Dengan Kompromi, Kita Melestarikan Budaya Pemerkosaan

Wednesday, 02 November 2016 - 11:16:02 WIB
By : Ellena Ekarahendy | Category: Sosial - 27583 hits
“Ah, itu cuma gambar,” sering kita berdalih, “Tak perlu diambil serius.”

Tak jarang juga kita berkelit, “Ah, itu cuma tulisan. Tak usah dipikirkan.”

Namun, kita lupa, ada kalanya bahasa yang kita pelihara bisa menjadi senjata. Ia bahkan bisa membenarkan kita untuk memerkosa.

Sebagai pekerja grafis, saya mengikuti sejumlah komikus dan ilustrator di Facebook. Namun, Senin lalu (31/10), saya ditampar habis-habisan: betapa kita telah lama abai dan permisif pada kekerasan simbolis.

K. Jati, seorang komikus yang saya ikuti, membuat sebuah komik strip yang diduga adalah tanggapan atas persoalan pribadinya dengan SR, sesama komikus. Saya sendiri rutin mengikuti seri komik God You Must Be Joking (GYMBJ) karya Jati maupun komik buatan SR. Namun, selain GYMBJ, Jati juga membuat komik-komik underground bermuatan seksual yang tak jarang mengandung sadisme dan pedofilia. SR tidak setuju terhadap kecenderungan karya Jati dan menyatakan ketidaksukaannya pada para penerbit yang mendistribusikan komik itu.

Tak lama, di akun Twitternya, Jati membuat sebuah komik strip bertema pemerkosaan dan inses menggunakan tokoh-tokoh yang biasa ada di komik SR, yaitu tokoh ibu dan anak laki-lakinya. Komik ini sudah dihapus dari Twitter Jati, tapi saya sempat melihatnya. Dalam komik itu, si anak dipaksa untuk memuaskan hasrat seksual sang ibu, dan adegan seksual itu digambarkan serta-merta, tanpa motivasi apa pun dalam cerita. Di akhir panel, karakter Gigi Dua berkata, “Wanita amoral.”

Dukungan terhadap SR pun bergulir di antara komunitas komik dengan menambahkan sebuah tagar di akhir pernyataan sikap mereka. Ketika tulisan ini diselesaikan, SR telah merespons salah satu dukungan tersebut dan meminta agar kasus ini tak dibuat lebih viral lagi. Saya memahami pertimbangannya, mengingat ada anak yang turut dilibatkan. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat saya, tulisan ini tetap saya buat. Bukan untuk ikut arus sensasi, tapi untuk menyampaikan satu hal genting: kekerasan simbolis harus berhenti kita toleransi.

Kompromi simbol dan legitimasi kekerasan

Saya jijik, marah dan terluka, bukan hanya karena isi komik tersebut, tapi juga karena saya baru menyadari bahwa selama ini saya turut berkompromi dengan narasi-narasi dalam komik Jati. Saya menyukai komik-komiknya yang bicara soal filsafat, sambil berpura-pura merasa tak ada yang salah dari komik-komik pornonya, yang sesungguhnya tak jarang menganggu saya. Itu pula yang saya lakukan pada beberapa komik strip yang politically incorrect lainnya di jagat maya.

Ketika gambar dan narasi yang kerangka pertimbangan moralnya melenceng itu mengusik saya, saya berkompromi, seringkali dengan dalih, “Memang begitu kok pilihan berkaryanya.” Ketidaksesuaian kerangka pertimbangan moral dalam gambar dan narasi yang saya lihat dan baca itu saya anggap sebagai salah satu gejala para pembuatnya saja dalam mengartikulasikan kreativitas. Tak ada yang genting dari sana.

Namun, kejadian kemarin membuat saya tersentak: ada kekerasan yang secara sepi dan lamban tengah saya rayakan di saat saya terus berkompromi. Kita seringkali tidak sadar bahwa kekerasan subtil itu akan tumbuh dan tertata. Perlahan, ia akan terlegitimasi menjadi sebuah mekanisme pemaknaan simbol-simbol yang lebih besar, membiarkan kita mengulang-ulang upaya pembenaran itu dari waktu ke waktu.

Sebagai pekerja grafis, saya sadar akan peran saya dalam menciptakan citra untuk membangun persepsi. Simbol-simbol dibekali makna, dinjeksikan ke publik untuk dikonsumsi, lalu terlegitimasi menjadi sebuah kebenaran. Demikian pula dalam kasus komik Jati (yang ia lengkapi dengan tagar-tagar, antara lain, #incest, #sex dan #milf). Kita tidak lagi memperkarakan “siapa” (karena pendukung Jati membela dengan, “Siapa tahu itu bukan SR. Namanya saja kebetulan sama”), kita tengah memperkarakan “apa”, yakni: (1) Pemerkosaan (interaksi seksual tanpa konsensus), dan (2) Inses.

Apakah candaan pemerkosaan inses itu jenaka? Tanyakan pada para penyintas yang harus menghadapi hidupnya dengan trauma. Kamu tahu fakta umum bahwa 1 dari 3 perempuan pernah mengalami kekerasan seksual dalam hidupnya? Tahu apa yang brengsek dari fakta itu? Karena dalam sebuah kelompok feminis yang pernah saya ikuti, perbandingannya nyaris tepat: tiap satu dari 3-4 di antara kami pernah mengalami pelecehan seksual. Yang lebih brengsek lagi? Satu dari 3-4 di antara kami mengalami pelecehan ketika usia kami bahkan belum genap 10 tahun, ketika kami masih kanak-kanak. Yang makin brengsek lagi? Pelakunya sama-sama masih punya hubungan darah, dekat maupun jauh. Pertentangan antara hormat dan amuk, ketenteraman dan kemarahan, serta trauma harus ditemui sepanjang sisa usia. Lantas, apakah pemerkosaan inses terhadap anak masih bisa kita anggap jenaka, masih bisa membawa bahagia?

Perkara “apa” inilah yang rutin kita kompromikan dengan dalih, “Itu kan cuma cerita”, “Itu kan cuma bercanda”, “Itu kan cuma gambar”. Cuma, cuma, dan cuma. Padahal, simbol-simbol yang “cuma” inilah yang justru tengah kita pelihara menjadi senjata.

Sayangnya, karena kekerasan yang terjadi dalam kekerasan simbolis memiliki implikasi tak langsung, kita melonggarkan diri. Seakan-akan pemerkosaan dan bentuk-bentuk kekerasan seksual lainnya terjadi tanpa adanya kausalitas struktural. Seakan-akan bersifat permisif terhadap simbol-simbol tak sedang mengikutsertakan kita dalam budaya pemerkosaan itu sendiri. Padahal, kekerasan simbolis itu justru berkelindan dengan semua bentuk tindakan, struktur pengetahuan, dan struktur kesadaran individual.

Ambillah contoh kecenderungan kita dalam melihat hentai, chikan porn, maupun berbagai produk pornografi lainnya yang mengeksplorasi kepuasan seksual lewat relasi timpang tanpa konsensus. Kekerasan dibingkai secara estetis di dalamnya hingga mengaburkan pertimbangan-pertimbangan etis yang harusnya tetap melekat padanya.

Hubungan seksual paksa dirangkai dalam komposisi gambar yang menyenangkan secara visual (tentu bagi kelompok dominan), serta didukung dengan narasi yang membelokkan persepsi kita dalam melihat ketimpangan relasi itu. Narasi pelecehan seksual dalam modus estetika kekerasan itu kita anulir, “Itu kan fiksi”, “Itu kan hanya cerita”, “Itu kan bukan di dunia nyata”, dan seterusnya.

Kerangka persepsi terhadap simbol-simbol inilah yang tanpa kita sadari secara perlahan kita biarkan membentuk struktur berpikir kita sehari-hari. Sehingga, bukan tak jarang ketika relasi yang timpang itu terjadi di dunia nyata, pledoi yang keluar adalah, "Ya kan hanya meniru dari film-film bokep itu.”

Senyata-nyatanya simbol, senyata-nyatanya kekerasan

Tulisan ini dibuat bukan untuk menuding-nuding dan menjadikan Jati tenar, tapi untuk mengingatkan kita pada nalar. Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan kita untuk angkat suara dan berani bicara benar. Kekerasan seksual—dalam segala bentuk dan ragam akarnya—adalah perkara yang nyata dan genting. Senyata-nyatanya dan segenting-gentingnya simbol-simbol yang kita nikmati dan hidupi sehari-hari. Betapa pilunya mendengarkan lantunan, “‘Til it happens to you, you won’t know. It won’t be real.”

Dukungan dan keberpihakan para komikus kawan-kawan SR—yang mayoritasnya laki-laki—setidaknya menyatakan bahwa kita masih punya harapan. Meski demikian, apakah sikap kita terhadap budaya kekerasan dan kekerasan simbolis baru sahih ketika kita sendiri atau orang-orang terdekat yang mengalaminya?

Komik K. Jati bukan satu-satunya yang mempromosikan budaya pemerkosaan. Sebutlah beberapa komik tahilalats atau dyusuv, misalnya. Komik-komik itu kita anulir karena tokoh-tokohnya tak bernama, hingga seolah-olah narasi di dalamnya tak nyata. Sementara narasi gagasan yang disebarluaskan dalam simbol gambar komik itu akan tetap nyata dan terlegitimasi dalam keseharian. Jika saja tokoh dalam komik Jati itu bukan bernama sama dengan tokoh komik SR—hingga ia berjarak dari realitas kita—masihkah kita memiliki amarah yang sama?

Kekerasan simbolis menempatkan perempuan—terutama dalam pergerakan budaya populer di tengah kencangnya era digital ini—untuk tidak akan pernah bisa lepas dari dominasi male gaze. Citra perempuan dibuat tak lebih dari sekadar obyek pemberi kepuasan bagi laki-laki (hetero), bukan sebagai subyek individu.

Sejumlah komikus menganjurkan agar para pembaca komik berhenti memberi dukungan pada Jati dan menghentikan distribusi komik-komik Jati. Beberapa pihak menanggapi dengan mengatakan bahwa kita boleh saja tidak setuju dengan Jati, tapi kita tidak berhak untuk membunuh kariernya sebagai komikus karena dia butuh makan dan harus memberi makan keluarganya.

Kita dibuat percaya bahwa pertimbangan-pertimbangan dalam praktik ekonomis harus selalu terpisah dari pertimbangan-pertimbangan dan praktik etis. Padahal keduanya harusnya bisa berkelindan. Hak seseorang untuk mengembangkan talentanya dan bertahan hidup tak bisa menjadi pembenaran untuk merenggut hak orang lain untuk diperlakukan selayak-layaknya manusia, yang juga berhak untuk bertahan hidup secara materiil dan non-materiil.

Hanya masyarakat yang menghidupi budaya pemerkosaan dan merayakan kekerasan simbolis yang lebih memikiran masa depan dan nasib pelaku kekerasan, daripada memikirkan masa depan dan nasib korban kekerasan.

Melalui tulisan ini, saya menyatakan keberpihakan bukan hanya pada SR, namun pada para perempuan lain yang hidup dalam kerangka dominasi patriarki. Diam ketika kekerasan terjadi berarti menjadi bagian dari kekerasan itu sendiri, bahkan terhadap kekerasan sesubtil kekerasan simbolis sekalipun. Selama kita berkompromi dengan kekerasan simbolis, selama itu pula kita merawat kekerasan psikis dan fisik untuk terus hidup (bahkan tersistematisasi) dalam kehidupan kita sehari-hari. Enough is enough.

Ellena Ekarahendy adalah seorang INTP-Scorpio yang menghidupi diri sebagai pekerja grafis serabutan dan juru ketik musiman. Kerap melamunkan politik bahasa gambar dan kata dalam budaya populer, gender, seksualitas, hak asasi manusia, dan siasat-siasat untuk merangkai itu semua.

Ada tanggapan atau komentar? Tulis di bawah ini.

Related Articles
COMMENTS
Janis Al Fath | 02 November 2016 | 14:53:26 WIB
Padahal Jati sendiri adalah seorang suami dan seorang ayah, saya tak habis pikir mengapa dia bisa menyerang orang yang tak sependapat dengannya dengan cara serendah itu.
Ars15_29 | 02 November 2016 | 16:24:06 WIB
Jujur, saya juga mengikuti "God You Must Be Crazy" dr KJ. Dan beberapa waktu lalu saya sempat melihat komiknya yg vulgar tampil di FB (dan di share). Saya paham apabila yang ia buat adalah imajinasinya yg lepas dan ternyata banyak orang yang memiliki imajinasi yang sama. Namun, tampaknya ia lupa kalau ada korban apabila imajinasi tersebut tidak dijaga, mulai dari yg tidak mengerti sampai yg salah mengerti.

Saya suka tulisan ini, karena jujur saja saya pernah mengutarakan pendapat saya ke teman yg juga komikus dan dia hanya menjawab, "ya salah sih, tapi emg itu gaya dia"

So thank you Ellena!
Yohanes Kevin Danny | 02 November 2016 | 19:56:08 WIB
Terima kasih mbak Ellena atas tulisannya.
Saya kira Pak Kharisma Jati ini memang selalu seorang High-Functioning Psychopath dan spesialis membuat komik-komik sadis, baru tahu kalau beliau membuat komik normal juga hahaha..

Ya sudah,semoga ini bisa menjadi contoh dan tidak perlu dianggap lagi kehadirannya dalam hidup kita. :D
Nothing | 02 November 2016 | 20:03:00 WIB
U know nothing Ellena
Mail | 02 November 2016 | 21:05:53 WIB
Sekadar info tambahan buat yang tidak mendalami konteks dunia ini: ada satu detil yang mungkin agak luput dari deskripsi komik bermasalah itu di paragraf 6, yaitu fakta bahwa figur tokoh komik SR yang diplesetkan itu bukan sekadar tokoh fiksi, melainkan representasi pembuatnya, bahkan sampai ke keluarganya. Belum lagi ada style gambar yang ditiru. Maka, penggambaran itu menjadi serangan yang personal dan direct.

Sehingga, pembelaan berupa "mungkin itu bukan dia, mungkin kebetulan namanya sama" adalah pembelaan sampah.
Anon | 03 November 2016 | 00:06:42 WIB
Lucu juga penulis rutin membaca GYMBJ tapi terpicu karena kasus ini.
Berty | 03 November 2016 | 00:14:44 WIB
Saya termasuk yang pertama menulis di Kompasiana, menyesali perilaku tak terpuji Kharisma Jati. Bahkan walau belum lagi 12 jam, tulisan saya telah dibaca lebih dari 2.400 kali. Namun mengingat permohonan dari sang korban agar kasusnya tidak menjadi viral, saya memutuskan menghapus tulisan saya tersebut.
Walaupun demikian saya tetap menyatakan bahwa perilaku Kharisma Jati sungguh-sungguh rendah. "Shame on you, Jati!".
Marvin | 03 November 2016 | 09:19:26 WIB
You know what, maybe that old bitch deserved it.

Heran Kharisma Jati dianggap selayaknya pemerkosa level wahid, tapi kemudian ketika dikonfirmasikan kenapa dia bisa berbuat seperti itu secara personal ke Sheila (karena biasanya KJ tidak pandang bulu), Sheila hanya bisa bersembunyi di balik nama besar dengan alasan "KORBAN BERHAK TIDAK BICARA!"

You know what, fuck this.
Maybe that old bitch deserve it. May she get exploded by a gas and may her children get run by train. You goddamn moralists.
Anastasia | 03 November 2016 | 10:08:39 WIB
@Marvin : Mati aja lu dasar babi.
Kayaknya anggota keluarga lu harus ada yang diperkosa dulu ya?
Kalio Ong | 03 November 2016 | 10:25:35 WIB
Marvin,

I thought Jati was the worst. But I was wrong.
Apparently there is a lower level than him. Yours.

Dulu Sheila secara terbuka menyatakan keberatannya atas konten karya Jati yang gore dan memuat incest & rape. Sesimple itu saja - dan balasan Jati? Bikin komik strip yang bikin heboh kemarin dengan karakter Lala dan anaknya. Itu serangan personal yang luar biasa keji.

OH, let's not forget - di 2015 lepas dari segala polemik kepantasan, Jati akhirnya dibawa ke Frankfurt sebagai salah satu narasumber waktu Indonesia jadi Guest of Honour. Dibayarin negara. How he repaid the country? Di sana dia vandal, coret-coret di toilet umum, difoto dan diposting di medsos.
azalea s. | 03 November 2016 | 11:40:05 WIB
@Marvin

You know what?
Fuck you.

Maybe you deserve being heartless and inhumane. Maybe you deserve to live without love, compassion, empathy, and all the good things. Calling out people as moralists but you never actually get to understand what 'moral' is, do you? Read a fucking dictionary. Oh wait, you think you're so smart already, by thinking that someone deserve to get treated this way.
Edwin | 03 November 2016 | 12:30:37 WIB
I'm urging you all not to respond to Marvin. That's just what he wants, being the typical no-real-life keyboard warrior, and possibly a frustrated forever-alone guy as well. Responding to him will only make him feel heard, something he probably never feels in the real world all his pathetic life.
Aminah Nurain | 03 November 2016 | 14:11:06 WIB
Hahahaha setuju sama Marvin.
Kasusnya mempermasalahkan Jati aja. Tapi tidak mempermasalahkan masalah dibaliknya. Kupikir Sheila itu sama kayak komiknya. Santun santun munafikun.

Itong | 03 November 2016 | 14:39:40 WIB
Saya sangat menyukai Komik Gigi Dua (GYMBJ) buatan mas Jati. Bukan hanya karena gambarnya kocak saja, namun juga gaya bahasanya yang kritis dan satir. Saya bisa dibilang penggemar mas jati dan Gigi Dua. Saya kira ketika komik dibuat untuk menjadi alat kritik itu adalah hal-hal yang wajar, selama yang dikritisi itu relevan dan wajar, seperti politik ataupun masalah moralitas secara umum.
Namun,ketika komik dijadikan sebagai alat menyeran secara personal dengan masalah personal si pembuat komik, apalagi dengan gambar yang sangat tidak senonoh dan diunggah di ranah publik(secara ini permasalahan personal), saya sangat tidak setuju. Saya menyayangkan sikap mas Jati untuk ini. Harapan saya supaya permasalahan ini segera selesai dan menemukan titik tengah. dan Mas jati sudah menyatakan maaf juga secara Publik, saya kira hal ini tidak usah terlalu diperpanjang. kasihan mbak SR juga.
Marvin | 03 November 2016 | 19:53:38 WIB
KJ deserves that boo for the vandalism. Sure.

Sheila deserves the humiliation for being a Holier Than Thou old scamming bitch.
Nothingness | 04 November 2016 | 14:36:41 WIB
Inses sudah ada sejak lama dalam cerita rakyat... patriarki, pemerkosaan, pedofilia..ada dalam kitab suci...kita cuma sedang diingatkan KJ
Saya | 04 November 2016 | 17:47:46 WIB
Saya muntah melihat gambarnya, tak habis pikir betapa keji karyanya
Marvin gaye palalu paye | 04 November 2016 | 18:41:49 WIB
Si Marvin mendukung anggota keluarganya untuk inses, Jangan lupa dikomikin ya terus di SEGARKAN
Swastika | 20 November 2016 | 05:43:32 WIB
Bacaan membentuk perilaku, saya yakin itu. Jadi semua bacaan tidak berguna dan malah mengarah pada kekejian moral akan membentuk perilaku keji juga. Sampah dengan karya tulis macam itu.



Weekly Top 5