Urgensi ‘Coming Out’ Bagi Visibilitas LGBTIQ di Indonesia

Wednesday, 21 February 2018 - 11:16:46 WIB
By : Budi Winawan | Category: Gender & Seksualitas - 2546 hits
Di tengah merebaknya berita di berbagai media dengan judul-judul yang cenderung menyudutkan kelompok gay serta kelompok minoritas seksual dan identitas gender lainnya), saya masih menemukan adanya kecaman yang timbul dari dalam lingkaran gay itu sendiri.

“Aduh! Lagian ngapain sih pake ke tempat begituan segala? Padahal kalau mau main aman kan bisa pake aplikasi kencan saja,” kata beberapa orang warga net menyusul penggerebekan sebuah “gay spa”.

Masih banyak dari mereka yang tidak mencoba mencari sudut pandang lain, bahwa penggerebekan itu bisa berarti juga pelanggaran hak terhadap ruang privat.

Selain itu, eberapa orang dalam lingkaran LGBTIQ (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Interseks, Queer) juga ada yang mengkritik orang-orang yang mengekspresikan identitas gender dan seksualitasnya. Ada pula yang merasa terancam ketika teman-teman mereka turun ke jalan untuk memperjuangkan keadilan.

Masih ada orang-orang yang merasa hidupnya sebagai LGBTIQ baik-baik saja, walaupun kita jelas-jelas banyak mengalami diskriminasi. Misalnya, pelarangan bagi orang-orang LGBTIQ untuk mendaftar sebagai calon mahasiswa (yang akhirnya dicabut) dan calon pegawai negeri sipil, penggerebekan dan pengusiran di rumah kos (padahal kamar kos adalah ruang privat dan hubungan seks dilakukan berdasarkan kesepakatan dua orang dewasa), diskriminasi di lingkungan kerja, bahkan yang terbaru, penangkapan teman-teman waria yang bekerja di salon, padahal mereka semata-mata hanya mencari nafkah.

Beberapa orang LGBTIQ yang mengklaim dirinya aman, tidaklah benar-benar aman. Tanpa coming out atau melela, orang-orang di sekitar kita akan otomatis beranggapan bahwa kita heteroseksual. Tentu saja kita aman karena orang-orang heteroseksual tidak mengalami diskriminasi akibat orientasi seksualnya. Namun begitu orang di sekitar kita tahu bahwa kita homoseksual dan/atau memiliki identitas gender yang berbeda, kita (kemungkinan besar) tidak lagi benar-benar “aman”.

Saat di mana kita masih harus menyimpan rahasia, terutama rahasia tentang siapa kita sebenarnya, maka kita sebenarnya tidak sedang dalam kondisi yang bisa disebut aman.

Beberapa orang berpikir bahwa sebaiknya orang-orang LGBTIQ itu bersikap “normal” dan fokus saja meraih kesuksesan. Kita sebaiknya membuktikan bahwa kita, sebagai LGBTIQ, bisa memberikan kontribusi yang besar di lingkungan kerja, masyarakat, atau bahkan negara, sebagaimana orang-orang heteroseksual.

Salah seorang teman saya pernah bilang, bahwa kita bisa saja coming out, tapi sebaiknya tunggu sampai kita “sukses” dulu. Padahal, representasi LGBTIQ yang “sukses” sudah ada di mana-mana. Kita melihatnya di televisi, di majalah, di internet. Banyak yang bekerja di industri hiburan dan ditertawakan (baik karena lucu dan menghibur secara sehat dan cerdas, maupun hanya karena menjadi diri sendiri), walaupun banyak juga yang menginspirasi.

Saya setuju, adalah penting untuk atlet, penyanyi, bintang film, sutradara, dan lain-lain untuk mengekspresikan diri mereka sebagai LGBTIQ, supaya mereka bisa menginspirasi sesama LGBTIQ yang masih muda dan merasa tidak punya masa depan.

Tapi, menurut saya pribadi, adalah penting bagi orang-orang yang belum “sukses” untuk juga menunjukkan dirinya sebagai LGBTIQ. Untuk menunjukkan bahwa kelompok kita bukan hanya terdiri dari orang-orang kaya yang sangat mudah mencari kesenangan, atau artis-artis TV yang selalu menebar tawa.
 

Meningkatnya persekusi terhadap LBTIQ membuat upaya ‘coming out’ semakin mendesak.


LGBTIQ dan heteroseksual itu sama. Banyak di antara kita yang adalah pelajar, mahasiswa, buruh, "budak korporat", pekerja lepas, office boy, SPG, barista, pegawai bank, penjual tiket bioskop, bahkan pegawai negeri sipil, dan pengangguran.

LGBTIQ juga butuh representasi “orang-orang biasa” untuk menunjukkan bahwa kami ada di mana-mana dan kami juga melakukan semua hal yang dilakukan oleh semua orang. Kami tidak melulu haus seks. Bahkan ada di antara kami yang tidak berani, tidak mau dan tidak memiliki hasrat berhubungan seksual. Kami tidak melulu berpesta di bar atau kelab atau di tempat karaoke. Kami tidak melulu minum alkohol. Kami tidak melulu pergi ke pusat kebugaran, berfokus pada bentuk tubuh dan melakukan perawatan fisik. Kami juga bekerja, nonton, ngopi, minum susu, baca buku, bicara soal musik dan film, makan di warteg, menjadi rakyat miskin, atau bermalas-malasan di kamar seharian.

Untuk itulah, saya cukup sering membahas orientasi seksual saya dalam kehidupan sehari-hari. Supaya ketika saya melakukan aktivitas “normal”, orang tidak lupa bahwa saya gay, dan orang-orang gay tidak hanya melakukan hal-hal “buruk” yang dipikirkan oleh masyarakat pada umumnya.
Saya ingin orang melihat kenyataan bahwa saya, seorang laki-lakigay, adalah memang sama dengan orang-orang pada umumnya, orang-orang heteroseksual. Dan saya memulainya dari orang-orang terdekat saya. Dari teman-teman kerja, teman semasa kuliah dan sekolah, serta keluarga. Saya tidak mau orang-orang terdekat saya mendapatkan pemahaman yang salah mengenai orientasi seksual, identitas, dan ekspresi gender dari sumber-sumber yang “jauh”.

Tapi coming out bukannya suatu hal yang tidak berisiko, karenanya butuh keberanian yang besar. Coming out sering kali hanya merupakan awal. Akan ada hal-hal lain yang datang dan pergi setelahnya. Kamu bisa diusir dari rumah, atau sebaliknya, malah dikurung. Keluarga bisa marah atau menangis dan sakit, teman-teman akan menjauh, hujatan akan semakin sering berdatangan, dan ada kemungkinan dikeluarkan dari tempat kerja. Maka coming out, bahkan kepada teman, tetap bukanlah suatu keharusan, namun lebih merupakan pilihan.

Tapi setidaknya, berusahalah untuk bergabung bersama teman-teman sesama LGBTIQ, terutama mereka yang bisa membantu kita memberikan sudut pandang baru, atau mengenal lebih dalam soal seksualitas, gender, dan bagaimana kedua hal itu, walaupun personal, sebenarnya sangat bermuatan politis, dan kalau kita tidak tergerak untuk setidaknya mencari tahu sisi politisnya, kalau kita terus apatis, maka para politisilah yang akan membentuk iklim politik untuk kita. Sebuah kondisi politik yang diskriminatif, seperti yang terjadi baru-baru ini.

Berusahalah untuk setidaknya berpikir bahwa kita, kelompok LGBTIQ di Indonesia, pertama-tama perlu untuk menghilangkan diskriminasi di dalam kelompok kita sendiri. Berusahalah untuk berhenti seksis, misoginis dan berhentilah menganut nilai-nilai heteronormatif di dalam lingkaran sendiri.

Budi Winawan bukanlah seorang aktivis atau akademisi, namun terkadang bergaul dengan mereka-mereka supaya sedikit lebih melek soal politik, terutama politik identitas, serta seksualitas dan kesetaraan gender. Dia adalah seorang netizen lajang yang biasa berkeliaran di Twitter (@budii_) dan Instagram (@budskiy)

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS



Weekly Top 5