Saya Berhijab dan Saya Penari

Friday, 06 January 2017 - 11:13:37 WIB
By : Lulu Lukyani | Category: Spiritualitas - 8440 hits
Saya seorang perempuan. Saya seorang penari. Saya berhijab. Saya suka menari sejak saya masih di bangku Sekolah Dasar. Orangtua saya sampai saat ini tidak pernah mendukung minat saya ini, tetapi hal itu tidak membuat saya berpikir dua kali untuk terus belajar menari. Karena saya terlalu suka menari, dengan sombongnya saya mengatakan bahwa tidak ada yang bisa meragukan niat saya untuk terus melakukannya.

Saya tidak pernah melepas hijab ketika menari. Kostum-kostum yang saya pakai selalu saya ‘akali’ agar cocok untuk dikenakan oleh seorang yang berhijab. Awalnya saya merasa baik-baik saja dengan hijab dan hobi saya ini. Apa salahnya seorang penari menggunakan hijab? Toh, niat saya menari bukan untuk menggoda hasrat seksual penontonnya, saya menari untuk bercerita melalui tarian, untuk berekspresi dengan tubuh. Namun ternyata apa pun alasannya, penari yang menggunakan hijab tetap dianggap ganjil, aneh, bahkan tidak pantas menurut pandangan beberapa orang.

Hal tersebut baru saya sadari ketika saya mengikuti sebuah perlombaan tari, dan salah seorang jurinya mengatakan bahwa perempuan yang berhijab tidak seharusnya menari, dan perempuan berhijab tidak bisa berperan total menjadi apa yang ia tarikan karena terhalang oleh hijabnya.

“Rasanya aneh melihat perempuan-perempuan yang kepalanya tertutup dan bergeol-geol di atas panggung,” katanya. Sederhananya, berlenggak-lenggok, menggerakkan tubuh di atas panggung dianggap tidak wajar dilakukan oleh perempuan yang di kepalanya dengan rapi tersemat hijab.

Saya tidak mau melepas hijab ketika menari bukan sekadar karena ingin menjalankan salah satu ajaran agama saya. Lebih dari itu, tubuh saya merasa lebih nyaman ketika saya berhijab. Sedangkan menari bukan lagi sekadar hobi. Ia adalah wadah untuk mengaktualisasikan diri, tempat di mana saya bisa menemukan dan melihat diri saya sendiri. Dan perkara bagaimana membawakan tariannya adalah perkara batin saya ketika menari, bukan perkara penampilan.

Perdebatan antara hijab dan potensi memang sudah berlangsung lama dan sudah banyak dibicarakan, namun ‘perang’ tersebut baru berlangsung dalam diri saya. Hal yang perlu diingat bahwa apa yang dimasud potensi di sini lebih merujuk kepada hal-hal yang jika dilakukan dianggap bertentangan dengan agama.

Dari apa yang saya dengar, jika pemahaman mengenai agama terus menerus meningkat, maka lambat laun hal-hal yang bertentangan dengan agama yang dianggap sebagai potensi itu akan bisa dilepaskan, dan akan menemukan potensi lain yang bisa sejalan dengan agama. Di sini seolah-olah agama dan seni adalah dua hal yang tidak bisa berjalan beriringan. Agama menawarkan aturan dan norma, seni menawarkan kreativitas dan kebebasan, yang akhirnya menimbulkan kesan bahwa orang yang beragama akan mengalami kesulitan dalam berkesenian.

Sampai saat ini, keresahan saya sebagai penari yang berhijab belum selesai. Jika saya memutuskan melepas hijab untuk menari, saya merasa mengkhianati tubuh saya, saya merasa tidak nyaman, dan apa yang saya bawa melalui tarian tidak akan tersampaikan. Tetapi di sisi lain saya terus mencoba mencari jawaban yang bisa meyakinkan bahwa menari dan hijab bukanlah dua hal yang salah satunya harus dipilih dan salah satunya harus ditinggalkan. Dan saya tetap percaya bahwa hijab tidak akan mengikis atau menghalangi perempuan untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya.

Lantas salahkah saya menjadi penari yang berhijab? Apakah benar agama mengharamkan perempuan untuk menari? Apa memang karena pemahaman saya yang masih sangat kurang mengenai agama yang membuat saya tidak bisa pergi dari dunia seni tari? Saya tidak  yakin bisa meninggalkan dunia tari, dan saya yakin untuk tidak melepas hijab ketika menari. Salahkah saya?

Lulu Lukyani, seorang pegiat seni tari tradisional, mahasiswi jurusan Sastra Indonesia yang selalu tertarik dengan isu-isu gender.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Hening | 06 January 2017 | 16:13:10 WIB
Semangat terus mbak Lulu. Saya rasa banyak di antara teman-teman pembaca yang merasakan keresahan yang sama. Kalau menurut saya, tidak ada yang salah dengan penari yang berhijab, semua kembali pada pandangan masing-masing orang saja.
Orionion | 06 January 2017 | 17:34:54 WIB
Mbak Lulu, di kampusku malah ada loh yang aktif ikut dance hiphop dan dia berjilbab. Sama kayak mbak Lulu, saya juga nggak masalah orang yang berjilbab nari kok. Sayang banyak orang yang udah terlanjur ngasih stereotype ini itu sama orang yang berjilbab. Tetap semangat berkarya, mbak Lulu!
Putri Damayanti | 15 January 2017 | 00:13:17 WIB
hai ka lulu, sama seperti saya, saya bingung mengenai hal itu, saya menari dari kecil, dan berhijab ketika masuk kuliah, ketika itu pula saya berhenti untuk menari, sekarang jujur saya kangen banget untuk menari, kangen latihan bersama2 teman di sanggar sampe keringetan, deg2an di belakang panggung kalo mau tampil, kangen teriakan dan tepukan penonton, kangen ribet2nya beresin kostum hehe 😥
semangat ya ka lulu 😊
nasywa | 29 April 2017 | 12:21:16 WIB
assalamualaikum kak lulu..saya masih duduk di bangku sd kls 6 dan saya suka menari. sy disekolah memakai hijab namun di sanggar tari saya melepas hijabnya..dr kls 1 saya belajar menari memang tdk pernah memakai hijab. dan akhirnya masa puber pun datang tp saya bingung untuk memakai hijab atau tidak?sarannya bagaimana ya kak?aku sdh hampir dewasa dan aku ingin menutup aurat kak..tp aku masih berpikir keras..mohon sarannya ya kak..wassalamualaikum wr.wb
Hani Wibawa | 04 March 2018 | 07:38:03 WIB
Hi.. Kak sama dong kalau saya beda nya baru mau mulai blajar pakai hijab. Cuma saya masih didera rasa ragu untuk mengembangkan hobby saya ini. Kebetulan kan kita punya hobby yang sama. Apa iya cuma sekedar mengeluarkan kreativitas ga bisa dengan mengenakan hijab. Kan kita juga pasti memporsi gerakan''nya g yg terlalu aneh"gt. Tapi kalau seni tergantung jiga sih dari sudut pandang orang masing``…kak kalau mang dh semangat lagi dan yakin bagi'' tips y krna masih dilema bngtt ni
Widya Trisna | 06 March 2018 | 12:37:26 WIB
Saya suka banget sama yg namanya nari, dari saya kecil sampe SMA . Setelah itu saya kuliah dan memakai hijab. Sampe skrng alahmdulilah masih istiqomah. Tapi ttp dalam jiwa raga saya saya sangat amat ingin menari seperti dulu yg bebas, dan bahagia kalau menghafal gerakan-gerakan. Saya masih mau banget kalo emang ada komunitas untuk penari yg berhijab pasti saya akan masuk. Karena sudah lama saya tidak menari sejak saya sudah pakai hijab. Tapi dalam diri saya saya sangat amat ingin menari bebas seperti dulu. Kalo kiranya banyak yg sama dengan suara” kita ini. Alangkah bagusnya kita membuat komunitas pencinta tari yg berhijab.💕
Citra | 17 April 2018 | 10:30:44 WIB
Hai kak Lulu... saya pun merasakan keresahan yang sama. Saya pernah menari tarian tradisional dengan kostum berhijab dan itu fine dan orang-orang melihat itu ok2 saja mengingat tarian tradisional yang cenderung lebih lembut gerakannya. Namun ketika saya ingin menari dance kontemporer/modern menggunakan hijab itu menjadi dilema bagi saya. Karena seperti yang kita tahu tarian modern gerakannya cenderung lebih vulgar. Tapi bagaimanapun, sama halnya dengan mbak Lulu seni tari sudah melekat dalam diri saya dan sulit untuk saya tinggalkan. Saya merasa terkengkang ketika tak dapat mengaktualisasikan diri saya karena hijab yang orang2 anggap sebagai batasan ini..
Terimakasih mbak Lulu atas sharingnya... saya jadi tidak merasa sendiri dan sadar bahwa di luar pun ada orang2 yang berpikiran seperti saya dan ingin memperjuangkan hal yang sama :)



Weekly Top 5