May 19, 2020
32 Persen Pelaku Usaha Lirik Marketing Digital di Gim

Lebih dari 60 persen pelaku usaha Asia Pasifik naikkan anggaran digital marketing di atas 30 persen. 56 persen bidik komunitas daring dan web influencer.

by Magdalene
Community
Share:

COVID-19 menggeser perilaku konsumen dengan sangat cepat. Sebanyak 32 persen pelaku usaha di Indonesia memprediksi semakin banyaknya konsumen bermain gim daring. Meski naik, penaksiran tersebut adalah yang terkecil bila dibandingkan negara Asia Pasifik lain menurut SurveySensum COVID-19 Impact on APAC Business.

“Para pelaku usaha baik di Indonesia maupun negara Asia Pasifik lain melihat masa pandemi COVID-19 ini sebagai momen kebangkitan produk dan layanan digital. Konsumsi media digital melejit. Singapura memimpin, sekitar 89 persen pelaku usaha optimis konsumen akan lebih sering menonton berita di TV dan media digital. Sementara di Indonesia di kisaran 79 persen pelaku usaha yang meyakini hal tersebut. Begitu pula gim daring. Sebanyak 76 persen pelaku usaha di Singapura melihat gim online sebagai sebuah kesempatan karena pertumbuhannya akan semakin pesat. Di Indonesia baru 32 persen yang sepakat dengan hal tersebut,” ungkap Rajiv Lamba, CEO SurveySensum & NeuroSensum di Jakarta, 19 Mei 2020.

Pelaku Usaha Meyakini Kenaikan Produk dan Layanan Digital - SurveySensum

Survei ini dilakukan pada tanggal 27 Maret hingga 12 Mei 2020 terhadap 433 responden bisnis SurveySensum dari berbagai sektor di Indonesia, Singapura, Vietnam, dan India. Responden menduduki berbagai posisi vital seperti CEO, VP, direktur, hingga manajer di perusahaan-perusahaan berskala besar dan menengah.

Pergeseran perilaku konsumen lainnya yang diprediksi akan meningkat adalah maraknya video blog atau vlog. Menurut Rajiv, bagi konsumen yang terbiasa bersosialisasi, pembatasan sosial terlebih berskala besar tentu sangat mempengaruhi banyak hal. Kompensasinya, konsumen akan semakin banyak menonton maupun membuat vlog sebagai ekspresi interaksi sosial selama pandemi COVID-19.

Pelaku USaha Melihat Pentingnya Komunitas Daring dan Web Influencers

Rajiv menuturkan, “Di antara negara Asia Pasifik yang kami survei, India yang paling optimis melihat vlog sebagai ceruk produk dan layanan digital. Setidaknya ini diamini 47 persen pelaku usaha di India. Di Indonesia, ada 37 persen pelaku usaha yang berkeyakinan demikian. Kita bisa lihat tidak sedikit pelaku usaha di Indonesia yang beriklan melalui konten-konten vlog. Tidak menutup kemungkinan setelah pandemi akan lebih banyak content creator baru membuat vlog bersponsor, bekerja sama dengan brand.”

Senada dengan temuan tersebut, 56 persen pelaku usaha Asia Pasifik memandang Komunitas Daring dan Web Influencers akan memainkan peran besar dalam perjalanan pengambilan keputusan pembelian yang dilakukan konsumen. Di Indonesia sendiri ada 42 persen pelaku usaha yang mengamini hal tersebut.

SurveySensum COVID-19 Impact on APAC Business menanyakan 433 responden pelaku usaha di 4 negara Asia Pasifik tentang strategi mereka meggaet konsumen melalui dunia digital. Sebanyak 43 persen responden pelaku usaha telah meningkatkan anggaran media digital dan 42 persen fokus pada menjualan e-commerce.

Perubahan Strategi Pemasaran Pelaku Usaha Asia Pasifik - SurveySensum

Di antara keempat negara responden, pelaku usaha di Singapura yang paling banyak menaikkan anggaran media digital dan penjualan e-commerce, yaitu 57 persen. Di Indonesia terdapat 48 pelaku usaha yang menaikkan anggaran media digital dan 55 persen yang memfokuskan penjualan e-commerce.

Dalam kesempatan terpisah, lebih dari 60 persen responden pelaku usaha akan menaikkan anggaran digital marketing mereka di atas 30 persen. Bahkan 10 persen pelaku bisnis lainnya berani berinvestasi di atas 40 persen.

“Menariknya, ketika negara lain fokus ke digital dan berhenti beriklan di TV, masih ada 20 persen pelaku usaha di Indonesia yang tetap akan menaikkan anggaran iklan TV terutama dari kategori Fast Moving Consumer Goods (FMCG) dan farmasi obat bebas yang tidak terlalu parah dihantam pandemi. Audiens TV di Indonesia masih lebih besar dibandingkan media sosial. Lebih dari 80 persen orang Indonesia masih menonton TV, sementara di negara lain sudah di kisaran 65 persen,” papar Rajiv.

Yang tak kalah menarik, Vietnam menjadi satu-satunya negara responden yang masih akan menaikkan anggaran promosi penjualan. Sebanyak 31 persen pelaku usaha di negara tersebut tetap akan melakukan promosi, sementara di Indonesia hanya 12 persen pelaku usaha yang mengambil langkah tersebut.

Rajiv menambahkan, “Di antara negara-negara Asia Pasifik bahkan di dunia, Vietnam memang yang tercepat menangani dampak COVID-19. Mereka sudah di tahap pemulihan ekonomi, melonggarkan pembatasan sosial. Inilah mengapa mereka sudah kembali bergerak melakukan promosi-promosi.”

Tak bisa dimungkiri COVID-19 menimbulkan kecemasan di kalangan pelaku usaha. Pandemi yang berimbas pada krisis ekonomi dunia ini memaksa pelaku usaha mengencangkan ikat pinggang. Sebanyak 61 persen responden pelaku usaha SurveySensum telah memotong anggaran rekrutmen. Belum lagi 58 persen pelaku usaha memangkas anggaran kampanye di luar rumah (Out Of Home Campaigns).

Rajiv mengungkap, “Responden SurveySensum di Asia Pasifik secara umum memperkirakan situasi akan kembali normal dalam 6 bulan mendatang. Responden pelaku usaha Indonesia barangkali yang paling optimis. Mereka yakin situasi akan kembali normal dalam 5 bulan. Sementara pelaku usaha di Singapura memprediksi krisis COVID-19 akan pulih dalam 7 bulan.”

Meski demikian, Rajiv mendorong para pelaku usaha agar tetap dekat dengan konsumen. Dengan menunjukkan empati lebih, sudut pandang yang lebih positif, dan tidak mengeksploitasi ketakutan konsumen terhadap COVID-19, para konsumen akan tetap mengingat produk dan layanan yang hadir bahkan di situasi kurang beruntung sekalipun.

MAGDALENE is an online publication that offers fresh perspectives beyond the typical gender and cultural confines. We channel the voices of feminists, pluralists and progressives, or just those who are not afraid to be different, regardless of their genders, colors, or sexual preferences. We aim to engage, not alienate.