Berhijab atau Tidak, Kekerasan Terhadap Perempuan Harus Diakhiri!

Monday, 12 March 2018 - 12:43:31 WIB
By : Fara Devana | Category: Politik - 1739 hits
Identitas gue adalah Muslimah. Dan Muslimah itu tidak semestinya tunduk pada patriarki.
Dita, 25 tahun, Jakarta.

Dita dengan mantap berjalan dari halaman Hotel Sari Pan Pasific menuju Taman Aspirasi Jakarta membawa poster bertuliskan “Subversive Hijabi, Ukhti lawan patriarki”. Ia adalah satu dari ratusan orang yang ikut dalam aksi damai Women’s March Jakarta (WMJ) Sabtu lalu.

Di tahun keduanya, peserta pawai ini semakin beragam. Mengusung tema #lawanbersama, WMJ 2018 ingin agar perempuan semakin berdaya untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan. Dukungan mengalir dari beragam kalangan, termasuk para perempuan berjilbab atau biasa disebut hijabers. Menariknya, di tengah perdebatan soal isu feminisme bukan wajah Islam, para hijabers ini tak surut langkah. Bagi mereka, menjadi Muslimah tidak lantas menutup gerak untuk memperjuangkan hak sesama terutama persoalan perempuan.

Tim Campaign.com bertemu dengan empat orang hijabers yang membawa tiga isu yang berbeda. Ada Tita dan Vina, pelajar SMA berusia 16 tahun; Tiffany, mahasiswi berumur 20 tahun; dan Dita, 25 tahun, seorang tenaga ahli DPR. Mereka bercerita soal alasan mereka datang ke Women's March dan isu apa yang menjadi fokus mereka.
 
  1. Tita (16 tahun) dan Vina (16 Tahun) Jakarta.
“Aku ke sini karena aku dan perempuan sering disalahkan soal baju. Yang disalahin perempuan terus kenapa pakai baju ini, pakai baju itu. Cowok juga harus dididik untuk nggak berpikiran aneh-aneh” kata Tita, remaja kelas X sebuah SMA Islam di Depok, yang datang bersama temannya Vina.

Poster Tita bertuliskan “How do boys look good without make up?” dan poster Vina bertuliskan “Because society hasn't told boys they look ugly without it.” Dua remaja ini sangat resah dengan pelecehan seksual terhadap perempuan terutama yang dikaitkan dengan apa yang dikenakan perempuan. Sekalipun mereka berhijab dan bersekolah di sekolah Islam, tak lantas isu ini lepas dari keseharian mereka.

“Kami sekolah di sekolah Islam. Di sekolah, kami juga diajari untuk tidak saling bully, untuk menghormati perempuan, anak perempuan sama dengan anak laki-laki yang haknya juga sama. Sekalian kita ke sini untuk menyuarakan itu, biar nggak ada lagi bullying untuk perempuan atau laki-laki apalagi di sosial media,” tutup Vina.
 
  1. Tiffany (20 tahun), Jakarta.
Tiffany datang bersama dengan teman-teman kuliahnya dari jurusan Kriminologi Universitas Indonesia. Mereka hadir mendukung kesetaraan hak karena sejak dulu hak-hak perempuan masih terus ditindas.

“Hal yang paling mengganggu saya adalah pernikahan anak di bawah umur. Pada usia yang masih sangat muda, umur 15-16 tahun, banyak anak perempuan yang dipaksa untuk menikah dini, padahal mereka belum siap. Sekalipun di agama boleh menikah kalau udah akil balig tapi kan belum tentu mereka mau,” ungkap Tiffany.

Ia menuangkan keresahannya dalam poster bertuliskan “Lebih dari 50 persen kasus kekerasan terhadap anak adalah kekerasan seksual. Ambil sapu, bersihkan otakmu.”

Tiffany mulai peduli pada isu kekerasan terhadap perempuan sejak mengambil mata kuliah Perempuan dan Keadilan. Matanya terbuka melihat begitu banyak ketimpangan yang terjadi pada perempuan. “Kita Muslim, kita turut pada perintah agama tapi tentu juga tidak boleh merampas hak orang lain.”


 
  1. Dita (25 tahun), Jakarta.
“Ini pertama kali saya ikut karena I believe in these values, bahwa perempuan tidak harus tunduk pada patriarki dan semua perempuan harus berdaya,” kata Dita sambil duduk santai di Taman Aspirasi Jakarta.
 
Dita yang bekerja sebagai tenaga ahli DPR RI meyakini bahwa paham feminisme sama sekali tidak bertentangan dengan agama yang ia yakini. Saat ditanya apakah Islam menolak paham feminisme, dengan cepat ia menjawab “No! Gue Islam, gue Muslimah, berkerudung, dan Islam yang gue pahami mengajarkan harus menghormati hak-hak perempuan, dan itulah feminisme. Makanya poster gue adalah Subversive Hijabi, Ukhti lawan patriarki” ungkapnya.

Berkaca dari empat hijabers yang tim Campaign.com temui, Islam sebagai kepercayaan yang mereka anut tak lantas membatasi mereka untuk turut memperjuangkan hak-hak perempuan. Identitas mereka sebagai Muslimah berkerudung tidak akan menyalahi kodrat ketika berjalan bersama banyak perempuan lain untuk memperjuangkan hak-hak yang belum dipenuhi. Perempuan tetap bisa berekspresi dan menyampaikan aspirasinya terlepas dari pakaian apa yang mereka kenakan dan kepercayaan apa yang mereka anut. Dan bagaimanapun perempuan berpakaian, tidak ada toleransi pada kekerasan terhadap perempuan.

Selain mengikuti pawai Women’s March, siapa saja juga bisa bergabung untuk mendukung isu kekerasan terhadap perempuan ini. Di media sosial banyak komunitas dan organisasi yang terus menerima dukungan dari banyak orang, salah satunya komunitas Lentera Sintas Indonesia yang fokus menyuarakan kekerasan seksual terhadap perempuan melalui kampanye #mulaibicara.

Fara Devana bekerja di Campaign.com sebuah social tech enterprise yang fokus membantu changemakers untuk menciptakan perubahan melalui penyediaan ruang kampanye untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

*Ilustrasi oleh Karina Tungari

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
all hail feminist!! | 14 March 2018 | 00:13:58 WIB
Matriarki Minang adalah solusi untuk Indonesia tanpa patriarki
Rancakk!! saat kito berjayo!!
Amimah | 14 March 2018 | 11:41:48 WIB
all hail feminist : that's interesting~



Weekly Top 5