Kutukan Bagi Penderita Gangguan Jiwa Itu Bernama Stigma

Tuesday, 11 April 2017 - 10:55:28 WIB
By : Winaring Suryo Satuti | Category: Sosial - 9269 hits
Isu kesehatan jiwa memang tidak pernah seksi untuk dibahas, tidak seseksi isu agama dan politik, sehingga keberadaannya tersingkirkan. Padahal depresi dan gangguan mental lainnya adalah faktor utama seseorang memutuskan bunuh diri. Penyebab depresi dan gangguan mental lainnya bisa apa saja, dan dalam kondisi yang parah dan tanpa pertolongan tenaga kesehatan profesional, para pengidap bisa mengakhiri hidupnya.

Saya bukan pengidap depresi tapi saya adalah seorang penyintas sekaligus relawan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Pusat. Saya adalah seorang skizoafektif, yang artinya saya memiliki lebih dari satu gangguan mental. Saya adalah pengidap skizofrenia paranoid, bipolar tipe manik, dan gangguan kecemasan.

Saya pernah melakukan percobaan bunuh diri pada 2013 karena tekanan halusinasi dan delusi yang kuat. Saya sudah tidak bisa membedakan realitas dengan halusinasi. Batas itu mengabur. Orangtua saya yang menganut paham Kejawen yang kuat, alih-alih membawa saya ke tenaga kesehatan profesional malah menggiring saya ke berbagai paranormal atau ‘orang pintar’. Bahkan bukan hanya sekali saya mengalami ruqyah (metode penyembuhan dengan cara membacakan sesuatu, biasanya ayat-ayat, pada orang yang sakit).

Bermacam ritual lain sudah saya lakukan seperti mandi air garam dan kembang, sembelih kambing, digosok batu, disuruh minum air dengan bacaan ayat al-Quran di dalamnya, dibacakan berbagai mantra, dan menanam berbagai sesajen dan menempel mantra di sudut-sudut rumah. Bahkan yang lebih absurd lagi, lantai kamar saya pernah ditaburi garam krosok (sea salt), membuat kaki saya tidak nyaman menginjaknya.

Akhirnya pada April 2014, setelah saya mengundurkan diri dari pekerjaan karena penyakit saya, saya merengek kepada orangtua untuk memeriksakan diri ke psikiater. Hari itu juga saya didiagnosa skizofrenia paranoid. Seingat saya, obat yang diresepkan kepada saya adalah obat racikan, terdiri dari Godovil, Stelanzine, CPZ, dan Haloperidol.

Gemetar, jantung berdebar keras, tremor, tidak bisa berpikir dan gerak tubuh seperti robot, itu semua saya rasakan setelah meminum obat tersebut. Ibu menyarankan saya untuk memperkecil dosisnya, jadi kapsulnya saya buka, bagi separuh isinya dan saya masukkan ke kapsul yang lebih kecil. Tapi meskipun dosisnya sudah dikurangi, efek sampingnya masih mengerikan.

Selain tidak cocok dengan obatnya, berobat di rumah sakit swasta berbiaya mahal. Atas saran kakak saya, saya berobat ke puskesmas dan di sana saya diberi Haloperidol, CPZ, dan THP. Efek samping CPZ membuat saya selalu mengantuk dan ingin tidur. Berkali-kali saya tidur pulas selama dua hari. Akhirnya saya hentikan pemakaian CPZ setelah mendapat persetujuan dari dokter.

Selama satu tahun saya menganggur dan hari-hari saya dipenuhi kecemasan sampai saya membenturkan kepala ke tembok sampai benjol saking frustrasinya. Akhirnya saya memutuskan mulai melamar pekerjaan lagi dan di awal 2015 mendapat banyak panggilan tes dan wawancara. Namun pengaruh obat membuat saya merasa kecerdasan saya menurun. Pada malam sebelum saya melakukan tes psikologi, saya minum obat THP dan Haloperidol. Esok harinya, saat saya mengerjakan tes Kraeplin, sebuah tes penjumlahan yang mudah, butuh waktu lebih dari satu menit untuk menjumlahkan sekedar 5+8. Saya pun menghentikan konsumsi THP, tinggal Haloperidol saja yang saya minum.

Saya terus mencari obat yang paling cocok, berganti-ganti dari Abilify, Seroquel XR, Olanzapine, Risperidone dan Dogmatil. Semuanya tidak sesuai, malah semakin memicu halusinasi dan delusi. Akhirnya saya kembali menggunakan Haloperidol. Sayangnya, Haloperidol memiliki efek samping gangguan kecemasan, sehingga mau tidak mau harus diimbangi dengan benzo (obat penenang) lunak seperti Clobazam. Saya tidak berani meminumnya terlalu sering. Selama gangguan kecemasannya bisa saya tahan, saya lebih baik menahannya. Saya minum benzo hanya benar-benar darurat untuk mencegah terjadinya ketergantungan.

Sekarang saya sudah bekerja selama dua tahun di sebuah perusahaan dan dalam kondisi stabil. Haloperidol pun saya larutkan dalam air dan saya minum seperempat gelas setiap malam. Dosis yang aman, tidak terlalu membuat saya mengantuk dan saya bisa bekerja esok harinya tanpa diganggu halusinasi dan delusi.

Itulah sekelumit cerita saya, sengaja tidak saya buka bagian horornya. Namun ada satu hal yang saya perhatikan setelah saya bergabung dengan grup-grup kesehatan jiwa. Sebagian orang lebih suka mendiagnosa sendiri berbekal ilmu dari Mbah Google dibandingkan memeriksakan diri ke psikiater atau konsultasi ke psikolog. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa mereka takut dikenakan stigma oleh masyarakat, tetangga, saudara jika mereka ke psikiater atau ke psikolog.

Padahal gaya hidup manusia modern saat ini yang serba cepat membuat manusia rentan terkena depresi dan gangguan mental lainnya. Bagi orang-orang yang sudah depresi berat, meskipun beban hidupnya terasa biasa saja dan dianggap bisa menanggungnya, percayalah, kalian tidak tahu apa yang ada di benak mereka. Pikiran-pikiran negatif itu terus bermunculan. Saking negatifnya mereka sudah masuk ke jurang keputusasaan, dan ketika mereka kehilangan teman bicara maka bisa jadi bunuh dirilah jalan keluarnya.

Dengan pengalaman panjang saya, saya pun menyadari sebagian besar masyarakat di Indonesia lebih memilih dibilang kena guna-guna, pelet, atau gangguan jin dibandingkan mereka harus mengakui bahwa ada masalah dengan otaknya. Jika pada penderita skizofrenia produksi dopamin yang berlebihan memicu munculnya halusinasi dan delusi, maka penderita depresi dipicu kurangnya produksi serotonin dan melemahnya bagian otak yang bernama prefrontal area.

Penderita skizofrenia dapat dibuat stabil dengan cara terapi CBT (Terapi Perilaku Kognitif) dan terapi obat dengan antipsikotik, antiatipikal maupun atipikal. Pasien  bipolar bisa diobati dengan mood stabilizer, sementara depresi dengan antidepresan, dan gangguan kecemasan dengan benzo.

Salah kaprah yang luar biasa besar di masyarakat mengenai gangguan jiwa membuat edukasi untuk masyarakat terasa sulit sebab kebanyakan dari mereka menyangkal. Bahkan suatu kali saya pernah bertemu seorang dokter umum yang menghakimi saya. Beliau mengatakan saya terkena gangguan jiwa karena saya kurang beriman, kurang rajin shalatnya, kurang mendekatkan diri kepada Tuhan. Aneh, saya pikir. Dokter, yang seharusnya belajar mengenai neurotransmitter dalam otak, mengapa bisa sampai hati menuduh saya kurang beriman? Dapat ilmunya dari mana?

Dokter ini mengaku mantan penderita depresi dan berhasil sembuh hanya berbekal keyakinan, doa, dan ibadah yang kuat. Sedangkan saya yang skizoafektif , apa saya tidak akan kambuh kalau lepas obat? Saran yang menurut saya sangat mengerikan dari seorang dokter kepada pasiennya. Adakah seorang dokter yang menyarankan pasiennya berhenti minum obat, padahal sudah tahu pasiennya pengidap gangguan mental? Untung saja, saya tidak mengikuti sarannya dan tidak mau bertemu lagi dengannya.

Memang sejak saya meminum obat itu penglihatan saya memburuk, mata saya menjadi minus dan silindris. Tapi tidak apa-apa, risiko memakai kacamata saya ambil dibandingkan harus kumat dan mengalami mimpi buruk setiap malam. Sungguh mengerikan. Bahkan berpikir pun tak nyaman.

Akhir cerita saya ingin mengatakan, saya akan terus berjuang melawan stigma. Saya tidak peduli saya dicemooh gila oleh orang-orang. Walaupun saya tidak bisa memukul orang-orang yang mengejek saya, paling tidak saya bisa mendesis dan menggeram untuk membalas perbuatan tidak menyenangkan mereka. Saya memang memiliki gangguan otak, tapi saya tidak bodoh. Kami tidak bodoh. Kami berdaya, kami mampu, dan kami kuat. Saya akan terus berjuang bersama teman-teman yang lain dalam mengedukasi masyarakat dan menyebarkan kebaikan.                                                                                                                       
Winaring Suryo Satuti adalah seorang skizoafektif, penyuka kucing belang tiga, gendut dan berhidung pink. Seorang petualang dalam pikiran.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
matilda j | 11 April 2017 | 15:03:22 WIB
This hits way too close to home. Saya mengidap MDD, PTSD, BPD dan sedang dalam terapi kognitif serta obat2an setraline, clobazam, attivan, etc. Saya kagum akan tekad penulis untuk sembuh dan berusaha untuk terus meminum obatnya.Sedangkan saya sudah beberapa kali menyerah untuk minum obat2an karena efek sampingnya yang begitu menganggu (mual, gangguan berpikir, dll).Tapi sebagai seseorang yang mengalami gangguan jiwa, harus saya akui bahwa obat2an membuat saya berfungsi.
Terima kasih atas tulisan yang menginspirasi. Semoga saya bisa mengikuti jejak penulis untuk melawan stigma dan menyebarkan kebaikan.
Winaring Suryo Satuti | 11 April 2017 | 18:49:53 WIB
Terima kasih mbak matilda...jangan pernah putus asa...terus berjuang ya mbak :)).
Kita ada di pihak yang sama. Mbak nggak sendirian :)
Indah | 11 April 2017 | 19:24:26 WIB
Halo ka, dimana ya saya bisa bergabung menjadi relawan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) ? Terima kasih
Umar | 11 April 2017 | 20:54:43 WIB
Halo Indah. Anda bisa bergabung menjadi relawan KPSI di alamat: Jl. Limo No. 26A, Balimester, Jatinegara, Jakarta Timur, 13310. Untuk Kontak silahkan tlp di (021) 8514389. atau gabung di group KPSI facebook di https://web.facebook.com/groups/skizofrenia/
malena | 11 April 2017 | 22:20:59 WIB
Saya pengidap skizofrenia ringan dan PTSD. Dan saya ingin sekali bergabung dengan kalian. Saya berterimakasih kepada penulis karna telah memuat artikel ini sehingga saya merasa bahwa saya tidak sendirian. Apakah saya bisa menjadi relawan KPSI?
Winaring Suryo | 12 April 2017 | 08:44:52 WIB
Hai mbak malena. Bisa banget...mbak bisa lihat info mengenai kpsi di komen diatas sebelum mbak, di komennya mas umar. Atau search grup Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia di faceebook dan hubungi personal mas bagus utomo, admin grup sekaligus Ketua KPSI. Semangat berjuang mbak :)
Nurul Safitri | 12 April 2017 | 12:24:45 WIB
Terima kasih Mbak Winaring sudah berbagi. Menginspirasi banget.. Saya jg penyandang Bipolar dan ikut komunitas support group Bipolar Care Indonesia. Mungkin kalo ada kesempatan, kita bisa berkenalan lebih jauh ya. Mbak Matilda juga kalau tertarik :)
Ayo semangat lawan stigma!
Leila | 13 April 2017 | 09:42:33 WIB
Thank you so much mbak for your writing.
It does shed me a tear hehe.

I do have depression and anxiety disorder also panic attacks that kills me slowly since i was 14.
Dan orangtua ku tetap memaksakan pendapat mereka bahwa im doing fine dan aku bisa survive sendiri :)

Which is engga sama sekali.
lia | 13 April 2017 | 12:30:52 WIB
hallo kak.

pacarku sedang mengalami depersi, saya dan dia seorang mahasiswa, kami tidak tau harus konsul ke siapa, dia takut untuk cerita ke orang tuanya, sedangkan dia tidak ada uang untuk konsul ke psikolog. kira-kira ada tidak komunitas atau kumpulan psikolog yg memberikan konsul untuk kami yang punya masalah seperti diatas. terimakasih kak
yong | 13 April 2017 | 15:03:25 WIB
thanks for sharing mbak winaring. I have mental health issue too mbak. depression and anxiety dissorder. I dont know when it's started but the 2nd semester of 2014 was the peak. I seek professional help's in early 2015. gue ke psikolog puskesmas and she's so judgemental and I hate her coz she didnt help me but judge me. then, gue ke psikolog di klinik kampus gue, and thanks God she understood about my problem. setelah itu agak enakan gitu and now I still struggling with it. si D dan AD ini datang dan pergi suka hati mereka. Jadi gue kesel. tapi bener deh mbak, orang2 tu gak tau bahwa kesehatan mental tu sama aja kyk kesehatan fisik. orang sakit mental tu harusnya berobat ke tanaga kesehatan bukan malah dibawa ke paranormal atau ke tempat2 rukyah.

orang sakit jiwa itu butuh disayang juga jangan malah dijauhin..
yong | 13 April 2017 | 15:04:24 WIB
gue punya cerita sedih mbak, setengah tahun yang lalu Pakdhe gue bunuh diri lantaran depressi karena disalahkan oleh om gue soal tertabraknya anak kambing milik om gue. pakdhe gue itu punya riwayat sakit seperti mbak. dia dulu sering cerita lok ada bisikan2 untuk dia, dia juga sering bicara sendiri dengan temen dia yang ada di pikiran dia, dia juga masih konsumsi obat2an dari psikiater rumah sakit jiwa. tiap bulan kontrol juga. tapi gara2 om gue yang gak tau diri itu, keadaan pakdhe gue malah tambah parah. bahkan beberapa hari sebelum dia bunuh diri, dia selalu bilang lok dia mau mati, bahkan dia pernah nekat minum obat banyak sekali supaya dia gak bangun lagi. sedih bgt rasanya aktu tau kabar dia meninggal bunuh diri. gue merasa gue salah karena gue gak bisa mencegah hal itu. sedih bgt rasanya kehilangan dia, padahal dia itu orangnya baik :(
matilda j | 13 April 2017 | 15:55:39 WIB
Terima kasih atas saran, ajakan, dan semangatnya. Kita berjuang bersama :)

Untuk yang lain, ada page facebook tentang mental health awareness yang saya rasa cukup membantu, namanya into the light: https://www.facebook.com/IntoTheLightID/?fref=ts. Adminnya sangat responsif dan cepat membalas chat.
Winaring | 14 April 2017 | 00:35:50 WIB
Sama sama mbak nurul safitri :). Saya juga member BCI loh, hehe...hayuuk kita kenalan ;D
Winaring | 14 April 2017 | 00:39:37 WIB
Sama sama mbak yong :)). Tetep semangat ya. Betul sekali orang2 seperti kita butuh dimengerti, sayangnya kita harus pintar2 mengolah hati dan emosi jika orang belom mengerti kita :).

Turut berduka cita ya mbak yong atas kejadian yang menimpa pakde nya :'((
Maka dari itu, inilah pentingnya mengedukasi masyarakat mengenai kesehatan jiwa, untuk memperkecil kasus bunuh diri.
Winaring | 14 April 2017 | 00:42:47 WIB
Sama sama mbak leila :) . Tetap semangat ya! Carilah komunitas seperti komunitas All About Penyakit Jiwa di facebook atau into the light untuk bergabung agar mbak nggak merasa sendirian dan punya teman2 untuk berbagi :)
Winaring | 14 April 2017 | 00:47:03 WIB
Hai lia...
saya bantu jawab ya...bisa coba ikutan komunitas into the light di facebook seperti kata mbak matilda j, atau gabung di grup Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia, hubungi adminnya mas bagus utomo, beliau kadang mengadakan konsultasi psikolog gratis dan murah meriah, bayarnya seikhlasnya. Atau bisa japri saya lewat facebook, cari saja nama saya, saya punya dua psikolog relawan KPSI yang bisa dibayar seikhlasnya...semoga informasinya membantu ya! Tetap semangat :)
Hetih | 08 May 2017 | 12:53:09 WIB
Dari kemarin baca itu lupa mau komen. Kucingku titip salam buat kucing belang tiga, gendut, berhidung pink. :)
Winaring | 20 May 2017 | 20:22:33 WIB
Titip salam juga buat kucing mbak hetih dari kucing impian yang belom saya punyai :3
Anita fransisca | 11 September 2017 | 20:24:08 WIB
Baca ini sambil nangis. Tanpa bermaksud nyama-nyamain but i understand how it feels. Tahun 2016-2017 ini berat cobaannya karena akhirnya terpaksa resign dari kerjaan krn anxiety+depression yg semakin parah. Halusinasi+pikiran tdk rasional semakin tidak terkontrol.
Berhenti melakukan pengobatan krn paranoid akan ketergantungan obat+kemungkinan tidak akan sembuh.

Terima kasih sudah share cerita inspiratifnya mbak :') sebelumnya aku selalu enggan harus berbagi cerita karena stigma yg ada. But now i know im not alone.

*send hugs and love*
Sunflower | 11 September 2017 | 20:52:49 WIB
Buat yg mau cari psikolog yg terjangkau financially, biasanya di kampus ada. Sy dulu pernah jadi klien psikolog kampus sy dan itu murni gratis, jadwal fleksibel dan bisa chat setiap saat via any messenger yg disepakati. Emang sy di kampus ptn sih. Kurang tahu kalo kampus non ptn ya.
Ayu Nuarida | 13 September 2017 | 18:04:05 WIB
sebagai penderita bipolar aku tahu sekali rasanya jadi TS
di judge sama dokter umum bahkan disuruh berhenti setelah berhenti 6 bulan aku balik minta rujukan karena kondisiku lebih parah
nurin | 29 October 2017 | 10:54:14 WIB
sejak 1,5 tahun lalu saya insomnia, dulu bisa sama sekali tidak tidur 3 minggu lebih, tapi bukan tanpa sebab, ada masalah dengan teman sekamar...beberapa waktu lalu saya didiagnosa psikiater bipolar, lusa mau tes mmpi...apakah mmpi bisa membedakan bipolar, borderline, atau lainnya?
widya | 23 February 2018 | 23:59:16 WIB
Saya pengidap bipolar akut. Ini karena saya jua mengidap penyakit hypertiroid jadi hormon yang ga seimbang kadang mempengaruhi saya. Saya sempat direhab sih gara2 kecanduan narkoba. Karena saya berhalusinasi sangat parah bahkan saya tidak ingat keluarga lagi. Sebenarnya saya ingin ikut kegiatan2 seperti kakak. Sayangnya dibanjarmasin ga ada. Kadang saya kalo ga ada kegiatan pikiran menerawang. Tapi saya masih berobat tapi dipuskesmas aja soalnya kalau dirsj berobatnya mahal kalau dipuskesmas gratis. Tapi untuk obt di rsj saya dikasih -fluxetin -depacote -amitripilin. Awal detok sih dikasih colzapin. Kalau dipuskesmas saya dikasih -alprazolam, lorazepam, haloperidol dan fluxetin.



Weekly Top 5