Puisi Sukmawati atau Cadar? Tidak Keduanya

Monday, 09 April 2018 - 13:15:44 WIB
By : Lailatul Fitriyah | Category: Spiritualitas - 2804 hits
Sebenarnya saya sangat malas menulis opini tentang kontroversi terbaru ini, berhubung isunya tidak terlalu substansial. Namun karena sejumlah orang meminta pendapat saya, maka inilah posisi saya.

Banyak Muslim yang terbetik amarahnya ketika mereka mendengar atau membaca teks puisi “Ibu Indonesia” yang dibawakan oleh Sukmawati Soekarnoputri pada sebuah acara pagelaran busana beberapa waktu yang lalu. Amarah mereka terpancing karena dari perspektif Islamis-Populis ini, puisi tersebut telah “menghina tradisi Islam”, terutama terhadap azan, cadar, dan “syariat Islam”. Berbagai kritik, ejekan, dan ancaman terhadap Sukmawati pun bertebaran. Bahkan sampai ada demonstrasi segala. Hingga akhirnya ia meminta maaf.

Di sisi lain, sebagian orang dari kalangan mayoritas yang dapat diasosiasikan dengan posisi dan klaim “progresif” membela habis-habisan Sukmawati dan puisinya tersebut. Rata-rata, mereka mengedepankan argumentasi nasionalis “cinta Indonesia", yang di sini dimaknai sebagai “Indonesia yang bebas dari pengaruh Islam”. Argumentasi ini merefleksikan keinginan banyak orang untuk menghapuskan tren Islamis-Populis yang memang sedang mencengkeram Indonesia akhir-akhir ini, dengan cara menghadirkan cara berpakaian tradisional non-hijab perempuan Indonesia sebagai simbol keberagaman.

Saya tidak mendukung keduanya. Saya tidak setuju dengan posisi Islamis-Populis yang menganggap puisi Sukmawati sebagai hinaan terhadap Islam. Namun saya pun tidak setuju dengan posisi sebagian kalangan “progresif” yang membela Sukmawati dan puisinya habis-habisan dengan argumentasi keberagaman Indonesia.

Mengapa? Karena keduanya, dalam level dan bentuk yang berbeda, disadari maupun tidak, merupakan ekspresi pembelaan terhadap norma patriarki yang bersifat misoginistik. Posisi Islamis-Populis, melalui pembelaan dan penyakralan cadar dan syariat Islam  merupakan salah satu wajah patriarki dalam Islam.

Pengagungan cadar di Indonesia, yang tentunya didasarkan pada mekanisme kontrol atas tubuh perempuan dengan dalih kesahajaan (modesty), adalah praktik domestikasi-penindasan yang dilanggengkan melalui otoritas religius laki-laki. Tentunya, saya tidak dalam posisi bahwa semua perempuan bercadar tidak punya otonomi atas tubuhnya. Dalam poin ini yang saya kritik adalah fokus terhadap cadar dalam taraf di mana seakan-akan Islam sama dengan perempuan bercadar. Itu saja.

Di sisi lain, saya juga tidak setuju dengan romantisisme sebagian kelompok “progresif” -- dan terutama romantisisme Sukmawati -- terhadap keberagaman Indonesia yang dituangkan dalam pendewaan tubuh perempuan dalam balutan kain tradisional. Dalam narasi ini, dan dalam puisi Sukmawati, keperempuanan digambarkan dalam dua aspek orientalis-misoginistik.

Aspek pertama adalah aspek menyatunya Ibu Indonesia dengan alam. Dalam aspek ini, Ibu Indonesia digambarkan sebagai refleksi segala hal yang alamiah, murni, suci, asli. Narasi yang sama juga telah digunakan oleh kekuatan orientalis imperial untuk menggambarkan segala sesuatu yang berasal dari Timur.

Efek kolonialis dari narasi ini adalah, keperempuanan dipandang sebagai sesuatu yang berada di luar narasi sejarah, dan ketika sesuatu atau seseorang telah ditempatkan di luar narasi sejarah, maka sesuatu atau seseorang tersebut tidak memiliki independensi dan otonomi. Mengapa? Karena ekspresi otonomi selalu hadir dalam lingkup narasi sejarah. Selanjutnya, tentu saja, setiap mereka yang tak punya otonomi adalah mereka yang pantas untuk dieksploitasi.

Dengan kata lain, bagi Sukmawati dan para pendukung narasi nasionalis-misoginis ini, identitas nasional bangsa terletak pada kemurnian feminin yang melekat pada tubuh perempuan Indonesia. Tentunya, secara logis, argumentasi ini merupakan bentuk pengecualian terhadap perempuan Indonesia yang tidak mewakili gambaran kemurnian dan keaslian khas Indonesia yang ditampilkan dalam puisi tersebut.

Aspek misoginis kedua dalam narasi puisi Sukmawati terletak pada penekanannya atas dimensi fisik perempuan yang digambarkan melalui imajinasi patriarkal. Keperempuanan dalam puisi ini ditampilkan melalui gemulai gerak tari, kidung, dan gerai tekukan rambut yang hanya dapat diasosiasikan dengan gambaran tubuh feminin dari kerangka patriarki. Keperempuanan ala puisi Sukmawati adalah pemujaan terhadap ibu pertiwi yang tunduk terhadap eksploitasi dalam posisinya sebagai liyan.

Dengan demikian, baik kubu Islamis-Populis maupun kubu nasionalis-progresif dalam kontroversi ini memiliki ekspresi misoginis masing-masing. Satu hal yang pasti, dalam argumentasi-argumentasinya, keduanya menempatkan tubuh perempuan sebagai obyek. Kubu Islamis-Populis menempatkan cadar sebagai simbol sakral dan makna seutuhnya dari Islam karena tubuh perempuan yang terbuka adalah noda bagi rasa keagamaan patriarkal yang rentan dan patut dijaga. Sementara kubu nasionalis-progresif tidak menyadari bahwa dalam narasi keberagaman yang diusung oleh Sukmawati, terdapat asumsi patriarkal yang melakukan obyektifikasi terhadap tubuh perempuan sebagai wadah bagi segala sesuatu yang suci, murni, dan ideal.

Tak pelak, dalam puisi Sukmawati, kedua konsepsi obyektifikasi tubuh perempuan ini dibandingkan satu dengan lainnya. Ia yang berkain tradisional dan bersanggul adalah lebih suci dan murni daripada ia yang bercadar. Di sisi lain, narasi Islamis-Populis memandang bahwa ia yang bercadar adalah lebih suci dan murni daripada ia yang bersanggul dan memakai kain. Keduanya tak peduli apakah perempuan Indonesia benar-benar ingin bersanggul dan berkain, atau bercadar, atau malah memakai bikini? Suara perempuan Indonesia tak terdengar dalam kedua narasi hegemonik ini.

Kedua narasi tersebut mengalienasi pengalaman hidup perempuan Indonesia yang sesungguhnya, dan menyamaratakan berbagai ekspresi feminitas yang kita miliki, lalu membentuknya menjadi narasi feminin-homogen sesuai dengan lensa patriarkal mereka masing-masing. Karena itulah, saya tidak setuju dengan argumentasi keduanya.

Lailatul Fitriyah adalah mahasiswi doktoral Program Studi Agama-agama Dunia dan Gereja Global di University of Notre Dame, AS.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Anisa | 10 April 2018 | 08:24:40 WIB
Akhirnya. Terima kasih sudah mengangkat soal ini!

Saya tidak nyaman dengan narasi Islamis-Populis, tapi di sisi lain Nasionalis-Progresif juga cukup mengganggu dengan "multikulturalisme Taman Mini"nya. Mereka mengagungkan Indonesia yang beragam; tapi menerapkan batasan sejauh mana keberagaman itu bisa diterima. Buat saya ini kemunafikan.
Elvina Simanjuntak | 11 April 2018 | 09:40:21 WIB
Terimakasih Lailatu Fitriyah, sudah mengangkat dimensi yang sangat mendasar dari wacana tentang puisi Sukma. Saya coba rangkum, problem utama dari narasi Sukma adalah "terdapat asumsi patriarkal yang melakukan obyektifikasi terhadap tubuh perempuan sebagai wadah bagi segala sesuatu yang suci, murni, dan ideal ; menempatkan perempuan sebagai sosok di luar narasi sejarah sehingga tidak otonom dan layak diekspoitasi". Asumsi ini berlaku baik untuk idealisasi cadar maupun konde-kebaya. [bersambung]
Elvina Simanjuntak | 11 April 2018 | 09:40:59 WIB
Tapi apakah tidak mungkin bahwa perempuan Indonesia yang sudah merdeka, yang tidak lagi tunduk pada patriarki juga mengekspresikan diri dengan “gemulai gerak tari, kidung, dan gerai tekukan rambut yang diasosiasikan dengan gambaran tubuh feminin” dan dengan itu ia menghayati “yang suci, murni dan ideal”? Maksud saya, perempuan Indonesia abad XXI yang sungguh berpikir merdeka, ada yang tetap dapat melihat & menggunakan kebaya, konde, tari, kidung sebagai media ekspresi dirinya - karena itu "Indonesia banget"? Dengan demikian tari gemulai, kidung, konde & kebaya tidak serta-merta (pada dirinya) selalu menjadi lambang penindasan patriarki?
Elvina Simanjuntak | 11 April 2018 | 10:01:38 WIB
Maaf salah ketik nama: Lailatul Fitriyah. :)
Maggie Agusta | 11 April 2018 | 12:33:40 WIB
Analisa ini sangat dalam dan tepat. Kedua sikap dan pola yang dibahas melirik kebelakang -- ke masa lampau. Tidak semua perempuan Indonesia yang dapat diletak begitu saja dalam kotak2 kecil pikiran patriarkis yang dilambangkan oleh kedua belah pihak ini.
Laily | 13 April 2018 | 22:29:12 WIB
Elvina: Betul, perempuan Indonesia yg sudah merdeka tentunya punya kebebasan mau berkonde, bergerak gemulai, ataupun malah mau bercadar. Di artikel, saya tidak mempermasalahkan apa yg 'perempuan Indonesia merdeka' mau lakukan. Yg saya permasalahkan adalah asumsi bahwa utk menjadi 'perempuan Indonesia sejati' haruslah melakukan ini & itu.
Laily | 13 April 2018 | 22:30:06 WIB
All: Terima kasih sudah membaca & mengapresiasi.



Weekly Top 5