10 Pemahaman Keliru Tentang Feminisme

Monday, 09 March 2015 - 20:12:34 WIB
By : Devi Asmarani | Category: Edisi Indonesia - 139537 hits
Dari Virginia Woolf dengan keindahan tulisannya; martir penuntut hak perempuan untuk memilih, Emily Davison; para intelektual seperti Simone de Beauvoir, Germaine Greer dan Naomi Wolf; aktris tanpa cela Emma Watson; sampai para aktivis daring dari Everyday Sexism – feminisme adalah wajah dari banyak perempuan dan laki-laki, yang terwujud dalam pemikiran-pemikiran dan ekspresi berbeda, semuanya dengan tujuan sama untuk membangun kesetaraan untuk perempuan di semua wilayah kehidupan mereka.

Sayangnya, masih banyak orang yang keliru memahaminya dan kekeliruan-kekeliruan itu terus disebarkan sampai sekarang.

Berikut adalah 10 kesalahpahaman terbesar mengenai feminisme:



1. Feminis membenci laki-laki

Ini adalah salah satu kekeliruan paling kuno dan paling melelahkan mengenai feminisme. Feminisme adalah sebuah gerakan dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, ekonomi, budaya, ruang pribadi dan ruang publik. Feminisme tidak pernah merupakan ideologi kebencian.

2. Untuk mencapai kesetaraan, feminisme harus melemahkan laki-laki

Mencapai kesetaraan gender memang harus melalui dekonstruksi maskulinitas, namun hal ini tidak sama dengan mengebiri laki-laki. Dalam ratusan tahun sejarahnya (bahkan sebelum istilah “feminisme” dilontarkan), gerakan ini telah memupuk tradisi perenungan yang dalam dan pemikiran kembali konstruksi sosial atas gender maupun dinamika gender. Feminisme seharusnya memperbaiki relasi gender, bukan memperkuat salah satu jenis kelamin dengan mengorbankan yang lain.

3. Feminisme hanya membantu perempuan

Feminisme tidak hanya membebaskan perempuan, gerakan ini juga membebaskan laki-laki dengan memutus standar-standar yang diberikan masyarakat pada perempuan dan laki-laki. Feminisme adalah tentang mengubah peran-peran gender, norma seksual dan praktik-praktik seksis yang membatasi diri.

Laki-laki memiliki kebebasan untuk menjelajah hidup di luar batas-batas kaku maskulinitas tradisional. Feminisme juga mempercayai akses yang sama untuk pendidikan, yang barangkali memungkinkan ibu-ibu Anda mendapatkan gelar universitas dan mendapatkan pekerjaan, sehingga Anda dan saudara-saudara Anda memiliki kesempatan yang lebih baik dalam hidup. Dengan pendidikan, perempuan cenderung memiliki pilihan-pilihan hidup yang lebih baik, menghasilkan keluarga dan masyarakat yang lebih sehat dan berfungsi secara optimal.

4. Hanya perempuan yang bisa jadi feminis

Feminis berkomitmen untuk mengatasi masalah-masalah sehari-hari seperti kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan dan kekerasan seksual, ketidaksetaraan penghasilan, obyektifikasi seksual, dan lain-lain. Cara terbaik untuk menanggulangi masalah-masalah ini adalah untuk melibatkan laki-laki, meningkatkan kesadaran para pegawai pria mengenai kepekaan gender, mengajarkan anak laki-laki untuk menghormati anak perempuan, membuat para ayah mau berbagi beban pekerjaan rumah tangga dan lebih terlibat dalam membesarkan anak-anak, dan masih banyak lagi.

5. Feminis pasti ateis

Memang betul bahwa beberapa agama memiliki perspektif-perspektif patriarkal yang tinggi dan melanggengkan praktik-praktik diskriminatif kuno terhadap perempuan, namun bukan berarti tidak ada ruang untuk perbaikan. Ada banyak pihak yang telah memasukkan interpretasi ramah perempuan ke dalam ajaran-ajaran agama. Di Indonesia kita memiliki ulama feminis dan cendekiawan Muslim ini serta beberapa lainnya. Anda tidak perlu mendepak agama Anda untuk meyakini bahwa perempuan memiliki hak-hak yang sama dengan laki-laki.

6. Feminis tidak percaya pernikahan

Omong kosong. Banyak feminis yang memiliki pernikahan bahagia (salah satunya saya). Selama pernikahan memberikan nilai-nilai pribadi, hukum dan sosial kepada kedua orang di dalamnya, tidak ada alasan untuk menolak lembaga perkawinan. Yang ditolak para feminis ini adalah ketika masyarakat menilai pernikahan sebagai “tempat yang lebih baik” untuk perempuan, memberi hukuman sosial untuk mereka yang tidak menikah atau bercerai, dan ketika pernikahan digunakan sebagai cara mengontrol perempuan. Selain itu, para feminis percaya pernikahan legal harus berlaku bagi semua preferensi seksual dan ekspresi gender (ya, kami percaya pernikahan sesama jenis!).

7. Feminis sejati tidak menggunakan rias wajah dan beha

Bohong! Feminisme memberikan perempuan pilihan – bukan membatasi – ekspresi pribadi. Tidak bisa lepas dari sepatu hak tinggi? Pakailah. Senang memakai rok mini hitam? Mengapa tidak. Namun mengekspresikan diri dalam ekspresi feminitas tradisional adalah pilihan, bukan kewajiban, dan tidak seharusnya itu mendefinisikan diri Anda. Secara pribadi, saya suka terlihat cantik, tapi saya tidak suka membuang terlalu banyak waktu dan energi untuk melakukannya, jadi saya jarang memakai rias wajah, kecuali pensil alis dan lip-gloss.

8. Feminisme adalah konsep Barat

Sejujurnya, ini adalah salah satu kritik diri utama dalam gerakan feminis di masa lalu: bahwa feminisme, sebagai gerakan dan ideologi, terlalu Eropa-sentris dan didikte oleh perempuan kelas menengah berkulit putih. Gerakan ini juga dikritik karena kecenderungannya untuk mengabaikan kelas, kasta, agama, bias etnis dan diskriminasi ras yang memperumit ide mengenai gender. Namun feminisme telah ada sejak lama di bagian dunia non-Barat, dari Amerika Selatan, Asia sampai Afrika, meskipun dengan fokus-fokus yang sedikit disesuaikan dengan konteks lokal.

9. Feminisme belum berubah seiring waktu

Salah! Gelombang pertama feminisme pada abad 19 dan awal abad ke-20 difokuskan pada persamaan hak sipil dan politik, terutama hak perempuan untuk memilih dalam pemilu. Gelombang kedua, yang mulai pada 1960an sampai 1980an, memperluas tujuan-tujuan itu untuk menyertakan isu-isu seksualitas, keluarga, tempat kerja, hak-hak reproduksi dan ketidaksamaan legal lainnya. Feminis-feminis gelombang ketiga mengembangkan debat-debat itu untuk fokus pada ide-ide seperti teori homoseksualitas, penghapusan ekspektasi peran dan stereotip gender. Kesadaran dalam feminisme saat ini – terkadang disebut feminisme gelombang keempat, meski masih diperdebatkan – merengkuh ide “interseksionalitas”, penindasan-penindasan ganda yang saling berkaitan terhadap ras, seks, seksualitas dan kelas. Ini adalah gerakan dan kesadaran yang mengadvokasi orang-orang untuk memberi ruang pada mereka yang termarjinalkan secara politik, ekonomi dan sosial karena gender, preferensi seksual, ras, kelas dan hal-hal lainnya.

10. Feminisme tidak diperlukan lagi karena perempuan sudah setara dengan laki-laki

Hal ini sangat keliru. Mari ingat-ingat lagi tuntutan gerakan pembebasan perempuan pada 1970an: Empat tuntutan pertama adalah kesetaraan gaji, kesempatan sama atas pendidikan dan pekerjaan, jaminan hak-hak reproduksi, dan penghapusan kekerasan atau pemaksaan seksual tanpa memandang status pernikahannya. Sekarang lihat fakta-fakta hari ini: Menurut laporan dari Organisasi Buruh Sedunia PBB, perempuan di seluruh dunia hanya menerima 77 persen dari besarnya gaji yang dibayarkan untuk laki-laki, angka yang hanya meningkat 3 persen dalam 20 tahun terakhir. Ditambah lagi, banyak lapangan pekerjaan masih tidak ramah untuk ibu, dan posisi-posisi kepemimpinan teratas dalam perusahaan-perusahaan dan pemerintahan masih sangat didominasi oleh laki-laki.

Kedua, di banyak negara berkembang termasuk Indonesia, jumlah anak-anak perempuan yang putus sekolah masih lebih tinggi daripada anak laki-laki karena orangtua mereka melihat anak perempuan tidak menguntungkan dilihat dari investasi ekonomi. Ketiga, meski alat-alat kontrasepsi sekarang tersedia secara luas, banyak negara (termasuk Indonesia) yang masih memperbolehkan pernikahan di bawah umur, yang melanggengkan kekerasan dalam rumah tangga dan kemiskinan. Keempat, budaya pemerkosaan tumbuh subur baik di negara maju maupun berkembang. Di negara-negara seperti  Indonesia, hukum dan penegak hukum dalam kasus-kasus kekerasan seksual hampir tidak pernah berpihak pada perempuan.

Selain itu, tradisi mengerikan seperti mutilasi genital perempuan masih dipraktikkan di Afrika dan bahkan di Indonesia. Dan, jangan lupa, meski perempuan akan boleh memilih untuk pertama kalinya dalam pemilu di Arab Saudi tahun ini, mereka masih belum boleh menyetir atau meninggalkan rumah tanpa muhrim laki-laki.

Jadi masih berpikir pekerjaan kita sudah selesai? Pikirkan lagi.

*Tulisan ini diterjemahkan dari artikel "10 Things You're Wrong About Feminism"

**Baca wawancara Devi mengenai salah satu feminis pertama Indonesia, Kartini, dan ikuti @dasmaran di Twitter.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Dewi | 19 May 2016 | 15:26:40 WIB
Sangat Mencerahkan, dari sepuluh itu salah satu diantaranya sangat menjawab keresahanku yang selama ini . Haturnuhun
Dewi | 19 May 2016 | 15:34:29 WIB
Sangat Mencerahkan, dari sepuluh itu salah satu diantaranya sangat menjawab keresahanku yang selama ini . Haturnuhun
Anggit | 26 May 2016 | 15:56:08 WIB
Terimakasih, informasi sangat membantu saya untuk mulai mengenal feminisme.
Sita | 21 June 2016 | 19:07:56 WIB
AWESOME ARTICLE. I'VE LEARN A LOT. THANK YOU SO MUCH. KEEP IT UP!
Laila Widjaya | 22 June 2016 | 08:42:29 WIB
Nice article, Devi. An input for me that feminism is not a creating a rebellious and masculine-like woman. Instead, it tells us to be wiser and happier in life ..........
mufli | 24 August 2016 | 12:06:55 WIB
sukaaaa.....
Steven Petrus | 24 September 2016 | 10:20:34 WIB
Saya ingin bertanya, bagaimana pandangan kalian (kaum feminis) terhadap laki-laki, karena sering sekali saya temui di media sosial seperti youtube mereka (kaum feminis) sangat ekstrim menunjukan superioritas mereka terhadap laki-laki di hampir semua bidang, seperti halnya ada satu kasus saya lihat di youtube bahwa seorang pria menceritakan dalam sebuah forum diskusi bahwa anaknya (laki-laki) dipukul oleh anak perempuan dan berkata "kamu tidak bisa memukul saya, karena saya seorang perempuan", bagaimana dengan hal itu?

Saya sangat setuju jika itu merupakan kesetaraan, karena bagi saya seseorang tidaklah dilihat dari gender/jenis kelaminnya melainkan kepribadiannya.
wahida | 17 November 2016 | 22:13:25 WIB
apa faktor berlakunya penindasan terhadap golongan wanita ?
Rusda Anjani | 29 Desember 2016 | 10:16:37 WIB
Saya sangat setuju dengan artikel ini,karena di zaman sekarang ini banyak orang yang salah faham terhadap feminisme
C.A.L | 05 January 2017 | 11:49:57 WIB
Hi Steven Petrus,

Kalau saya boleh berpendapat, saya selalu menganggap laki-laki itu sama seperti saya --karena saya juga ingin mereka menganggap saya sama dengan mereka. Saya, sebagai perempuan, tidak merasa bahwa saya lebih superior dari laki-laki, ini jika yang kita bicarakan adalah gender. Tentu saja saya merasa lebih superior jika konteksnya bukan dengan masalah gender; seperti, contohnya, saya yang merasa superior dibandingkan laki-laki (dan juga perempuan) yang lain di kelas karena saya, karena saya, secara nilai akademis, lebih pintar dari mereka semua. Bagian dari mana yang salah dari menunjukkan superioritas (keunggulan/ kelebihan) diri sendiri jika memang hal tersebut benar adanya dan tidak menyakiti/ merugikan orang lain?
C.A.L | 05 January 2017 | 11:50:26 WIB
(cont) Jika memang mereka, perempuan, merasa lebih hebat pada bidang tersebut, mengapa mereka tidak boleh menunjukkan superioritas mereka? Tentu saja salah jika mereka menindas yang lemah atau yang tidak memiliki kuasa. Tetapi, apa bedanya jika laki-laki yang melakukan hal tersebut? Saya rasa feminisme membantu wanita dalam mengekspresikan pendapatnya. Jika superioritas yang menjadi permasalahannya, maka bukan feminisme yang harus disalahkan, atau dipertanyakan, namunentitas orang itu sendiri sebagai manusia, bukan sebagai perempuan atau laki-laki. (cont)
C.A.L | 05 January 2017 | 11:50:53 WIB
(cont) Mengenai pertanyaan Anda mengenai, "kamu tidak bisa memukul saya karena saya seorang perempuan?", itu tentu saja anak itu salah. Siapa pun tidak boleh menyakiti orang lain. Bukan berarti ada feminisme, perempuan boleh memukul laki-laki. Dan bukan berarti tidak ada feminisme, laki-laki boleh memukul perempuan. Lagi, seperti sebelumnya, hal seperti ini harus disalahkan kepada entitas itu sendiri sebagai manusia, bukan feminis atau feminisme.

Itu pendapat saya.
Rusda Anjani | 22 January 2017 | 12:12:23 WIB
Ini penyebab mereka menindas perempuan,karena mereka hanya mengikuti hawa nafsu saja
Furqon | 04 February 2017 | 10:22:51 WIB
Saya ingin mengomentari artikel anda, terutama pada bagian "Feminis tidak percaya pernikahan". Saya pernah melihat meme dari luar negeri yang menunjukkan bahwa ada feminis yang menentang pernikahan & kekeluargaan. Bahkan ada yang menganggap bahwa semua bentuk pernikahan heteroseksual adalah tindak pemerkosaan. Dan yang menentang pernikahan tersebut adalah lesbian. Bagaimana pendapat anda?
Kvlt | 23 March 2017 | 22:05:42 WIB
Harap dibedakan antara FEMINIST vs FEMINAZI. 10 point diatas termasuk FEMINAZI, dan 10 bantahan termasuk FEMINIST. Kaum feminist berjuang untuk penyetaraan gender yang sama dengan pria, sedangkan kaum feminazi meanggap gender-nya lebih unggul daripada pria.

adul | 28 March 2017 | 02:20:52 WIB
Sangat penting membangun kesadaran masyarakat hari ini, apa lagi di indonesia masih bnyak yg menggunakan paham tua,,jadi artikel ini sedikit membantu dan sangat baik didiskusikan baik di organisasi DLL,,,apa lagi jika mampu masuk dalam kurikulum pendidikan nasional,,,agar sejak dini di berikan pemahaman feminisme.
Mutia | 01 April 2017 | 10:33:18 WIB
Artikel yang sangat bagus untuk memahami feminis dgn jelas dan meluruskan pendapat keliru mengenai feminisme di mata masyarakat selama inu. Oh ya dan aku setuju bgt kalau feminisme tidak selalu eropa-sentris karena sebenarnya sudah ada kebudayaan di indonesia yang memiliki peradaban maju tentang perempuan yaitu di minang, yg menganut sistem matrilineal dan hak2 perempuan sgt di perhatikan. Bukan berati setiap feminisme itu dalam bentuk yang radikal membenci dan superior di atas laki2. Feminisme gerakan yg membantu wanita bisa mencapai pencapaian yg baik dan merubah stereotip mengenai wanita .
ARf | 13 April 2017 | 11:34:16 WIB
Saya mau tanya
Di Indonesia terdapat kementrian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak tetapi tidak ada kementrian pemberdayaan laki-laki dan perlindungan anak , terdapat komnas perlindungan perempuan tetapi tidak ada komnas perlindungan laki-laki, terdapat kereta Khusus wanita tetapi tidak ada kereta khusus pria , terdapat busway khusus wanita tetapi tidak ada busway untuk laki-laki, dan laki-laki tidak boleh masuk kedalam sekolah ilmu kebidanan, terdapat cuti hamil untuk perempuan tetapi tidak ada cuti hamil untuk laki-laki, Pasal 285 Kitab Undang-undang Hukum Pidana berbunyi sebagai berikut: “Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa perempuan yang bukan isterinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun..” (bersambung)
ARf | 13 April 2017 | 11:35:18 WIB
(sambungan)
berarti perempuan boleh dong memperkosa laki-laki , dan pelaku kejahatan seksual kepada anak harus dihukum kebiri dan bagaimana apabila pelakunya perempuan berarti dia tidak dihukum dong ? apa pendapat anda ? apakah ini termasuk Diskriminasi kepada laki-laki ? apakah anda mendukung kejadian-kejadian diatas ? dan aktivis perempuan tidak peduli dengan kejadian diatas ? dan apa saja bentuk diskriminasi kepada laki-laki ? mohon jawabannya , saya laki-laki tampan penggemar paham Feminis lho..... Terimakasih
Beth | 24 April 2017 | 15:24:37 WIB
Mas ARf baca artikelnya nggak sih? Kalo udah baca, harusnya pertanyaan-pertanyaan di atas nggak perlu ditanyakan lagi. Btw, "penggemar" paham feminis? Feminisme nggak butuh penggemar, butuhnya orang-orang yang mengerti dan mendukung.
Nand | 15 May 2017 | 10:51:19 WIB
saya pernah liat komentar orang bernama Angga yang nulis seperti ini: Mau kesetaraan gender, ok kita "perlakukan" layaknya laki2. Saya setuju hak sipil, pendidikan, politik, semua sama. daan ketika saatnya mereka tak terima "diperlakukan" seperti laki-laki, dengan kerasnya mengatakan "Kita perempuan itu makhluk lemah !" atau "masa begitu sama perempuan?" atau "Kamu kan laki-laki!" loh klo gitu apanya yang kesetaraan gender? hak? kesetaraan hak atau kesetaraan gender? apanya yang mau disetarakan sampai sekarang saya belum ngerti hahaha.
Realitanya seperti ini loh, dari segi pemikiran dan fisik memang dasarnya antara laki2 dan perempuan sudah berbeda, skalipun sama atau bahkan lebih baik, bisa jadi didapatkan dari pengalaman. Kodrat wanita memang adalah dilindungi, terkait banyaknya tindakan yang merugikan terhadap perempuan oleh laki2, ya karna pribadi masing2. Perempuan juga bisa melakukan hal seperti itu terhadap laki2.

Sherindila | 19 July 2017 | 01:55:41 WIB
Omg such a really GREATT article..
Wahyu Mulya Sari | 10 August 2017 | 22:18:11 WIB
Kalo sbg wanita muslim..yahh berpegang saja pd Alquran & hadist..dlm hal Hak & kewajiban sbg wanita..itu sudah cukup..
Hidup ini memang pilihan.. tp tentunya hrs ada peraturan yg mengatur..
Tidak bisa sesuka hati kita saja.. Krn hidup dan kehidupan kita ada yg memiliki..
Jd kita hrs patuh pd aturan-Nya..
Wahyu Mulya Sari | 10 August 2017 | 22:21:17 WIB
Patuh pd aturan-Nya..
InsyaAllah selamat dunia-akhirat.. 😉
anonim | 15 September 2017 | 00:45:02 WIB
mohon maaf, tapi sebenarnya bedanya feminis dgn egalitarian itu apa menurut pendapat kalian(terutama feminis itu sendiri)? apalagi semenjak istilah feminis tidak hanya soal perempuan lagi :( (lucunya masih ada laki2 yg ikut feminis dicap "allies/sekutu" bukan salah satu dari feminis itu sendiri)
ifa | 15 September 2017 | 14:10:10 WIB
setelah bertahun2 pencarian jati diri dan banyaknya pengalaman hidup yang terjadi, banyak membaca artikel2 termasuk di magdalene, saya menyadari bahwa saya seorang feminis dan agnostik.
poin 5 dan 6 ngena banget di saya. saya ingin sekali rasanya ngobrol dengan sesama feminis karena saya tumbuh dan besar di lingkungan patriarki :( jadi g punya tempat berbicara.
An | 27 September 2017 | 14:51:29 WIB
Bedanya Egalitarian dan Feminisme itu apa ya? Ty.
cheska | 01 October 2017 | 21:07:31 WIB
saya mendukung kesetaraan gender terutama dalam ranah pendidikan dan sosial, namun saya enggak completely pro sama pernikahan sesama jenis. saya cuma menghargai, yang artinya saya enggak akan judge atau melarang hal tersebut, namun saya juga engga mendukung (karena prinsip saya yang berdasar sama agama saya melarang hal tersebut). disini disebut "para feminis percaya pernikahan legal harus berlaku bagi semua preferensi seksual dan ekspresi gender". apakah jika saya, yang mendukung kesetaraan gender dalam aspek sehari-hari (lebih ke arah feminisme kuno dan penghapusan stereotip viral tentang feminitas dan maskulinitas sih) namun tidak mendukung pernikahan sesama jenis tidak berhak menyebut diri saya sebagai seorang feminis?
ahmad | 21 October 2017 | 07:58:26 WIB
saya laki² mau menuntut jatah cuti yang sama seperti cuti hamil pada perempuan
feri | 14 November 2017 | 07:32:34 WIB
apa ya patriarki hal yang buruk? http://news.ferisulianta.com/2017/10/patriarki-menindas-wa nita-ini-faktanya.html
Meyer | 07 January 2018 | 18:02:15 WIB
Oke, dari poin yang disebutkan diatas, ada beberapa yang mengganjal dikepala saya, yang pertama, disebutkan kalau feminist menginginkan kesetaraan dalam segala bidang, contoh hak, namun bukannya di Indonesia sendiri hak asasi sudah setara? dengan nama Hak Asasi Manusia/Human Rights (bukan pria atau wanita), dasar hukumnya sendiri tidak membedakan mana pria dan wanita, lalu apa yang mau disetarakan lagi?.
PBB menyatakan rata-rata wanita diseluruh dunia hanya mendapat 77% dari pendapatan pria, ya memang secara keseluruhan benar, tapi PBB tidak mencantumkan pekerjaan yang diambil oleh wanita, wanita cenderung memilih pekerjaan dengan jam kerja yang lebih sedikit dari pria, ini dikarenakan wanita karir yang sudah berumah tangga memiliki peran yang penting dalam membangun keluarganya, dan harus membagi waktu, dan wanita juga cenderung memilih pekerjaan dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi dari pada pria, ini dia mengapa adanya perbedaan pendapatan antar pria dan wanita. _
Meyer | 07 January 2018 | 18:03:45 WIB
_ Ditambah lagi feminist sekarang (terutama di platform online) selalu menyerukan bahwa wanita tidak perlu lagi menjadi wanita rumah tangga, wanita harus bebas, ini sangat ironis menurut saya, feminist yang seharusnya memberikan kebebasan memilih bagi wanita malah memandang rendah wanita yang memilih profesi sebagai pengurus rumah tangga yang sangat penting dalam struktur keluarga.
Pria mendapat rata-rata gaji lebih banyak, karena pria cenderung memilih pekerjaan dengan tingkat bahaya yang tinggi dan jam kerja yang lebih banyak, dan ini normal, karena sebenarnya pria lah yang tidak memiliki banyak pilihan selain bekerja keras, dan banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Saya rasa feminist sekarang (lagi, di platform online) sudah terlalu radikal, dengan aksi-aksi dan pernyataan mereka yang irasional, dan disini biar saya beri tahu "aksi berkata lebih banyak dari omongan", jika anda tidak percaya dengan feminist yang radikal _
Meyer | 07 January 2018 | 18:04:34 WIB
_ Izinkan saya quote beberapa kata dari feminist yang cukup terkenal.

"Saya ingin melihat seorang pria dipukuli hingga babak belur dengan mulut yang di tutup dengan sepatu hak tinggi, seperti apel pada mulut babi." -Andrea Dworkin.

"Pria terjebak dalam zona diantara manusia dan kera, dan mungkin lebih buruk dari kera, karena pertama: pria memiliki banyak hal negatif yang bahkan tidak dimiliki kera - kebencian, cemburu, kehinaan, kejijikan, bersalah, memalukan, aib, kergauan - dan kedua mereka tidak tahu diri." -Valerie Solanas (S.C.U.M - Society for Cutting Up Men). _
Meyer | 07 January 2018 | 18:05:04 WIB
_ Point saya disini, bukan untuk menunjukkan semua feminist membenci pria, bahkan dari point artikel diatas, feminist memiliki niatan yang baik, namun untuk menunjukkan feminisme yang radikal yang dapat mempengaruhi mindset generasi muda saat ini, jadi bagi para feminist yang masih sejalur dengan tujuannya, ada baiknya lebih fokus untuk mengehentikan gerakan radikal yang dapat membahayakan itu.
Dan saya sangat setuju dengan kondisi Indonesia saat ini yang jumlah perempuan yang putus pendidikan lebih banyak dari pada laki-laki, namun ingat ini disebabkan oleh mindset orang tua yang masih kuno, dan itu yang perlu diperbaiki adalah mindset itu sendiri. _
Meyer | 07 January 2018 | 18:05:42 WIB
_ Jadi menurut saya, ketidaksetaraan itu sendiri sebenarnya tidak ada, secara biologis keduanya maupun pria dan wanita memiliki perannya sendiri-sendiri, dan memiliki kebutuhannya masing-masing, pria sebagai manusi membutuhkan wanita begitu juga wanita sebagai manusia membutuhkan pria, bahkan jika diambil dari sejarah kembali ke manusia purba dulu yang hidup berkelompok, seorang pria memiliki peran sebagai pemburu, dan wanita lah yang mengolah sumber daya dalam kelompok tersebut, dan tidak ada yang salah dengan hal itu, tidak ada peran yang lebih rendah dari yang lainnya, masing-masing peran berfungsi untuk saling menopang dan membangun, buktinya manusia bisa bertahan dari zaman purba sampai sekarang, dan lihatlah feminist radikal yang sekarang mulai berkembang, tidak mengejar kebebasan wanita, namun supremasi wanita.
andra | 08 January 2018 | 19:11:07 WIB
apakah kalau terjadi perang, kaum feminist bisa menerima keadaan mereka harus ditempatkan di garis depan dengan para laki-laki untuk melawan musuh...???
anonim | 25 January 2018 | 01:08:55 WIB
yeahhh awalnya baik tapi lama-lama ideologi feminis akan rusak oleh orang nya sendiri
https://www.dangerous.com/37029/feminist-satire -website-closes-cant-out-crazy-feminists/

karna faktanya manusia itu gak akan pernah puas, kawanku
bahkan jika kau
F E M I N I S
kalian yg awal nya ingin setara, akan ingin jadi dominan juga!
nice one | 13 March 2018 | 22:48:30 WIB
hah, mati-matian menghapus istilah yg seksis ke cewe tpi pernah membuat istilah yg seksis ke cowo (dgn seribu alasan untuk menjustifikasi bahwa itu untuk kebaikan cewe)

dan juga
feminist : "toxic masculinity doesn't mean all masculinity is a toxic nor meant to demonize men."

also feminist : "there is no such thing as toxic femininity."

itulah mengapa kalian dibenci.
honest | 20 March 2018 | 20:36:43 WIB
kenapa feminis dibenci atau dianggap matriaki berkedok kesetaraan palsu?
karna banyak feminist yang keracun malah jadi pembenci lelaki, sedangkan yang laki2 keracun jadi MGTOW (yang sebenernya hasil reaksi dari feminist movement yang terlalu radikal). Hasilnya, stereotip ga sehat antara laki2 dan perempuan. Akibat stereotip ini pula banyak akhirnya yang kawin dengan orang asing karena dianggap lebih bebas/ cenderung tutup mata dengan hal2 demikian, atau gk pindah ke negara yg lebih nyaman menurut mereka.

dan bener banget, banyak orang yg jadi feminis awalnya normal jadi gila(feminazi) atau cowo yg menghargai wanita jadi misoginis akut karna ulah kalian
Dicky | 21 March 2018 | 16:08:51 WIB
Buat yang masih nganggep feminisme itu aksi superioritas wanita, atau menaikkan derajat wanita dengan cara menindas pria, coba baca lagi point nomer 1 sampe 3...

Feminis sejati itu intinya saling menguatkan... Baik wanita ataupun pria... Bukan saling menjatuhkan...
Kalopun ada yang seperti itu, jangan anggep mereka sebagai feminis... Walaupun mereka ngaku2 feminis...
Sama kayak teroris yang di timur tengah sana... Mereka yang paling pede ngaku menjalankan perintah agama... Tapi mereka tega membunuh orang2 yang tidak seiman... Maukah kalo para teroris itu kita sebut umat agama kita? Pasti ngga kan...

Trus buat yang masih ngga percaya kalo wanita di negara kita ini sering ditindas, coba baca2 data kementrian... Berapa banyak jumlah wanita korban pelecehan seksual, kekerasan/KDRT, bahkan sampai pembunuhan...
Dicky | 21 March 2018 | 16:11:28 WIB
(cont.) Saya pria dan saya feminis... Saya paham betul kenapa kesetaraan itu perlu...
Supaya negara kita terbebas dari yang namanya stereotip gender... Kalo stereotip gender hilang dijamin negara kita ngga akan ada lagi yang namanya penindasan dan pemaksaan...

Maksud dari pemaksaan itu gini... Saya kasihan melihat pria dipaksa untuk jadi macho sejak kecil... Oke buat yang emang pengen jadi macho dijamin seneng... Tapi buat yang ngga pengen? Coba bayangin gimana perasaan mereka... Mereka tetep dipaksa dengan segala macem alesan, salah satunya melindungi wanita...
Emang ada apa dengan wanita? Mengapa wanita harus banget dilindungi? Nah ini stereotip gender yang bener2 ngerugiin kedua pihak (pria dan wanita)... Untuk pria mereka dipaksa ngelakuin sesuatu yang ngga mereka mau, dan untuk wanita diberi cap sebagai makhluk lemah yang harus dilindungi...
Ano | 27 March 2018 | 22:25:44 WIB
Saya paham tujuan "awal" kalian (feminist) hanya ingin kesetaraan gender, tetapi kalau kalian lihat diluar sana (luar negeri) banyak feminist activist yang secara terbuka menyerukan : "Kami feminist, kami tidak ingin menjadi seperti pria. Pria itu menjijikan, KAMI INGIN LEBIH DARIPADA PRIA." and guess what she's got? A hundred thousand of applause which mean a LOT of woman agree with this statement. Dan saya sudah tonton BANYAK kompilasi yang isinya feminist bodoh dan membuat pernyataan yg make no sense at all, dari yg bilang kalau di ruangan ber-ac wanita lebih merasakan dingin di banding pria (wtf), lalu ada wanita yang merasa dirinya di lecehkan karena seorang pria say hello ke dia dan masih banyak lagi. I'm sorry to say but most of feminist are dumb. And btw you can search these buch of compilation in YouTube with keyword "FEMINIST GETS OWNED"
Frea | 31 March 2018 | 15:04:48 WIB
Sbnrnya sexual harassment juga salah sih ya tpi logika feminis kbanyakan kelewatan lebay
.
.
Manfaatin hak perempuannya (being toxic femininity)



Weekly Top 5