Anak Mulut Sumpal Kain

Thursday, 09 August 2018 - 12:58:05 WIB
By : Trias Yuliana Dewi | Category: Seni - 1318 hits
Cerita Pendek
Aku kenal seorang anak. Hobinya bermain perang-perangan. Bukan perang macam Starwars atau Starship Troopers. Bukan perang bintang yang menggunakan pedang dan sepatu lampu menyala-menyala. Bukan perang dengan laju kendali kau pegang dalam sebuah ruang dingin terang yang bisa terbang ke utara atau selatan sekerjap mata. Bukan. Bukan yang seperti itu. Anak itu tidak hobi perang yang macam begitu.

Anak itu hobi bermain perang kerusuhan. Kerusuhan agama.

Austin namanya. Tanpa Power. Kupanggil ia Tin. Tin yang seperti buah tin.

Sesekali ia main perang-perangan dengan teman-teman satu tempat pengungsian jika mulai bosan menunggu kapan akan dijemput. Kadang ia berperan menjadi seorang Muslim yang memiting kepala dan ketiak teman Katoliknya. Kali lain ia gunakan pelepah pisang, menganggap itu AK47. Mau ia serupa angkatan bersenjata.

Tin menembak mati. Kadang menebas. Teman satu pengungsiannya menggelepar seperti ikan sepat habis kena serok satu kali ciduk.
“Tin……….!”

Nenek Tin memanggil. Ia harus mandi. Badannya penuh debu lapangan habis berguling dalam perang kerusuhan.

Selepasnya kalau malam sudah mulai datang, ia harus rapat-rapat meringkuk di ketiak Nenek. Tin sebenarnya ketakutan. Gereja itu gelap. Tapi bukan pada gelap ia takut. Tapi pada suara ketika tidak ada suara.

Tin terkurung dan dilarang nenek keluar gereja. Tapi sesekali ia keluar, berlari dengan segerombol anak lainnya. Mereka menuju pohon ketapang, menurunkan celana, dan mengencingi pohon beramai-ramai. Sebuah aksi teritorial. Ini wilayah kami. Kami anak sini.
Mereka merasa perlu melakukan itu. Supaya tidak lagi kecolongan. Ada bom diledakkan di depan rumahnya. Berkali-kali begitu. Tin kemudian harus lari dan berdiam di gereja. Bukan untuk misa atau janjian dengan teman misdinarnya. Ia bersembunyi dalam gereja. Dalam ketiak Nenek.

Setelahnya, Tin dan kawan-kawan kembali ke gereja. Mereka berlari kencang. Seperti tikus harus masuk lubang.

***

Tin yang cengeng hobi berkelahi. Tin yang manja suka menempeleng. Tin terlalu banyak menonton kekerasan. Serupa opera dalam gedung teater rakyat. Terbuka dan tanpa sensor. Tidak dipungut bayaran dan tanpa membeli karcis.

Ada yang aneh. Ada yang aneh. Ini bukan sebuah cerita pendek. Ini cerita. Cerita saja. Tanpa pendek. Kalau beberapa kala kemarin aku menulis soal kamp Yahudi atau Srebrenica. Aku sekarang berbicara soal tempat yang begitu dekat denganku. Dan aku bersedih ribuan kali karena ternyata ia dekat.

Tin adalah anak Indonesia. Dua puluh sekian banyak tahun lalu, Tin yang anak-anak hampir mati ketakutan. Hanya karena ia Katolik. Hanya karena ia menunduk dan menutup mata menderas Salam Maria.

Ia hampir mati tercekik habis napas karena ada kain menyumpal mulutnya. Mulutnya yang tak bisa diam akan menangis menjerit, membahayakan dirinya sendiri. Neneklah yang mengambil segumpal kain. Menyumpal mulut yang besar jeritannya.

Gereja padam terangnya.

Ia Katolik dan ia ketakutan menjadi Katolik. Ia sesekali takut dibakar dan ditebas. Ia diteriaki kafir.

Kalimat yang mereka teriakkan bukan lagi menjadi puja dan puji. Tapi terdengar serupa seruan ancaman. Isi semesta ketakutan.
Tin kecil hampir mati ketakutan. Diserbunya mereka dalam gereja padam.

Ada yang aku pertanyakan. Apa yang pertama kali ia pikirkan, soalku. Aku sempat malu muka.

Tin melanjutkan cerita.

Yang menghalangi pintu gereja dari serbuan adalah ayah dan ibu kecilnya. Yang muslim. Yang berteriak harus melangkahi mayat mereka untuk dapat masuk.

Kuberitahu: masa kecilku dan masa kecil kalian terlalu indah. Permasalahan terbesarmu saat itu adalah kalian terlalu banyak memiliki tazos dengan gambar Duffy Duck dalam koleksimu. Dan kau menggerutu karena itu.

Jangan lagi kalian sebut masa kecil suram ketika kau nakal dan membangkang lalu ayahmu akan menarikmu ke kamar mandi dan mengguyurmu.
 

Di mana pun dan menjadi siapa pun kamu, akan selalu ada yang menghantuimu. Meneriaki tidak beriman dan salah jalan. Meneriaki paling keliru dan tidak selamat.


Tin kecil hampir mati ketakutan.

Ia masih hampir mati ketakutan meski dia sudah pindah pengungsian. Bukit Rosenberg. Sanatorium kusta. Itu teman barunya. Tapi ada yang belum baru: ia masih hampir mati ketakutan.

Aku tidak akan menyalahkan Tin, jika saat kami pertama bertemu ia melirikku sinis bahkan meludahi.

Aku juga tidak akan marah jika memang perlakuan dia akan paling beda ketika aku bertamu ke pastoran.

Tapi dia tetap memasakkanku ikan segar ketika seisi rumah sedang berpesta daging anjing bumbu Manado.

Dia menungguiku gerimis-gerimis di depan masjid sampai aku selesai salat Magrib lalu dia mengantar dan memastikan aku sampai kembali pada teman-temanku di rumah Ambay. Bukan hanya sekali atau dua.

Perlu kalian tahu: aku tinggal dengan teman teman-temanku dan hanya aku yang muslim di rumah ini. Dan di lingkunganku.  Tapi mereka menyayangiku lebih dari apa pun dan siapa pun. Aku diantar dan dijemput jika aku ingin salat dan bermain dengan anak-anak TKA. Aku selalu dimasakkan makanan halal. Mereka mengecilkan suara ketika aku salat. Ketika musim kering dan tidak datang hujan, mereka menyisihkan air agar aku tetap bisa berwudu meski badan kami semua bau busuk tidak mandi. Mereka menemaniku menjalankan Islamku.

Srebrenica dan kisah Tin sama-sama mengungkap: bahwa selalu akan ada yang menjadi monster tidak terlihat. Bukan hal yang selain kamu atau di luar dirimu. Bukan yang berbeda denganmu. Bukan yang tidak sama denganmu.

Di mana pun dan menjadi siapa pun kamu, akan selalu ada yang menghantuimu. Meneriaki tidak beriman dan salah jalan. Meneriaki paling keliru dan tidak selamat.

Selalu akan ada yang berteriak paling kencang: kalian sesat. Kalian tidak suci. Kalian tidak akan pernah selamat.

Tapi bukan mereka yang berbeda dengan kita cara merapal doanya. Atau yang berbeda mengucap salam pada semesta. Bukan yang berbeda pegang rosario atau tasbih.

Monster itu tidak terlihat. Tidak memiliki nurani dan cinta kasih. Tidak memiliki justifikasi tidak bisa dipersonifikasi. Monster itu tidak terlihat. Masuk ke dalam sel-sel dan dinding pembuluh darah. Ia menjalar seperti hemlock yang begitu cepat mematikan otak. Ia menciptakan kebencian yang menyala-nyala dan membuat merasa paling benar.

Ia seperti serupa virus. Yang mengendap dalam darah manusia dengan antibodi lemah. Yang hati nurani dan kasihnya ia hemat-hemat berikan hanya pada yang mereka pilih.

Selalu ada yang seperti virus dan monster sialan itu.

Tapi selalu ada juga penawar bagi setiap racun. Yang menakutkan bagi monster jahat: kasih.

Tapi aku, aku sampai sekarang masih akan menganggap monster itu hanya legenda masa lampau. Karena aku selalu dikelilingi manusia sehat tidak terinfeksi. Yang kasih dan cintanya begitu berlimpah tidak pernah berkesudahan. Yang mungkin sama isi kepalanya denganku, yang selalu yakin: Tuhan akan berhenti senang kalau kita menghemat-hemat kasih.

Mereka orang yang berteriak “kafir…kafir…” harus sesekali pergi makan malam denganku. Hidup dalam rumah yang kutinggali. Kami berdoa makan sesekali dengan Doa Bapa Kami, sesekali dengan doa lembut Protestan, sesekali juga dengan Allahuma barik lana….

Hidup dalam heterogenitas tidak menjadikanku pudar apalagi tercemar. Hidup dalam perbedaan dan keberagaman justru semakin menegaskan identitasku. Keyakinanku. Bukan dan tidak pernah menegasi.

Lagi-lagi, aku yakin Tuhanku penguasa semesta tidak akan marah jika kita berbagi sedikit kasih. Apalagi banyak.

*untuk Austin Arbi (nama samaran), anak kepala menangis yang mulutnya tercekik disumpal kain, yang mengajarkanku pengampunan dan kematangan spiritualitas.

Trias Yuliana Dewi adalah seorang perempuan yang terlalu rumit dan membelok isi kepalanya. Karena itulah ia menulis.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS