Mengapa Saya Menolak Hari Hijab Sedunia

Friday, 02 February 2018 - 07:49:04 WIB
By : Lailatul Fitriyah | Category: Politik - 5573 hits
Tanggal 1 Februari diperingati sebagai Hari Hijab Sedunia (World Hijab Day). Pemrakarsa peringatan ini, Nazma Khan, memulai gerakan Hari Hijab Sedunia pada 2013 untuk menyebarkan kesadaran tentang perspektif negatif terhadap perempuan Muslim berhijab di negara-negara Barat. Ia berharap bahwa dengan menyebarkan pengalaman berhijab bagi perempuan yang belum pernah berhijab (Muslim/non-Muslim), maka para perempuan tersebut dapat menyadari berbagai bentuk kekerasan yang dialami oleh para perempuan Muslim berhijab.

Saya adalah perempuan Muslim berhijab, dan saya menolak gerakan ini.

Ada beberapa alasan mendasar dari penolakan saya terhadap Hari Hijab Sedunia. Alasan yang terpenting adalah bahwa narasi dari gerakan ini secara langsung mengalienasi perempuan Muslim yang tidak berhijab, baik dari sisi religius maupun sosial-politik. Dilihat dari sisi religius, Hari Hijab Sedunia menimbulkan asumsi mendasar bahwa batasan religiositas Islam bagi perempuan tergantung kepada praktik pemakaian hijab. Ini berarti bahwa perempuan Muslim yang tidak mengenakan hijab dapat dipandang sebagai mereka yang kurang sempurna keislamannya. Hal ini mereduksi pengalaman dan praktik beragama menjadi pemakaian selembar kain penutup kepala saja. Selain itu, hal ini juga berimplikasi kepada penekanan dimensi legal-formal dari Islam (Fiqh) dengan konsekuensi melupakan dimensi etis-kemanusiaan dalam ajaran Islam.

Dari sisi sosial-politik, Hari Hijab Sedunia hanya melegitimasi kekerasan dan penderitaan yang dialami oleh perempuan Muslim yang berhijab, dan menegasikan pengalaman kekerasan dan penderitaan yang dialami oleh mereka yang tidak mengenakannya. Memang betul bahwa mereka yang berhijab dan hidup di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Perancis, memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menjadi target kekerasan Islamofobik. Hijab menjadi penanda eksplisit keislaman di mana ketika perempuan Muslim memakainya dalam konteks masyarakat yang Islamofobik, maka ia seperti layaknya memakai tanda ‘serang aku’ pada tubuhnya. Analoginya adalah seperti para perempuan yang memakai rok mini dalam konteks masyarakat yang patriarkal-misoginis.

Namun, dinamika sosial-politik di negara-negara Barat tak hanya terbatas pada Islamofobia saja. Kelompok-kelompok marginal di negara-negara Barat telah menjadi target dari berbagai bentuk kekerasan yang tak hanya berlandaskan pada asumsi perbedaan agama. Sering kali, apa asumsi beberapa segmen masyarakat Barat soal “Muslim” sama sekali tidak tergantung pada hijab, melainkan pada fitur rasial seperti warna kulit dan bentuk wajah. Dengan demikian, Hari Hijab Sedunia berdampak reduksionis pada kekerasan interseksional yang dialami oleh perempuan Muslim di dunia.
 

Dalam perspektif glorifikasi hijab, perempuan Muslim berubah dari individu utuh dengan kedirian yang tangguh, menjadi sekedar bayangan semu dari proyeksi kesucian masyarakat Muslim.


Alasan kedua penolakan saya adalah, Hari Hijab Sedunia sedikit banyak telah menambah intensitas perspektif liyan yang diatribusikan kepada perempuan Muslim oleh perspektif Orientalis Barat. Dalam konteks dunia imajiner-imperialis Barat, masyarakat Muslim telah sekian lama direduksi menjadi masyarakat satu dimensi yang terdiri dari para perempuan dengan naluri seksual yang terkekang, dan para laki-laki yang mengontrol sekaligus mengeksploitasi pengekangan tersebut untuk kepentingan seksual mereka sendiri. Tentu saja perspektif ini tak sepenuhnya salah, karena fakta tersebut dapat ditemukan di beberapa kelompok masyarakat Muslim di dunia, seperti Iran. Namun perspektif orientalis-imperialis tersebut lebih banyak digunakan untuk menjustifikasi opresi negara-negara Barat terhadap masyarakat Muslim pada umumnya.

Ambil contoh agresi militer Amerika Serikat terhadap Afghanistan. Pada awal agresi tersebut dilancarkan menyusul peristiwa 9/11, Ibu Negara AS Laura Bush menyampaikan bahwa agresi militer itu ditujukan untuk “membebaskan” perempuan Muslim Afghani berburkak yang berada di bawah “tekanan” para lelaki. Hal ini adalah contoh jelas dari “feminisme” imperial yang menjustifikasi aksi militer dengan dalih “pembebasan perempuan”.

Salah satu simbol utama dari perspektif imperialis-orientalis Barat ini adalah hijab. Dunia Barat melakukan simplifikasi kekayaan pengalaman dan perspektif perempuan Muslim di berbagai penjuru dunia menjadi sekedar pengalaman kontrol seksual melalui hijab yang dikenakan oleh sebagian perempuan tersebut. Dalam konteks ini, ketika kita sebagai masyarakat Muslim semakin mengelu-elukan hijab dengan membuat hari internasional khusus untuk mereka yang memakainya, maka kita telah secara tidak langsung menunduk setuju kepada perspektif imperialis-orientalis Barat. Kita mengafirmasi bahwa apa yang paling penting dalam kehidupan seorang perempuan Muslim hanyalah hijabnya saja.

Alasan terakhir saya untuk menolak gerakan ini bertumpu pada situasi internal dalam banyak kelompok masyarakat Islam saat ini. Dalam pandangan saya, hijab merupakan ikon utama dari perilaku sebagian masyarakat Muslim di dunia yang cenderung bertindak eksklusif dalam praktik religius dan sosial-politiknya, daripada bertindak inklusif. Glorifikasi hijab mencerminkan penolakan dan garis lurus yang ditarik oleh “otoritas” Muslim untuk mengalienasi mereka yang dianggap berbeda.

Hijab tidak lagi menjadi cerminan pluralisme kehidupan, melainkan tolak ukur homogenisasi masyarakat. Dalam perspektif glorifikasi hijab, perempuan Muslim berubah dari individu utuh dengan kedirian yang tangguh, menjadi sekedar bayangan semu dari proyeksi kesucian masyarakat Muslim.

Kedirian perempuan Muslim juga diubah dari status kemanusiaan suci yang dianugerahkan oleh Allah, menjadi boneka-boneka penyimpan nilai kehormatan laki-laki dan masyarakat Muslim pada umumnya. Pendek kata, dalam perspektif glorifikasi hijab, perempuan Muslim adalah etalase keimanan yang berfungsi sebagai langgam ninabobo bagi sebagian segmen masyarakat Muslim yang tak ingin melihat kebobrokannya.

Berhentilah memperingati hijab, dan mulailah mengelu-elukan ragam kehidupan dan perjuangan yang dialami oleh para perempuan Muslim di seluruh dunia, terlepas dari apakah mereka berhijab atau tidak.  

Lailatul Fitriyah adalah mahasiswi doktoral Program Studi Agama-agama Dunia dan Gereja Global di University of Notre Dame, AS.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Abdul | 02 February 2018 | 13:24:38 WIB
"Muslim yang tidak mengenakan hijab dapat dipandang sebagai mereka yang kurang sempurna keislamannya."

Lah emang iya, kan hijab itu wajib untuk muslimah, kalo ga dihijab berarti membangkang perintah langsung dari Allah, ya berarti keislamannya ga sempurna.
trulia | 02 February 2018 | 14:10:08 WIB
^ completely missed the point
Bunay | 02 February 2018 | 14:55:35 WIB
Tumben ada bigot nyamber ke magdelene (atasnya trulia)πŸ‘†πŸ‘†πŸ‘†πŸ‘†.
Lara | 02 February 2018 | 15:38:11 WIB
ga heran ada bigot, favorit saya ini tiap magdalen munculin feminisme islam pasti kontranya seru... yang "biasanya" dari kaum laki2 muslim(setidaknya namanya nama laki2)
Rama | 02 February 2018 | 15:51:42 WIB
Pendapat yang menarik, disampaikan dengan lugas dan baik. Hari hijab nampaknya dilatarbelakangi sesuatu yang baik dan sesungguhnya mulia, bukan?

Glorifikasi hijab menurut pandangan saya baik baik saja. Bagi para muslim, tentu seorang wanita diwajibkan menggunakan hijab dan momen ini dapat meningkatkan kesadaran secara tanpa paksaan bagi wanita yang mungkin takut berhijab agar berani untuk show up bahwa dia seorang muslim.

Bukan orang yang ngerti istilah kebijakan jadi agak bingung beberapa kalimat, tapi pendapat anda telah membuka wawasan saya

Just my two cents tho :)
zi | 02 February 2018 | 16:04:39 WIB
Oh dear Muslim men and all their precious opinions about "perfect believer" and "it's time to show up as Muslims"... Thank you for strengthening my resolve to be more careful about people like you and to keep a safe distance.
Rama | 02 February 2018 | 16:16:16 WIB
It's, uhhh, if you disagree with my view, I truly am sorry. I just feel like I want to empower muslim women who actually want to wear hijab but they can't. I'm not saying that to be a perfect muslim you need to wear hijab. Hijab isn't oppression, right? You can wear if you want to. Sorry if my comment sound misogynist or else.
zi | 02 February 2018 | 16:45:11 WIB
Hi @Rama, I appreciate that you went as far as clarifying your intentions and what you wanted to say. Please keep in mind that my comment is not a personal attack to you.

Let me respond to "Hijab isn't oppression, right?". As debatable as it is, we cannot ignore that so many women are forced and oppressed by their environment to wear hijab even though they don't want to, or don't feel comfortable in it, just because they are Muslims. "Kamu kan Islam ya pakai jilbab/hijab, dong". The analogy of women as opened/unopened candies is still very popular (I believe you've heard at least one version or maybe more), and that is exactly the problem this article addresses: that glorification of hijab is not okay because whether we like it of not, it often plays its part in reducing the importance of seeing a Muslim woman's individual worth and struggles.
Rama | 02 February 2018 | 17:35:48 WIB
Hi, Zi. Thank you for your understanding.

Surely, I've heard that kind of things. I honestly kinda confused whether that hijab is an oppression or not. It's a yes when the woman don't want to and forced by society just like you said. It's a no when the women actually want to wear one. Whether you wear it or not, I don't mind, the most important thing is that how you treat other 😊

Ah I see. That's one of another side that I might missed from this article. Things always have sides for sure. And sometimes, it might be a thin layer that whether it's a discrimination or empowering.

Thanks for the discussion :)
Laily | 03 February 2018 | 00:28:22 WIB
All: Glorifikasi hijab adalah hal yang buruk bagi mereka yang berhijab maupun tidak. Di satu sisi glorifikasi hijab menempatkan perempuan berhijab sebagai 'manekin kesucian'. Di sisi lain glorifikasi hijab mengalienasi mereka yg tidak berhijab. The point of my article in Javanese is: Ndeleng agomo kui biasa wae. Ojo nggumunan. Nganggo jilbab yo wes, ra nganggo yo wes. Sak karepe wong wadon.
Ani | 03 February 2018 | 15:17:41 WIB
kau salah, emang menutup kepala dgn kain (headcover) itu kewajiban muslimah

"And tell the believing women to reduce [some] of their vision and guard their private parts and not expose their adornment except that which [necessarily] appears thereof and to wrap [a portion of] their headcovers over their chests and not expose their adornment except to their husbands, their fathers, their husbands' fathers, their sons, their husbands' sons, their brothers, their brothers' sons, their sisters' sons, their women, that which their right hands possess, or those male attendants having no physical desire, or children who are not yet aware of the private aspects of women. And let them not stamp their feet to make known what they conceal of their adornment. And turn to Allah in repentance, all of you, O believers, that you might succeed." (QS An Nur ayat 31)
https://quran.com/24/31
awanama | 03 February 2018 | 17:22:22 WIB
untuk @laily : ya dripada jadi feminis yg menempatkan orang2nya sebagai "manekin gender role", gaboleh inilah karna "gender stereotip", gaboleh itulah karna "glorifikasi opresi terhadap wanita" bla bla bla.
pftt, i love when feminists & Leftists cannibalize one another. Their movement has turned into the "who can be more oppressed" :p
Laily | 03 February 2018 | 23:50:00 WIB
@awanama: Feminisme itu soal pembebasan total kemanusiaan. Gerakan dan pemikirannya tak memandang jender/seksualitas apa yang dimiliki oleh para pelakunya. Feminisme bukan soal perempuan saja. Jadi, jika ada perempuan/gerakan yg dimotori perempuan yg berdampak pada pelestarian struktur kekerasan, ya feminis akan kritisi itu. Feminisme bukan gerakan berbasis kesetiaan buta seperti gerakan sayap kanan di Amerika maupun FPI di Indonesia. Kalau ada yg salah dalam tubuh gerakan itu sendiri, maka Feminis akan mengkritik diri sendiri dan melakukan koreksi. In case you never heard of it, ini namanya kapasitas refleksi diri.
Caca | 04 February 2018 | 00:10:40 WIB
//Abdul | 02 February 2018 | 13:24:38 WIB
"Muslim yang tidak mengenakan hijab dapat dipandang sebagai mereka yang kurang sempurna keislamannya."

Lah emang iya, kan hijab itu wajib untuk muslimah, kalo ga dihijab berarti membangkang perintah langsung dari Allah, ya berarti keislamannya ga sempurna.//

Komentar saya :
"Muslim yang tidak mengenakan hijab dapat dipandang sebagai mereka yang kurang sempurna keislamannya."

Menurut saya yang memandang ini manusia maksudnya. Manusia lain bisa beranggapan kalo orang yang ga pake hijab tuh kurang keislamannya.

//Lah emang iya, kan hijab itu wajib untuk muslimah, kalo ga dihijab berarti membangkang perintah langsung dari Allah, ya berarti keislamannya ga sempurna.//

Keislamannya sempurna atau engga memangnya manusia yang menilai?

Sama kaya misalnya puasa, udah seharian puasa, solat wajib, solat sunah, mengerjakan yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya, apa manusia tau amalan itu diterima atau tidak sama Tuhan?
awanama | 04 February 2018 | 01:18:11 WIB
ohh @laily, saya tau hal itu, itulah kenapa ku bilang "i love when feminists & Leftists cannibalize one another. Their movement has turned into the "who can be more oppressed""
dan kau taukan ada feminis yg ekstrem dan buta? ketika ada yg mengkritiknya (meksipun yg kritik itu sesama feminisnya sendiri) mereka biasanya tidak menerima dan bilang misoginis lah, seksis lah, "lipstick feminism" lahh, dan parahnya sampe di ss dan upload supaya public shaming si pengkritik itu

oh ya laily, menurut sejarah awalnya feminis itu memang soal kesetaraan perempuan(dan lesbian walaupun dulunya ada feminis yg gak setuju atau gk peduli), lalu lama2 merambat ke gender dan 100% LGBTQ+ (dan juga laki2 jika mereka peduli)
kadang bingung aja feminis di negara maju lebih ekstrim & toxic dibanding negara berkembang, semoga aja indonesia gk kaya gitu atau bisa2 nanti bakal ada ribut mulu trus gk selesai2 deh
mx | 04 February 2018 | 01:50:22 WIB
lmaoo hukum jilbab diributin, entar hukum iman sholat, shaf sholat, pemberi nafkah diributin juga nantinya
tapi hukum suami wajib menafkahi istri yg ia ceraikan kalian diam atau malah mendukungnya (okelah kalo istrinya irt, kalo dia cewe pekerja yg digaji besar? tetep aja wajib dinafkahi selama 40 hari)
.
.
.
.
dasar, emang cherry picking af



Weekly Top 5