Raisa dan Ekspektasi Cantik Natural

Tuesday, 11 October 2016 - 09:36:22 WIB
By : Nadila Dara | Category: Gender & Seksualitas - 11151 hits
Beberapa waktu yang lalu, netizen lintas media sosial – Snapchat dan Instagram -- sempat heboh dengan berita tentang Raisa 'marah-marah' di Snapchat.

Lewat akun @raisabackstage, penyanyi itu curhat tentang pengalamannya saat sedang makan di restoran langganannya. Di sana ia mendengar salah satu pramusaji perempuan, yang sepertinya tidak ngeh kalau Raisa sedang makan di situ, membahas Raisa bertubi-tubi dengan temannya.

Kata-kata sang pramusaji membuat Raisa naik darah hingga ia keluar dari booth tempatnya makan, dan mendekati si pramusaji sambil bertanya, "Mbak kenapa? Ada masalah apa ya sama saya?"

Yang bersangkutan akhirnya mengatakan kalau inti dari kata-katanya tadi adalah dia cuma mau melihat Raisa tanpa makeup dan foto bareng saat Raisa sedang tidak memakai makeup.

"Dia ngomong seolah-olah aku ini tidur aja pake makeup. Kebetulan hari itu makeup-ku emang lagi cukup tebel karena aku abis photoshoot sama Elevenia. Akhirnya aku bilang, ‘Mbak pasti baru ya, di sini’ karena saya selalu dateng ke restoran ini tiap minggu, kadang abis olahraga, kadang juga pake baju tidur, kadang ya memang habis photoshoot."

"Tapi ya udahlah, soal Mbak itu aku emang cuma pengen curhat aja," lanjut Raisa dalam videonya.

"Yang mau aku tekanin adalah nilai seorang wanita tuh nggak bergantung sama seberapa makeup yang dia pake. Aku nggak mau foto di IG trus bilang ‘no makeup, no filter, I have such good skin’ dan bikin orang lain ngerasa buruk tentang dirinya sendiri."

"Because no makeup, no filter, doesn't mean you're better than anybodyDoesn't mean your better than filter and makeupYes, you have to love your skin, you have to take care of it, but after all if you want to wear makeup, wear it!"

Pesan Raisa cukup jelas: makeup memang identik dengan perempuan, tapi apakah itu satu-satunya tolok ukur yang diperhitungkan saat kita menilai seseorang?

Curhatan Raisa di Snapchat ini cukup mengundang banyak respon, terutama karena beberapa hari sebelum mengunggah video ini di Snapchat, sempat tersiar gosip Raisa menjadi orang ketiga dalam hubungan presenter Hamish Daud dan Nadine Chandrawinata. Terlepas dari gosip-gosip aneh, saat membuka akun Instagram Raisa, saya cukup terganggu membaca sejumlah hate comments di IG-nya yang isinya membandingkan dirinya dengan Nadine hanya karena makeup.

Berkat fitur baru Instagram untuk memblokir komentar kebencian, banyak dari komentar itu sudah terhapus. Namun beberapa berbunyi kira-kira sebagai berikut:

"Ah, Nadine lebih cantik, nggak pernah makeup-an, selalu tampil natural. Raisa mah makeup-an banget."

"Foto-foto di IG Raisa isinya pake makeup tebel semua, kayak Nadine dong, cantik alami."

Saya tidak bermaksud membela salah satu dari mereka, atau menentukan siapa yang lebih cantik. Selama manusia masih punya muka, akan selalu ada wacana si A lebih cantik dari B, dan si C lebih jelek dari si D. Terutama jika trolls di internet terlibat.

Tapi lewat komentar-komentar tersebut, saya mendapat kesan kalau perempuan yang pakai makeup seolah dianggap "curang" karena mereka melakukan "usaha" untuk terlihat lebih cantik. "Usaha" yang hadir dalam bentuk foundation dan concealer, bukan semata-mata faktor bawaan lahir yang sudah bikin kita cantik "dari sananya". "Usaha" ini membuat si perempuan terlihat fake, palsu, dan nggak alami.

Nadine adalah pembawa acara petualangan di TV yang kerjanya naik turun gunung dan menyelam, jadi wajar kalau dia tidak punya tim penata rias dan rambut yang harus selalu siap sedia di kaki gunung setiap subuh sebelum mulai pengambilan gambar. Berbeda dengan Raisa yang memang pekerjaannya menuntut ia untuk selalu siap tampil di depan kamera dengan tim yang sigap di belakang panggung.

Membandingkan ketebalan makeup kedua selebriti tersebut sama saja seperti, "Ih, itu astronot lebay amat sih ke kantor NASA pake baju tebel sama helm segala. Mas Eko, IT Manager saya aja ke kantor cuma pake kemeja biasa." Nggak bisa dibandingin apple-to-apple, kan?

Saya jadi teringat kutipan yang pernah saya baca di suatu blog beberapa tahun yang lalu: "Why does my makeup makes you feel like I cheated in some competition of beauty?"

Kutipan ini muncul ketika No-Makeup Makeup look sedang sangat populer. Saat itu saya berpikir, kenapa namanya harus seperti itu? Memangnya pakai makeup segitu malu-maluinnya ya, sampe gaya makeup natural diganti namanya jadi No-Makeup Makeup?

Terkadang masyarakat punya ekspektasi yang tidak realistis bahwa perempuan itu harus sudah cantik tanpa makeup. Kalau pakai makeup,  berarti dia sudah tidak cantik alami lagi. Kayaknya masih banyak yang belum mau paham kalau di dunia ini, ada segelintir cewek-cewek yang mau menghabiskan 10 menit ekstra di depan kaca setiap pagi untuk pakai eyeliner, namun ada juga yang habis mandi langsung berangkat. Ada yang setiap pagi menjepit bulu mata, ada pula yang tidak. Apakah ini berarti yang satu jadi lebih baik dari yang lainnya? I guess not.

Ini berlaku juga sebaliknya. Apakah karena kamu bisa ngebedain lipstik M.A.C Ruby Woo dengan M.A.C Russian Red, itu berarti kamu adalah perempuan yang lebih OK dibanding perempuan yang nggak pernah pakai lipstik merah seumur hidupnya? Apakah perempuan yang nggak ngerti pakai maskara berarti bukan perempuan seutuhnya?

Banyak orang yang terlalu terobsesi dengan apa yang perempuan pakai atau tidak pakai di wajahnya. Obsesi yang jadi melebar terlalu jauh karena ternyata, menilai karakter dan kepribadian seorang perempuan bisa diukur dari tebalnya bedak atau pensil alis yang dipakai. Seolah-olah nggak usah kenal lebih jauh, nggak usah ngobrol terlalu banyak, karena dari dia makeup-an aja, kita sudah tahu banget dia perempuan seperti apa. Bukan begitu? :)

Nadila Dara adalah editor kecantikan di femaledaily.com, dimana artikel ini pertama kali dimuat. 

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Malinda | 11 October 2016 | 12:25:09 WIB
Kalau dandan dibilang menor, genit, ga percaya diri. Kalau ga dandan dibilang kucel, gabisa merawat diri. Mau ngana apa?
Rantika | 11 October 2016 | 14:19:50 WIB
I know how it feels. Pernah dicemooh sama teman karena aku terlalu ribet memakai produk perawatan tubuh, dari luluran, maskeran, body lotion. Bahkan mau tidur aja pakai lotion dan sisiran dulu. Memangnya salah jika merawat diri sendiri and I'm feel good about it?
Ruby | 11 October 2016 | 18:30:37 WIB
"Ruby, coba deh, pake make-up tiap hari kayak begini. Biar lebih cantik."

Makasih banget, ya. *sambil geleng-geleng* Suka-suka gue kali. Kadang lagi mood pake, seringnya enggak. Biar orang liat gue sebagai gue, baik pake pulasan atau enggak.
Restu Hapsari | 11 October 2016 | 20:38:58 WIB
Sadly, masih banyak anggapan nyinyir soal perempuan bermake-up, most people think woman with make up is woman whom try too hard to look impressive. Padahal ya make up buat beberapa perempuan ya memang tuntutan profesi atau sebagai cara untuk mengekspresikan diri. Ironisnya, banyak judge yang menyatakan perempuan ber-make up berarti gak jujur jadi diri sendiri. Jangankan urusan make up, kadang urusan perempuan yang picky pakai skin care aja dinyinyirin ini itu, padahal jelas benefit skin care ya buat kesehatan. Ironically, yang nyinyir justru banyak sesama perempuan.

Btw, I'm your loyal beauty article reader and youtube viewer loh, Dara :)
Novi Miftahul Jannah | 12 October 2016 | 09:31:45 WIB
Majulah tanpa menyingkirkan, naiklah tinggi tanpa menjatuhkan, jadilah baik tanpa menjelekkan orang lain, dan benar tanpa menyalahkan. Tidak ada yg salah jika wanita suka make up, tidak ada yang salah juga wanita ga suka make up, yang penting dia nyaman dengan dirinya sendiri dan tau apa yang pantas untuk dirinya :D
Anggita Kuswandi | 12 October 2016 | 10:30:34 WIB
Ah ini! Saya termasuk perempuan yang tidak ber-make up karena masalah kesehatan kulit, jerawat akibat kulit sensitif. Kalau dandan pun cuma eyeliner dan lipstik karena ada pantangan tata rias wajah (bedak, foundation, etc.) dari dokter. Begitu keluar rumah langsung disamperin tante-tante dan SPG skincare atau drugstore, merekomendasikan skincare ini lah itu lah padahal saya nggak bisa sembarangan pakai skincare (jangankan skincare, bahkan sabun wajah yang diklaim cocok untuk kulit sensitif saja masih bikin kulit wajah saya kemerahan). Ada juga yang ngeri dan nge-judge dokter saya nggak efektif dan menyarankan saya pindah dokter/klinik.

Saya tadinya suka nanggapin mereka, tapi toh mereka nggak ngerti juga permasalahan saya, jadi sekarang sih didiamkan saja lol
Indy Nirelan Kariem | 12 October 2016 | 13:09:24 WIB
lihat mini review artikel ini di timeline twitter @ikanatassa
sebagai perempuan berumur 22 tahun yang "baru" bersahabat dengan "lipstik saja" merasa tenang setelah baca artikel ini. make up perlu tapi bukan keharusan. ketika perempuan tidak bisa menggunakan make up seperti perempuan pada umumnya juga bukan berarti dia tidak bisa tampil cantik, kan?
seharusnya sesama kaum perempuan harus lebih bisa saling menghargai. bukan membanding-bandingkan. karena pada dasarnya kita ini sama, perempuan.
Ai | 21 October 2016 | 07:58:44 WIB
Kalo ke kantor naik speda ga pake make up. Abis itu mandi. Pake seragam dan pake make up. Utk menghargai institusi lah..ketemu client. Pulang spedaan lagi. Di rmh ga make up. Terserah pak suami aja abis itu di rmh n kluar rumah jalan2nya.
Rindu | 24 October 2016 | 18:52:24 WIB
"Aku nggak mau foto di IG trus bilang ‘no makeup, no filter, I have such good skin’ dan bikin orang lain ngerasa buruk tentang dirinya sendiri."

really raisa? remember when you used that #onlydoggoesforbones just to make you look better? the jokes is on you.
Sylviana | 01 Desember 2016 | 23:57:43 WIB
Sometimes, women can be so catty to other women.. :(
Fay | 10 Desember 2016 | 23:46:26 WIB
Good writing. Good point.
:)



Weekly Top 5