Perempuan Pulang Malam Bukan Perempuan ‘Nakal’

Wednesday, 20 September 2017 - 12:07:11 WIB
By : Ge Tilotama | Category: Sosial - 23749 hits
Perempuan, terutama yang bersuku Jawa, akrab dengan petuah “anak perawan jangan pulang larut malam”. Setidaknya itu lah yang ditanamkan ibu kepada saya selama 18 tahun tinggal bersamanya.

Saya masih ingat betul waktu itu saya ada pertemuan dengan teman-teman pencinta alam selepas Isya dan baru pulang pukul 12 malam. Ibu saya marah pada saya sampai menangis, lalu tidak bicara dengan saya sampai besok sorenya. Beliau juga berkata, “Kamu tuh anak perempuan, perawan dan kerudungan, kok pulang malam? Saru (tidak sopan) dilihat tetangga.”

Peristiwa itu menyebalkan sekaligus menyedihkan bagi saya. Bagaimana pun saya memiliki pembelaan bahwa saya pulang selarut itu untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman, senior dan alumni pencinta alam di suatu angkringan sekitar Tugu Muda. Hanya ngobrol perihal organisasi dan berbagi masalah pribadi selayaknya hubungan persaudaraan sambil menikmati kopi pahit dan gorengan. Tidak ada tindakan yang melanggar agama dan hukum, dan tidak ada yang dirugikan. Tapi saya harus mendapat tuduhan seberat itu hanya karena pulang lebih malam dari biasanya.

Waktu itu saya marah pada Ibu karena bagi saya tidak ada kaitannya antara anak perempuan, kerudung dan pulang malam. Pikiran saya memberontak sampai akhirnya saya ingin tinggal jauh dari orang tua saya. Karena kontrol yang kuat dari orang tua bahkan ketika saya sudah berumur 17 tahun ke atas membuat saya tidak bisa mengeksplorasi diri dan lingkungan saya dengan baik. Saya selalu kebingungan ketika harus pergi jauh sendirian meskipun itu di kota sendiri; saya tidak tahu toko buku selain Gramedia; saya jarang naik gunung dan saya tidak tahu jalur angkutan kota di Semarang. Saya berpikir, lepas dari kontrol orang tua adalah cara membuat saya mandiri, dan tentunya terlepas dari kekangan-kekangan konservatif dan tidak masuk akal.

Akhirnya saya memutuskan merantau dan kuliah di Yogyakarta dengan harapan bisa terbebas dari kontrol berlebih terhadap diri saya dan sebagai perempuan pada umumnya. Namun, ekspektasi saya runtuh ketika sejak saya pindah di kos baru. Salah satu anak kos ada yang mengaku, “Aku kira kamu anak nakal, Ge”. Ketika saya bertanya mengapa, ia menjawab, “Pertama kali aku lihat kamu, kamu pakai kaos hitam dan kemeja denim enggak dikancing, enggak rapi banget penampilanmu. Terus suka bawa gitar. Apalagi kamu suka pulang larut malam bahkan pagi.” Saya tercengang karena di sini ternyata tidak hanya ibu-ibu yang melihat perempuan dan pulang larut malam memiliki sebagai perilaku ‘nakal’, bahkan anak muda yang sedang menempuh semester enam di bangku kuliah juga berpikir demikian.

Pun pada konteks sehari-hari tentu kita juga kerap mendengar banyolan, “Ah kamu cewek alim dari mana? Suka pulang pagi begitu.” Atau, “Kerudungan sih tapi kok sukanya pulang larut malam.” Biasanya kalimat seperti itu juga dilontarkan oleh teman sebaya, baik laki-laki mau pun perempuan. Hal ini membuat saya berpikir bahwa bukan salah ibu saya ketika marah karena saya pulang larut malam, bukan salah teman kos saya yang mengira saya anak nakal karena suka pulang pagi dan bukan salah teman-teman saya yang menyayangkan perempuan berkerudung tapi suka pulang larut malam. Mereka hanya hidup dan menghidupi konstruksi yang sudah membudaya pada masyarakat, sayangnya hal itu membelenggu perempuan, terlebih jika ia berkerudung.

Saya sudah berada pada titik lelah mencari hubungan antara perempuan, berkerudung dan pulang malam. Beberapa orang juga ada yang mengaitkannya dengan keperawanan. Konstruksi yang menjadi kontrol berlebih ini hanya menyerang perempuan. Anak perempuan dikontrol untuk tidak pulang malam agar tidak meresahkan tetangga kanan-kiri. Tidak peduli apa yang ia lakukan sampai selarut itu, pulang sendiri atau dengan temannya, jalan kaki atau naik kendaraan, sangat tabu jika perempuan pulang larut malam. Beberapa mengatakan karena alasan keamanan. Apakah kami, perempuan sumber dari tidak amannya jalanan di malam hari? Jika pun alasannya adalah keamanan, mengapa ada yang mengaitkannya dengan konsep “perempuan nakal”?

Meskipun  pada akhirnya memutuskan untuk menutup telinga dengan pendapat teman-teman soal kebiasaan saya pulang larut malam bahkan pagi, tapi saya tidak bisa membuang rasa iri saya terhadap teman ngopi sampai pagi yang kebanyakan adalah laki-laki. Orang tuanya tidak merasa khawatir dengan kebiasaannya pulang larut malam atau dini hari. Sedang saya harus menutupi kebiasaan saya ini kepada Ibu untuk sekedar membuatnya sedikit lebih tenang dan tidak perlu merasa malu entah kepada siapa jika tahu anak gadisnya yang berkerudung suka pulang larut. Saya memilih untuk menutup telinga pada anggapan orang lain sebagaimana mereka menutup mata dari kegiatan saya yang sampai selarut ini.

Bagi saya, baik perempuan mau pun laki-laki tidak memiliki batasan waktu untuk mendefinisikan dirinya. “Ia pantas pulang pagi karena ia laki-laki” dan “ia seperti perempuan jalang karena suka pulang larut malam” adalah kalimat yang sangat tidak adil. Karena seharusnya kita sebagai manusia, anak muda pada khususnya, kapan pun, di mana pun, baik itu laki-laki mau pun perempuan punya kesempatan yang sama dalam hal mengeksplorasi diri.

Ge Tilotama sedang menempuh semester enam di jurusan Sosiologi Universitas Gadjah Mada. Bisa diajak ngopi atau makan es krim sampai pagi sambil ngobrol ringan. Bisa dihubungi kapan saja di twitter @getilotama.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Gina | 20 September 2017 | 13:59:11 WIB
Saya merasakan hal yang dirasakan oleh penulis, dimana ketika saya seorang perempuan berusia 24 tahun dan tidak dibolehkan pulang malam oleh ibu saya sendiri. Saya ingat betul beliau bilang, "Pakai kerudung, jangan pulang malam-malam" atau sejenisnya.
Bagi saya, memang tidak ada korelasi antara perempuan, kerudungan, dan pulang malam. Baru-baru ini saya mengalami catcall kembali dan kali ini dari lelaki usia sekitar setengah abad yg memakai baju koko dan sarung. Saat itu kejadiannya jam 7 malam saya baru pulang kerja dgn pakai baju lengan panjang, rok semata kaki, dan kerudung. Sungguh tidak ada korelasi antara pakaian seperti apa yg digunakan, jam pulang, dan hal-hal "sindiran-sindiran" yg mungkin saja terjadi di jalan.
Rantika | 20 September 2017 | 19:07:39 WIB
Saya pun juga pernah berargumen dengan ibu saya karena saya dimarahi lantaran pulang jam 10 malam, dengan alasan saya seorang perempuan. Saya berdalih dan tidak setuju hanya karena saya seorang perempuan lantas langsung dihakimi karena pulang malam, sementara adik saya yang laki-laki dibiarkan pulang di atas jam 12 malam. Berlakukan jam malam untuk keselamatan semuanya bukan berdasarkan jenis kelamin.
ginaaprilaw | 20 September 2017 | 19:30:04 WIB
Saya interest nih sama tulisannya, kebetulan lg berkonflik dgn adik perempuan saya soal perempuan boleh tidak sih pulang malam atau nongkrong sama temen sampe larut. Saya bukan org yang tidak pernah tidak pulang malam atau nongkrong dengan teman, baik laki atau perempuan sampe larut. Tapi ketika saya d posisi sbg kakak, dan melihat adik perempuan saya pulang malam lewat jam 10 malam misalnya habis nongkrong atau apalah sampe larut ada feeling yang tidak bisa saya jabarkan. Dalam benak saya muncul kalimat "eh, kok ga pantes ya ternyata keliatannya anak perempuan pulang malam". Jatuhnya lebih ke feeling, negatif thinking. Khawatir semisal org lain berpikiran negatif ttg orang terdekat kita tsb. Semacam ada perasaan tdk rela kalo ada org lain yg berpikiran negatif ttg orang terdekat kita.
Ruby - Astari | 21 September 2017 | 06:40:03 WIB
Lebih "nakal" mana, perempuan pulang malam karena harus bekerja mencari nafkah untuk keluarga atau laki-laki pengangguran tapi kerjanya siang-malam siul-siulin sama manggil-manggil perempuan lewat di jalan?

I seriously don't get these people.
asasudin | 21 September 2017 | 09:12:28 WIB
saya laki laki saya respect dengan artikel Anda, mari kita lebih fokus "building the new" daripada "fighting the old" biar kita lebih terlepas dari blame, excuses, justify an complain.
inu | 21 September 2017 | 16:06:49 WIB
Sebagai kaum adam saya tidak bisa menyalahkan ibu saya atau ayah saya karena saya terlahir sebagai lelaki apa lagi saya menyalahkan tuhan. Kaum adam serasa punya previlage untuk melakukan apapun dibandingkan kaum hawa. Saya sering sekali ngobrol/ nongkrong sampai pagi dengan teman cewek n cowok beramai2 di alun2 atau di GOR atau distadion setiap malam minggu di tanggapi biasa saja sama warga sekitar. Kalu menurut saya memang kebiasaan dari suatu lingkungan saja yang membuat ada justify semacam itu.
Nilai dan norma yang terbentuk di masyarakat general masih pola pikir lama, pola pikir generasi X.

Sepakat dengan mas din diatas. Yuk bangun yg baru dan tidak usah repot memerangi yang lama, toh nanti kalaubsudah terbiasa pasti akan berubah juga. Mengalir bagai air.

salam respect.

Inu
Vania | 21 September 2017 | 23:18:18 WIB
Ya, nyesek banget sih. Sebagai pekerja kreatif yang harus cari ide sampai larut malam, dan kerja juga baru mulai setelah magrib, nyesek ketika mama bilang "dulu mama jaga harga diri, ga pernah pulang di bawah jam 10 malam. biar ada harganya di depan laki laki" bahkan tidak jarang jam 6 sore sudah di telpon papa "sudah malam, waktunya pulang, ga baik perempuan pulang malam malam" dan ujung ujungnya pacar yang disalahkan karena memulangkan jam11-12. Padahal hanya karena meeting di kafe dan manggung musik, cari duit agar mandiri. ckckckck.. mungkin harus kantoran, jam 6 dirumah baru disebut cewe baik baik ya?
Arini | 24 September 2017 | 20:26:37 WIB
Karena kita belum jadi orang tua, mungkin belom sepenuhnya merasakan.. ni saya kasih point of view dr sisi ortu. Dgn jaman sekarang yg pergaulannya bebas dan terbuka, banyak cerita miring sana sini, maka sangat wajar ortu cemas dan kuatir, apalagi anak cewek..
Coba pahami dulu dr sisi ini deh mbak, krn besok anda pun akan jadi ortu.. nah setelah itu, coba diclearkan cari jalan tengah. Misalnya kalo memang mengharuskan pulang malam ya wajib ngabarin sebelumnya.. dan beri pengertian baik2 kalo ortu agak kurang berkenan..
Tapi kalo orang lain yg banyak ngomongin sih, ya emang udah culture sini demen ngurusin urusan orang.. kalo saya sih cuek.. hehehe
Tp yg penting ortu tau kita gak ngapa2in. Sebisa mungkin kita tetap harus hormat dan paham dgn kondisi mereka.. Itu aja sih kalo saya..
tmi_tmi | 27 September 2017 | 09:25:02 WIB
Ibu akan tenang jika anaknya pulang malam, tapi bawa bekal, yaitu peniti, bawang, dan gunting.
anggi | 29 September 2017 | 12:18:56 WIB
saya perempuan, berkerudung, dan suka pulang pagi, there's nothing wrong with that. nggak usah mikir terlalu banyak, enjoy aja, terkadang mendobrak konformitas bisa menjadi suatu hal yg menyenangkan loh eheheheheh anyway saya juga mahasiswa dan saya tau rasanya jadi kamu. tetep semangat ya~
andi | 30 October 2017 | 20:47:46 WIB
masing masing kita tidak boleh membenturkan prinsipnya masing masing, ini masalah adat, adat mempengaruhi masyarakat yang tinggal dengan adat tsb, menurut saya wanita identik dengan kehormatan, hormat, menghormati dan dihormati, tidak pulang malam ialah salah satu cara untuk menjaga kemormatannya dia, untuk menjaga agar selalu punya sikap hormat, untuk tetap menjaga sifat menghormati orang tua, dan menjaga penghormatan atas dirinya.. terima kasih



Weekly Top 5