‘Black Mirror’s Nosedive’: Media Sosial dan Tuntutan Hidup Masa Kini

Friday, 02 March 2018 - 11:13:14 WIB
By : Siti Widyastuti Noor | Category: Seni - 2136 hits
Akhir-akhir ini saya maraton menonton salah satu serial televisi keluaran Netflix, Black Mirror. Serial bertema teknologi ini berbentuk antologi, di mana setiap episode memiliki cerita tersendiri dan tidak bersambung ke episode selanjutnya.

Black Mirror langsung jadi serial favorit karena serial ini tidak seperti fiksi tentang teknologi kebanyakan yang menggambarkan kehidupan canggih yang akan terjadi di bumi dalam 20 tahun mendatang. Tapi cerita-cerita di keempat musim Black Mirror bisa saja itu terjadi bulan depan. Bahkan episode yang paling saya suka, “Nosedive”, secara tidak langsung menggambarkan apa yang saya dan mungkin banyak orang alami akhir-akhir ini.

Satu jam episode ini menayangkan sindiran terhadap interaksi di zaman media sosial, yang membuat nilai baru terhadap kehidupan sosial di masyarakat. Di episode ini digambarkan adanya peringkat dalam kehidupan, di mana manusia bisa saling memberi nilai di skala 1-5, sama seperti kita memberi bintang ke pengemudi Grab atau Go-Jek. Kemudian hubungan manusia dalam bersosialisasi, hierarki status sosial, dan interaksi tokoh-tokohnya ditentukan oleh rating tersebut. Contohnya, ada tokoh yang memiliki rating 4,5, dia tidak akan mau gaul dengan seseorang yang ratingnya hanya 2,5.

Sadar atau tidak, di era Facebook, Instagram, Twitter atau media sosial lainnya, kita mengunggah sesuatu untuk membuat seseorang atau banyak orang menyukai kita. Kita menghabiskan bermenit-menit untuk memilih filter yang pas agar Insta-story terlihat sempurna, menghitung berapa banyak komentar yang masuk setelah berbagi video Snapchat, berharap akan banyak retweet yang datang setelah menulis di Twitter, menunggu-tunggu prime time hanya untuk berbagi foto di Instagram agar semakin banyak like yang kita terima, atau agar kita tidak ketinggalan dengan orang lain.

Inilah yang terjadi di kehidupan tokoh utama di episode “Nosedive”, Lacie. Dia berharap dapat meraih apa yang orang-orang tampilkan di linimasa media sosial mereka. Orang-orang terlihat bahagia dan Lacie berpikir bahwa itu akan membuat dia bahagia. Ada momen ketika Lacie langsung bahagia saat diberi peringkat lima. Perasaan hatinya langsung cerah saat diundang ke acara pernikahan teman yang memiliki peringkat tinggi, padahal sebenarnya dia juga tidak terlalu dekat. Pada akhirnya, Lacie selalu membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain di Instagram. Dia selalu tidak puas.

Hal ini juga saya alami.  Saya berusia 22 tahun dan belum pernah terlibat dengan hubungan dengan lawan jenis. Sebenarnya biasa saja sih, saya tidak masalah masih lajang. Tapi ketika perempuan-perempuan seumur saya berbagi kebahagiaan soal hubungan percintaan atau pernikahan mereka, saya jadi bertanya-tanya “Kapan deh  bisa post foto pake caption kayak gitu?”

Kemudian pertanyaan itu berlanjut menjadi pertanyaan-pertanyaan: “Apa ada yang salah ya sama saya?”, “Apa karena saya terlalu gendut?” atau “Apa emang kurang menarik di mata lawan jenis?”

Ada momen ketika saya berdiskusi dengan seorang teman, sekedar minta saran atau pendapat apakah benar ada yang salah dengan saya. Si teman ini membuat saya sadar bahwa hubungan bukan sesuatu prestasi yang harus kita raih hanya karena orang-orang sudah mengalaminya.  Selain itu, tidak akan ada habisnya jika kita membandingkan hidup kita dengan apa yang orang lain perlihatkan di media sosial.

Menjelang akhir episode, Lacie bertemu dan mengobrol dengan seorang perempuan paruh baya. Si ibu yang peringkatnya hanya 1,4 itu ditinggal mati suaminya karena sakit dan setelah itu dia merasa peringkat—standar kehidupan berdasarkan hidup orang lain di media sosial—tidak ada gunanya. Dia mengatakan bahwa profil di dunia maya terkadang hanya menunjukkan “highlights we expect other people to see”, bukan realitas hidup yang sebenarnya.

Pada akhirnya, hidup di era media sosial dengan segala kemudahan dan kecanggihan yang ditawarkan memang tidak bisa dihindari. Dari Black Mirror, ada pelajaran yang bisa saya ambil: bahwasanya sebagai manusia, sebuah kesalahan apabila saya merasa rendah akan diri sendiri hanya karena orang lain terlihat lebih.

“Nosedive” mengingatkan saya akan cinta diri. Saya sadar bahwa di antara kemewahan dan kebahagiaan yang orang lain tampilkan di profil media sosial mereka, saya harus mencintai dengan apa yang menempel pada diri saya di dunia nyata. Berawal dari mencintai diri sendiri, akan ada rasa syukur dan kesempatan untuk mengembangkan diri sendiri tanpa membanding-bandingkan dengan kehidupan orang lain.

Siti Widyastuti Noor adalah lulusan Hubungan Internasional yang terkadang masih merasa sedang mencari jati diri. Saat ini bekerja sebagai buruh murah untuk melakukan riset di bidang ekonomi politik. Ketika senggang, ia biasanya berkutat dengan kegiatan marathon Drama Korea atau membaca buku apa saja yang bisa dibaca.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Rif | 04 March 2018 | 16:08:17 WIB
Well written, Mbak Siti!



Weekly Top 5