Surat untuk Kartini

Monday, 23 April 2018 - 18:51:43 WIB
By : Nadya Karima Melati | Category: Politik - 960 hits
Kepada Kartini

Pertama-tama aku ucapkan selamat ulang tahun kepadamu. Surat ini ditulis 119 tahun setelah surat pertama perkenalan kamu pertama kali kepada Estella Zeehandelaar pada Mei 1898.

Perkenalkan, namaku Nadya dan aku tinggal di Indonesia, sebuah negara-bangsa yang berdiri 41 tahun setelah kematianmu. Daerah tempat tinggalmu dulu, Jepara, kini merupakan bagian dari wilayah kesatuan Negara Republik Indonesia. Surat ini pula ditulis dalam Bahasa Indonesia, sebuah bahasa yang dapat dimengerti oleh seluruh penduduk wilayah yang dulu disebut Hindia Belanda.

Kartini sayang, setelah kamu meninggal, R.M. Abendanon mengurasi surat-suratmu. Ia meminta 24 surat yang kamu kirimkan kepada Estella, namun hanya setengah yang diberikan. Surat-suratmu dikumpulkan, diringkas dan dijilid menjadi sebuah buku tentang kesuksesan Politik Etis.
 
Hindia Belanda dan diberi judul Door Duisternis tot Licht atau dalam Bahasa Indonesia, “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Buku-bukumu laku keras di daratan Eropa dan hampir tidak ada yang percaya bahwa ada seseorang warga negara jajahan yang mampu berpikir kritis, menulis dengan Bahasa Belanda tanpa cela, dan terlebih lagi, dia adalah perempuan.

Keperempuanan yang ada pada dirimu membuat tulisan-tulisanmu menjadi istimewa, kamu menuangkan perasaan dan pengalamanmu sebagai perempuan. Kekecewaanmu tentang adat yang membatasi tumbuh-kembang perempuan, kemarahanmu kepada tradisi pingit, kegembiraanmu bahwa akan didirikan sekolah khusus perempuan di Betawi yang berarti perempuan punya kesempatan untuk belajar baca-tulis, kebimbanganmu saat harus menikah karena gagal menempuh pendidikan ke negeri Belanda. Semua emosi dari pengalamanmu sebagai perempuan tertuang jelas. Hari ini, ketika ilmu pengetahuan sosial berkembang sepanjang pergelutan umat manusia di bumi, aku dan beberapa perempuan yang membaca surat-suratmu, setuju mengelompokkan gagasanmu tentang keadilan bagi sesama manusia menjadi feminisme.

Ada sebuah gagasan yang kamu idam-idamkan tentang kemanusiaan dan keadilan. Tentang sebuah kehidupan yang setara tanpa ada pembedaan warna kulit ataupun kelas sosial. Gagasanmu tentang sebuah masyarakat yang adil berkelana lewat surat-surat itu, masuk dan bersemayam dalam pikiran-pikiran generasi priayi baru yang berpendidikan di abad ke-20. Banyak organisasi dan pergerakan didirikan, revolusi segera dimulai. Perempuan dan laki-laki ikut serta. Tidak ada individu yang gagal atau berhasil dalam perjuangan revolusi ini karena semua berjuang bersama-sama, melalui pena, logistik atau senjata. Setelah sebuah negara-bangsa bernama Indonesia berdiri, kamu adalah satu-satunya pahlawan yang hari lahirnya dirayakan khusus. Karena semua pemimpin bangsa yang memiliki dan memperjuangkan gagasan kemerdekaan, pada awalnya berjumpa denganmu melalui tulisanmu.

Kamu telah membayangkan dan memimpikan sebuah kondisi ketika perempuan bisa memiliki cita-cita, tidak hanya sekedar menjadi Raden Ayu. Kamu mendambakan sebuah ikatan perkawinan di mana perempuan dan lelaki adalah setara tanpa lelaki harus dihormati berlebihan. Gagasanmu menjelma juga setelah revolusi kemerdekaan menjadi organisasi-organisasi perempuan yang melawan adat, mengajarkan perempuan di kampung-kampung bisa baca tulis, melawan poligami yang menyengsarakan perempuan, memberikan upah layak bagi perempuan bekerja dan cuti yang dibayar.

Sayang seribu sayang, pada masa presiden Republik Indonesia yang kedua, kami menyebutnya dengan masa Orde Baru, dirimu dan pikiranmu mengerucut jadi apa yang kamu kenakan. Tragedi dalam hidupmu dirayakan dan semua perempuan di negeri ini diminta mengalaminya. Kebaya dan adat-istiadat yang membelenggu itu dilekatkan kepada kami, pada hari lahirmu, rambut kami disanggul tinggi-tinggi, kaki kami dibalut kain, dan tidak bisa lagi kami berlompatan seperti burung Trinil ke sana ke mari. Tulisanmu dilupakan, pakaianmu dibanggakan, pernikahan diwajibkan, mengasuh anak dibebankan. Sungguhlah tragedi-tragedi perempuan pada masa adat Jawa diulang kembali, dan dirayakan ke seluruh negeri. Bahkan sampai presiden itu tumbang, sampai hari ini kami hanya mengenalmu melalui gambar di swalayan sebagai pertanda hari diskon perlengkapan perempuan. Kami lupa betul pada gagasanmu.

Kartiniku, jika saja kamu masih hidup, aku mau memelukmu erat dan mengecup pipimu, aku mau ungkapkan kepadamu bahwa hari ini perempuan bisa menempuh pendidikan tinggi-tinggi dan jauh-jauh. Ada banyak beasiswa diberikan pada perempuan agar bisa memiliki cita-cita, bukan sekedar menjadi ibu rumah tangga. Hari ini banyak dari perempuan Indonesia bisa menulis dan membaca. Namun ada yang hilang, gagasan dan semangat kemanusiaan yang menjadi bara bagi kamu untuk menulis dan membaca.

Hari ini perempuan ‘boleh’ bersekolah, menulis dan membaca tapi bukan berarti perempuan dan laki-laki sudah setara dan perempuan bebas dari penderitaannya. Poligami masih dilakukan dan tidak sedikit perempuan yang mampu baca-tulis membelanya. Kamu juga bisa menemukan sosok dirimu, dengan ornamen merah muda ditempel pada bus khusus perempuan. Hingga 100 tahun setelah kematianmu, belum terwujud sebuah masyarakat di mana perempuan dan laki-laki bisa naik bus bersama-sama secara aman. Sosokmu mengembara, sebagai gambar di dinding, tidak menyuarakan keadilan. Kami tercabut dari pikiranmu, pikiran yang membuat kamu dirayakan di negara Republik Indonesia, sampai hari ini.

Kartini sayang, jika ada hidup setelah kematian, aku yakin kau harus ditempatkan di surga. Karena perempuan sudah cukup lama menderita. Dan apabila tidak ada apa pun setelah kematian, melalui tulisan kamu tetap ada di dunia dan memberikan semangat keadilan bagi sesama.

Nadya Karima Melati adalah penulis dan peneliti sejarah dari Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) Indonesia.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS



Weekly Top 5