Women Lead
March 30, 2021

Akuilah Bahwa Teror Bom Makassar Terkait Agama

Akuilah bahwa memang ada masalah dalam agama kita. Tapi tegakkan kepala untuk terus menyelesaikan persoalan kehidupan.

by Lies Marcoes
Issues
aksi terorisme di Katedral Makassar
Share:

Menyusul terjadinya ledakan bom di Makassar, Sulawesi Selatan, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, mengajak kita untuk mengakui bahwa teror bom tersebut terkait dengan agama, dalam hal ini Islam.

Dengan pernyataan tersebut, ia sekaligus menyanggah atau mengoreksi pernyataan Presiden Joko Widodo sebelumnya yang menegaskan, bahwa teror itu tidak ada hubungannya dengan agama. Presiden bicara di tatar normatif, sementara Alissa di ranah fakta-realitas.

Pernyataan Alissa ini sangat fundamental. Dengan pengakuan itu, meski pahit, kita bisa melakukan introspeksi kolektif, ada apa dengan keberagamaan kita.

Ini bukan soal Islam semata. Bagi saya, ini merupakan ajakan untuk membaca dari cakrawala yang lebih luas. Pernyataan Alissa, menurut saya,  bukan hanya bicara soal ajaran semata  tetapi pada problem yang dihadapi oleh agama dalam tanggung jawab moralnya mengatasi problem kehidupan manusia.

Ibarat manusia renta, punggung agama (Islam), bagaimanapun sangat berat menanggung begitu banyak beban tanggung jawab. Ada beban moral, beban kehidupan manusia, beban umat, beban kemiskinan, hubungan-hubungan sosial sejak hubungan di tingkat keluarga,  komunitas, antarwarga, antarumat, hingga hubungan di dunia global yang di mana-mana menunjukkan relasi kuasa yang timpang dengan dampak-dampak buruk yang ditimbulkannya: ketidakadilan!

Ketidakadilan ekonomi yang tak selalu jelas anasir dan kait kelindannya di mata awam namun terasa nyata dampaknya sampai ke tingkat dapur masing-masing keluarga.

Ketidakadilan akses, partisipasi menikmati hasil pembangunan global yang begitu senjang, dan tergambar nyata di mana-mana berkat teknologi media sosial.

Ketidakadilan akses pendidikan yang menyebabkan salah satu pihak dapat mencapai menara langit sementara yang lain berkutat di kubangan lumpur kebodohan, begitu nyata di depan mata.

Ketidakadilan sistem hukum, yang bagi Islam sebagai agama rahmat bagi sekalian alam membuat beban di punggung agama begitu berat tak tertangguhkan.

Baca juga: Perspektif Gender Penting Namun Absen dalam Penanganan Terorisme

Akui Memang Ada yang Salah dengan Agama Kita

Seusia agama itu, manusia telah mencari jalan keluar dengan pengetahuan dan pemikiran serta pembacaan atas wahyu Tuhan. Di Barat, mereka berusaha memisahkan aspek relasi hubungan negara dan agama—urusan agama dengan urusan negara, urusan akhirat dengan urusan dunia. Namun, hasrat untuk tetap menarik-narik surga ke dunia terus terjadi di belahan dunia sana yang  menganggap diri telah berhasil melakukan upaya sekularisasi.

Namun, ketidakadilan semesta yang menyeruak dalam kehidupan sehari-hari dengan cepat mengangkat telunjuk orang untuk mencari sebab masalah tanpa mendalami akar masalahnya. Jawaban sering begitu gampang menunjuk pada  warna kulit, ras, etnisitas, gender perempuan, dan agama serta pihak "orang luar" sebagai akar masalah. Lalu kita hidup dengan sekat dengan pembatas fisik atau imajiner yang dilihat sebagai solusi.  Seolah-olah dengan cara itu otomatis kesejahteraan akan mereka raih.

Sementara itu, umat Islam di dunia yang berbeda berkutat dengan problem kolektif  dan luka bawaan yang ditancapkan ketidakadilan dari kolonialisme. Kolonialisme tak hanya menguras harta tanah jajahan tetapi  proses berpikir waras dengan mengambil inti sari sumber ajaran.

Baca juga: Pengalaman Saya Berbincang dengan Istri Terduga Teroris

Betapa pun sulitnya, umat Islam di berbagai negara terus menggali dengan upaya dan cara  untuk mengambil inti sari ajaran sebagai pedoman. Mereka menawarkan jalan keluar kesejahteraan di dunia dan akhirat. Namun kesenjangan yang begitu dalam, hilangnya pemikiran kritis,  malah menghasilkan  serpihan-serpihan ajaran daripada inti sarinya. Ini tak beda  dari cara sesat warga Barat melihat etnis, ras, warna kulit sebagai akar penyebab dan menghilangkannya sebagai solusi masalah.

Pernyataan Alissa Wahid, bagi saya adalah sebuah kesediaan untuk mengangguk, memang ada masalah dalam agama kita. Tapi ini juga sekaligus untuk menegakkan kepala kita untuk terus mencari solusi untuk menyelesaikan persoalan kehidupan yang tidak adil, yang membuat setiap orang yang melihat dan merasakannya, serta merasa punya magma untuk berjihad. Tapi bukan jihad  di jalan yang sesat dan bukan pula jihad yang jahat bagi kemanusiaan. 

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh Rumah KitaB.

 

Lies Marcoes adalah aktivis perempuan dan ahli kajian Islam dan gender. Saat ini ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif Rumah Kita Bersama (Rumah KitaB), lembaga riset untuk kebijakan yang memperjuangkan hak-hak kaum termarginalkan seperti perempuan, orang dengan disabilitas, serta kelompok minoritas suku, ras, dan agama yang mengalami diskriminasi akibat pandangan sosial keagamaan yang bias gender.