Kisah Teman-teman Saya, Pria Gay yang Menikah dengan Perempuan

Friday, 24 March 2017 - 11:19:42 WIB
By : Jeffry | Category: Sosial - 84839 hits
Pada sebuah acara makan malam bersama beberapa teman, baru-baru ini, seorang teman sebut saja “Gatot” dengan nada panik meminta kami yang sedang asyik bercakap untuk diam sejenak saat hendak menerima panggilan telepon dari anak lelaki remajanya.

“Tolong diam sebentar, cong!” teriaknya dalam gaya “melambai” ala binan. Cong adalah kependekan dari bencong, bahasa slang untuk menyebut pria banci atau waria yang di masyarakat umum digunakan untuk mewakili pria gay pada umumnya.

Jari tengahnya melengkung dengan anggunnya saat menekan ponsel. Dalam sekejap ia mampu merubah dirinya dari seseorang yang selama ini kami kenal flamboyan dan laki-laki yang feminin menjadi seorang makhluk Tuhan yang sama sekali berbeda.

Tubuh (dan jemarinya) menjadi tegap, nada suaranya terdengar lebih dalam dari biasanya. Ia menjelma menjadi seorang yang perkasa, ayah yang tegar untuk anaknya. Jika saya menjadi anaknya, pasti saya tidak punya nyali untuk menjawab atau melawan perkataannya. Ia layak mendapat Oscar untuk ini. Setelah beberapa menit berbicara di telepon, dengan mudahnya ia berubah kembali menjadi sosok sebelum bicara di telepon dan gaya yang lebih mirip waria daripada seorang pria perkasa.

Gatot telah hidup sebagai bunglon. Di rumah, ia adalah ayah yang tegas, suami yang dicintai istrinya, dan menjadi ketua di lingkungan rumahnya (walaupun siapa tahu, mungkin saja ia menggunakan gaun sang istri saat ia sendirian di rumah). Di luar lingkungan sosialnya, saat bersama kami para gay, ia kembali menjadi dirinya sendiri.

Tetapi seperti pepatah yang mengatakan, sebaik-baik tupai melompat akan jatuh ke tanah juga. Setelah bertahun-tahun menikah, sang istri akhirnya mengetahui perselingkuhannya dengan sejumlah pria, meskipun kemampuannya sebagai laki-laki (termasuk di tempat tidur) untuk menutupi identitasnya sebagai homoseksual, tidak diragukan lagi.

Gatot meminta maaf kepada istrinya dan menyatakan bahwa ia tidak bisa membunuh hasratnya mencintai sesama laki-laki. Ia pasrah jika sang istri menceraikannya.

Yang mengejutkan, sang istri malah memintanya untuk tetap menjadi suami dan ayah bagi tiga anak mereka. Ia mencintai sang suami dan akan menerima suaminya apa adanya. Sang ibu mertua, yang tinggal bersama mereka pun menyatakan hal yang sama, menurutnya dari ke tujuh menantunya, Gatotlah yang terbaik. Bahkan ia menyatakan Gatot lebih baik dari anak-anak kandungnya (Gatot mengakui bahwa ia selalu menghormati ibu mertuanya dan jarang membuka percakapan dengan sang mertua, karena ia khawatir pembicaraan akan membuka identitas aslinya.)

Pernikahan pun berjalan seperti sebelumnya. Tahun lalu, pasangan ini dikaruniai anak keempat,  sang istri merasa rumah mereka menjadi sepi setelah ketiga anak tidak tinggal bersama mereka untuk menuntut ilmu di sekolah asrama.

Sang istri hanya meminta satu syarat, Gatot harus bersikap layaknya lelaki tulen di depan anak-anak mereka untuk menghindari kebingungan. Syarat ini nyatanya cukup menantang, misalnya saat anak-anaknya yang sudah mulai beranjak remaja mulai merasa ada yang salah dengan sang ayah yang menggemari warna pink atau saat melihat foto-foto sang ayah dalam busana yang stylish di akun Facebooknya.

Pernikahan gay dengan seorang heteroseksual sepertinya semakin umum dari yang kita kira. Ini adalah produk dari budaya anti-gay yang sejak lama bercokol di masyarakat yang memegang teguh nilai-nilai tradisional dan agama dimana seorang pria dewasa yang memilih tetap sendiri dipandang sebagai tidak normal dan berdosa.

Di masyarakat seperti Indonesia, bahkan seorang lelaki gay yang tangguh pun akan kesulitan untuk hidup karena homoseksual tidak memiiliki hak dalam keluarga yang mengutuk orientasi seksual mereka.

Saat seorang laki-laki memasuki usia 30-40an keluarga mereka mulai bertanya bahkan mendesak untuk segera menikah. Banyak laki-laki gay yang akhirnya menyerah pada tekanan hanya untuk mendapat status menikah agar terhindar dari konsekuensinya seperti tidak diakui, dibuang atau disakiti secara fisik dan mental.

Kembali ke makan malam kami, tiga orang sudah bercerai atau sedang dalam proses perceraian. Salah satu mantan istri mereka yang merasa sangat tersakiti membalas perlakuan mantan suaminya dengan membuat pengumuman di akun Facebooknya bahwa ia telah ditipu oleh suaminya yang ternyata gay. Satu orang lagi tetap menjalani pernikahan dengan seorang perempuan untuk alasan finansial dan satu lagi tetap bertahan dalam pernikahan yang rapuh demi anak-anak mereka yang masih kecil dan karena khawatir akan kehilangan status sosial.

Di antara mereka, hanya sayalah yang belum pernah menjalani pernikahan dengan seorang perempuan, walaupun saya pernah dilamar oleh dua orang perempuan yang luar biasa, berpendidikan tinggi dan mengetahui orientasi seksual saya. Salah satu dari mereka mengatakan, ia akan menikah dengan saya dengan beberapa syarat sementara yang satu lagi bersedia menerima saya apa adanya, tanpa syarat. Tetapi saya tetap memilih hidup sendiri dengan segala konsekuensinya.

Keduanya tetap menjadi teman baik saya hingga saat ini dan satu dari mereka telah menikah dengan seorang pria yang baik, yang masih sering mengantar istri dan anak perempuannya untuk makan malam bersama saya. Bagi sang anak saya adalah paman terbaik untuknya. Cita-citanya adalah ia ingin diwawancarai oleh saya di depan kamera TV.

Dengan teman-teman perempuan yang menyenangkan dan anak perempuan seperti ini, saya pikir saya tidak butuh seorang istri dan anak-anak.

Setidaknya, untuk saat ini.

Jeffry senang bepergian sendirian atau bersama teman-teman, ketika dia sedang tidak menulis, menerjemahkan atau karaoke. Ia masih kesulitan meluangkan waktu untuk menyelesaikan novel pertamanya.

Artikel ini diterjemahkan dari versi aslinya dalam Bahasa Inggris oleh Lenita Sulthani.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Chintia Daniati | 24 March 2017 | 23:05:43 WIB
Astagaaa mau nangis bacanya:(
GregC | 25 March 2017 | 03:06:03 WIB
Straight through my feels, bedanya cuma di umur. Kudos for the writer :)
P | 01 April 2017 | 15:10:27 WIB
Selalu heran sm orang yang bertahan didlm rumah tangga yg sudah rapuh. Entah karena gay/perselingkuhan...
Yuseii | 10 June 2017 | 05:30:48 WIB
terpaksa pasrah atau keluar negri T.T
blueisskyblue | 03 July 2017 | 21:59:13 WIB
Hi.. It's not easy to accept that your husband is gay or bisex. And I am facing that situation now. First of all, I just pray to God. Second, talk to him and offer the solutions and some helps. Menurutku, kalau dia mau berubah dan menjadi suami yang baik, we should help him. Third, mencari tahu alasan dia gay, apakah karena pergaulan atau masa lalu. Kebanyakan dari riset kecil2an yang kulakukan, gay ini karena pergaulan. So, putuskan hubungan dengan pergaulan tersebut enak or tidak enak dan carilah pergaulan yang benar. I know it will be hard. Support and mindset adalah hal terpenting.
fooled wife | 06 July 2017 | 07:13:27 WIB
@blueisskyblue Saya juga sedang menghadapi hal yang sama and it's not easy for sure, tapi saya tidak denial dan mencari kambing hitam dengan mengatakan itu salah pergaulan karena ya gay is what he is, he's made that way. Yang membuat saya marah bukan karena dia gay, tapi karena dia tidak terbuka soal seksualitasnya pada saya, memilih norma standar dengan menikahi perempuan dan ingin mendapat yang terbaik dari kedua dunia -- heteroseksual dan homoseksual. Pilihannya mungkin bisa dipahami di tengah masyarakat yang konservatif dan hipokrit ini, tapi itu pilihan egois dan sungguh tidak adil untuk perempuan yang dia nikahi. Pada akhirnya memang selalu perempuan yang menjadi korban.
no name | 07 July 2017 | 16:00:43 WIB
saya juga mengalami kasus yang sama. saya baru tau semuanya setelah menikah dan saya menerima suami apa adanya. tapi apa daya, suami malah menjadi jadi dan tidak menghormati saya sebagai istri nya.
no name | 21 July 2017 | 14:30:14 WIB
@blueisskyblue boleh minta contact nya?
maya | 09 August 2017 | 23:50:35 WIB
Sy punya sahabat seperti kasus "no name" sahabat sy baru tau stlh menikah n sdh mempunyai 3 anak.. shock smp kena darting,pernikahannya msh dipertahankan walopun dlm keadaan rapuh n diujung tanduk krn msh memikirkan anak2nya yg paling kecil baru umur 1thn.. kasihan sekali
Yunita | 05 September 2017 | 11:58:38 WIB
Selamat siang
Senang bisa membaca sharing nya
Terkait pembahasan diatas saat ini saya sedang melakukan penelitian skripsi terkait hal tersebut, sekiranya ada yg bersedia berbagi pengalaman dengan saya, saya sangat berterima kasih dan akan di jaga kerahasiaan nya
Jika ada yg mau membantu dan berbagi dengan saya
Bisa langsung wa 089646940749

Terimkasih
Salam kasih
Yunita 😊
luisa tan | 01 November 2017 | 19:11:28 WIB
saya menceraikan suami setelah menikah 20 tahun, mempunyai 2 anak remaja. Ex suami melakukan tindakan tidak senonoh dalam shower pria gym terkemuka di Jakarta. Saya dan anak2 juga member gym tersebut.

Saya tidak pernah anti gay, bahkan sepupu pun gay yang menikah legal. Yang perlu dipertanyakan adalah moralitas, sebagai tanggung jawab. Kita harus jujur terhadap diri, sehingga tidak menyusahkan orang lain, terutama keluarga. Anak istri menjadi korban. Please re think.
Hestie Putry | 03 November 2017 | 01:29:01 WIB
Berbicara tentang gay, saya punya pengalaman bersahabat dengan seorang gay. Saya adalah single parent dan punya 2 anak, saya bersahabat dengan dia sudah 6th membuat ada yang beda dengan hubungan kami, terlebih saya sebagai perempuan yang akhirnya jatuh cinta dengan seorang gay karena kebaikan dan kelembutannya terhadap saya dan keluarga serta anak2 saya yang tidak pernah ku temui pada laki2 hetero, dia juga laki2 yang menurutku hampir mendekati sempurna. Kami sempat beberapa x berencana untuk menikah saja, akan tetapi ntah mengapa slalu saja ada halangan dan dia selalu bilang takut tidak bisa memberikan kepuasan nafkah batin karena dirinya seorang gay. Bagaimana solusinya? Sedangkan saya sangat berharap dia bisa menjadi laki2 sejati dan bisa menemani saya sampai di hari tua nanti
Ryan | 19 March 2018 | 16:21:08 WIB
Saya biseks, istri juga biseks, sejak kami pacaran, kami sudah terbuka satu sama lain (bahkan sejak PDKT, kami sudah saling tahu tentang ini, karena kami teman dari kecil).

Satu hal yang pasti, saya dengan istri benar2 sayang, begitu pun istri saya, tapi kami adalah hyper yang gampang bosan, jadi dengan sesama jenis hanya untuk fun/refreshing, dan itu pun dengan meminta persetujuan satu sama lain sebelumnya.

Memang kehidupan seks kami itu terdengar aneh, tapi kami berada di pergaulan upscale, dan banyak sekali variasi seks, seperti swinger, escort, "arisan", striptease, dll.
Pian | 02 April 2018 | 05:08:19 WIB
Gay bukan karna pergaulan, emang dari kecil sudah begitu, meskipun saya mncoba merubah diri sbg pria sejati, tapi hati saya tetap gay



Weekly Top 5