Kelompok Pengajian ‘Salam’ Kaji Islam dari Perspektif Kemanusiaan

Monday, 12 November 2018 - 12:58:07 WIB
By : Wulan Kusuma Wardhani | Category: Spiritualitas - 1448 hits
Sebagai muslim, Febri Sastiviani Putri Cantika, 32, rutin mengikuti kegiatan pengajian sejak kecil. Namun dalam beberapa terakhir, pengajian bukan lagi tempat yang nyaman untuknya karena kelompok-kelompok pengajian yang ia ikuti malah menimbulkan rasa tidak tenang dan gelisah.

“Kalau ada isu-isu tertentu yang sedang ‘panas’, klub pengajian semacam itu malah menggiring jemaahnya untuk pro atau kontra. Contohnya, waktu kasus Ahok (mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama) itu, mereka mengobarkan isu-isu bangkitnya komunisme dan menyerukan ujaran rasialis yang mendiskriminasi etnis Cina. Hal itu malah membuatku ngeri dan enggak nyaman. Padahal yang aku tahu, Islam itu adalah agama yang damai dan menyetarakan,” ujar peneliti di salah satu perguruan tinggi di Bogor itu.

Situasi seperti ini kemudian mendorong Febri untuk membentuk Klub Kajian Islam Salam bersama cendekiawan Islam Musdah Mulia, yang juga Sekretaris Jenderal Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), serta penulis Eliza Vitri Handayani dan Yuri Nasution. Keempatnya dipertemukan dalam acara House of Unsilenced, sebuah inisiatif untuk mendukung para penyintas kekerasan seksual lewat seni, pada September lalu.

“Salah satu pengisi acara talkshow di acara itu adalah adalah Ibu Musdah. Beliau bicara mengenai Islam yang rahmatan lil 'alamin (rahmat untuk sekalian alam). Beliau juga bilang bahwa salah satu alasan mengapa Islam semakin terkesan tidak ramah adalah karena anak-anak muda yang mengaku progresif dan toleran enggak mau datang ke masjid, enggak mau belajar Al Quran,  dan akhirnya, narasinya ‘dimonopoli’ oleh kaum-kaum intoleran,” ujar Yuri.

Yuri mengatakan dirinya merasa tertantang sekaligus merasa bersalah karena sebagai seorang muslim yang mengkritik kelompok intoleran, dia tidak mau belajar lebih dalam mengenai Islam. Namun,  dia memiliki alasan yang melatarbelakangi hal itu.

“Waktu itu saya bilang ke Bu Musdah bahwa kaum muda Islam seperti saya ini enggak mau ke masjid karena enggak nyaman, langsung dihakimi karena tidak memakai jilbab. Jika bertanya dan mengkritik (ajaran) langsung dicap ‘otokafir’ dan liberal. Saya mau belajar Quran, tapi belajar di mana?” ujarnya.

Musdah merespons dengan mengajak Yuri, Eliza, dan Febri untuk membentuk klub pengajian. Pada 6 Oktober, Klub Kajian Islam Salam mengadakan pertemuan pertama di kantor ICRP dengan jumlah peserta 20 orang. Sebagian peserta adalah muslim dan perempuan, dengan setengahnya memakai jilbab.

Eliza mengatakan bahwa ia menyadari betapa banyak ajaran Islam yang disampaikan kepadanya yang berperspektif patriarkal, tidak setara, dan cenderung mengekang daripada membebaskan. Dia ingin membongkar semua hal yang telah diajarkan kepadanya dan mempelajari ulang Islam dengan perspektif kesetaraan dan kemanusiaan.

“Sebetulnya aku sudah mulai membaca kembali Alquran sebagai bagian dari riset novel. Mempelajari kembali Islam tidak mudah bagiku karena banyak pengalaman pahit, antara lain dengan orang-orang yang menggunakan agama sebagai justifikasi perkataan dan tindakan seksis,” katanya.

Eliza menambahkan, apabila masyarakat memiliki bekal dan landasan yang solid tentang Islam dan berbagai interpretasi ajarannya, mereka akan lebih mampu berdialog atau berdebat dengan orang-orang yang menggunakan agama untuk kepentingan politik, kekuasaan atau egonya sendiri.

Pentingnya Berpikir Kritis

Sejak awal, para inisiator klub pengajian ini sepakat bahwa tujuan dari kegiatan mereka adalah relearning Islam.

“Kami mempelajari apa yang sudah kami ketahui dan apa yang kami kira kami sudah ketahui. Jadi, kami memang ‘mengeset’ ulang (pemahaman kami), makanya, tema pertama kajian ini adalah tafsir, dan yang kedua adalah Muhammad,” ujar Yuri.

Ia menambahkan, ada perbedaan mendasar antara pengetahuan agama Islam yang dia dapatkan di sekolah dan di klub Salam ini.

“Waktu saya SMP, saya belajar pendekatan tafsir secara literal. Saya bahkan mempelajari apa yang sudah menjadi norma di masyarakat, misalnya hadis-hadis tertentu. Ada 250.000 hadis, tetapi kenapa hanya hadis-hadis tertentu saja yang dipelajari? Dengan Ibu Musdah, kami diajak berpikir kritis. Misalnya, ada kata (dalam bahasa Arab) yang memiliki tujuh makna. Hal itulah yang tidak boleh dilupakan,” tambahnya.

Senada dengan Yuri, Febri juga menekankan pentingnya berpikir kritis. “Selama ini, kita diajarkan untuk tidak perlu mempertanyakan agama, tidak perlu mempertanyakan yang sudah ada, padahal, hal itu kan perlu dilakukan. Ayat yang pertama yang diturunkan adalah iqra (bacalah) karena kita harus membaca, kita harus kritis terhadap perkembangan dan pemikiran agama kita sendiri,” katanya.
 

Para inisiator klub ini berharap agar rang-orang yang “dikeluarkan” dari majelis taklim atau masjid masing-masing hanya karena tidak berjilbab, kritis, dan dianggap berdosa karena identitas gender atau seksualitasnya, tidak lagi merasa dikucilkan.


Musdah Mulia mengatakan bahwa penafsiran sebuah ayat akan tergantung siapa yang membacanya dan kepentingan yang ada. Ia juga menuturkan bahwa penafsiran secara progresif tidak banyak disosialisasikan di masyarakat.

“Penafsiran progresif memerlukan pemikiran kritis, jadi enggak semua orang bisa menerima. Kalau saya ditanya suatu masalah, saya akan melihat bagaimana konteksnya. Agama itu enggak hitam putih dan sangat fleksibel. Yang saya paham, agama datang untuk memanusiakan manusia dan untuk kebahagiaan manusia. Agama harus mampu menjawab persoalan-persoalan riil dalam hidup manusia sehingga dapat menjadi pedoman. Kalau enggak (demikian), dia akan ditinggalkan,” ujarnya.

Eliza mengatakan bahwa beberapa hal yang disampaikan Musdah sangat membuka pikiran dan memberikannya harapan.

“Ayat-ayat yang pertama turun mengandung nilai-nilai kemanusiaan, dan (ayat-ayat mengenai) aturan tentang ritual formal turun kemudian. Jadi, alangkah baiknya kalau kita meresapi terlebih dahulu nilai-nilai kemanusiaan dalam beragama sebelum sibuk mengurusi ritual formal,” tuturnya.

Eliza juga mengatakan bahwa ada kata-kata dalam bahasa Arab yang memiliki makna ambigu, seperti yang dijelaskan oleh Musdah.

“Misalnya, ‘memotong tangan’ dapat diartikan sebagai ‘membatasi keleluasaan’, dan ‘pasangan’ tidak harus diartikan laki-laki dan perempuan. Bagi saya, karena ada banyak kemungkinan interpretasi, hal itu adalah tantangan bagi kita. Mampukah dan beranikah kita memilih interpretasi yang mengedepankan kasih sayang kepada semua manusia, daripada yang membenci atau mendiskriminasi sebagian manusia?” ujarnya.

Kimi, seorang karyawan swasta yang datang pada pertemuan pertama, mengaku senang mengikuti pengajian yang dirasanya sangat berbeda dengan yang selama ini ia ikuti.

“Biasanya, kalau kita mengikuti pengajian, ustaznya itu berbicara satu arah aja. Kalau dengan Bu Musdah, kami banyak diskusi dan sifatnya enggak menghakimi. Seperti Ibu Musdah bilang, banyak orang yang membaca Alquran secara sepotong-sepotong,  padahal, seharusnya kan kita kumpulkan semua ayat yang berkaitan untuk mengetahui timeline-nya seperti apa. Jadi, kita enggak bisa melihat suatu masalah tanpa melihat masalah yang lain. Selain itu, asbabun nuzul (latar belakang turunnya sebuah ayat) juga dibahas,” tuturnya.

Bersifat inklusif

Nama Salam sendiri diusulkan Musdah karena berarti damai.

“Salam itu artinya damai. Banyak yang enggak paham bahwa menjadi muslim itu harus aktif merajut perdamaian. Jadi ‘salam adalah kata kunci dalam Islam. Setiap kali kita ketemu banyak yang mengucapkan assalamualaikum tetapi banyak dari kita yang enggak meresapi makna salam itu. Arti kata itu kan ‘kedamaian untukmu’. Itu doa kan? Kalau kita mendoakan orang, berarti kita harus membangun damai dulu dalam diri kita,” ujarnya.

Pemilihan nama salam juga mencerminkan sifat inklusif. Klub kajian ini membuka kesempatan belajar bagi orang-orang dari berbagai agama, tidak hanya umat Islam. Musdah menuturkan, pengetahuan agama adalah sesuatu yang bersifat universal.

Dengan adanya klub kajian ini, dia berharap agar semakin banyak orang yang memahami agama secara rasional dan kritis sehingga mereka akan semakin inklusif dan toleran. Menurutnya, sikap itulah yang dibutuhkan dalam berdemokrasi di Indonesia saat ini.

Eliza mengatakakan, dia berharap agar orang-orang yang “dikeluarkan” dari majelis taklim atau masjid masing-masing hanya karena tidak berjilbab, kritis, dan dianggap berdosa karena identitas gender atau seksualitasnya, tidak lagi merasa dikucilkan.

“Jika mereka membutuhkan ruang untuk mengaji dan beribadah di mana mereka diterima dan dihargai, mereka dapat menemukannya pada inisiatif kami dan inisiatif-inisiatif lainnya yang serupa. Semoga dengan beragama, kita merasa tidak sendiri, nyaman, berdaya, damai, dan bebas, bukannya merasa takut, kotor atau senantiasa berdosa,” tuturnya.

Ia juga berharap akan ada banyak inisiatif serupa, agar muncul percakapan yang kompleks tentang bagaimana kita dapat hidup dengan agama masing-masing dan tetap damai, saling menghargai, dan saling menghormati perbedaan serta pilihan masing-masing.

Baca juga soal peningkatan konservatisme agama di sekolah-sekolah negeri.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Writer Profile
Wulan Kusuma Wardhani, Jurnalis
Wulan adalah seorang pekerja media, penggemar olahraga (terutama sepak bola) dan feminis. Ia juga adalah kontributor womensoccerid. 
Related Articles
COMMENTS



Weekly Top 5