Beragama dan Ketakutan

Friday, 11 November 2016 - 12:43:54 WIB
By : Erika Rizqi | Category: Spiritualitas - 3816 hits
Magdalene Short
Akhir-akhir ini, saya memikirkan keputusan untuk memilih teralienasi dari lingkungan sosial sekitar rumah. Bukan karena saya sok idealis, tetapi karena saya tidak merasa nyaman.

Para tetangga adalah mereka yang getol pergi ke rumah ibadah dan mengadakan pengajian, sedangkan saya adalah orang yang jengah dengan nasehat-nasehat keagamaan. Sekali lagi bukan karena saya sok pintar, tetapi lebih karena saya selalu merasa tersudutkan dan seakan-akan menjadi pendosa di tengah-tengah orang-orang suci yang rajin membaca al-Quran.

Perasaaan terasing itu semakin kuat saat undangan untuk hadir dalam pengajian ini dan  pengajian itu semakin banyak dan menumpuk di rumah. Lagi-lagi saya menolak untuk datang. Saya merasa bukan orang yang religius, bukan orang dengan rutinitas ibadah yang rajin, bukan orang yang betah datang ke sebuah acara keagamaan, bukan orang yang suka membaca kitab dengan bahasa yang tidak saya pahami.

Awal kuliah, sekitar tahun 2013, saya memutuskan untuk mengenakan hijab karena sebagian besar teman-teman kuliah saya juga memakainya. Saya sering merasa malu, dengan hijab yang menutup kepala tetapi tidak bisa membaca kitab secara lancar, sementara di awal perkuliahan saya diharuskan masuk dalam kelompok-kelompok yang mewajibkan membaca al-Quran sebagai salah satu syarat untuk lulus mata kuliah Agama.

Pada semester kemarin, sebagai salah satu calon guru, saya diharuskan melakukan praktik mengajar di sebuah sekolah. Sekolah yang setiap pagi mengharuskan seluruh warga sekolah untuk membuka kitab, sekolah yang mengharuskan seluruh gerbang ditutup pukul 12 siang dan seluruh bagian sekolah harus berada di masjid. Sekolah yang kegiatannya tidak akan jauh-jauh dari atribut agama.

Batin saya terpecah, dan saya lagi-lagi merasa menjadi noda di antara orang-orang yang berusaha untuk terus dalam keadaan suci. Saya merasa terkekang. Salahkah saya? Tidak bolehkah saya menjadi tidak rajin beribadah di antara orang-orang yang berlomba-lomba memperbanyak ibadah?  Dosakah saya? Apakah neraka adalah penghukuman yang pasti untuk saya kelak?

Dengan sikap yang terlihat sombong tersebut, tidak lantas membuat saya menempatkan Tuhan di laci paling bawah. Tuhan, selalu menjadi pertanyaan paling besar dalam hidup saya. Bagi saya pribadi, Tuhan adalah kotak yang harus dibuka perlahan-lahan, menanyakan maksud-Nya, tujuan-Nya, kehadiranNya. Tidak bolehkah, di usia saya yang 22 tahun ini saya memulai mencari perenungan spiritual dari nol? Tidak bolehkah saya mempertanyakan kembali kenapa saya harus beragama ini dan tidak beragama itu? Atau haruskah saya sebenarnya beragama? Dosakah saya bertanya tentang keberadaan Tuhan?

Sejak kecil, saya mengenal Tuhan dari guru-guru di sekolah, dari para ustadz maupun ustadzah karena keluarga saya bukanlah keluarga yang taat beribadah. Tetapi pengenalan akan neraka, siksa kubur, azab dan sengsara ternyata lebih terpatri jelas di dalam ingatan seumur hidup saya selama 22 tahun.

Saya mengenal Tuhan dari ketakutan-ketakutan akan hukuman-hukuman bagi pencuri, pezinah, pembohong, dan lain-lain. Saya mengenal Tuhan dari tempat yang tidak terjangkau sebagai orang yang penuh dengan kesalahan. Maka, saya merasa tidak memiliki hak untuk dekat dengan kehadiran Tuhan, karena yang saya lakukan jauh dari pahala-pahala yang diajarkan di sekolah, di masjid, di lingkungan mana saja.

Maka, bagi saya sendiri, memilih untuk teralienasi dari lingkungan sosial adalah satu langkah berani. Saya harus menahan beragam cibiran dan tatapan tidak suka dari orang-orang sekitar. Saya juga harus belajar untuk bertanggung jawab atas keputusan yang saya ambil; untuk menjadi tersingkir dan tidak dianggap.

Erika Rizqi menulis untuk merawat ingatan, sedang berusaha mencari kebenaran dan pembenaran hidup. Menempuh pendidikan di Jurusan Sejarah.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Samyaza | 22 November 2016 | 12:40:12 WIB
1 quote yang paling menginspirasi saya waktu itu: Better to reign in hell than to serve in heaven.
Hanifah | 22 November 2016 | 19:00:21 WIB
Semangat selalu dalam pengembaraanmu Mba Erika Rizqi. Saya juga berjilbab karena lingkungan dan beragama dengan penuh ketakutan. You're not alone.
Annisa | 24 November 2016 | 21:49:49 WIB
nice kak. menurut saya, tidak ada yang salah dengan pencarian. bahkan, nabi Ibrahim saja begitu, bukan? mengira Tuhan mulanya adalah bintang, bulan, dan matahari. sepengetahuan saya, disitulah letak kelemahan kehidupan beragama di masa kita ini.. seseorang berkata pada saya, sebuah agama, apapun dan lewat siapapun penyebarnya. ya, mungkin karena kepribadian Muhammad kala itu, yang mungkin kini sulit kita hanya sebatas memahaminya secara "mudah". dulu, tauhid atau "kenalan sama Tuhan" lah yang diutamakan pada ajaran beliau. mungkin, Islam yang sekarang hanya memaknai tauhid sesederhana syahadat.. seolah "tauhid" sudah diwariskan dalam DNA kita. padahal....?
maaf kak, panjang lebar. ini hanyalah celotehan saya. tentu banyak kelemahan
Suzy | 12 May 2017 | 15:56:38 WIB
Saya akan sangat bersyukur jika saya di posisi Mb Erika karena senantiasa dikelilingi dengan orang orang yang berlomba dalam kebaikan. Agama mengajarkan kita tentang kebaikan dan kedamaian. Tinggal kitanya saja mau terbuka akan ketidak tauan kita dan mau belajar memahami dengan hati kita tentang ajaran yg kita anut. Senantiasa berdoa kepada Tuhan semoga kita semua selalu tercerahkan.
Anne | 13 May 2017 | 11:13:20 WIB
Positif thingking aja mb Erika. Terkadang masalah itu bukan datang dari luar, tetapi dari dalam diri. Change the way u see that thing. It's only about your mindset.
nurul | 02 June 2017 | 01:23:55 WIB
maaf mencoba untuk mengmentari. saya tidak ingin berniat menghardik atau mencelah tulisan yang sangat anggun ini. sekali lagi maafkan saya atas niatan untuk menulis ini, ada pertanyaan yang ingin saya tanyakan ke mba erika. kalo tidak ada ketakutan, bagaimana kita bisa di uji?
contoh ketika kita ujian penaikan kelas sewaktu SD, ketika kita tidak di kenalkan oleh ketakutan atas dasar apa kita memiliki kemauan untuk belajar?
tentu manusia sebagai mahkluk yang berakal di bekasi pengenalan terhadapan ketakutan dan keberaniaan. lantas apa gunanya kita mempertanyakan ketakutan dan keberanian itu?













Weekly Top 5