Di Manakah Letak Patriarki?

Friday, 05 October 2018 - 10:15:34 WIB
By : Lailatul Fitriyah | Category: Sosial - 1950 hits
Misi utama feminisme adalah memberangus patriarki yang dipahami sebagai bentuk opresi paling sistemis dan tertua dalam sejarah peradaban manusia. Walaupun dalam peristilahannya patriarki terkait erat dengan kelompok gender laki-laki, namun dalam praktiknya, patriarki dapat dijiwai oleh siapa pun yang mendiskriminasi orang lain dengan basis identifikasi gender dan seksualitas mereka.

Lebih jauh, patriarki telah bermetastasis atau berubah bentuk menjadi kekerasan sistemis yang bersenyawa dengan norma-norma politik, agama, dan sosio-budaya. Dengan demikian, pertanyaan-pertanyaan terbesar dalam gerakan maupun pemikiran feminisme adalah: Di manakah letak patriarki? Mampukah kita untuk mengidentifikasinya sehingga langkah pemberangusan yang kita lakukan dapat bekerja secara efektif? Jika patriarki memiliki bentuk beragam, langkah bersama apa sajakah yang harus kita ambil untuk menyerangnya dari segala sisi?

Posisi sosio-budaya kita di era modern ini mempersulit terbentuknya perspektif jernih dalam mengidentifikasi letak patriarki. Karakter “modernitas” yang terperangkap kuasa paradigma biner melumpuhkan perspektif kita untuk memahami bahwa ada pilihan dan makna lain di luar sana yang tidak sekedar menahbiskan identitas sebagai “kita” dan “mereka”. Dalam konteks pemahaman terhadap patriarki, pilihan biner ini kemudian diterjemahkan sebagai, “aku berdiri di sisi pembebasan, sedangkan kau berada di sisi kekerasan”.

Hal ini terlihat jelas dalam pemahaman kesejarahan kita di mana masa lalu selalu identik dengan kemunduran dan masa depan sebagai harapan. Pun dengan pemahaman sosial-keagamaan kita yang menempatkan agama sebagai patriarki dan non-agama sebagai pembebasan.

Ada beberapa permasalahan mendasar dalam perspektif modern-biner seperti contoh di atas. Salah satu masalah terbesar di dalamnya adalah kegagalan untuk mengidentifikasi letak patriarki yang beragam sehingga seluruh tindakan untuk memberangusnya hanya menimbulkan permasalahan lain yang lebih mendasar.

Pandangan kesejarahan linier yang mengaitkan kemunduran dengan masa lalu dan pembebasan dengan masa kini dan masa depan menghadirkan asumsi bahwa patriarki hanya terletak di masa lalu. Konsekuensi dari perspektif yang demikian membuat kita hidup dalam halusinasi bahwa tugas feminisme sudah selesai.

Lebih jauh, narasi “modernitas” yang sampai detik ini dikuasai oleh negara-negara Barat dengan kekuatan sosial, ekonomi, dan politik mereka membuat konsepsi masa kini dan masa depan penuh dengan jerat imperialisme. Pada akhirnya, jerat imperialisme inilah yang membuat negara dan masyarakat pascakolonialisme tak mampu untuk bangkit tanpa bergantung terhadap majikan-majikan imperialisnya. Dengan kata lain, selama kita mengaitkan pemahaman “kebebasan” dengan negara Barat dan bentuk-bentuk sosio-budaya yang mereka miliki, maka selamanya posisi kita akan selalu berada pada posisi liyan yang diidentikkan sebagai patriarkal. Dalam diskursus kesejarahan linier tersebut, dapat dinyatakan bahwa sering kali kita mengaitkan diri sendiri dengan mitos patriarki yang sebenarnya berakar pada cengkeraman imperialisme modern.

Contoh konkret dari kesalahan paradigmatis pertama ini dapat dilihat pada tindakan pendewaan negara-negara Barat dalam hal feminisme oleh banyak orang yang mengidentifikasi diri mereka sebagai feminis. Perspektif modern-imperialis membuat banyak orang berpikir bahwa utopia feminisme adalah negara-negara seperti Amerika Serikat di mana perempuan terlihat hidup bebas dan mandiri. Sementara, neraka feminisme terletak di kawasan seperti Timur Tengah di mana seluruh perempuan terkesan hidup dalam kekangan laki-laki di sekitar mereka. Dalam asumsi ini, kesan adanya demokrasi, sekularisme, kemajuan ekonomi dan teknologi, serta ras kulit putih berbanding lurus dengan eksistensi feminisme. Sedangkan sistem politik otoriter, keberadaan pengaruh kekuatan agamis, kelemahan ekonomi dan kemunduran teknologi, serta ras kulit berwarna berbanding terbalik dengan impian feminisme. 
 


Perspektif modern-imperialis membuat banyak orang berpikir bahwa utopia feminisme adalah negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, sementara neraka feminisme terletak di kawasan seperti Timur Tengah.


Di sisi lain, pandangan hitam-putih yang menggolongkan agama sebagai patriarki dan non-agama sebagai kebebasan juga mengandung kesalahan paradigmatis serupa yang menetapkan patriarki hanya dalam satu konteks normatif kemanusiaan, dengan kata lain agama. Dalam kasus ini, permasalahan terbesar yang dapat dilihat adalah diskriminasi sensibilitas afektif yang mengalienasi pemaknaan hidup non-kognitif. Di sini, ekspresi keimanan, rasa cinta terhadap tradisi, dan perspektif ketuhanan tidak dipandang sebagai sumber bagi semangat pembebasan karena bentuknya yang tidak dapat ditelaah melalui nalar kognitif.

Lebih jauh, dalam pandangan yang menempatkan kebebasan di sisi non-agama ini, konteks kemanusiaan dimekanisasi dan dibatasi sepanjang apa-apa yang tampak. Dengan kata lain, kebebasan adalah sekedar “kebebasan memilih untuk diri sendiri” tanpa pertimbangan mendalam tentang narasi apa yang mendasari keinginan untuk memilih tersebut, dan kekuatan apa yang menentukan pilihan-pilihan yang tersedia.

Konteks paling jelas dari kesalahan paradigmatis kedua ini tentunya dapat dilihat pada klaim-klaim mentah dari para punggawa ateisme ternama, seperti Richard Dawkins, yang menganggap keberadaan agama sebagai akar dari seluruh masalah di dunia, termasuk adanya kekerasan patriarkal. Dalam asumsi ini, tradisi keagamaan dan ekspresi keimanan dipandang sebagai justifikasi bagi berbagai aksi kekerasan patriarkal yang terjadi di komunitas-komunitas umat beragama. Individu yang berpegang teguh pada kesalahan paradigmatis ini percaya bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai idealisme feminisme adalah dengan menghapuskan tradisi keagamaan. Lebih jauh, mereka juga yakin bahwa ekspresi agensi dan kemandirian sepenuhnya hanya bisa diwujudkan di luar lingkup keagamaan. Sebuah asumsi yang telah sekian lama diruntuhkan oleh para teolog feminis Muslim dan Kristen terkemuka seperti Profesor Saba Mahmood dalam bukunya Politics of Piety (2004), dan Profesor Monica Coleman dalam bukunya Making a Way Out of No Way (2008).

Dalam aspek akibat, kedua kesalahan paradigmatis di atas (dengan kata lain perspektif kesejarahan linier dan perspektif pembebasan non-agama) menghasilkan konsekuensi serupa, yakni adanya titik-titik buta yang memungkinkan patriarki bekerja tanpa terdeteksi. Dalam perspektif kesejarahan linier, karena patriarki hanya ditempatkan di masa lalu, berbagai kekerasan patriarkal yang berlangsung dalam kehidupan kelompok-kelompok marginal hingga saat ini terlepas dari pandangan. Sedangkan dalam perspektif pembebasan non-agama, karena patriarki hanya dikaitkan dengan tradisi agama, maka kekerasan patriarkal yang terus terjadi dalam tubuh-tubuh ideologis sekuler tidak dapat terlihat keberadaannya.

Apa yang dapat kita lakukan? Mengkritik diri sendiri adalah langkah pertama yang harus dilakukan dalam menghadapi kebutaan paradigmatis yang kita derita ini. Hal ini tentunya sulit dan rumit untuk dilakukan. Namun mereka yang memiliki kapasitas kritik diri yang rendah umumnya adalah mereka yang tak mampu melihat keberadaan patriarki dalam lingkup ideologis mereka sendiri.

Langkah selanjutnya yang dapat kita ambil adalah, berhenti mengorbankan diri sendiri pada altar imperialisme modern. Dalam kasus ini, kita harus melihat segala sesuatu yang datang dari “tuan-tuan kolonial” melalui lensa permainan kuasa. Hal ini penting karena penjajahan tidak lagi membutuhkan keberadaan fisik sang penjajah untuk berlangsung. Dengan adanya apa yang Gayatri Spivak sebut sebagai “agen penjajahan lokal” (native informant), penjajahan dapat terus berlaku efektif.

Siapakah agen penjajahan lokal ini? Merekalah yang mengadopsi kedua kesalahan paradigmatis di atas sehingga kebebasan hanya diidentifikasi dengan segala sesuatu yang Barat, dan patriarki dikaitkan dengan segala sesuatu yang non-Barat. Di tangan merekalah terletak keberlangsungan kekerasan patriarkal yang tak dapat terlihat keberadaannya karena mereka terlalu dibutakan oleh kuasa biner untuk melihatnya.   

Lailatul Fitriyah adalah mahasiswi doktoral Program Studi Agama-agama Dunia dan Gereja Global di University of Notre Dame, AS.

Baca artikel Lailatul sebelumnya tentang menjadi feminis, bukan “femonasionalis”.   

*Ilustrasi oleh Karina Tungari

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS



Weekly Top 5