Berempati dengan Trans Laki-Laki, Menyuarakan yang Tak Terdengar

Thursday, 04 January 2018 - 10:38:23 WIB
By : Abhipraya A. Muchtar | Category: Gender & Seksualitas - 2287 hits
Minggu sore itu saya berangkat ke Mal Kota Kasablanka untuk bertemu teman-teman dari unit kegiatan mahasiswa silat semasa kuliah di Yogyakarta. Sudah hampir lima tahun kami tidak berkumpul setelah satu per satu lulus dan tersebar di berbagai kota, termasuk Jakarta. Masa kuliah banyak kami habiskan dengan berbagi es teh di angkringan setelah latihan. Karena itu, saya sangat bersemangat untuk kembali duduk bersama dengan keluarga kecil ini.  Saat berjumpa dengan mereka, muncul pertanyaan dari salah satu teman saya.

“Sekarang kita manggil kamu apa, nih?”

Pertanyaan ini bagaikan dua sisi pedang bagi kami, trans laki-laki. Perasaan bercampur aduk pun datang kala memikirkan tanggapan yang bahkan belum terlontarkan dari teman-teman kami. Apakah kami akan diterima dengan baik, atau malah dihakimi? Rasanya seperti kembali memperkenalkan diri pada orang-orang yang sudah lama mengenal kami.

Tidak banyak yang tahu bahwa ada orang-orang macam kami di Indonesia. Hanya beberapa kalangan yang berkesempatan untuk berinteraksi langsung dengan trans laki-laki, terutama mereka yang bersinggungan langsung secara isu maupun kehidupan sosial.
Apa yang membuat trans laki-laki menjadi asing di negeri ini?

Menurut Ryan Korbarri dari Arus Pelangi, permasalahan yang terjadi pada komunitas trans laki-laki adalah kurangnya eksistensi dan keterlibatan langsung trans laki-laki dalam gerakan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Berbagai konflik internal dalam komunitas trans laki-laki menyebabkan komunitas ini belum bisa merumuskan dan menyuarakan isu bersama.

“Selama ini yang dibahas hanya permasalahan transisi menjadi laki-laki. Tapi masalah-masalah lain seperti akses, citra tubuh, dan isu-isu krusial lainnya enggak pernah dibahas,” jelas Ryan.

Citra tubuh normatif yang mengikuti laki-laki berpengaruh pada citra diri trans laki-laki. Misalnya, seorang laki-laki harus memiliki kumis, janggut, tubuh berotot, dan dada yang rata. Padahal, banyak laki-laki cisgender yang tidak memiliki ketiga hal tersebut, dan itu tidak membuat mereka menjadi “kurang laki-laki”. Hal ini menimbulkan diskriminasi bagi trans laki-laki yang memiliki ekspresi gender nonbiner dan tidak melakukan transisi tubuh. Citra diri ini kemudian membentuk pola transisi pada trans laki-laki, yaitu transisi sebagai laki-laki secara fisik, mengganti identitas, dan menikah. Menikah seolah menjadi tujuan akhir transisi. Syarat sebagai upaya validasi terhadap identitas mereka sebagai laki-laki.

Lini Zurlia, seorang aktivis perempuan, mengatakan bahwa masyarakat terjebak oleh kesadaran semu dari sistem patriarki dan trans laki-laki pun turut menjadi bagian. Patriarki menganut straight ways, di mana mereka hanya mengakui identitas laki-laki dan perempuan, heteroseksual, dan fungsinya untuk menghasilkan keturunan. Entitas dengan hak istimewa tertinggi dimiliki oleh seorang laki-laki yang memiliki penis, maskulin, dan tertarik pada perempuan. Mereka yang kekurangan satu saja dari paket tersebut menjadi rentan kekerasan dan diskriminasi, yaitu perempuan, laki-laki homoseksual, dan transgender. Konstruksi dominasi maskulinitas, pola relasi, dan peran gender ini diadopsi oleh trans laki-laki untuk mendapatkan tempat dalam kotak-kotak yang diakui oleh sistem patriarki.
 

Permasalahan pada komunitas trans laki-laki adalah kurangnya eksistensi dan keterlibatan mereka dalam gerakan LGBT.


Sebagai kelompok yang berada di luar kotak-kotak itu, trans laki-laki pun tidak luput dari kekerasan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Arus Pelangi, 89,3 persen LGBT di Indonesia mengalami kekerasan.

“Gay dan lesbian mengalami kekerasan karena orientasi seksualnya. Transpuan, karena identitas gendernya, mereka mendapat kekerasan di jalanan. Trans laki-laki ini yang paling punya privilese karena maskulinitasnya. Kerentanan ada pada hukum. Kalau liat berita, yang paling banyak terjerat kasus pemalsuan identitas itu trans laki-laki,” ungkap Ryan.

Berbeda dengan Ryan, Lini melihat dimensi kekerasan ini jauh lebih dalam. “Meskipun dia [trans laki-laki] maskulin, tapi masih memiliki kerentanan mengalami kekerasan dan diskriminasi karena alat kelaminnya seperti perempuan pada saat dilahirkan.”

Setidaknya empat orang trans laki-laki bercerita pada Lini bahwa mereka pernah mengalami kekerasan seksual. Walaupun maskulin dan tertarik pada perempuan, trans laki-laki tidak memiliki phallus power. Karenanya, mereka juga menghadapi corrective rape atau pemerkosaan yang dilakukan untuk “menormalkan” trans laki-laki.

Secara garis besar, patriarki berperan besar pada penindasan yang dialami oleh trans laki-laki. Dibutuhkan kesadaran kritis untuk dapat memecahkan belenggu kekerasan tersebut dan kesadaran kritis ini dapat dipelajari dengan memahami feminisme.

“Nilai-nilai feminisme harus menjadi kerangka untuk alat analisis. Karena feminisme mampu melihat lapisan-lapisan kekerasan dan diskriminasi hingga ke gender dan seksualitas,” jelas Lini.

Sayangnya, pemahaman trans laki-laki tentang feminisme sangat rendah, terlihat dari kurangnya dialog mengenai kekerasan seksual di komunitas tersebut. Memang tidak mudah bagi penyintas untuk menceritakan pengalamannya. Selain trauma dan perasaan bersalah, ada faktor lain pada trans laki-laki yang membuatnya enggan bercerita. Sebagai laki-laki, mereka merasa tidak mungkin diperkosa.

Rentan Gangguan Mental

Konstruksi sosial yang berujung kekerasan ini juga mempengaruhi kesehatan mental trans laki-laki. Dari sisi kesehatan jiwa, kondisi tersebut menimbulkan konflik internal dan eksternal bagi trans laki-laki. Konflik internal terjadi karena adanya kebingungan mengenai identitas gendernya, soal bagaimana mereka mengekspresikan identitas mereka dan menjelaskannya pada orang lain. Studi yang dilakukan Transmen Indonesia juga menunjukkan bahwa 55 persen trans laki-laki di Indonesia membutuhkan informasi mengenai coming out.

Saat trans laki-laki mulai mengekspresikan identitasnya, ia harus menghadapi perisakan dan diskriminasi dari berbagai pihak. Kondisi yang menyebabkan trauma yang akan berkembang menjadi depresi, kebencian pada diri sendiri, hingga paranoia. Akibatnya, trans laki-laki berada dalam kondisi terjepit yang jika tidak mendapatkan pertolongan akan cenderung membuat keputusan-keputusan irasional, misalnya melakukan transisi yang tidak aman.

“Jelas patriarki berpengaruh. Transgender [baik trans laki-laki maupun transpuan] punya kecenderungan untuk membuktikan identitasnya. Dorongan besar dari konstruksi biner ini membuat mereka melakukan upaya kompensasi untuk menutupi kecemasannya,” kata Benny Prawira, Koordinator Into The Light, komunitas yang fokus pada kesehatan jiwa dan pencegahan bunuh diri.

Kompensasi yang dimaksud Benny dibutuhkan untuk mencapai status ideal sebagai laki-laki, baik secara fisik maupun perilaku. Kecemasan dan stres muncul ketika diri yang sesungguhnya tidak sesuai dengan diri ideal, salah satunya adalah ketidakpuasan akan tubuh.

Kebutuhan untuk menjadi laki-laki maskulin membuat trans laki-laki meredam emosinya, karena emosi identik dengan femininitas. Kecenderungan untuk menunjukkan kekecewaan diwujudkan secara agresif, baik pada orang lain maupun diri sendiri. Selama bekerja untuk pencegahan bunuh diri bersama Into The Light, Benny juga membantu trans laki-laki yang memiliki keinginan bunuh diri dan melukai diri sendiri.

“Perilaku mencari bantuan mereka rendah, karena kalau minta tolong ‘kan dianggapnya karakter feminin,” ujarnya.

Untuk itu, dibutuhkan layanan kesehatan yang komprehensif bagi transgender, terutama kesehatan jiwa. Praktisi kesehatan jiwa harus mengkaji lebih dalam kondisi mental trans laki-laki sebelum melangkah ke tahap transisi medis. Layanan kesehatan harus berbenah diri dalam meningkatkan kapasitasnya terkait kebutuhan transgender.

“Masih banyak yang bias, enggak komprehensif, dan enggak update,” ungkap Benny.

Ketersediaan layanan kesehatan ramah trans belum merata dan hanya terpusat di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Denpasar.

Dukungan Teman

Segala tantangan yang tersistem dengan kuat di masyarakat tentunya tidak bisa dihadapi sendirian oleh trans laki-laki, baik secara individu maupun kelompok. Trans laki-laki membutuhkan teman-teman yang mendukung mereka, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun berjuang untuk mendapatkan kesetaraan hak sebagai warga negara.

Dito, seorang bankir di Jakarta, bersahabat dengan seorang trans laki-laki sejak 2009. Mereka bertemu pertama kalinya di bangku kuliah. Kala itu, ia menghadapi tantangan karena berteman dengan trans laki-laki.

“Temanku insecure karena belum selaras dengan dirinya. Dampaknya ke perilaku, jadi kasar. Tapi balik lagi, siapa sih yang enggak insecure kalau di mana-mana ditolak, dijauhi karena identitasnya?” ungkap Dito.

Ia sudah biasa ikut dicibir dan mendapat stigma buruk karena mau berteman dengan trans laki-laki. Baginya, masyarakat yang dogmatis dapat memperburuk stigma dan persepsi negatif terhadap LGBT. Namun di mata Dito, temannya juga manusia yang sama seperti manusia lainnya.

Sejak di bangku kuliah, Dito membantu temannya agar bisa diterima dengan baik di lingkungan sekitarnya. Misalnya, dengan mengajak sahabatnya untuk lebih aktif berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan.

“Kalau kamu mau diterima, bergaul dengan orang. Kalau kamu enggak bergaul, kamu enggak bisa mengontrol persepsi orang,” ia mengutip sarannya pada temannya.

Menurutnya, saran tersebut membuahkan hasil. Kawannya menjadi lebih percaya diri dan persepsi negatif lingkungan sekitar terhadapnya berkurang. Karena itu, penting bagi trans laki-laki untuk ikut menjadi bagian dari masyarakat.

“Sebenarnya terlepas dari media bilang orang-orang makin konservatif, makin banyak lho orang-orang yang pikirannya terbuka. Cuma bedanya yang konservatif itu ngumpul dan suaranya kencang. Kalau yang open minded, mereka sporadis,” jelas Dito.

Ia menyayangkan banyaknya silent majority yang enggan menyuarakan hak kelompok yang terdiskriminasi seperti LGBT.
 

Masalah di luar transisi menjadi laki-laki, seperti akses, citra tubuh, dan isu-isu krusial lainnya tidak pernah dibahas.


Selain Dito, ada juga Laras, seorang pekerja perusahaan rintisan di Jakarta. Laras telah berteman dengan seorang trans laki-laki sejak di bangku SMA. Selama 10 tahun bersahabat, ia mengamati proses pencarian identitas hingga penerimaan diri pada temannya. Bagi Laras, temannya tidak hanya mengalami perubahan fisik, tetapi juga perubahan pola pikir. Di mata Laras, temannya adalah seseorang yang skeptis dan haus akan informasi yang kredibel, terutama yang terkait dengan dirinya. Ia bangga melihat temannya bisa menjadi inspirasi bagi trans laki-laki lainnya.

Seperti Dito, Laras juga menghadapi berbagai tantangan sebagai teman trans laki-laki. Beberapa kali ia mendapatkan pertanyaan mengenai kondisi sahabatnya. Pertanyaan itu datang dari teman-teman semasa sekolah, guru, dan orang tuanya. Namun, dia selalu berkata kalau dirinya tidak berhak menjawab.

“Mereka pikir LGBT itu menular. Mereka takut gue terjerumus. Kalau gue ketularan mah udah dari dulu-dulu ya. Sampai sekarang gue tetap begini [heteroseksual],” ujar Laras.

Ibu Laras sering berpesan padanya untuk mengajak sahabatnya kembali ke “jalan yang benar”. Menanggapi hal itu, Laras justru menceritakan hal-hal positif yang dimiliki sahabatnya.

“Dia masih punya motivasi positif. Dia tahu dia mau ke arah mana, dia punya tujuan apa, tujuan apa yang mau dia ambil. Dia masih mau sekolah S2, sementara gue aja belum terpikir. Itu benar-benar nilai plus dari dia,” jelasnya.

Laras mengaku tidak sepenuhnya mendukung LGBT karena keyakinannya. Ia tidak pernah bercerita pada orang lain kalau dirinya bersahabat dengan seorang trans laki-laki. Namun, ia berusaha menjadi seseorang yang logis yang mau melihat dari sudut pandang komunitas trans. Dari persahabatan itu, ia belajar untuk berempati pada orang-orang trans. Ia cukup paham tentang stigma, diskriminasi, dan kekerasan yang dialami trans laki-laki maupun transpuan.

Jadi Diri Sendiri

Dito dan Laras mungkin memiliki cara yang berbeda dengan Ryan, Lini, dan Benny. Tetapi, mereka tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu memanusiakan trans laki-laki dan menjadi pendukung setia mereka. Sayangnya, tidak banyak orang-orang yang seberuntung mereka dalam mendapatkan pengalaman hidup dan pengetahuan mengenai trans laki-laki. Kita pun tidak bisa menampik fakta bahwa masih banyak trans laki-laki yang merasa sendirian dalam hidupnya. Untuk itu, mereka punya pesan cinta bagi trans laki-laki di Indonesia.

Be true to yourself. Jangan pernah menyerah untuk menemukan bantuan yang tepat,” kata Benny.

“Ayo mulai berdialog soal citra diri, body dysphoria, dan isu-isu lainnya. Jadi laki-laki mainstream itu toxic. Jadi diri sendiri aja,” ujar Ryan.

“Jangan hanya membicarakan maskulinitas. Mulai peduli sama apa yang ada di tubuh kita. Mulai bicara mengenai feminisme,” saran Lini.

 “Kalau kamu menarik secara kepribadian, akan menyebar kok ke masyarakat. Kalau bisa berkontribusi, lakukan! Buat yang masih muda, sekarang banyak saluran informal buat lo bisa jadi sukarelawan,” kata Dito.

“Tetap positif dan optimis. Jalani apa yang sudah kamu pilih, jangan setengah-setengah. Pertimbangkan dengan baik, jangan sampai depresi dan menyesal,” kata Laras.

Bagi orang-orang yang mempunyai teman, pasangan, atau keluarga trans laki-laki, penting untuk menjadi pendengar yang baik. Dengan mendengarkan, kita bisa belajar banyak hal. Tidak lupa, berikan ruang aman pada mereka untuk menjadi diri mereka sendiri tanpa menghakimi. Bantu mereka untuk menerima dirinya, serta mendukung segala keputusan yang mereka buat dengan pertimbangan matang.

Orang-orang seperti itulah yang membuat suara trans laki-laki mulai terdengar. Perlahan tapi pasti, selama cinta dan kemanusiaan masih ada. Masih banyak orang baik yang mau bersuara dengan cara yang berbeda-beda untuk menunjukkan bahwa trans laki-laki ada di sekitar kita. Trans laki-laki yang tak ubahnya sama seperti manusia lainnya, dengan keberagaman identitas gender yang mereka miliki.

Untuk saya sendiri, kepercayaan akan cinta dan kemanusiaan membuat saya dengan lantang menjawab, “panggil aja Abhi.” Setelah jawaban itu, sore hari kami tetap terasa hangat. Tidak ada yang berubah sedikit pun. Sehangat senda gurau kami yang ditemani wedang jahe di angkringan Yogyakarta lima tahun yang lalu. Sepanjang apa pun jarak dan waktu yang memisahkan. Secepat apa pun roda kehidupan kami yang berputar. Sebanyak apa pun caci maki terhadap orang-orang dengan orientasi seksual dan identitas gender yang berbeda. Ternyata keluarga kecil kami masih ada.

Abhipraya A. Muchtar adalah (trans) laki-laki penikmat kopi dan penggemar Power Rangers. Di sela-sela pekerjaannya, Abhi meluangkan waktu untuk berkontribusi di komunitas LGBT, terutama trans laki-laki. 

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS



Weekly Top 5