya.. ntah mungkin aku terlalu cengeng tapi ini bener2 menginspirasi













Weekly Top 5