Monopoli Rasa Indonesia ala Sacha Stevenson

Friday, 16 February 2018 - 09:30:20 WIB
By : Elma Adisya | Category: Seni - 3018 hits
“Dilan, yang berat itu bukan rindu, tapi jadi orang Indonesia.”
 
Kalimat pelesetan dari film remaja yang sedang laris itu rasanya tepat menggambarkan pikiran kita setelah main Officially Indonesian, sebuah permainan papan alias board game  karya Sacha Stevenson, YouTuber asal Kanada yang sudah lama menetap di Indonesia.
 
Diluncurkan pertama kali pada Desember 2017 lewat akun Instagram, permainan ini mirip Monopoli, tapi disesuaikan dengan konteks dan budaya Indonesia. Bukan cuma sekadar nama-nama tempat di negara ini, seperti kota-kota di Nusantara dan bandar-bandar udara dan pelabuhannya, namun juga kebiasaan-kebiasaan baik dan buruk (sebagian besar buruk) dalam masyarakat kita.
 
Hasilnya adalah permainan yang lucu dan membuat ketawa ngakak, tapi juga sedikit getir karena sindiran-sindiran yang jleb. Ini sesuai dengan satir-satir yang ditampilkan Stevenson dalam seri videonya, How to Act Indonesian.
 
Aturan dasar permainan ini mirip Monopoli, tapi kartu Kesempatan dan Dana Umum dalam Officially Indonesian diganti menjadi kartu Takdir dan Pintu Silaturahmi. Kartu Takdir bisa membawa rezeki atau malah membuat melarat. Misalnya saja kartu Takdir berjudul “Baju Baru” yang bertuliskan: “Ini Lebaran. Kasih $5.000 kepada setiap orang di network kamu untuk beli baju baru.”
 
Sementara itu, kartu Silaturahmi berisi orang-orang yang akan berada dalam jaringan kita. Ada pihak yang akan membantu, ada juga yang malah akan menjadi beban. Misalnya jika mendapat kartu “Bupati” atau “Tante Korupsi”, maka kita akan mendapat uang setiap melewati kotak Mulai, tapi jika mendapat “Anak Gamers”, “Anak Pecandu Narkoba”, “Simpanan” atau “Suami Pengangguran”, misalnya, justru kita harus membayar pungutan.



Dari mana Stevenson mendapat ide membuat permainan ini?
 
“Aku suka banget baca buku, buku-buku kayak ‘cara sukses’. Salah satu inspirasi untuk bikin board game ini dari tulisan Robert Kiyosaki yang bilang, kalau mau sukses belajarlah dari Monopoli. Tapi prinsip sukses di negara Indonesia lain. Tips sukses di Barat tidak berfungsi di Indonesia. Kayak  ada aturan lain gitu kalo mau sukses,” ujar Stevenson yang sudah hampir 16 tahun tinggal di Indonesia.
 
Dalam wawancara lewat telepon, ia mengatakan permainan itu dirancangnya bersama suaminya, Angga Prasetya yang orang Indonesia, dengan proses yang berlangsung sekitar sembilan bulan.

“Aku belajar dari tutorial di YouTube, bagaimana cara membuat kartun di salah satu software game gratis. Makanya aku lama bikinnya karena aku bikin karakter-karakter di board game-nya. Yang ada di kartu Silaturahmi itu, semuanya aku yang bikin. Kotak board game-nya itu aku dapat dari pabrik kotak pizza, makanya kotaknya itu seperti kotak pizza,” jelas Stevenson, 36.
 
Board game ini pun melewati tiga kali revisi dan dicoba berkali-kali hingga akhirnya siap. Sejauh ini sudah 200 kotak yang ia produksi, dan terjual 150 buah dengan harga satuan Rp250.000.
 
Permainan bilingual ini, menurut Stevenson, mendapatkan banyak tanggapan positif dari para pembelinya.
 
“Walau ada warga asing yang membeli, kebanyakan komentar yang aku dapat justru lebih banyak dari yang di Indonesia. Ada yang main sama istrinya, terus ada juga yang main sama anak-anaknya, sampai bilang kartu favorit anak-anaknya itu tante yang korupsi. Padahal sebenarnya board game ini tidak untuk anak-anak,” ujar Stevenson sambil tertawa.
 
Offcially  Indonesian, tambahnya, adalah cerminan dari kanal YouTube yang sebagian besar merupakan komentar sosial mengenai realitas yang sering dilihat olehnya. Medium board game dipilih karena menurut Stevenson, pesan yang tersampaikan jadi lebih mudah dicerna dan mengasyikkan karena disampaikan melalui permainan. 
 
“Indonesia punya peraturannya sendiri. Kalau mau main, ya mainlah  dengan cara Indonesia. Jika mau tinggal di sini dengan cara pandang orang Barat, mungkin kita bakal tidak bahagia. Malah akan stres sendiri. Jadi ya mengertilah, dunianya berbeda,” katanya.
 
Tonton tim Magdalene bermain Officially Indonesian berikut ini.
 

 
Baca juga mengenai film dokumenter tentang penghayat kepercayaan di Indonesia.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Writer Profile
Elma Adisya, Jurnalis
Elma adalah reporter magang Magdalene, dan manusia yang sedang menyelesaikan studi jurnalistik. Selain menulis dan memotret, ia juga ahli dalam hal fangirling fandom kesayangannya yang jumlahnya tak terhitung. 
Related Articles
COMMENTS



Weekly Top 5