February 5, 2023
Health Lifestyle

Asal-usul Menopause dan Kenapa Kadang Bisa Membawa Trauma

Kenapa masa ovulasi berakhir dengan begitu banyak gangguan untuk perempuan?

Avatar
  • January 25, 2023
  • 5 min read
  • 231 Views
Asal-usul Menopause dan Kenapa Kadang Bisa Membawa Trauma

Sudah jadi rahasia umum perempuan bisa berumur lebih panjang ketimbang lelaki. Kita juga tahu, umur panjang terjadi lewat seleksi alam yang mewariskan salinan gen perempuan dalam jumlah maksimum ke generasi berikutnya. Namun, tahukah kamu kehidupan reproduksi perempuan berhenti lebih awal daripada laki-laki karena menopause? Kenapa bisa begitu? Bagaimana mungkin evolusi menyebabkan perempuan menghentikan kesuburan mereka sebelum waktunya ketika usia mereka masih panjang?

Manusia memiliki kasus yang istimewa dalam hal ini: Menopause adalah fenomena yang sangat langka di dunia hewan. Sejauh ini, menopause diketahui hanya terjadi pada manusia dan dua spesies cetacea, yaitu paus pembunuh (Orcinus orca) dan paus pilot sirip pendek (Globicephala macrorhynchus).

Baca juga: Mitos dan Fakta Seputar Menopause yang Perlu Kamu Tahu

Paus Pembunuh juga Jadi Nenek

Pada hampir semua spesies, usia umumnya terkait dengan rentang masa reproduksi. Akan tetapi, keduanya dipisahkan pada spesies yang mengalami menopause karena perempuan (betina pada hewan) hidup lebih lama daripada masa reproduksi mereka. Misalnya, paus pembunuh betina berhenti bereproduksi pada usia sekitar 40 tahun meskipun dapat hidup hingga 90 tahun.

Apa persamaan orca dan manusia yang mungkin menjelaskan asal evolusi menopause? Pertama, kedua spesies memiliki kehidupan panjang dan bersifat sosial. Dalam evolusi kedua spesies, kelompok sosial telah dibentuk oleh keluarga di sekitar betina dan keturunannya, dengan para betina sering berkerabat satu sama lain. Dengan cara ini, mereka dapat membantu merawat keturunan orang lain kapan saja.

Selain itu, anak-anak dari kedua spesies membutuhkan perawatan induk yang lama sebelum mereka menjadi mandiri dan berusaha bereproduksi sendiri. Jika, misalnya, seorang keturunan membutuhkan sekitar 20 tahun bergantung pada ibu atau induknya sebelum dapat berhasil mengurus dirinya sendiri, maka memiliki bayi yang baru lahir ketika harapan hidupmu rendah menjadi kurang positif jika dilihat melalui sudut pandang seleksi alam.

Hal ini akan mengarah pada seleksi yang memilih betina yang berhenti bereproduksi dan mengabdikan masa hidup pasca-reproduksi untuk terus merawat keturunan yang ada, baik milik mereka sendiri maupun milik orang lain yang memiliki hubungan kekerabatan, terutama cucu perempuan dan cucu laki-laki mereka.

Dalam kelompok-kelompok matriarkal ini, upaya reproduksi betina yang lebih tua akan bersaing dengan reproduksi betina yang lebih muda (termasuk anak perempuan mereka sendiri). Konflik antargenerasi ini akan mendorong betina yang lebih tua untuk membantu keturunan betina lain daripada bereproduksi. Studi tampaknya mendukung ide-ide ini pada paus pembunuh dan manusia pra-industri.

Karena itu, tampaknya seleksi selama evolusi kita sebagai spesies telah mendorong penghentian produksi keturunan lebih awal pada betina dan, pada saat yang sama, dedikasi mereka untuk bekerja sama dalam merawat keturunan mereka.

Baca juga: Menopause Can Affect Workplace: How to Support Every Worker Experience It

Konflik Intragenomik

Saat ini, satu hal yang masih mengejutkan: Kenapa penghentian reproduksi dapat menjadi sangat traumatis bagi banyak perempuan? Menopause tidak berarti penuaan, tetapi gangguan hormonal yang menyertainya dapat berdampak negatif pada fisiologi perempuan. Mengapa masa ovulasi berakhir dengan begitu banyak gangguan?

Para peneliti yang mengerjakan subjek ini telah mengajukan hipotesis yang sangat menarik: konflik intragenomik.

Kita semua memiliki dua versi dari sebagian besar gen kita, satu diwariskan dari ayah dan satu lagi dari ibu. Kemungkinan masing-masing versi ini memiliki salinan yang sama pada keturunan yang lahir dalam kelompok sosial, termasuk cucu mereka, bervariasi. Misalnya, dalam kelompok asal matriarkal, laki-laki dapat bergabung dari kelompok lain, dan karena itu tidak akan terkait dengan sebagian besar anggota kelompok. Dengan demikian, gen ibu cenderung berkerabat dengan banyak anggota kelompok, sedangkan laki-laki mungkin hanya berkerabat dengan keturunannya sendiri.

Menopause mengakibatkan penghentian produksi keturunan untuk merawat keturunan orang lain, tetapi perubahan ini mungkin tidak sama menariknya untuk gen dari ayah dan ibu. Seleksi alam mempertahankan gen-gen yang menghasilkan lebih banyak salinan dirinya sendiri untuk generasi berikutnya – dan gen membuat lebih banyak salinan dirinya sendiri ketika mereka lebih efektif. Misalnya, gen yang menyebabkan mata gelap mendominasi manusia di daerah dengan radiasi matahari yang tinggi – karena lebih efektif – sementara gen mata terang hilang karena pembawanya meninggalkan lebih sedikit keturunan. Dalam kasus menopause, gen melakukan ini dengan membantu membesarkan keturunan yang membawa salinan gen yang sama.

Baca juga: 5 Hal yang Perlu Kamu Ketahui Soal Kanker Serviks Serta Gejalanya

Dalam organisme yang sama, pengaruh gen dari ibu dan ayah bisa sangat berbeda atau bahkan berlawanan. Para peneliti telah mengusulkan bahwa gen lebih cenderung memiliki salinan dalam kelompok sosial (misalnya gen dari garis ibu dalam kelompok matriarkal ) mungkin menghasilkan efek fisiologis yang mempercepat menopause – untuk lebih awal mengalihkan upaya mereka untuk merawat keturunan kerabat. 

Sebaliknya, mereka yang kurang memiliki kekerabatan dalam kelompok akan menghasilkan efek penundaan – untuk meningkatkan peluang reproduksi langsung mereka. Ini mungkin berbeda antar budaya, tergantung pada sejauh mana kelompok sosial telah dibentuk atas dasar garis ibu atau ayah selama evolusi mereka.

Ketidakcocokan antara gen yang diwarisi dari ayah dan gen dari ibu ini dapat menyebabkan gangguan fisiologis menopause.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

Opini yang dinyatakan di artikel tidak mewakili pandangan Magdalene.co dan adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis.


Avatar
About Author

Juan Carranza Almansa

Juan Carranza Almansa, Catedrático de Zoología, Universidad de Córdoba. Zalfa Imani Trijatna dari Universitas Indonesia menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *