October 14, 2019
Arteria Dahlan, Wikipedia, dan Usaha Rakyat untuk Didengar

Di balik “Arteria Dahlan, S.H., M.H.B.A.C.O.T”, ada kegusaran yang lama dipendam oleh rakyat ketika sedang menghadapi wakilnya yang tidak bertingkah sepatutnya.

by Siti Rochmah Aga Desyana
Issues // Politics and Society
Share:

Minggu lalu (10/10), Arteria Dahlan, salah satu anggota terpilih Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), muncul di acara Mata Najwa sebagai salah satu pembicara diskusi seputar Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) untuk Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kemunculannya menimbulkan kehebohan karena ia dengan gerak-gerik yang agresif dan angkuh menyerang Emil Salim, mantan menteri lingkungan hidup yang juga pakar hukum tata negara. Pada satu titik perdebatan, Arteria sampai berdiri dan menuding Emil Salim sebagai profesor sesat, saat Emil menjabarkan argumen mengenai laporan pertanggungjawaban KPK yang harus disampaikan setiap tahunnya.

Cuplikan acara tersebut menjadi viral, dan banyak orang yang marah kepada Arteria. Salah satu bentuk kemarahan tersebut adalah  digantinya teks di halaman Wikipedia Arteria oleh warganet. Nama Arteria berubah menjadi “Arteria Dahlan, S.H., M.H.B.A.C.O.T” dan profilnya dia menjadi sebagai berikut: "Arteria Dahlan, S.T., S.H., M.H.B.A.C.O.T adalah seorang tukang bacot pengacara dan politisi yang gila hormat di Indonesia dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.Yak pokoknya buat keluarga beliau.. SABAR aja ya.. Gua yang bukan siapa-siapa aja malu apalagi kalian.. Sabar ya...."

Halaman Wikipedia Arteria bukan yang pertama yang telah diedit warganet, dan kemungkinan bukan yang terakhir. Sebelumnya, profil politikus DPR seperti Eva Kusuma Sundari juga sempat menjadi korban vandalisme Wikipedia. Perbuatan ini pun tidak terbatas pada tokoh publik di Indonesia saja. Halaman profil politikus Amerika Serikat seperti Ted Kennedy pun tidak kebal dari aksi vandalisme, yang biasanya memasukkan elemen-elemen humor, hinaan, berita palsu, dan pencemaran nama baik bagi tokoh yang ditargetkan. Saking seringnya, administrator akun Twitter Wikipedia sering mewanti-wanti warganet untuk tidak meluapkan amarah mereka dengan melakukan vandalisme halaman Wikipedia.

Baca juga: Puan Maharani Ada dalam Penjara Representasi Tanpa Subtansi

Mengapa target dari kemarahan masyarakat adalah Wikipedia? Kemungkinan besar, jawabannya ada pada sifat dasar dari medium Wikipedia itu sendiri, dan bagaimana ia sungguh berlawanan dengan wakil rakyat yang profilnya ditampilkan.

Wikipedia adalah laman web yang umum dan terbuka. Hal ini berarti bahwa setiap elemen masyarakat, siapa pun mereka, dapat melakukan proses penyuntingan dan pemberian input terhadap artikel dan profil apa pun, kapan saja. Wikipedia juga merupakan hasil teratas dari pencarian seorang tokoh, ketika kita mencari tokoh-tokoh tersebut melalui mesin pencari seperti Google, Bing, Ecosia, dan lain sebagainya. Hal ini berarti Wikipedia memiliki jangkauan yang luas untuk masyarakat. Inilah yang membuat Wikipedia menjadi sasaran empuk untuk menyebarluaskan opini yang direpresentasikan melalui vandalisme tersebut.

Di balik nama “Arteria Dahlan, S.H., M.H.B.A.C.O.T”, ada sebuah kegusaran yang lama dipendam oleh masyarakat ketika sedang menghadapi wakil rakyat yang tidak bertingkah sepatutnya. Rasanya ada tembok gading yang memutuskan hubungan rakyat dengan wakilnya, yang membuat rakyat sering kali merasa tidak didengar.

Kejadian-kejadian seperti kurangnya pelibatan masyarakat dalam perumusan legislasi, pengesahan UU yang dilakukan secara diam-diam dan tidak transparan, hingga keputusan-keputusan yang terus diambil oleh DPR meskipun telah diprotes oleh rakyat terus-menerus terjadi. Contoh paling baru adalah demonstrasi 24 September 2019, yang permohonannya hanya satu, agar saran rakyat didengarkan dan dipertimbangkan.

Sulit sekali untuk menjangkau wakil rakyat. Informasi pribadi untuk mengontak mereka sering kali tidak disediakan, dan pun apabila disediakan, tak jarang aspirasi yang masuk tidak diapresiasi dan diabaikan.

Namun, dari dalam siaran-siaran di televisi, terlihat bahwa wakil-wakil DPR seperti Fahri Hamzah, Bambang Soesatyo, dan lain sebagainya cenderung mencemooh para ketua badan eksekutif mahasiswa yang mewakili mahasiswa, menolak menyimak sampai selesai, dan lebih sering merendahkan rakyat yang seakan-akan tidak tahu apa-apa.  Ketika bahkan, dalam forum langsung tatap muka, DPR menolak untuk mendengarkan rakyatnya, lalu ke mana rakyat harus berpaling?

Sistem representasi DPR di Indonesia sangat kurang memadai. Jangankan tahu bagaimana caranya berkomunikasi dan menyampaikan saran terhadap wakil rakyatnya, sering kali masyarakat awam bahkan tidak tahu siapa yang merepresentasikan mereka di meja Dewan, dan aspirasi apa yang dibawa oleh wakil rakyat ini.

Kurangnya sosialisasi dan transparansi dari kinerja para wakil rakyat memperbesar jarak antara rakyat dan wakilnya, dan justru membuat suara rakyat dirasa makin kecil, alih-alih diamplifikasi. Moda kampanye dengan visi misi yang cenderung buram, program kerja yang sering kali tidak dibuka, apalagi ada kontekstualisasinya, kepada masyarakat, membuat kita sering bertanya-tanya, sebenarnya apa sih, yang sedang dilakukan DPR?

Baca juga: DPR, Rakyat Menantikan Nasib RUU PKS

Apabila sudah tahu siapa wakil kita pun, masih sangat sulit untuk menjangkau mereka. Informasi pribadi untuk mengontak mereka sering kali tidak disediakan, dan pun apabila disediakan, tak jarang aspirasi yang masuk tidak diapresiasi dan diabaikan. Rakyat jarang diberikan sosialisasi atau forum untuk mengerti program-program DPR, apalagi memberikan saran pada kinerja mereka. Rasanya Senayan menjadi gelembung elitis alih-alih forum perembukan yang tujuannya menyejahterakan rakyat. Bahkan, ketika mahasiswa sudah membawa massa dan mengencangkan suaranya dengan TOA tepat di depan Gedung Paripurna, mereka masih dicemooh, dan direndahkan, bukannya didengarkan dengan sungguh-sungguh.

Maka, masyarakat yang kecewa kini bingung; ke mana lagi mereka harus menyampaikan aspirasi, ketika rasanya semua medium tidak berhasil? Muncullah internet, dan Wikipedia, yang memberi mereka sarana untuk mengkritik para elite politik ini di tempat di mana mereka tidak bisa lari, yakni di profil diri mereka sendiri yang dibuat oleh publik.

Wikipedia menjadi cara paling mutakhir bagi masyarakat untuk meluapkan aspirasinya, dengan harapan bahwa tokoh yang bersangkutan akan akhirnya terpaksa melihat suntingan mereka dalam profilnya sendiri, dan mau tak mau harus berintrospeksi diri.

Artikel ini bukan berarti menolerir vandalisme di Wikipedia, karena jelas itu merupakan tindakan serangan salah kaprah. Namun, bagi wakil rakyat yang di kursi Senayan; sudahkah Anda mendengar rakyat Anda dengan benar? Atau harus ada suntingan dulu di profil Wikipedia Anda, untuk mengingatkan Anda mewakili siapa?

Siti Rochmah Aga Desyana adalah mahasiswi kampus Bandung coret yang hobi menulis, melukis, dan merawat bunga mataharinya. Dia bisa ditemui di akun Twitter-nya, @hoekhti, atau akun Instagramnya, @desyastrous.