March 22, 2023
Environment Issues

Sumatera Lumbung Padi, tapi Kenapa Angka Stunting Anak Tinggi?

Sumatera jadi pusat lumbung padi di Indonesia bagian Barat, tapi kualitas gizi baut anaknya tak cukup. Kenapa?

Mahmud Aditya Rifqi
  • February 8, 2023
  • 6 min read
  • 362 Views
Sumatera Lumbung Padi, tapi Kenapa Angka Stunting Anak Tinggi?

Pulau Sumatera merupakan salah satu pusat lumbung padi di Indonesia bagian barat. Namun keadaan ini tidak menjamin bahwa penduduk di pulau ini cukup asupan gizi berkualitas, terutama untuk anak-anak.

Hasil Survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) pada 2022 menunjukkan dua provinsi di Sumatera memiliki angka prevalensi stunting (tinggi badan di bawah standar menurut umur) di atas rata-rata angka nasional (21,6 persen).

Dua provinsi tersebut adalah Aceh (31,2 persen) dan Sumatera Barat (25,2 persen). Dengan angka prevalensi tersebut, artinya 2-3 dari 10 bayi di bawah lima tahun (balita) di wilayah ini mempunyai status gizi rendah sehingga anak-anak tumbuh pendek.

Baca juga: Ada Plastik Mikro dalam ASI: Haruskah Kita Setop Susui Bayi?

Mengapa kekurangan gizi terjadi di daerah yang kaya bahan makanan bergizi dan bagaimana pula mencegah hal itu terjadi?

Masalah Protein dan Sanitasi

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kasus kurang gizi dipengaruhi secara langsung oleh kurangnya asupan gizi pada makanan atau makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) pada anak. Asupan gizi ini seperti bahan bakar pada mobil: tidak jalan, mandeg dan lama-lama rusak jika tidak diisi.

Kekurangan gizi di Sumatera ini menjadi ironi karena sebagian besar wilayah ini terkenal dengan lumbung padi. Sumatera Barat merupakan sentra produsen beras yang terkenal di Sumatera dengan varietas beras lokal kualitas unggulan. Ternyata, kota dan kabupaten yang termasuk lumbung padi malah memiliki prevalensi stunting yang cukup tinggi, seperti Kabupaten Pasaman Barat (35,5 persen) dan Solok Selatan (31,7 persen).

Setali tiga uang, di Aceh juga terdapat Kabupaten Gayo Luwes, terkenal dengan komoditi beras pulen terpusat di kawasan aliran sungai Aih Tripe. Jadi, soal akses terhadap beras dan karbohidrat lainnya (kentang dan ubi) sepertinya bukan masalah untuk wilayah ini.

Tapi ada masalah lain yang perlu dilihat: asupan protein sebagai sumber pembangun tubuh. Sebuah riset terbaru di Jakarta dari Universitas Indonesia menjelaskan bahwa selain asupan energi, protein mempunyai peran penting dalam pencegahan stunting. Sekitar 30 persen anak stunting memiliki riwayat asupan protein di bawah kebutuhan harian tubuhnya. Konsumsi protein pada anak berkorelasi positif terhadap pertumbuhan tinggi badan dan kecerdasan anak.

Menurut data di Sumatera Barat, ikan laut (tongkol, tuna, cakalang, kembung, teri) menjadi idola masyarakat setelah telur ayam ras. Sisanya, tidak lebih dari 5 persen berasal dari daging, telur, dan susu. Di sini salah satu potensi permasalahannya.

Sebagian wilayah dengan permasalahan gizi di Sumatera bukan pesisir pantai, sehingga tak tersedia ikan laut segar sepanjang hari. Butuh waktu beberapa jam mengirim ikan laut dari pesisir pantai ke pedesaan wilayah ini.

Bukan tidak mungkin ikan datang dalam kondisi tidak segar, sehingga kurang menarik untuk dibeli, apalagi harganya cenderung lebih mahal karena perlu biaya distribusi. Sebagai contoh, menurut data pemerintah, harga ikan air tawar hampir setengah dari harga ikan air laut per Januari 2023.

Karena ikan laut relatif mahal, potensi yang perlu dipertimbangkan adalah produk perikanan air tawar.

Ada berbagai potensi ikan air tawar seperti nila, lele, mas, mujair, patin, sarai, bilih, gabus dan lainnya. Ikan ini harus mulai dilirik orang tua, terutama dalam campuran makanan anak balita. Soal kandungan gizinya? Ikan air tawar tak kalah dari ikan air laut. Sama-sama punya sumber protein hewani yang mumpuni.

Program pemerintah Biskuit MP-ASI perlu didampingi dengan pangan lokal seperti telur, susu, dan kacang hijau (kacang padi). Tak jarang anak menolak biskuit karena tidak sesuai selera lokal, sehingga pangan lokal bisa menjadi solusi.

Selain asupan gizi, yang tak kalah penting diperhatikan adalah infeksi dan faktor penyebabnya. Penelitian UNICEF Indonesia pada 2016 mengungkap stunting di negeri ini juga dipengaruhi oleh peran higienis, sanitasi dan akses terhadap air bersih.

Baca juga: Kenapa Stunting Adalah Isu Gender?

Menurut peta penelitian ini, lebih dari 40 persen rumah tangga di Sumatera Barat dan Aceh tidak memiliki cukup akses sanitasi yang memadai. Ketiadaan akses air bersih, sanitasi dan higienis ini dapat berpengaruh pada infeksi yang berkepanjangan pada anak. Kondisi ini disebabkan oleh kontaminasi mikro-organisme berbahaya dari lingkungan yang tidak bersih, menyebabkan diare dan berbagai jenis penyakit infeksi lainnya.

Mikro-orgisme berbahaya ini juga dapat menyebabkan terganggunya penyerapan zat gizi di dalam tubuh anak. Jika penyerapan terganggu, makanan tidak dapat dikonversi dengan baik menjadi bahan bakar pertumbuhan pada tubuh.

Di sisi lain, protein di tubuh yang seharusnya untuk mendukung pertumbuhan juga terkuras untuk memperkuat antibodi melawan infeksi yang sering terjadi. Dampaknya adalah risiko malnutrisi atau stunting meningkat.

Inovasi Program Pemerintah

Pemerintah daerah merasa telah melakukan upaya optimal, terutama para ahli gizi garda terdepan di Puskesmas. Namun, sepertinya kita perlu sedikit berbenah untuk perencanaan program ke depan, selain terus mengencangkan ikat pinggang mengawal cakupan ASI ekslusif dan menurunkan kasus berat badan lahir rendah (BBLR), yakni kurang dari 2,5 kg.

Baca juga: Masalah Sistematis Susu Formula: Konsumen Perlu Edukasi dan ‘Support System’

Kita perlu memperkuat pendidikan orang tua. Hal ini bisa dimulai dari pengantin baru. Program ini perlu dikuatkan di tingkat Puskesmas dan Kantor Urusan Agama (KUA). Selain membekali ilmu agama terkait pernikahan dan rumah tangga kepada calon pengantin, petugas perlu menambahkan pesan-pesan kesehatan, termasuk penyediaan air bersih dan sanitasi.

Calon pengantin harus mengetahui konsekuensi menikah bukan hanya punya keturunan, tapi bertanggung jawab memiliki keturunan yang sehat dan produktif. Pesan-pesan singkat ini bisa berisi gizi yang baik untuk kehamilan, menyusui, ASI ekslusif, menyiapkan MPASI yang bergizi dan kebersihan pada lingkungan sekitar

Calon suami pun perlu tahu bahwa setelah menikah ia akan bertanggung jawab dengan asupan makanan anak dan istri. Suami juga harus ikut terlibat mengasuh anak, mengajari anak, menyulang anak, dan mendampingi istrinya.

Kita perlu memperkuat edukasi dan penyebaran informasi secara masif melalui media massa soal gizi berkualitas ke masyarakat. Iklan layanan kesehatan di televisi dan radio agaknya kurang kekinian mencapai daerah terpencil. Lebih dari 40 persen individu di wilayah Sumatera adalah pengguna internet aktif. Harus ada perluasan di media sosial, seperti Facebook, Instagram, Youtube, Twitter, dan Tiktok.

Selain itu, pemerintah perlu mendekati pemimpin opini di masyarakat seperti tokoh agama, tokoh masyarakat, dai dan perangkat desa untuk kampanye pentingnya gizi dan kesehatan untuk anak-anak. Mereka memiliki pengaruh di komunitasnya masing-masing.

Pendekatan Komunitas: Satu Desa, Satu Ahli Gizi

Satu orang ahli gizi tentu tidak akan cukup menangani masalah gizi satu kecamatan dengan ratusan kepala keluarga dan balita. Harus ada tenaga gizi bantuan. Mahasiswa gizi bisa diberdayakan atau penguatan kader kesehatan di desa.

Pilih kader unggulan masing-masing nagari (desa) yang akan menjadi penggerak. Pemerintah daerah juga dapat memperkuat jejaring dengan universitas yang memiliki jurusan gizi.

Mahasiswa dapat diberdayakan untuk mengawal setiap kecamatan atau bahkan desa. Mahasiswa bersama kader Posyandu bisa jadi pengawal ketika ada masalah gizi langsung lapor dan tindak lanjuti.

Kolaborasi dan komitmen keluarga, masyarakat, petugas kesehatan dan pemerintah bisa menjadi kunci untuk mencegah anak-anak kita berkembang kurang optimal karena kekurangan gizi. Saya yakin dan optimis bahwa tahun-tahun berikutnya Sumatera bisa bangkit dan kembali berlari menuju masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera.The Conversation

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Editor:  Mahmud Aditya Rifqi
Mahmud Aditya Rifqi
About Author

Mahmud Aditya Rifqi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *